World Peace Forum III; Wujudkan Pendidikan Perdamaian

0
51
Pewarta-Indonesia, World Peace Forum 3 (WPF) yang diselenggarakan persyerikatan Muhammadiyah berkerjasama dengan Cheng Ho Multi Culture Trust dan Center For Dialagoue and Coorperation Among Civilisation (CDCC) di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta mulai dari tanggal 1-2 Juli 2010 yang bertajuk “Pendidikan Perdamaian: Mengembangkan Strategi Kebijakan dan Jaringan”

Kilas WPF
Menurut Abdul Muti, Ketua Panitia mengatakan, WPF merupakan forum tingkat dunia tahunan yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bekerja sama dengan organisasi mitra dari dalam dan luar negeri.WPF pertama diselenggarakan di Jakarta, 14-16 Agustus 2006 dengan tema one humanity, one destiny, one responsibility. Sesuai dengan rekomendasi WPF I, one humanity, one destiny, one responsibility dijadikan sebagai tema tetap WPF.

WPF I diselenggarakan di Jakarta, 24-26 Juni 2008 dengan fokus kajian Addressing Facets of Violence What can be Done? WPF I dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditutup oleh Wakil Presiden Boediono.WPF III diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara menjelang Muktamar Muhammadiyah 1 Abad yang akan dilaksanakan antara 1-2 Juli 2010.

Ada empat tujuan yang ingin dicapai dalam pertemuan ini. Pertama, mengembangkan dialog terbuka tentang masalah-masalah perdamaian dunia yang melibatkan para pemimpin politik, pengambil kebijakan, cendekiawan, praktisi media, pendidik, dan aktivis perdamaian dari berbagai penjuru dunia. Kedua, merumuskan pengejawantahan konsep One Humanity, One Destiny, One Responsibility sebagai filosofi dasar pendidikan perdamaian.

Ketiga, menggali dan memperkuat gagasan-gagasan tentang pendidikan perdamaian melalui aktualisasi, kontekstu-alisasi, dan pengembangan pengalaman-pengalaman sukses (/esson learned) pendidikan perdamaian yang telah dilakukan oleh organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga di berbagai kawasan dunia.Keempat, memperkuat kerja sama di antara para aktivis, lembaga, dan organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan serta perdamaian.WPF HI diselenggarakan sebagai bentuk komitmen, peran serta dan tanggung jawab Muhamamdiyah, dalam menciptakan tata dunia yang damai di tengah situasi dunia saat ini masih sarat dengan berbagai ketegangan, konflik, bahkan peperangan antarnegara, kelompok, dan golongan. (Pikiran Rakyat, 8/6)

Sebanyak 100 tokoh berbagai agama dan aktivis perdamaian di seluruh dunia hadir dalam World Peace Forum (WPF) diantaranya; Afrika, Maroko, Aljazair, Libya, Mesir, Swiss, Italia, Jerman, Rusia, Kosovo, Polandia, Bosnia, Korsel, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand, Cina, Filipina, Malaysia, Myanmar, Australia, Selandia Baru, AS, dan Chile.

Ihwal tema WPF ketiga, Ia menjelaskan “Dari tema itu terlihat jelas arah WRF ini, yaitu bagaimana upaya untuk memperkuat peran-peran civil society dalam pengarusutamaan pendidikan perdamaian”

Selama ini, ada realitas di mana upaya-upaya menciptakan perdamian itu dilakukan dengan upaya militeristik dan politis. Hal itu, lanjut dia, terlihat dari adanya pasukan perdamaian yang dibentuk beberapa negara maupun beberapa organisasi dan upaya lainnya. “Itu sebenarnya merupakan sesuatu yang diperlukan dalam aspek yang bersifat kuratif. Tapi harus ada juga hal-hal yang diperlukan menyangkut penciptaan pedamaian yang bersifat kultural yaitu melalui jalur pendidikan,” jelasnya.

Upaya itu pun, harus dilakukan dengan mengembangkan satu sistem yang melibatkan berbagai elemen karena untuk menciptakan langkah tersebut dibutuhkan berbagai macam kerjasama dan kebijakan baik yang dilakukan oleh negara, organisasi masyarakat, media, dan lembaga-lembaga nonpemerintah yang lain  (Republika, 30/6)

Bagi Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhhamdiyah menuturkan “Acara ini dalam rangka pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-46 pada 3 Juli nanti. Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufik Kiemas dan ditutup oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla,” paparnya

Penyelenggraan WPF-3 sebagai bentuk pengembangan dialog terbuka tentang masalah-masalah perdamain dunia yang melibatkan para pemimpin politik, pengambil kebijakan, cendikiawan, praktisi media, pendidik, dan aktivis perdamaian dari berbagai penjuru dunia. “WPF-3 sebagai bentuk komitmen, peran serta dan tanggung jawab Muhammadiyah dalam menciptakan tata dunia yang damai,” tegasnya

Selain itu, WPF-3 juga bertujuan merumuskan pengejawantahan konsep One Humanity, One Destiny, One Responbility sebagai filosofi dasar pendidikan perdamaian. Kemudian, menggali dan memperkuat gagasan-gagasan tentang Pendidikan Perdamaian melalui aktualisasi, konstektualisasi dan pengembangan pengalaman-pengamalan sukses Pendidikan Perdamaian yang telah dilakukan oleh organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga di berbagai kawasan dunia.

Juga bertujuan memperkuat kerjasama diantara para aktivis, lembaga, dan organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dan perdamaian. “Rekomendasi dari WPF-3 akan diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ujarnya (Kompas, 3/6)

Dimata Mr Tan Sri Lee Kim Yew, Ketua Cheng Ho “Multi Culture Education Trust”  mengatakan seluruh bangsa di dunia dihadapkan pada kondisi yang hampir sama, yaitu kekerasan dalam berbagai tingkatan mulai dari keluarga, teroris, dan kekerasan dari alam.

“Dunia dalam kondisi sakit. Jika manusia sakit, maka sudah ada dokter yang siap menyembuhkan. Tetapi apabila dunia sakit akibat kekerasan, maka satu-satunya obat yang tepat adalah pendidikan, yaitu pendidikan perdamaian,” katanya. (Antara, 1/7)

Unsur-unsur Perdamaian
Mengingat pentingnya dukungan pemerintah dalam mewujudkan perdamaian. Ini di sampaikan perwakilan UNESCO Bidang Hubungan Antaragama dan Budaya Wila yah Asia Pasifik, Gary Bouma.

Dukungan nyata dari semua pihak dibutuhkan untuk mewujudkan perdamaian. Tak hanya tokoh aga ma yang dituntut men dorong perdamaian, tetapi juga institusi negara.

“Keterlibatan tokoh dunia dan setiap negara diharapkan akan membantu tercapainya perdamaian,” katanya

Apalagi, WPF menjadi sarana bertukar pengalaman setiap negara dalam mencapai perdamaian. Untuk mencapai perdamaian, tak diperlukan nilai universal yang menyamakan cara setiap negara dalam mengurangi peperangan. Sebab, dalam praktiknya, setiap negara memiliki perbedaan pengalaman, etnis, dan agama.

“Penerapan nilai-nilai yang berkelanjutan seperti kejujuran, toleransi, dan penghargaan terhadap orang lain menjadi modal utama perdamaian,” jelasnya

Senada dengan Gary Bouma. Syafi’i Anwar, Direktur Eksekutif International Center for Islam and Pluralism (ICIP) berpendapat WPF bukan untuk menyatukan persepsi teologi walaupun diikuti berbagai negara dengan perbedaan latar belakang agama. Langkah yang mestinya didorong bukanlah penyamaan persepsi teologi, melainkan komitmen semua pihak pada keadilan dan kemanusiaan.

WPF merupakan pang gilan moral kepada setiap ne gara un -tuk terlibat dan berkomit men dalam mencapai per da maian, ujarnya (Republika, 2/7)

Perdamaian tidak akan tercipta tanpa adanya dialog secara langsung. Perdamaian butuh kompromi sesama manusia. “Tidak akan ada perdamaian jika tidak ada dialog langsung antar pemangku kepentingan, karena perdamaian butuh kompromi. Jika masing-masing dari kita egois, mementingkan diri sendiri, maka perdamaian tak akan tercipta, ” ungkap Jusuf Kalla, saat menutup pertemuan WPF III, Jumat (2/7).

Pertemuan seperti WPF penting dilakukan untuk menciptakan sinergi antar negara. Pertemuan semacam ini, ia bilang, diharapkannya, mapu melahirkan resolusi bagi perdamaian dari berbagai negara dan agama. “Forum ini sangat penting karena dihadiri banyak negara dengan berbagai latarbelakang. Ini akan membuat sinergi antar negara dan agama, ” katanya

“Dialog antar agama akan sangat mendukung penyelesaian konflik terbesar, yakni lahir dari kombinasi kepentingan agama dan politik. Karena itu,  dialog harus merupakan diskusi intelektual,” tambahnya.

Terkait dengan konflik itu, Hasyim Muzadi menuturkan akar utama konflik adalah kesalahpahaman dalam memahami dan menggunakan unsur agama untuk kepentingan non-agama. “Kalau unsur agama seperti penambahan dalil-dalil dalam unsur non-agama, akan terjadi konflik kepentingan, ” tegasnya.

Salah satu cara mengatasinya adalah pencerahan dan perbaikan sistem. Ini, akan mencegah penggunaan agama sebagai pemicu konflik. “Sistem harus membuat bagaimana bebas beragama tapi agama hanya digunakan dalam konteks sosial, ” terangnya

Pendidikan Perdamaian
Penyebaran nilai perdamaian dinilai paling efektif disebarkan melalui pendidikan. Untuk itu,sejumlah tokoh perdamaian yang terlibat dalam WPF menggagas implementasi kurikulum perdamaian di dalam institusi pendidikan. Ini dikemukakan Hamid Aminooddin Barra, Profesor Hukum Islam dari Universitas Negeri Mindanao, Filipina, pelatihan nilai perdamaian memang penting, tapi, integrasi nilai perdamaian dalam kurikulum akan lebih baik. “Kurikulum perdamaian bagus bagi anak-anak terutama generasi muda di daerah yang tidak ada perdamaian.”

Muatan dalam kurikulum tersebut menyangkut nilai-nilai perdamaian seperti kepercayaan, toleransi, dan keadilan, serta bagaimana mengajarkan pengetahuan tersebut ke siswa. Untuk menjalankan kurikulum tersebut, ujarnya, dibutuhkan kesadaran akan perdamaian.

“Kesadaran itu perlu ditumbuhkan dari sumber perdamaian sejati yakni agama, agar manusia hidup dalam keharmonisan. Kepercayaan kepada Tuhan menjadi nilai universal yang dapat mendukung hidup harmonis tersebut, ” ungkapnya.

Pandangan serupa dilontarkan Vasudevan, Direktur Indian Council of Gandhian Studies, Kurikulum tentang nilai-nilai perdamaian perlu diadopsi di lembaga pendidikan formal dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Nilai tersebut dapat diajarkan melalui studi dan dialog antar agama. “Praktik dialog antar agama perlu ditingkatkan di perguruan tinggi untuk mendukung perdamaian,” tuturnya

Ingat gagasan kurikulum perdamaian sudah mulai diadopsi di Aceh demikian kata Rizal Panggabean, program S2 Resolusi Konflik dan Perdamaian, Universitas Gadjah Mada mengungkapkan program pendidikan perdamaian di Aceh sudah dimulai sejak 2002. Kurikulum perdamaian yang diadopsi tersebut memuat nilai nir kekerasan, pikiran positif, negosiasi, dan keterampilan pemecahan masalah.

“Negosiasi bagus diajarkan dari TK hingga perguruan tinggi. Nilai-nilai perdamaian juga bisa diajarkan seperti dengan membudayakan antre, ” ujarnya.

Upaya menumbuhkan nilai-nilai perdamaian harus dimulai dari keluarga. Ini yang digalakan Mari Alkatiri, tokoh perdamaian Timor Leste, Ia menegaskan perlunya nilai-nilai perdamaian ditumbuhkan mulai dari lingkungan keluarga. Hal ini dilakukan agar nilai perdamaian dapat mengubah cara berpikir orang.

“Yang paling penting dalam menciptakan perdamaian adalah mengubah cara berpikir orang ke pikiran-pikiran yang damai. Mulailah dari keluarga, kemudian ke komunitas sampai ke level negara, ” cetusnya (Republika, 3/7). Semoga. [Ibn Ghifarie]