Budaya Kopi di Indonesia

0
28

IMAGING WARUNG KOPI DI  KOTA YANG SEDANG MEKAR

Sangatta dalam dekapan perjalanan malam 2 jam

Pewarta-Indonesia, Hujan masih menyisakan ritik-rintik kecilnya. Bau aspal yang dari siang tadi menyengat hidung para pengguna jalan Sengata-Bontang, malam itu hanya terkesan membeku, tak lebih kuat dari angin malam yang bergerak gontai mengusung dan menyebarkan dinginnya  ke hampir semua penduduk Jl. Yos Sudarso. Tak pelak, banyak pemilik rumah di kanan kiri jalan utama kota Sengata itu memilih menutup rapat-rapat pintu rumah mereka guna mengusir dingin yang terus menyayat.

Hujan mencipta dingin; dingin mencipta sepi, dan sepi menghapus semua harap dari toko-toko dan warung yang betebaran mengapit jalan kota sengata; membayangkan ada pengunjung, pun satu malam itu seakan tidak mungkin, alih-alih berharap lebih. Namun semua suasana lengang yang hampir membisu itu tak sangggup bergeming dalam kebisuannya ketika suara knalpot motor vespa produksi tahun 94 yang seharusnya diistirahkan majikannya itu menderu-deru menyisir sepanjang jalan Yos Sudarso, Sengata Utara.

“Kawan, kita menghangatkan malam ini di Swarga bara aja, sxan bersikap elitis dengan seumur-umur mencoba sekali ngopi dengan harga 50 rb secangkirnya disana”, celoteh awak sambil tetap focus mempehatikan jalanan yang licin karena air hujan yang belum kering benar. “Ah Kawan, dicoba aja emang tidak ada salahnya”, timpal Kawan lama awak (Samsul Bahri) yang saat itu semingguan menjalani kehidupannya di Sengata Kutai Timur.

Memang, dingin malam itu seakan membenarkan semua tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengusirnya. Tak heran café bintang, dan tempat remang-remang lain disudut kota Sengata tampak dipenuhi mobil-mobil mahal dari para pekerja perusahaan yang ada di Sengata. Fortuner, strada, everest, memang menjadi pemandangan biasa yang bisa ditemui melintasi jalanan kota sangatta disetiap menitnya; namun jika mobil-mobil mahal itu terparkir rapi di remang-remang kelas ekonomi itu baru ada malam mini. Tak ayal dingin mengalahkan gengsi dan nurani, mengusirnya dengan bagaimanapun cara.

Namun kami memilih bersikap wajar, hanya sedikit menaikkan tensi dengan mengkonsumsi kopi yang biasanya 5000 satu cangkirnya, malam itu sengaja memilih kopi mahal; 50.000 satu gelasnya. “ya seperti inilah kawan, swarga bara (town hall) yang di  design oleh perusahan tambang batu bara besar disini, KPC. Ini adalah bukit yang dijadikan lokasi mess untuk para pekerja KPC itu”. Ujarku.

“wah kawan, kok sudah pada tutup warungnya”, ujar kawan Sam, “yang ada hanya toko minuman dingin, sementara kopi dan jahe hangat pasti tidak adanya”. Lanjutnya. “iya kawan, baiknya kita meluncur turun lagi, menelusuri Sengata, mencari warung kopi yang mungkin masih buka”, tawarku.

Bunyi knalpot Vespa bututku kembali memecah sunyi malam, menggerus kebekuan yang dicipta hujan. Menyusur hati-hati aspal jalan kota Sengata yang belum hilang licinnya. Sengata memang tidak seperti kota-kota lainnya, terlebih jangan anda bandingkan dengan kota di Jawa. Ibu kota dari kabupaten Kutai Timur ini adalah kota baru yang sedang mekar. Pemakaran Kutai Timur terjadi pada medio tahun 1999 dari kabupaten Kutai Kartanegara. Tak heran sampai akhir tahun 2009 ini, kota Sangatta terkesan kusam sebagai akses dari pembenahan kota.

Turun dari Swargabara, motor vespa kami menyusur jalan Yos Sudarso III, melintasi Pasar Teluk Lingga sampai pertigaan jalan pendidikan. “cittt…cittt…”, terkadang rem kaki motor vespa dengan bodi bercat biru tua itu tiba-tiba aku injak dan membuat kaget kawan Sam yang aku bonceng dibelakang. “ada apa kawan?”, tegur kawan Sam. “gak kawan, kirain tadi warung kopi”, tandasku. “santai aja kawan, biar saya yang memelototi setiap warung yang ada, nanti pasti juga ketemu warung kopi”, pikir kawan sam optimis.

Laju Motor vespa memasuki jalan Yos Sudarso II, jalan antara pertigaan jalan pendidikan sampai pertigaan jalan Apt.Pranoto. “belum ada juga kawan, warung kopinya”, informasi dari kawan Sam dari belakang. “Bagaimana kalau kita ngopi di warung mbah yang esok tadi kita singgahi?”, tawarku. “siap kawan”, kawan sam mengiyakan.

“Ringkasnya kawan, kota Sengata ini sebagai kota yang sedang mekar membutuhkan warung kopi untuk menemani  laju pertumbuhannya. Lihat sepanjang jalan yang kita lewati tadi, tidak ada satupun warung yang menspesialisasikan diri sebagai warung kopi. Padahal populasi warga Sengata ini konon yang dominan adalah orang Jawa. Bandingkan dengan di daerah Jawa sendiri, hampir-hampir dapat dipastikan di setiap sudut jalan ada warung kopi; setidaknya itu yang aku perhatikan dari kota Gresik, Lamongan dan kota tempat  lahir kawan tatok sendiri; Tuban”, ujar kawan Sam diplomatis. “Iya kawan”, selaku.

“Ingat kawan, warung kopi juga bisa menjadi dalih pengalih kelesuan dan tempat melepas penat bagi para karyawan Perusahaan-perusahaan besar di sini setelah mereka bekerja seharian di PT mereka; Thiees, KPC, Pama, dan lain-lain. Dari sisi lebih positif warung kopi bisa mengalihkan kecenderungan dan konsentrasi massa yang saat ini suka njajan di remang-remang”, imbuh kawan Sam dengan berapi-api.

Perjalanan malam, 2 jam menyusuri jalan sepanjang kota Sengata itu memang tidak membuahkan hasil. Kami berkesimpulan bahwa perlu ada investasi modal untuk mendirikan warung kopi di Kota Sengata. “Tugas kita kawan, adalah membuat proposal ke Pemda Kutai Timur untuk mendirikan warung kopi, sekaligus menghindarkan masyarakat dari kecenderungan maksiat”. Kawan Sam mempungkasi pembicaraaan.

“Warung Kopi dan Usaha Menghindarkan Maksiat warga Kutai Timur”. Sangat masuk akal, pikirku.

Ditulis sebagai Kata penghantar Kepergian Kawan Samsul Bahri kembali ke Lombok, setelah seminggu sama-sama meminum air Mahakam di Kutai Timur, Kaltim. 05 – 12- 09.                                                                                                                             

(MUSTATHO’) Koordinator MPC1/081254447281

Sumber image: google.co.uk