Cirata Undercover (Bagian I)

0
20

Kec. Plered – Kab. Purwakarta dan “Budaya” Kemacetan

Pewarta-Indonesia, Lepas beberapa waktu ke belakang, bersama kawan-kawan, saya pergi ke salah satu tujuan wisata Kab. Purwakarta yang populer dikenal dengan sebutan ”cirata” (titik, tanpa embel-embel “cottage” misalnya; Pen). Tentu niatnya adalah “refreshing” sebagaimana persepsi orang banyak ketika ditanya soal travelling. Pergulatan sehari-sehari di locus “kegaduhan” Kab. Purwakarta yang membuat otak menjadi penat, tidak salah lagi menjadi semacam alasan mendasar untuk menyegerakan “hijrah” yang tidak mampu saya tolak (dan kawan-kawan saya juga tentunya; Pen). Akhirnya, akur! Saya, juga kawan-kawan yang lain sepakat saja untuk pergi ke sana. Tanpa ba bi bu, tanpa banyak pertimbangan macam-macam, bablas terus bertolak ke Cirata!

Luar biasa memang, kalau bukan karena niat yang kuat untuk bersenang-senang, jelas perjalanan ke sana ”mutlak” harus dibatalkan sama sekali. Bagaimana tidak?!, mampir dekat pasar plered, sungguh bukan main padatnya arus lalu lintas yang ada di sana. Mulai dari angkot, sepeda motor, pejalan kaki sampai ke andong tradisional turut serta dalam karnaval dadakan yang entah ”disponsori” siapa. Serba riuh intinya. Ditambah hawa panas yang bersemilir, terbayang bagaimana ledakan mood ”holiday” yang tiba-tiba turun drastis.

Sungguh terlalu, kata teman saya seperti menirukan lelakon ”khas” raja dangdut Indonesia (Baca: rhoma irama). Nyaris satu jam saya dan kawan-kawan ”terjebak” di sana. Sekali lagi, kalau bukan karena kuatnya motif melepas dahaga bersenang-senang, akan lebih ”rasional” tampaknya bila opsi yang diambil adalah memutar arah perjalanan untuk mencari tempat bersenang-senang lainnya yang sekiranya lebih kondusif.

Kemacetan yang dalam hemat nalar saya sudah sampai ke taraf ”sangat”, begitulah kesan pertama yang melintas di benak saya ketika mencoba mendeskripsikan ”Cirata”. Pun demikian halnya boleh jadi dengan kawan-kawan saya. Betapa, katakanlah saya dan kawan-kawan sebagai ”turis domestik” kecewa dengan atmosfer daerah tujuan wisata yang seperti ini. Itu baru ”turis domestik” ! (misalnya saya dan kawan-kawan sebagai sampel yang boleh dibilang representatif; Pen), pikir saya. Tentu akan berbeda halnya dengan feeling turis mancanegara bila kebetulan juga memiliki minat yang serupa dengan saya dan kawan-kawan. Jangan-jangan mereka malah terlanjur kapok dan akhirnya emoh untuk kembali mengunjungi cirata kembali. Bisa jadi toh?!

Sumber image: google.co.uk