Ketika Muslim Amerika Menyinari Kota New York

0
31

Oleh: Abed Bhuyan*)

Pewarta-Indonesia, New York, New York – “Bakat, seperti halnya cinta kasih, hanya berguna bila diungkapkan.” Kutipan dari Martin Luther King, Jr. ini bergaung lagi saat Inner City Muslim Action Network (IMAN) mementaskan acara seni dan budayanya, Community Café, di kota New York 23 Januari lalu. Ibrahim Abdul Matin mengutip King untuk memberi konteks pada acara malam itu, di mana 1.500 penonton menikmati berbagai pertunjukan yang tak terlupakan di Teater Apollo yang legendaris.

Teater Apollo, yang merupakan simbol kehidupan Renaisans di Harlem, sebuah masa ketika budaya kulit hitam Amerika berkembang, menjadi tempat yang sangat pas bagi acara bersejarah itu, sekaligus amat penting dalam pengalaman Muslim Amerika. “Membawa IMAN ke Apollo mengingatkan komunitas Muslim Amerika tentang akarnya dalam komunitas Afrika Amerika,” kata Amir Al-Islam, Ketua IMAN dan Dosen Senior Sejarah Afrika Amerika di Medgar Evers College, Brooklyn, New York. IMAN saat ini berpusat di Chicago dan berencana melebarkan sayap ke kota New York pada 2010. IMAN mempunyai misi berbasis komunitas dan berorientasi aksi, serta menggelar Community Café, yang mendorong perubahan sosial melalui seni.

Semua mereka yang hadir sadar akan hubungan mereka dengan kota itu dan dengan sesama-karena sejarah mereka. Para pemain dan pembawa acara mengingatkan kita pada tokoh-tokoh besar yang menjadi teladan, pada peninggalan-peninggalan aktivis HAM Muslim Afrika Amerika, Malcolm X, dan Nabi Muhammad.

Menurut Asad Jafri, Direktur Seni dan Budaya IMAN, “IMAN berkomitmen pada pemajuan seni dan budaya dalam komunitas Muslim, di samping pada pelayanan masyarakat dan advokasi.”

IMAN, yang berakar pada tradisi pelayanan dan keadilan sosial dalam Islam, mengajak semua yang terlibat untuk mengambil peran dalam memperbaiki komunitas mereka. Tema yang ingin disampaikan dalam edisi spesial Community Café di New York City ini adalah keterhubungan: Yang terjadi di Brooklyn mempengaruhi apa yang terjadi di Harlem. Dan, dalam skala yang lebih luas, apa yang terjadi di Haiti mempengaruhi apa yang terjadi di kota New York -dan sebaliknya.

Terkait gempa bumi Haiti baru-baru ini, Imam Shamsi Ali dari Islamic Cultural Center, New York membuka malam itu dengan ayat-ayat al-Qur’an yang mengingatkan kita pentingnya kesabaran dalam menghadapi bencana. IMAN menggandeng Islamic Relief dan mengumpulkan lebih dari $13.000 untuk membantu para korban gempa bumi itu. Di samping dana yang dikumpulkan, Direktur Pelaksana IMAN, Rami Nashashibi, juga mengajak para hadirin untuk memperkuat upaya agar para pencari suaka Haiti mendapatkan Status Perlindungan Sementara, sebuah status imigrasi yang diberikan kepada orang dari negara lain yang tidak bisa pulang karena krisis di negaranya.

Komedian Aasif Mandvi, yang sangat berbakat, menampilkan pembacaan dramatis yang membawa audiens dalam perjalanan kembali ke masa kecilnya di Bradford, Inggris, yang menjadi tempat tinggal komunitas imigran Asia Selatan yang cukup besar. Banyak orang yang mengikuti karir Mandvi selama bertahun-tahun, yang lebih dikenal karena perannya sebagai koresponden dalam The Daily Show Comedy Central, bisa memahami konteks hidupnya. Dia bicara lantang tentang sejarah kampung halamannya dan intoleransi yang sering dia dan kelas pekerjanya hadapi sebagai minoritas selama tinggal di sana.

ReMINDers, duet hip-hop suami-istri, menyanyikan “Black Roses”, sebuah ode untuk anak-anak mereka, yang mengingatkan penonton tentang tanggung jawab terhadap keturunan mereka, dan menghubungkan masa kini mereka dengan masa depan mereka. Liza Garza mendeklamasikan puisinya sambil menggendong anaknya, juga menunjukkan hubungan itu. Raper Amir Suleiman dan grup pop Denmark, Outlandish, juga turut tampil di panggung Apollo yang terkenal itu.

Acara malam itu diakhiri oleh artis hip-hop peraih nominasi Grammy, Mos Def, yang menampilkan lagu hitnya, “Umi Says”. Dengan menyuarakan lirik-lirik klasiknya, ia mengajak penonton untuk “memancarkan sinarmu ke dunia,” sembari menambahkan, “Saya ingin Haiti bebas.” Mos Def memang telah menyanyikan lagu ini sekian kali sebelumnya, tapi liriknya yang menggema di Apollo terasa lebih bermakna dan penting pada malam itu.

Makna dan tujuan yang mendefinisikan komunitas Muslim Amerika masa kini, dan Apollo menjelma menjadi rumah ekspresi yang luar biasa. Mereka yang hadir di Community Café pulang dengan rasa bangga dan semangat, yang tentu juga akan menjalar ke komunitas Muslim dan warga kota New York secara lebih luas. Para hadirin telah disuguhi selebrasi Islam Amerika, dalam segala keragamannya.

Sebuah suguhan yang sungguh indah.

*) Abed Z. Bhuyan, lulusan Georgetown University, kini menjadi guru sekolah menengah di kota New York dan bekerja untuk Teach for America.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews); image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaInspirasi dari Muslim Amerika di Apollo
Berita berikutnyaBercemin Toleransi dari Kelenteng
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.