Konspirasi atau Obat Mujarab? Perspektif Islam tentang Dialog Lintas Agama

0
23

Oleh: Qazi Abdul Qadeer Khamosh*)

Pewarta-Indonesia, Lahore, Pakistan – Dialog lintas agama dikritik oleh sebagian tokoh agama sebagai sebuah konspirasi yang dirancang untuk melebur semua agama menjadi satu. Orang dan kelompok tertentu mengkhawatirkan hilangnya atau melemahnya identitas agama mereka jika terlibat dalam dialog dan interaksi dengan pemeluk agama-agama lain.

Namun, kekhawatiran ini sebetulnya tak berdasar. Semua agama, termasuk Islam, menekankan nilai-nilai yang sama seperti harmoni dan kerja sama lintas agama. Misalnya, Nabi Muhammad mendukung perdamaian dengan agama-agama lain, seperti terlihat dari perjanjian perdamaian dengan suku-suku Yahudi di Madinah. Dia juga percaya dengan kesalingpercayaan di antara berbagai komunitas agama yang berbeda, yang dibuktikan dengan menitipkan kaum Muslim yang lari dari penganiayaan orang-orang Mekah pada perlindungan Raja Abyssinia (Ethiopia sekarang) yang beragama Kristen.

Dialog bukanlah tentang mengalahkan orang lain, tapi untuk memahami dan belajar dari mereka. Al-Qur’an menekankan bahwa keindahan dunia terletak pada pluralisme ras dan agamanya, kalau tidak, Tuhan tak akan menciptakannya demikian (QS Yunus: 99 dan Al Ma’idah: 48). Al-Qur’an juga menyatakan: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal” (QS Al Hujurat: 13).

Proses dialog memaksa orang untuk menguji dan menegaskan kembali identitas agama mereka sendiri dan juga untuk menguatkan keyakinan mereka sendiri seraya menghormati keyakinan orang lain dengan kesabaran dan kehormatan.

Dengan begitu, dialog lintas agama bisa manjadi ajang untuk memahami dan bekerja sama satu sama lain. Agar dialog tersebut mengalami kemajuan, para perwakilan dari agama-agama yang terlibat dalam dialog secara aktif harus sepakat atas tiga prinsip berikut: pindah agama dengan dipaksa tidaklah dibenarkan; para penganut semua agama bebas untuk menjalani hidup sesuai dengan keyakinan mereka sendiri; dan nilai-nilai yang melekat pada semua agama – terutama kesabaran dan toleransi – yang memungkinkan para penganutnya untuk hidup berdampingan satu sama lain secara damai, perlu dihargai.

Dalam Islam, prinsip-prinsip ini diatur dengan jelas. Pertama, ayat al-Qur’an yang sering dikutip: “Tidak ada paksaan dalam hal agama” (QS Al Baqarah: 256) menentang cara pemaksaan untuk masuk agama Islam dan memberi parameter dasar bagi Muslim untuk hidup damai dengan orang-orang dari agama lain, dan menerima apa dan siapa mereka.

Kedua, al-Qur’an mengakui kebebasan beragama dan beribadah: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS Al Kafirun: 6). Ayat ini secara jelas melarang Muslim untuk mengganggu masalah agama orang lain dan menegaskan kebebasan hidup menurut keyakinan masing-masing.

 

Ketiga, terkait kesabaran dan toleransi, al-Qur’an menganjurkan Muslim untuk berinteraksi dengan non-Muslim demi kebaikan bersama: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu.” (QS Al Mumtahanah: 8).

Ajaran-ajaran tentang tak bolehnya pemaksaan, kebebasan beragama, beribadah dan memaafkan ini sayangnya telah diabaikan atau tidak dihiraukan oleh orang-orang yang senang menciptakan perpecahan.

Mereka yang melakukan kekerasan atas nama agama untuk kepentingan pribadi mereka sendiri tidak akan berhasil dalam menciptakan perpecahan jika orang-orang lain tampil sebagai para perekat hubungan dan bukan pemecah belah. Setiap agama telah mengembangkan pesan seputar nilai-nilai perdamaian, cinta, toleransi dan saling menghormati. Dialog lintas agama bisa menjadikan kesamaan-kesamaan ini sebagai landasan untuk memperkuat komunitas penganut agama dunia dan bisa menyelamatkan agama dari pembusukan oleh mereka yang ingin merusaknya.

*) Qazi Abdul Qadeer Khamosh adalah aktivis perdamaian lintas iman dan ketua Muslim Christian Federation International.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), Sumber image di sini

BAGIKAN
Berita sebelumyaBerita tentang Islam di Media Harus Diluruskan
Berita berikutnyaMengembalikan Timbuktu ke Peta Dunia
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.