Masa Depan Pertanian Indonesia, Sebuah Catatan dari Jepang

0
59

Pewarta-Indonesia, Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) chapter Japan di penghujung akhir tahun 2006 ini kembali menggelar diskusi. Dalam diskusi yang berlangsung pada tanggal 17 Desember 2006 yang lalu telah menghadirkan beberapa pembicara kunci yang bersentuhan langsung dengan dunia pertanian di Indonesia maupun di Jepang, mereka adalah Dr. Achmad MS (tenaga ahli Menteri Pertanian RI) , Dr.Rudi Lumanto (staf khusus Menteri Pertanian RI) dan Drh. Pudjiatmoko, Phd (Atase Pertanian KBRI Tokyo).

Dr. Rudi Lumanto dalam pemaparannya antara lain mengemukakan betapa pentingnya solusi menghadapi masalah pertanian di Indonesia dalam bentuk kepedulian pada petani. Karena itu banyaknya program pemerintah yang memihak petani (bantuan kredit petani, asuransi pendidikan, subsidi benih, bantuan langsung masyarakat dalam bentuk LM3) menjadi solusi yang diharapkan berdampak positif bagi upaya peningkatan produktivitas petani. Hal menarik menurut Rudi Lumanto dan sudah dicontohkan Menteri Pertanian Anton Apriantono adalah melakukan pendekatan langsung kepada petani untuk mengetahui secara real kehidupan petani dan apa yang sebenarnya dibutuhkan petani. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan langsung Menteri bersama petani, antara lain berkunjung ke rumah-rumah petani bahkan tidur di rumah petani, berpola hidup sederhana, sampai solat subuh berjamaah. Dari sinilah Menteri Pertanian mengetahui langsung persoalan petani yang sesungguhnya sehingga berbagai solusi akan lebih tepat sasaran dan mendorong harapan meningkatnya produktivitas para petani. Bahkan Nomor hand phone Menteri juga diberikan langsung kepada petani. Sehingga laporan dari masyarakat bisa dipantau secara langsung.

Sementara Dr.Ahmad MS mengemukakan bahwa kerangka besar Departemen Pertanian sesungguhnya merujuk pada Visi yang diembannya. Kementerian Pertanian kali ini mengusung visi menjadikan Departemen Pertanian yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pertanian melalui penyelenggaraan birokrasi yang bersih dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Dari visi ini terdapat tiga hal penting yang menjadi konsentrasi Departemen Pertanian saat ini. Ketiga hal tersebut adalah :

1.  Pentingnya kepedulian terhadap kesejahteraan petani.

2.  Penyelenggaraan birokrasi yang bersih. dan

3.  Pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Visi inilah yang kemudian diterjemahkan secara lebih operasional dalam bentuk misi dan program kerja Departemen Pertanian. Dalam konteks kepedulian ini Dr.Ahmad mengemukakan langkah Deprtemen Pertanian (Deptan) dengan meningkatkan anggaran bagi petani sehingga mencapai 500 milyar rupiah pada tahun 2006 yang lalu. Anggaran ini realisasisnya digunakan dengan rincian 250 milyar untuk dana penjaminan dan 250 milyar digunakan utk subsidi benih. Dengan kebijakan ini petani tidak lagi dibebankan dengan jaminan atau agunan ketika meminjam uang untuk kepentingan pertaniannya.

Mengenai birokrasi yang bersih, menurut Dr.Ahmad hal ini dilakukan dengan tidak ada satupun CPNS yg masuk dengan cara KKN, sebab dilakukan secara transparan dan dengan ketatnya seleksi kelulusan melalui tes dan mempertimbangkan CPNS dengan nilai Indkes Prestasi Komulatifnya yang tinggi. Selain itu, pergantian jabatan juga berlangsung dengan menerima masukan dari seluruh lapisan masyarakat melalaui nomor hand phone Menteri. Menurut Dr.Ahmad Saat ini orang-orang di Deptan tidak ada yang ewuh pekewuh karena proses masuknya tidak melalui KKN. Karena prestasi Deptan yang bagus DPR mendukung program Deptan hingga menyetujui anggaran pertanian mencapai 6,7 atau 8, 6 Triliun. Pada tahun mendatang bisa mencapai 10 triliun lebih (menjelang 2007). Ini angka tertinggi dalam sejarah Pertanian.

Berbagai kebijakan Departemen pertanian sesungguhnya secara operasional diterjemahkan melalui Misi dan Program Departemen Pertanian tahun 2005-2009. Misi Departemen Pertanian menurut Dr.Ahmad adalah untuk periode pembangunan Pertanian 2005-2009 adalah :

1.  mewujudkan Birokrasi petani profesional dan memiliki integritas moral.

2.  mendorong pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

3.  memfasilitasi terwujudnya ketahanan pangan melalui peningkatan produksi.

Sementara untuk program pertanian tahun 2005-2009 adalah :

1.  meningkatkan ketahanan pangan.

2.  meningkatkan ketahanan agrobisnis. dan

3.  peningkatan kesejahteraan petani.

Dr. Ahmad lebih kanjut mengemukakan bahwa untuk mencapai program yang bagus tersebut dibutuhkan Sumber Daya Manusia Pertanian yang unggul yakni yang memiliki kekuatan spiritual, kekuatan intelektual, kekuatan emosional dan kekuatan jasad.

Ketika menjawab pertanyaan masyarakat Indonesia di Jepang mengenai kendala pelaksanaan program, Dr. Rudi Lumanto mengemukakan bahwa ternyata dalam realisasi program LM3 petani menyalahgunakan LM3 antara lain dengan cara bagi-bagi uang antar petani , bahkan tragisnya ada yang untuk hajatan. Oleh karena itu menurut staf khusus Menteri Pertanian ini, salah satu solusi terpenting adalah perlu program peningkatan penyuluh petani.

Sementara menjawab pertanyaan masyarakat Indonesia lainya yang hadir di forum diskusi ISTECS yang diselenggarakan di musim dingin ini Dr.Ahmad mengemukakan bahwa target tahun yang akan datang antara lain berupaya keras agar lahir Undang-undang & Peraturan Menteri Pertanian yg memihak petani. Program pemberian beasiswa juga mengemuka dalam diskusi yang berlangsung saat musim dingin itu. Untuk tahun yang akan datang  akan diberikan beasiswa khusus bagi anak petani. Selain itu dalam rangka meningkatkan produktivitas petani Deptan juga akan melakukan recruetment tenaga penyuluh kontrak sebanyak 60.000 orang.

 

Catatan Dari Jepang

Dalam kesempatan tanya jawab dengan masyarakat Indonesia di Jepang, Drh.Pudjiatmoko, Phd (Atase pertanian KBRI Tokyo), mengemukakan bahwa Atas melakukan kerjasama dengan Jepang antara lain dalam bentuk pengiriman trainee pemuda petani Indonesia untuk melakukan magang tani di Jepang. Mereka para trainee tani ini jumlahnya mencapai 50-60 orang pertahun. Kerjasama juga dilakukan selain dengan JAEC juga dengan asosiasi petani di Jepang antara lain diwilayah Fukui, Nigata, Gunma, dan Kumamoto. Para tranee petani ini masih muda dan diharapkan memiliki pengalaman berharga untuk dikembangkan di Indonesia. Menurut alumni Gifu Uiniversity ini, mereka yangg dikirim ke Jepang harus mempunya pengalaman 5 tahun sebagai petani di Indonesia atau memeiliki pengalaman bertani mengikuti orang tuanya. Beberapa alumni trainee tani di Jepang ini menurut Pudiatmoko berhasil melakukan penanaman tomat dengan metode hydroponic di wilayah Lembang-Bandung, Jawa Barat. Produk mereka disebut Japanese tomato dan dipasarkan disejumlah pasar swalayan di Indoensia. Selain itu atase pertanian juga membantu dan memfasilitasi delegasi Indonsia ke Jepang dalam kerjasama dengan lembaga-lembaga di Jepang, contohnya pengadaan peralatan lalat buah sehingga buah-buahan Indonesia diharapkan bisa masuk ke Jepang.

Jika kita belajar dari majunya dunia pertanian di Jepang, ternyata program pengiriman trainee juga pernah dilakukan pemerintah Jepang di awal abad 20 . Pemerintah Jepang mengirim petaninya ke sejumlah negara Eropa dan Amerika. Walhasil kini dunia pertanian Jepang mengalami kemajuan yang mengagumkan. Dalam konteks ini kunjungan tenaga ahli Menteri Pertanian RI ke Jepang merupakan langkah yang strategis untuk mengetahui lebih dekat dunia pertanian Jepang. Bahkan termasuk mengunjungi secara real kondisi para trainee tani yang ada di sejumlah daerah di Jepang. Beberapa hal menarik dari Jepang tentu saja telah ditemukan, tinggal kita berharap agar hubungan anatar Indonesia dan jepang dibidang pertanian mampu membuahkan hasil bagi kemajuan pertanian Indonesia yang memang merupakan negara agraris terbesar di dunia.