Menulis Blog: dari Penonton menjadi Warga Dunia

0
26

Oleh: Emna Ben Jemaa*)

Pewarta-Indonesia, Tunisia – Pengalaman pertama saya menulis bermula dengan blog. Dengan menulis blog, pandangan saya tentang dunia mulai berubah; saya tidak lagi terkungkung oleh lensa media arus utama yang sudah mengalami sensor.

Menulis blog, yang merupakan jendela saya untuk melihat dunia, pelarian saya dan bahkan kendaraan saya menuju pencerahan, adalah satu-satunya sarana komunikasi yang memungkinkan saya mengungkapkan pemikiran saya secara bebas. Karena saya sendiri yang menerbitkannya, saya bisa menulis secara bebas tanpa mendapat sensor atau diedit.

Menulis blog telah mengubah hidup saya dan memberi saya kesempatan untuk mengenali diri sendiri dan mengetahui dunia. Karena blog, saya telah menjadi seorang jurnalis. Saya telah diundang ikut serta dalam berbagai lokakarya di seluruh dunia dan saya juga telah berkelana tanpa perlu meninggalkan kursi saya, mengetahui bagaimana orang dari belahan dunia lain hidup dan berpikir. Karena blog, saya mengenal budaya-budaya lain dan belajar hal-hal baru tentang diri saya.

Selain itu, melalui blog saya, saya telah menjadi warga dunia yang aktif.

Saya memulai pengalaman menulis blog lima tahun lalu. Pada saat itu menulis tampak asing bagi saya dan saya pikir hanya para intelektual sajalah yang menulis. Tapi entah kenapa saya pun mulai mengetik kata-kata.

Menulis secara anonim memungkinkan saya untuk menggunakan waktu luang saya sendiri. Saya mulai menikmati kebebasan menulis: kebebasan untuk bisa mengungkapkan pemikiran saya lewat tulisan, sesuatu yang dulu tak berani saya suarakan lantang-lantang.

Menulis blog memungkinkan saya berpikiran lebih terbuka. Saya mulai belajar mempertanyakan diri saya, meluangkan waktu untuk membaca pendapat-pendapat yang berbeda dari pendapat saya dan mempertimbangkan pendapat-pendapat tersebut. Misalnya, saya menentang kebijakan-kebijakan Israel di Tepi Barat dan Gaza, namun saya harus membaca dari awal hingga akhir argumen orang Israel yang membela pendudukan Israel di sana.

Saya juga telah belajar menjadi seorang warga dunia. Ketika Anda menulis blog, Anda menjadi sadar akan eksistensi Anda sendiri dan potensi Anda untuk mengambil langkah melawan ketidakadilan. Misalnya, selama perang di Irak, media asing tidak selalu memberi orang Arab kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka. Blog telah menjadi jalan menjangkau orang di luar negeri dan memberi tahu mereka tentang realitas di lapangan, realitas yang boleh jadi tidak selalu dilihat atau diwartakan oleh media arus utama.

Di beberapa negara, kebebasan berekspresi bukanlah hak absolut: bahkan jika pemerintah tidak selalu menyensor terbitan secara langsung, media sering merasakan tekanan untuk menyensor diri sendiri.

Di negara-negara di mana Anda harus berjuang untuk mengekspresikan diri sendiri, mempunyai blog kadang bisa memberikan suatu kebebasan yang tidak dinikmati oleh media arus utama, sehingga memungkinkan gagasan-gagasan secara bebas dan mudah dikomunikasikan dan dibaca oleh orang-orang dari seluruh dunia. Saya punya bukti hal ini ketika saya melihat statistik orang yang membaca blog saya. Setiap postingan saya dibaca oleh lebih dari seribu orang, dan saya bahkan tidak harus meninggalkan kursi saya. Sayang bila melewatkan kesempatan untuk menggerakkan perubahan ini.

Lewat blog saya menemukan sebuah dunia kata-kata yang menakjubkan dan komunitas lain para bloger kontemporer, di mana saya berdiskusi dengan para penulis, wartawan, pebisnis dan warga dunia yang lain. Diskusi ini dimulai di blog dan sering berlanjut lewat email, Skype dan kadang lewat tatap muka.

Tentu satu suara tidaklah cukup, gagasan menjadi menarik ketika dibagi. Ketika sebuah gagasan diposting di sebuah blog, akan membuka diskusi berbagai sudut pandang yang berbeda dan, jika statistik pengunjungnya tinggi, sering hangat diperdebatkan melalui komentar para pembaca. Inilah yang membuatnya menarik.

Interaksi yang dilahirkan melalui blog-blog juga cukup indah. Saya perlahan mulai menyadari bahwa pada akhirnya, kita semua punya emosi dan aspirasi tertentu yang sama. Entah kita hidup di Tunis, New York atau Bamako, kita semua mencintai dengan cara yang sama, kita semua sama-sama punya harapan akan kesuksesan, cinta dan kebahagiaan dan kita semua meyakini atau setidaknya mengharapkan sebuah dunia yang lebih baik.

Menulis blog memungkinkan kita membuka diri pada dunia dan berhubungan dengan orang-orang yang mungkin tak akan kita kenal melalui tatap muka. Blog saya telah mengubah saya dari sekedar penonton menjadi seorang warga dunia yang aktif, dan saya mengajak Anda untuk bergabung dalam diskusi.

*) Emna Ben Jemaa adalah seorang bloger yang sering menjadi kontributor Tunis Hebdo dan Africa Magazine, serta dosen muda ilmu pemasaran di Time University, Tunisia. Ia mempunyai blog emmabenji.canalblog.com.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)