Pelestarian Kesenian Tradisional Aceh di Denmark

0
38

 

Pewarta-Indonesia, Sanggar Tari Putroe Aceh yang lahir di Denmark lebih kurang setahun lalu yang beranggotakan sebelas orang wanita dewasa dan sebelas anak perempuan sudah menunjukan kemajuan yang membanggakan dalam membawakan tarian Saman, Ranub Lampuan, Seulanga dan Pengantin Baroe.
Meskipun lokasi rumah masyarakat Aceh satu dengan yang lainnya yang berdiam di Denmark tidaklah begitu berdekatan, dan memakan waktu kurang lebih dua atau tiga jam untuk berkumpul, tergantung pada lokasi yang di sepakati, namun dengan antusias yang tinggi jarak tidaklah jadi hambatan untuk menggelar latihan menari tetap rutin dalam upaya menjaga dan melestarikan kesenian tradisional Aceh di Denmark.

Dalam penentuan waktu dan tempat biasa nya di pilih pada hari libur di karenakan kebanyakan kaum perempuan Aceh yang kini menetap di Denmark memiliki kesibukan pekerjaan dan lainnya, sedangkan para anak anak gadis sibuk dengan aktifitas belajarnya. Latihan menari tersebut biasanya di lakukan sebanyak dua kali dalam sebulan itupun setelah mengatur janji terlebih dahulu.

Tidak seperti sanggar – sanggar lainnya yang ada di Aceh, Sanggar Tari Putroe Aceh tidak memiliki perlengkapan yang memadai seperti guru dan alat musik yang mendukung contohnya rapai, gendang dan serune kale seperti halnya sebuah sanggar seni pada umumnya, namun hanya dengan bermodalkan contoh tarian dari kaset dan CD beserta tekat yang kuat dalam upaya pelestarian seni tari Aceh di Denmark tetap di lakukan dengan harapan hasil yang di capai tidak kalah dengan sanggar sanggar tari besar yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam seperti Sanggar Tari Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

Dengan bermodalkan pengalaman pribadi menjadi salah satu anggota sebuah sanggar tari sewaktu duduk di bangku SMU  Matang, Bireun, Aceh dulu. Walaupun tidak memiliki disiplin ilmu khusus di bidang seni, Nurmala bersma wanita – wanita Aceh merasakan masih memiliki banyak kekurangan, namun tetap merasa optimis yang tinggi bahwa bidang budaya dan kesenian masyarakat Aceh di Denmark akan terus maju.

Bakat alami dan semangat yang kuat dan juga dengan dukungan yang luar biasa dari orang tua membuat anggota sanggar dari kalangan anak gadis sangat rajin dalam berlatih menari di rumah masing masing. Tidak lupa pula Nurmala sebagai ketua sanggar membekalkan setiap anggota dengan satu atau dua kaset sebagai tuntunan. Terlihat antusias yang positif dari masyarakat Denmark dalam menerima budaya dan kesenian Aceh setelah beberapa kali pertunjukan kesenian Aceh yang sudah di tampilkan.

Namun demikian, kekurangan masih banyak di rasakan dari segala bidang baik berupa tempat latihan yang tetap, alat musik yang mendukung, kostum berupa sanggol, bunga dan celana yang sesuai yang harus di kenakan pada saat pertunjukan dan juga pendanaan yang selama ini masih menggunakan dari pribadi apabila ada acara. Nurmala sebagai ketua sanggar seni Putroe Aceh mengharapkan seluruh masyarakat Aceh di seluruh dunia untuk  dapat merapatkan barisan demi kemajuan Aceh dalam segala bidang supaya dapat mengharumkan kembali nama Aceh seperti jaman puncak kejayaan Aceh tempo dulu, demikian paparan Nurmala Syahabuddin sebagai Ketua sanggar seni Putroe Aceh di Denmark kepada WAA.

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]