Pikiran Orang Amerika tentang Muslim

0
30

Oleh: Dalia Mogahed*)

Pewarta-Indonesia , Washington, DC – Rakyat Amerika dan keterbukaan mereka kepada komunitas Muslim akan banyak menentukan keberhasilan prakarsa global Presiden Barack Obama, yang ia lontarkan pada hari pelantikannya setahun silam saat menyerukan sebuah “jalan baru untuk maju” bersama masyarakat Muslim. Perubahan akan banyak tergantung pada bagaimana orang Amerika berpikir, dan karenanya penting untuk memahami persepsi orang Amerika terhadap Muslim dan Islam.

Seberapa banyak orang Amerika tahu tentang Islam dan kaum Muslim? Apa karakteristik yang mencirikan Muslim dalam pikiran orang Amerika? Dan, mungkin yang paling penting, faktor apa yang mendorong prasangka atau toleransi?

Penelitian terbaru yang dipublikasikan minggu lalu oleh Gallup Center for Muslim Studies menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan bahkan banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah apa yang disimpulkan dari jajak pendapat kepada seribu orang Amerika tentang persepsi mereka terhadap beberapa komunitas pemeluk agama, dengan perhatian khusus pada persepsi mereka terhadap Muslim dan Islam.

Orang Amerika cenderung mengakui lebih menyimpan prasangka terhadap Muslim daripada terhadap penganut agama lain yang diteliti Gallup. Empat puluh tiga persen orang Amerika mengakui punya setidaknya sedikit prasangka terhadap Muslim. Ini lebih dari dua kali lipat jumlah orang yang punya prasangka terhadap orang Yahudi, Budha, atau Kristen.

Survei juga menemukan bahwa punya prasangka terhadap orang Yahudi membuat seseorang lebih cenderung punya prasangka terhadap Muslim, ketimbang semua faktor lain yang diteliti. Dari semua variabel yang kami teliti, dari usia, pendidikan hingga persepsi, faktor yang paling kuat berhubungan dengan prasangka anti-Muslim bukanlah tingkat pendidikan, kenal tidaknya seseorang pada seorang Muslim, atau bahkan pandangan seseorang tentang Islam-melainkan prasangka anti-Yahudi. Hasil ini menunjukkan bahwa sentimen anti-Semitisme dan anti-Muslim adalah fenomena yang berkaitan, dan bahwa organisasi-organisasi yang memerangi penyakit-penyakit sosial ini harus bekerja sama lebih erat karena mereka sebenarnya mempunyai tujuan yang sama.

Seringnya kehadiran dalam peribadatan membuat orang Amerika lebih tidak cenderung punya prasangka ekstrem terhadap Muslim. Misalnya, semakin sering seseorang ke gereja membuatnya cenderung kurang punya prasangka terhadap Muslim.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa ada atau tidaknya prasangka lebih berhubungan kuat dengan pendapat seseorang tentang Islam daripada dengan apakah seseorang secara pribadi mengenal seorang Muslim atau tidak. Jika seseorang tidak mengenal seorang Muslim secara pribadi, itu akan membuatnya lebih cenderung punya prasangka ekstrem terhadap kaum Muslim. Tapi, yang mungkin mengejutkan, mengenal seorang Muslim juga tidak meningkatkan kecenderungan seseorang untuk tidak punya prasangka.

Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa mengenal seorang Muslim boleh jadi membantu melembutkan prasangka ekstrem, tapi tidak cukup untuk menghilangkannya.

Survei juga menunjukkan bahwa persepsi orang Amerika tentang apa yang Muslim pikirkan kadang jauh berbeda dari apa yang sebenarnya Muslim pikirkan. Kira-kira delapan dari sepuluh orang Amerika (81 persen) menganggap bahwa kebanyakan Muslim tidak menghargai kesetaraan jender. Tapi, menurut penelitian Gallup di masyarakat mayoritas Muslim di seluruh dunia, mayoritas Muslim, termasuk 85 persen orang Arab Saudi, dan 89 persen orang Iran, benar-benar berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan harus mempunyai hak hukum yang setara.

Meski ada hasil yang terlihat negatif, jajak pendapat tersebut mengindikasikan bahwa pandangan orang Amerika tentang Muslim dan Islam telah secara umum membaik dalam dua tahun terakhir. Selain itu, kira-kira tujuh dari sepuluh orang Amerika juga mengatakan bahwa interaksi yang lebih antara Barat dan komunitas Muslim akan membawa keuntungan ketimbang ancaman. Mayoritas orang Mesir, Saudi dan Indonesia juga punya pandangan yang sama. Bahkan, penerimaan Muslim terhadap Amerika Serikat dan kepemimpinannya mengalami kenaikan.

Akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi tidaklah permanen, dan ini adalah sebuah hal yang menjanjikan. Tapi publik tetap perlu diberi informasi yang tepat tentang keyakinan-keyakinan Muslim. Misalnya, orang Amerika yang percaya bahwa kebanyakan Muslim mendukung kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dua kali lipat lebih cenderung tidak punya prasangka terhadap mereka. Ini mengindikasikan bahwa kita memerlukan kesadaran yang lebih tentang fakta bahwa kebanyakan Muslim di seluruh dunia mendukung kesetaraan jender. Kita juga tahu dari hasil penelitian ini bahwa prasangka tidaklah tertuju pada satu kelompok saja. Ini menjadi peluang bagi kemitraan lintas agama yang lebih besar untuk membantu mengatasi isu ini.

Mayoritas orang Amerika dan Muslim di dunia menginginkan kebersamaan bukannya pengucilan, sebuah proses yang dimulai dari dalam-lewat pemahaman tentang persepsi kita sendiri.

*) Dalia Mogahed ialah Direktur Eksekutif Gallup Center for Muslim Studies. Ia bersama John Esposito menulis Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think (Gallup 2008). Ia juga menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden untuk Kemitraan Berdasarkan Agama dan Lingkungan Sekitar.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

BAGIKAN
Berita sebelumyaTuhan Punya Banyak Nama
Berita berikutnyaSyariat Islam Membela Hak-hak Minoritas di Mesir
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.