Refleksi 40 Hari Kematian Abdurrahman Wahid: Wisata Religius Ke Makam Gus Dur

0
51

Pewarta-Indonesia, Momentum 40 hari (matang puluh) pasca kematian Abdurrahman Wahid yang diperingati pada 08 Februari 2010 pukul 20.00 WIB. Sejatinya, harus menjadi modal dasar kebangkitan keimanan sekaligus semangat kemanusiaan dan pencerahan bagi seluruh dialog antariman serta menemukan tujuan hidup di atas makam Guru pluralisme, Demokrasi, Kebebasan Beragama.

Matang puluh juga mesti dijadikan barometer sebagai wahana refleksi seberapa jauh kualitas kita dalam melakukan perjalanan spiritual untuk menemukan jati diri dan perubahan hidup yang lebih baik sejak wafatnya mendiang.

Mampukah model wisata religius–dengan berziarah ke makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur saat peringatan 40 hari ini melahirkan kesadaran kolektif guna membangun solidaritas antarumat beragama.

Terwujudnya masyarakat yang adil, tentram, damai, toleran, sejahtera dan harmonis pun menjadi cita-cita yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Kekuatan Angka 40

Konon sepanjang sejarah, angka 14 telah dikenal sebagai angka mistis sekaligus suci untuk peraktek-peraktek yang memberi makna perubahan secara positif.

Menurut ilmu numenorologi, angka 40 melambangkan kematian diri seseorang dan kelahiran kembali secara spiritual. Menurut tulisan kabbalistik dalam kitab Zohar untuk sampai pada akhir sebuah lingkaran transformasi dibutuhkan 40 hari mulai dari penentuan tujuan, persiapan hingga pengujian tujuan.

Uniknya, bila bilangan 40 dilihat dari doktrin agama-agama. Ilene Segalove, seorang pendeta Yahudi (2006;3-5) menjelaskan angka 40 digambarkan dalam kitab Taurot sebagai hurup 13 (tiga belas) dalam Yahudi ‘mem’ dan kartu mati serta menandakan penyelesaian dari sebuah tahapan. Agama Yahudi menjajarkan bahwa jika anda masuk embrio bayi pada usia 40 hari.

Dogma Kristen melalui kitab Injil disebutkan selama 120 kali, diantaranya; ketika orang-orang israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka terlunta-lunta di padang pasir selama 40 hari. Waktu tersebut dianggap sebagai masa penyucian dan penyiapan untuk memasuki tanah yang dijanjikan (the promised lond); Musa berusia 40 tahun saat tuhan memanggilnya; Musa mendaki puncak bukit sinai dan menghabisakan waktu di bukit itu selama 40 hari 40 malam. Ia menerima bagian pertama sepuluh perintah Tuhan. Pada saat orang-orang disekitarnya membuat sesembahan palsu.Musa kembali ke bukit Sina dan tinggal selama 40 hari 40 malam yang kedua kalinya.Kemudian ia menerima wahyu bagain kedua dari sepuluh firman Tuhan sebagaimana yang kita kenal sekarang; Yesus menghabiskan waktu 40 hari 40 malam untuk menyepi, berdoa dan berpuasa di dalam hutan belantara Judean dalam rangka mempersiapkan diri melaksanakan perintah Tuhan.

Ajaran Islam; Muhammad saat menerima wahyu pertama surat Al-Alaq berumur 40 tahun; Jagat raya ini di 40 pilar yang disimbolkan oleh tiang penyokong Kubah Mesjid di Jerusalem.

Dharma Budha, Sang Guru Agung Budha Gatama melakukan meditasi selama 40 hari di bawah pohon Bodhi. selama waktu itu godaan dan bahaya dunia mengancam dirinya. Namun pada hari ke 40 ia memperoleh pencerahan.

Jalan Yoga jenis Kundalini program fisik dan mistis untuk perubahn ke arah kebajikan. Katanya memerlukan waktu 40 hari untuk menghilangkan prilaku buruk dan 40 hari lainya untuk memperoleh perilaku positif.

Tak hanya itu, dalam legenda, cerita rakyat, keprcayaan suku ikut memberikan makna 40. Tengoklah, legenda di Jerusalem mengatakan bahwa jika anda mengunjungi Western Wall selama 40 hari berturu-turut dan berdoa untuk satu keinginan khusus, maka keingian itu akan terkabul.

Beberapa agama Timur juga kepercayaan orang Mesir kuno 40 adalah jumlah hari yang penting bagi jiwa untuk bisa terlepas dari badan.Itulah mengapa terdapat upacara keagamaan guna menghormati dan memperingati orang yang sudah meninggal setelah 40 hari meninggal. Layaknya di masyarakat Sunda, upacara matang pula kerap terjadi.

Masyarakat adat (suku kono) tertentu, setelah disunat laik-laki harus mengasingkan diri dalam semak-semak belukar untuk menyepi selama 40 hari. Pada hari ke 40 baru bisa pulang ke rumahnya.

Pembabakan sejarah, kala Renaisan 40 hari dianggap sebagai periode yang sempurna untuk menyelesaikan pekerjaan yang penting.

Pun keahlian medis ikut menyuarakan bahwa sela dalam aliran darah manusia memperbaharui dirinya selama 40 hari sekali.

Pentingnya Arti Kehidupan

Di tengah ketidakpastian jaminan kebebasan beragama dan peperangan atas nama apapun yang tak kunjung selesai serta memudarnya dialog antaragama.

Sangatlah wajar bila pegiat Lintas Agama ikut menggelar peringati 40 Hari Kematian Gus Dur. Menurut Zastrow, Ketua Panitia Peringatan 40 Hari Gus Dur. Bukan hanya tahlilan, doa dari lima agama pun dipanjatkan untuk mantan Presiden RI ke 4 itu. Sekitar 1.000 orang sudah memadati rumah Gus Dur. “Ada juga pengantar doa bersama dari lima agama, yakni Katolik, Hindu, Budha, Protestan dan Konghucu,” ujarnya.

Tulisan “disinilah dikubur seorang pluralis” yang ada di kuburan Gus Dur harus menjadi ‘oleh-oleh’ bagi peziarah.

Pasalnya, keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian ilahi. Perbedaan merupakan kodrat manusia. Gus Dur cenderung memandang perbedaan dalam perspektif, tulis Benyamin F. Intan sambil meminjam istilah Wolfgang Huber, “ethic of dignity” daripada “ethic of interest” (Die tägliche Gewalt, 44). Ethic of dignity melihat perbedaan sebagai pemberian (given), sementara ethic of interest memandangnya sebatas pilihan (choice). (Kompas, 3/1)

Menilik angka kematian kebebasan berpendapat, agama, keyakinan yang tak sedikit itu, membuta kita resah, miris, iba dan menggedor arti pentingnya sebuah kehidupan bersama.

Rupaya, ajaran Konfusius (suasana dan semangat jelang Imlek 2561) memberikan petuah kepada kita ”Perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama” ungkap Lau Tzu 500 SM

”Apa sebenarnya tujuan hidup mausia?” Ia menjawab ”Belajar dan terus menerus belajar seumur hidup untuk menjadi manusia. Caranya bagaimana? Kalau pisau harus diasah dengan batu supaya berguna, maka manusia harus diasah dengan manusia. Karena itu hurup kanji pintar/chung-ming dimulai dengan hurup kuping (untuk mendengar) lalu mata (untuk melihat) diikuti mulut supaya dimasukan ke hati. Juga ditambah matahari dan bulan untuk dikerjakan siang malam sepanjang hari.

Dalam kontek berkabung pasca wafatnya Gus Dur. Hidup ini memang harus dijalani dan penting usaha untuk menamukan sekaligus menjadi diri kita sendiri ditengah masyarakat yang terus berkembang dan tidak terjebak dalam perjuangan sekedar untuk mendapatkan spiritualitas dalam diri ini.

Dengan demikian, memaknai hidup tidak hanya berputar pada urusan apa yang boleh dan dilarang dikerjakan supaya terhindar dari hukuman dan memperoleh kebahagiana akhirat. Namun, kebermanfaatan bagi diri, orang lain (bangsa dan agama) menjadi sebuah keharusan.

Inilah pentingnya makna hidup yang diinginkan oleh Jusuf Sutanto, pemerhati kearifan kuno saat berziarah ke tempat-tempat ibadah (makam Gus Dur). Semoga.

IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Image: google.co.uk