Satu Dekade komunitas Ininnawa Makassar

0
30

Pewarta-Indonesia, Tepat pukul 02.00 wita, saat pagi masih buta, duduk membentuk segitiga, memori itu perlahan kembali dibuka. Memoar perjalanan yang sudah lama terpendam, tapi masih tetap eksis dikepala di angkat kembali kepermukaan. Salah satu komunitas di Makassar, digagas oleh orang-orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap ilmu pengetahuan. Perlahan, satu persatu menemukan karakternya masing-masing tanpa harus saling memaksakan kehendak satu sama lain. Komunitas, dengan kesetaraan sebagai pondasi bangunannya, dengan berbagai dinamikanya terbukti kokoh hingga kini. Dan terus membagikan pengetahuan yang mereka temukan.

Satu persatu, penghuni rumah yang juga sebagai kantor dari tiga komunitas lainnya, perlahan mulai terlelap. Tinggal kami bertiga, serta seorang lagi yang sedang menikmati permainan online di lantai bawah. Saya harus jadi pendengar malam itu. Mendengarkan bagian-bagian perjalanan, serta bagaiamana komunitas Ininnawa ini bermula.

Komunitas ini diawali dari kegelisahan terhadap kondisi di sekitar mereka, dimana mereka juga banyak menghabiskan waktu di sana, sebuah universitas yang konon ternama di kawasan timur Indonesia. Universitas, yang saat itu mereka sebut banyak dihuni oleh orang yang berbicara tanpa mereka mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Kesamaan latar belakang pendidikan, menjadi modal pertama dalam membangun komunitas ini, serta membangun aturan main dengan tidak secara ketat. Superioritas dan inferioritas antar anggota sirna dalam suasana kebersamaan dan kekeluragaan yang meraka bangun. Dan menurut saya, hal itu masih terus bertahan sampai sekarang.

Sama seperti pada umumnya di setiap komunitas ataupun lembaga formal lainnya, suka-duka tentu tidak lepas dari perjalanan membangun komunitas ini. Berbagai hal yang menyenangkan maupun menyedihkan pernah mereka alami dan mampu melewatinya. Dan setiap dari mereka, mengalaminya tanpa terkecuali dan mengisi memori perjalan mereka, yang masih aktif ataupun yang sudah memilih jalan lain. Semua kenangan itu disimpan dengan baik. Semua mengenangnya, dan bahkan terkadang merindukannya.

Rumah kontrakan, dengan pembayaran yang seringkali terlambat, adalah salah satu bagian dari kisah perjalanan mereka. Namun pemilik rumah, yang saat itu memegang jabatan sebagai Ketua Jurusan Sastra Inggris di Univeritas Hasanuddin, tak pernah risih dengan hal itu. Dia, memaklumi kondisi anak-anak muda yang mengontrak rumahnya. Bahkan, ia sering memangkas uang sewa sebagai hadiah pembeli makanan. Dan hal itu masih diingat sampai sekarang. Sebuah kebaikan dari keluarga yang turut melahirkan generasi dengan warnanya sendiri.

Dengan berbagai keterbatasan serta kelebihan, banyak hal telah mereka lakukan. Sistem yang dianggap bobrok, dilawan dengan tidak mengikuti kebiasaan disekitar. Lingkungan mahasiswa yang akrab dengan berkoar-koar di jalan, oleh mereka bahkan dianggap tidak seksi. Ada banyak cara yang bisa digunakan, tegasnya sekali lagi. Meski saat itu dan terkadang sampai saat ini, banyak pihak menganggap cara yang dipilih dari komunitas ini terkesan menutup diri. Tapi hal itu dibantah dengan sikap kukuh dan optimis atas keputusan yang sudah mereka buat. Salah satu hasilnya, birokrat di jurusan mereka menuntut ilmu, sempat kelabakan melihat data yang disodorkan mengenai kondisi pendidikan saat itu. Khususnya di univesitas dengan gambar ayam sebagai simbolnya. Dan sekaligus ‘kalau boleh dikatakan’ menjadi awal dalam perubahan kurikulum, dengan mulai melibatkan mahasiswa dalam perumusan kurikulum pendidikan.

Udara terasa semakin dingin. Menerobos celah pintu yang dibiarkan terbuka setengah, masuk di setiap pori-pori kulit yang tidak tertutup. Asap rokok terus mengepul dari kami bertiga, dari dua bungkus kini tersisa dua batang. Aku harus menjadi pendengar di pagi buta. Menghadapi dua anggota komunitas yang hingga kini sudah berhasil membukukan pemikirannya. Aku terus menyimak dari setiap kata yang meraka mereka ceritakan. Posisiku sungguh menyenangkan saat itu, menjadi pendengar, artinya tidak perlu mengeluarkan banyak kata-kata. Keduanya masih semangat membagi pengalamannya. Saya merasakan kebanggaan tersendiri kala itu. Orang yang relatif baru berinterkasi dengan mereka, tapi sudah diberikan kuasa untuk mendegar kisah yang tak banyak diketahui orang lain. Yang mungkin saja, kini mengagumi komunitas Ininnawa. Kesempatan ini tentu tidak semua orang bisa dapatkan. Sungguh pagi yang menyenangkan.

Setiap momen masih terus dicari bagian-bagian yang masih diingat dengan detail. Sedang aku masih tetap bertahan pada posisi mendengarkan setiap kata dari dua orang yang saling bergantian bercerita. Keduanya saling melengkapi bagian-bagian yang dianggapnya terlewatkan. Terkadang saling menatap, lalu tertawa lepas. Sesekali aku juga ikut tertawa, meski tidak mengetahui secara pasti hal yang membuat mereka tertawa dan sesekali bahkan terbahak-bahak.

 

***

 

Kisah persahabatan sesama anggota komunitas kali ini mendapatkan giliran sebagai tema pembicaraan. Dalam komunitas ini, satu sama lainnya memiliki orang yang paling sering ditemani, baik dalam bekerja setiap program ataupun ditemani berbagai cerita. Karakter yang dianggap cocok, ataupun karena lagi bersama-sama mendalami suatu bidang pengetahuan tertentu, yang biasanya menjadi perantara kebersamaan setiap anggota. Tapi bukan berarti, itu menjadi sekat dengan yang lainnya.

Banyak kisah yang lucu mewarnai bagian ini. Bagimana orang yang ukuran tubuhnya tidak lebih dari 160cm selalu jalan berdampingan dengan orang yang ukuran tubuhnya mencapai 185cm. Sungguh hal yang cukup ganjil setiap kali mereka jalan berdampingan untuk beraktivitas di kampus. Yang satu melangkah dengan lambat tapi dengan jarak langkah yang cukup panjang, sedang yang satunya lagi harus mempercepat langkahnya. Saya sendiri ikut tertawa membayangkan hal itu.

Tidak hanya itu, ada juga cerita lainnya saat mereka sedang menggelar rapat anggota. Lokasi pertemuan yang di lakukan di halaman depan rumah yang ditumbuhi pohon nangka, serta aturan pertemuan yang jauh dari formal, maka setiap orang berhak mencari posisi duduk yang paling disenangi. Salah satu dari mereka, ternyata memilih duduk di atas dahan pohon. Pembahasan yang selalu diselingi dengan humor, membuat orang yang duduk di pohon tadi ternyata sampai lupa diri. Barangkali karena terlalu asyik tertawa, dahan pohon yang dipijaknya ternyata tidak mampu lagi menahan dirinya. Walhasil, ia harus terpelanting ke tanah. Untungnya, pohon tersebut tidaklah terlalu tinggi, sehingga tidak sampai membuatnya terluka. Meski begitu, tindakan serta raut mukanya mengundang tawa yang lainnya.

Saya bisa membayangkan kelucuan yang terjadi saat itu, karena yang menceritakannya saja, harus sesekali memegang perutnya menahan tawa.

 

***

 

Ininnawa, sebagai sebuah komunitas yang memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan teguh untuk mengaplikasikannya, kini sudah berusia sepuluh tahun. Dari tangan-tangan kreatif dari setiap anggotanya sudah memberikan warna tersendiri bagi komunitas ini, dan juga tentunya memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan di Kota Makassar.

 

Dalam komunitas ini, tercatat beberapa komunitas yang tergabung di dalamnya, kafe baca Biblioholic, Penerbitan buku Ininnawa, Kampung Buku, Sekolah Rakyat Payo-Payo, Rumah KAum MUda (KAMU), dan juga mitra komunitas seperti Performa yang menghimpun pecinta photografi, dan juga Active Society Institute (AcSI) yang konsen pada pendampingan komunitas pedagang di pasar lokal kota Makassar.