Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Imi Suryaputera Sumpah Jong Hindia Belanda
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1435 H, kepada seluruh umat Muslim dan Muslimat sebangsa dan setanah air dan di seluruh dunia. Semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan pahala yang berlimpah di bulan suci penuh rahmat ini bagi setiap anak negeri di segenap penjuru nusantara... Amin...

Sumpah Jong Hindia Belanda

Kami putra putri Indonesia mengaku;

 

Bertanah air satu, tanah air Indonesia,

Berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan

Berbahasa satu, bahasa Indonesia.

KOPI - tulah bunyi dari “sumpah pemuda” yang diikrarkan oleh sejumlah pemuda yang “mengaku” mewakili pemuda-pemudi dari berbagai daerah di “Hindia Belanda” pada 28 Oktober 1928 silam. Dan dengan susah payah pula bunyi “sumpah” itu saya cari dan temukan, karena ternyata pada waktu Sumpah Pemuda diikrarkan, tak terdapat wakil dari “Jong Borneo/Kalimantan”, daerah dimana saya lahir, dibesarkan dan bertanah air.

Saya tergelitik menulis ini setelah menyaksikan tayangan sebuah stasiun televisi berita swasta beberapa bulan lalu yang menayangkan terkait Sumpah Pemuda. Dan ternyata dari beberapa pemuda pemudi yang ditanya oleh Reporter televisi tentang bunyi sumpah itu, banyak yang tidak hafal bila tak ingin disebut memang mereka tak pernah tahu, atau tragisnya tak mau tahu.

Ironisnnya pula saat menjelang peringatan Sumpah Pemuda, di Papua terjadi gejolak yang mengarah ke gerakan separatis, yang tentu saja tak sesuai dengan salah satu bunyi dari item Sumpah Pemuda.

Kemudian juga yang dirasakan “mencederai” item Sumpah Pemuda adalah, banyak orang di negeri ini yang sudah tak bangga lagi berbahasa Indonesia, buktinya mereka justru bangga berbahasa dengan bahasa yang campur aduk dengan kata-kata yang tak ditemukan dalam bahasa Indonesia yang baku.

Sudahlah, saya sendiri mungkin juga termasuk salah seorang yang tak begitu peduli dengan isi Sumpah Pemuda. Saya justru bangga kemana-mana mengaku sebagai “orang Borneo/Kalimantan” daripada memperkenalkan diri sebagai “orang Indonesia”, dan ini tak menutup kemungkinan dilakukan oleh mereka dari daerah lain. Apalagi seperti diketahui, beberapa daerah di Indonesia terdapat yang berbatasan langsung dengan negara lain, atau sebut saja satu tanah beda negara, antara lain; pulau Borneo/Kalimantan yang dimiliki 3 negara (Indonesia, Malaysia dan Brunei), pulau Papua yang dimiliki 2 negara (Indonesia dan Papua New Guinea)n dan pulau Timor yang milik 2 negara (Indonesia dan Timor Leste).

Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda bagi yang merayakan dan memperingatinya. Selamat bernostalgia bagi “jong-jong” yang masih hidup yang ikut mencetuskan Sumpah Pemuda, atau bagi para keturunannya yang turut berbangga hati.

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.