Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

 

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Indonesia-Maroko ‘Jas Merah’ Hubungan RI-Maroko (28/M)
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1435 H, kepada seluruh umat Muslim dan Muslimat sebangsa dan setanah air dan di seluruh dunia. Semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan pahala yang berlimpah di bulan suci penuh rahmat ini bagi setiap anak negeri di segenap penjuru nusantara... Amin...

‘Jas Merah’ Hubungan RI-Maroko (28/M)

KOPI, Merekam jejak sejarah, membantu sebuah negara untuk dapat berdiri kokoh menyuarakan perdamaian dalam jalinan persahabatan. Sejarah menjadi pijakan awal bagi generasi penerus untuk mengembangkan sayap, menyambut hubungan yang lebih harmonis antara negara-negara di belahan dunia. Pembukaan hubungan ini akan memiliki nilai strategis dari berbagai lini. Lini politis, ekonomi, hubungan antar masyarakat maupun dari lini perlindungan WNI, misalnya. Indonesia, salah satu negara yang tergolong aktif dalam menjalani hubungan kerja sama dengan beberapa negara dalam forum Internasional. Tanpa disadari hubungan diplomatik semacam ini semakin membawa pengaruh besar untuk kejayaan NKRI, di samping beberapa hal yang memang bersifat paradoks. 19 April 1960, tepatnya 51 tahun silam, Indonesia mengawali hubungan diplomatik dengan negara Maroko yang ditandai penyerahan surat kredensial Duta Besar Nazir Pamontjak kepada Raja Maroko, Muhammed V. Inilah gaung ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang tidak boleh luput dari perhatian publik. Awal sebuah kebersamaan indah yang patut dibina RI- Maroko, juga kita para generasi penerus bangsa. Pun Bung karno, petinggi kerajaan Maroko, serta pejuang yang terlibat pada perjanjian di masa lalu ini akan tersenyum bangga melihat tali persaudaraan yang masih terajut secara harmonis hingga memasuki masa perak (51 tahun).

Negeri Maghribi (matahari terbenam), Maroko adalah sebuah negara kerajaan yang berada di wilayah Afrika Utara, sedangkan Indonesia merupakan negara demokrasi yang berada di wilayah Asia Tenggara. Jarak geografis yang terbentang di antara keduanya, tidak lantas pupus harapan untuk berjabat tangan menyatakan bahwa kedua negara itu sebagai “Akh Syaqiq” (saudara kandung). Kenangan khusus yang menjadi potret kedamaian RI-Maroko tercermin dari kunjungan Presiden RI pertama, Bung Karno yang akhirnya menjadi sejarah di kerajaan Maroko dengan adanya nama sebuah jalan berlabel ‘Rue Suekarno’ di jantung kota Rabat, Ibukota kerajaan Maroko. Pun Bung Karno menyematkan nama Casabalanca, kota perdagangan dan pelabuhan Maroko sebagai salah satu nama jalan terpadat di Indonesia. Peristiwa 51 tahun lalu itu mungkin tidak banyak diketahui generasi penerus, namun itulah sejarah yang tak dimungkiri membuat Indonesia lebih terkenal peradabannya di mata Internasional.

Negeri matahari terbenam, Maroko memberi wahana baru bagi Indonesia untuk menyimak potret keharmonisan. Di Maroko orang sangat menikmati hidupnya karena raja sangat peduli kepada rakyat. Sungguh luar biasa, terlihat hubungan antar umat beragama terjaga dengan sangat baik. Tidak ada sekat-sekat pemisah partai politik, organisasi keagamaan, latar kultural, semua dirangkul dalam hangatnya kenyamanan. Indonesia, melalui beberapa kader-kadernya yang tersebar di negeri seribu benteng itu bisa menyerap ilmunya dan merealisasikan keharmonisan itu di negeri Indonesia. Di Maroko, pendidikan merupakan hal utama. Melalui berbagai program, pihak Kerajaan Maroko memberikan fasilitas pendidikan gratis kepada seluruh rakyatnya, sekolah gratis hingga jenjang S-3 di universitas. Kebijakan ini juga mengimbas pada hubungan bilateral yang terbina dengan Indonesia, melalui AMCI, Maroko menawarkan beasiswa guna belajar di institusi pendidikan, khususnya Universitas Qarawiyyin. Walaupun tertatih, namun cukup banyak mahasiswa Indonesia yang tertarik melanjutkan studi di Maroko, terutama bagi mereka yang ingin mendalami nuansa islami. Mengapa harus Maroko? Bukankah Mesir atau Saudi Arabia adalah tempat perburuan terbanyak untuk belajar hal yang sama? Ya…karena Maroko adalah cerita baru (jawaban atas pilihan mereka). Inilah yang menjadi pionir penggerak pemerintah Indonesia menginginkan hubungan bilateral tetap terjalin agar mahasiswa Indonesia mendapatkan jatah untuk melanjutkan studi ke Maroko, dan menambah cerita baru di Negeri Matahari Terbenam itu.

Sikap positif dan dukungan yang diberikan pihak Maroko terhadap negara Indonesia, sudah sepatutnya disambut baik untuk memperkenalkan Indonesia melalui budaya-budaya yang khas di negeri ini agar semakin merasuk di tingkat Internasional. Indonesia yang telah menggenggam begitu banyak kemudahan, seperti perjanjian bebas visa dengan kerajaan Maroko sebagai dukungan terhadap kemerdekaan Maroko sangat menarik dimanfaatkan untuk membina hubungan bilateral dalam dunia pariwisata dan perkenalan budaya. Duta besar RI untuk kerajaan Maroko, Bapak Tosari Widjaja dalam acara HUT ke-65 RI yang digelar dalam kemasan ‘Indonesian Day’ mengharapkan agar penampilan kesenian Tari Panyembrama, Cendrawasih (Bali), Tarian Yapong (Betawi), Saman (Aceh), dan sederet kesenian memukau lainnya dapat menggugah dan menimbulkan rasa ingin tahu untuk lebih mengenal Indonesia kepada khlayak asing serta mengundang mereka untuk datang menjalin persahabatan dengan RI.

Atas bantuan insan-insan kreatif pemuda Indonesia, nama negeri tercinta ikut terangkat di bidang seni budaya, terutama memukau kerajaan Maroko. Legenda Jawa Klasik ‘Ande-ande Lumut’ menggunakan bahasa Arab dalam Festival Teater Internasional Pemuda ke-12 di kota Taza, Maroko telah menghimpun sendi-sendi kepercayaan dunia bahwa Indonesia adalah negara yang patut diperhitungkan peradabannya. Lewat seni pagelaran semacam ini, pesan-pesan perdamaian dan persahabatan bisa dituangkan secara demokratis dan dimaknai secara mendalam bagi negera-negara yang menjalin hubungan diplomatik. ‘Ande-ande Lumut’ adalah jiwa Indonesia yang di dalamnya terekam sebuah sejarah, kisah seorang pangeran dari Kerjaan Kediri, Jatim bernama Kasumayuda adalah legenda bernilai sejarah yang tetap bernafas di negeri sendiri dan merebak ke dunia Internasional. Tidak dimungkiri pesona sejarah mampu menyatukan negara-negara di berbagai lini, baik budaya, sosial, hubungan diplomati, pendidikan, bahkan pertahanan dan keamanan sekali pun.

Nilai persamaan yang terkadung pada badan RI dan kerajaan Maroko menjadi peluang komunikasi andal untuk semakin memantapkan diri di kancah Internasional. Indonesia dan Maroko sama-sama menganut kebijakan moderat dan merupakan anggota organisasi Internasional seperti PBB,OKI, GNB, Kelompok-77, dan Komite AL-Quds, serta nilai historisnya yang membantu hubungan diplomatik dapat berjalan secara beriringan. Kepercayaan ini kembali membuka peluang bagi produk dagang Indonesia memasuki nadi kerajaan Maroko. Hal ini terbukti berdasar catatan KBRI, perdagangan RI-Maroko tahun 2005 selalu surplus yang relative besar untuk RI. Implikasinya, produk RI di Maroko cukup dikenal dan diminati serta RI mendapat tempat-tempat di bursa perdagangan Maroko. Namun, hal ini patut dikembangkan dengan membentuk wadah yang mampu menampung aspirasi dan saran dalam peningkatan hubungan dagang, yang merambah hubungan politik, pendidikan, seni budaya, dan sebaginya antara kedua negara. Maroko sebagai negara yang terletak di tepi Selat Gibraltar ini termashyur akan kekayaan budayanya yang juga melukiskan kisah sejarah. Bagi warga Indonesia yang ingin mencari refrensi dan mendalami budaya Maroko bisa belajar dari karya sastra Maroko yang ditulis dalam beberapa bahasa. Masih banyak lagi sharing yang bisa kita lakukan jika hubungan diplomatic RI-Maroko terjalin mesra.

Hubungan diplomatik RI-Maroko yang memegang teguh ‘JAS MERAH’, niscaya akan langgeng di segala ranah dan lebih memantapkan diri menghadapi tantangan yang kian menerjang di kemudian hari. Jayalah Indonesiaku…

Refrensi:

http://www.berani.co.id/Artikel_Detail.aspx?ID=677. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011

http://111.68.116.28/id/berita_isi.php?news_id=1132. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011

 

Biodata Penulis

NAMA: Ni Nyoman Ayu Suciartini
TTL : Amlapura, 11 April 1990
Universitas Pendidikan Ganesha-Singaraja Bali
Alamat: jln Udayana Singaraja-Bali
Alamat rumah: jln sahadewa gang 4a no 10 b
Hp: 081916602051
Email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
Fb: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it


Artikel Lainnya:

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.