Berjalan, Berkarya, dan Tumbuh Bersama dalam Sektor Pariwisata (183/M)
KOPI, Pariwisata adalah bagaimana sebuah negara mampu mengelola sumber alam dan budaya yang dimiliki oleh negara tersebut untuk dikelola dan dikembangkan sehingga menarik minat turis untuk berwisata di negara tersebut. Bahkan karena mengingat begitu pentingnya sektor ini, sebuah negara yang tidak mempunyai sumber alam pun bisa membuat semacam ide untuk menjadi trademark negara tersebut agar dikunjungi para wisatawan. Begitupun sektor budaya. Tentu bukan rahasia umum ketika beberapa negara berusaha membajak budaya negara lain untuk dimanfaatkan atas nama negara tersebut.
Dewasa ini, sektor pariwisata menjadi sangat penting dalam membangun perekonomian suatu negara. Banyak negara-negara yang berkembang pesat karena income dari sektor ini. Singapore yang terkenal karena Universal Studio, Monaco yang terkenal karena pusat perjudian dan sirkuit balapnya, Hong Kong dengan Disneylandnya. Mereka adalah negara-negara kecil yang tidak mempunyai sumber daya alam dan kebudayaan sehingga harus membuatnya sendiri. Sekarang ketiga negara tersebut menjadi sangat berkembang. Pertumbuhan sektor ekonominya sangat pesat karena selalu menjadi tujuan wisatawan untuk menghabiskan uangnya.
Namun, saat ini mulai terjadi pergeseran dalam hal tujuan pariwisata. Turis-turis khususnya yang berkantong tebal yang mayoritas berasal dari Eropa dan Amerika mengalihkan seleranya dari hiburan mewah ala Disneyland, pusat perbelanjaan mewah, menjadi wisata alam dan kebudayaan. Sayangnya, hal ini terlambat disadari oleh pemerintah Indonesia dan Maroko. Beberapa negara lebih dulu menyadari hal tersebut dan telah melakukan langkah-langkah untuk memanfaatkan hal itu. Thailand misalnya yang terus memperbaiki dan mengiklankan pemandangan alamnya dan budaya lokalnya, Mesir yang sangat gencar mempromosikan piramidnya, dll. Singapore dan Malaysia malah lebih ekstrim. Singapore mengimpor pasir putih dari Indonesia untuk membuat pantai, Malaysia membajak budaya-budaya Indonesia untuk menarik wisatawan. Sungguh sebuah ironi dimana negara-negara yang tidak mempunyai sumber daya alam dan budaya malah berusaha menggunakan berbagai cara untuk mencari keuntungan dari sektor pariwasata, dibandingkan Indonesia dan Maroko yang diberkahi sumber daya alam dan budaya yang luar biasa. Mengingat Indonesia dan Maroko sudah cukup tertinggal dari negara lain dalam hal pariwisata, penulis memberikan saran agar pemerintah Indonesia dan Pemerintah Maroko berjalan bersama, berkarya bersama, dan tumbuh bersama dalam sektor pariwisata.
Untuk meningkatkan kerjasama antar negara, tentu hubungan pemerintahan kedua negara dan hubungan antar rakyatnya harus diprioritaskan lebih dulu. Telah terjadi hubungan yang mesra antara pemerintah Indonesia dan Maroko telah berlangsung selama 50 tahun. Namun, sejauh ini belum banyak sejarah yang menulis tentang kerjasama Indonesia dan Maroko dalam hal pariwisata. Begitupun dengan masih kurangnya minat orang Indonesia untuk datang ke Maroko dan sebaliknya sehingga orang Indonesia masih sangat asing dimata orang Maroko, begitupun sebaliknya. Menurut pandangan penulis, jauhnya jarak antar kedua negara yang menjadi hambatan utama dan tentu masih minimnya informasi tentang pariwisata kedua negara. Namun, ternyata ada beberapa hal yang tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia dan Maroko. Sejak tahun 2008, telah dibuka jalur penerbangan Denpasar-Casablanca dengan transit di Doha oleh Qatar Airlines. Hal lain, Indonesia dan maroko ternyata memiliki perjanjian bebas visa untuk pelancong dari negara masing-masing. Perjanjian ini bermula pada tahun 1960. Raja Mohammed V berjanji akan memenuhi satu permintaan Presiden Soekarno saat berkunjung ke Rabat sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Maroko. Soekarno hanya meminta pembebasan visa bagi warga Indonesia bila berkunjung ke Maroko. Seiring perkembangannya, Indonesia juga menerapkan hal serupa kepada warga Maroko yang hendak bepergian ke Indonesia. Atas dasar inilah, penulis mengharapkan pemerintah Indonesia dan Maroko membuat suatu perjanjian dimana Maroko diberikan berbagai macam kemudahan jika mempromosikan pariwisatanya di Indonesia, dan Indonesia diberikan hak serupa di Maroko. Dengan adanya perjanjian ini, diharapkan masyarakat Indonesia lebih mengenal objek pariwisata Maroko dan dengan sendirinya akan memilih Maroko sebagai tujuan pariwisatanya, dan dengan dipereratnya hubungan antar warga negara, indonesia dan Maroko akan lebih siap untuk bekerja sama mempromosikan pariwisata kedua negara kepada negara lain. Adapun objek pariwisata Indonesia dan Maroko yang sangat layak untuk dipromosikan antara lain:
- Wisata Laut dan Penggunungan
Di pantai, wisatawan biasanya memilih untuk melakukan olahraga pantai seperti jet-ski, berselancar, dll. Beberapa wisatawan juga ada yang lebih memilih untuk menikmati suasana pantai seperti menikmati matahari terbenam, berjemur, dll. Untuk wisata pantai, Maroko mempunyai beberapa pantai yang kualitasnya sudah diakui oleh dunia, seperti Pantai Dar-Bouazza, Esaouira, dan Asilah. Sedangkan Indonesia memiliki sangat banyak wisata laut mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.Yang paling terkenal tentu adalah Pulau Bali. Selain Bali, juga terdapat Pulau Seribu, Raja Ampat, Bunaken, dan Pantai Losari yang sunsetnya merupakan salah satu yang terbaik di Asia. Untuk wisata penggunungan, Maroko mempunyai Penggunungan Atlas dan Gunung Jebel Toutkal. Indonesia sendiri mempunyai Gunung Jayawijaya di Papua sebagai salah satu gunung tertinggi di dunia. Ketiga gunung tersebut berselimut salju.
- Warisan Alam, Sejarah dan Budaya
Terdapat sangat banyak peninggalan sejarah di Indonesia dan Maroko. Indonesia sangat terkenal dengan Candi Borobudur yang merupakan 7 keajaiban dunia, Batik, dan beberapa tarian dan musik tradisional. Di Indonesia juga banyak terdapat benteng-benteng bekas penjajahan, prasasti-prasasti dari jaman dahulu, dll. Sedangkan Maroko mempunyai beberepa tempat yang mempunyai keindahan alam dan sejarah historis, seperti Goa Hercules, The Hassan II Mosque yang merupakan masjid termegah ke-3 di dunia, Gurun Sahara, Red City, dll.
- Wisata Kuliner
Maroko dan Indonesia mempunyai bermacam-macam kuliner khas yang menjadi buruan para wisatawan. Di Maroko, salah satu makanan yang terkenal adalah Tajine. Hidangan ini adalah sup ayam yang dikombinasikan dengan kacang, jahe, cabe, dan paprika. Penambahan rempah-rempahnya tergantung selera. Untuk Minuman, wisatawan banyak memilih minuman semacam teh hijau yang diracik dengan kulit kayu manis. Minuman ini disebut A La Menthe. Di Indonesia, hampir setiap daerah mempunyai makanan khas. Yang terkenal adalah masakan seafood yang penyajiannya dibakar atau digoreng.
Indonesia dan Maroko mempunyai keuntungan yang tidak akan dapat dimiliki oleh negara lain, yaitu letak yang sangat strategis. Indonesia berada di antara 2 Samudera yaitu Samudera Atlantik dan Pasifik, dan Maroko berada di ujung utara Benua Afrika di perairan S. Atlantik dan Laut tengah. Sejak dulu hingga sekarang, kedua negara menjadi lalu lintas penting perdagangan negara-negara di dunia. Tidak heran mengapa Indonesia dan Maroko dahulu menjadi sasaran kaum imperialis untuk dijajah. Akses untuk ke dua negara ini pun sangat mudah, dapat melalui udara maupun laut.
Yang menarik, ternyata Indonesia dan Maroko mempunyai masalah yang sama dalam sektor pariwisata, yaitu ancaman teroris. Indonesia telah beberapa kali diserang oleh teroris, mulai dari bom Bali 1 dan 2 di awal tahun 2000an, hingga kasus yang menghebohkan dimana hotel yang rencananya akan dipakai oleh tim sepakbola dari Inggris dibom oleh teroris. Maroko pun demikian. Baru-baru ini Maroko dikagetkan oleh serangan bom Marrakech yang menewaskan sekitar 16 orang, dimana 14 orang merupakan WNA. Menurut Mendagri Maroko Tajeb Cherkaoui, “detail kemungkinan serangan ini diyakini ditargetkan pada wisatawan asing”. Sangat mirip dengan kasus teror di Indonesia yang ditargetkan pada wisatawan asing.
Rekomendasi Penulis
Penulis merekomendasikan pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Maroko untuk membuat suatu konsep acara sehingga pariwisata Indonesia dan Maroko dapat berjalan bersama selain dengan mengikuti pameran pariwisata Internasional dengan bersama. Mungkin dengan program “Enjoy The Best Sunset in Asia and Africa, Bali and Casablanca”, atau “ Visit the best Architecture In the World, Borobudur Temple and Casablanca”. Berkarya bersama. Penulis berkeyakinan bahwa semakin banyak orang yang berpikir, hasilnya akan semakin bagus. Dengan menggabungkan pikiran ahli-ahli pariwisata kedua negara, peluang untuk berhasil sangat besar. Diharapkan Indonesia dan Maroko tidak sendiri-sendiri dalam berkarya, tapi bersama-sama dan saling membantu. Yang terakhir, dengan adanya kerjasama ini, penulis mengharapkan sektor pariwisata Indonesia dan Maroko dapat tumbuh bersama sehingga sektor pariwisata ini menjadi sektor terbesar bagi pendapatan negara.
Referensi:
http://traveltextonline.com/headlines
http://female.kompas.com/read
http://forum.vibizportal.com/archive/index
http://www.ppimaroko.org/index
Biodata Penulis
Nama : Adwin Pratama Anas
T.T.L : Makassar, 9 Januari 1991
Alamat : Perum. Villa Racing Centre, Blok K No.9, Makassar
No.Telp : 081342661011 / 087841801682
Email / FB : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it / Adwin Pratama Kampus : Universitas Hasanuddin, Makassar
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan KM.10, Makassar
| < Prev | Next > |
|---|
- Berlibur ke Maroko, Mengapa Tidak? (182/M)
- Hubungan Bilateral yang Harmonis antara Indonesia dan Maroko (181/S)
- Mengintip Maroko - Kisah 3 Blogger Indonesia yang Pernah ke Maroko (180/M)
- Tak Kenal Maka Tak Sayang, Dari Rasa Suka Jadi Kerjasama (179/M)
- Lentera Persahabatan (178/M)
- Sister City sebagai Pererat Persahabatan Indonesia-Maroko (177/M)
- Maroko dan Indonesia Sahabat Sekarang dan Selamanya (176/M)
- Jalinan Hubungan Kerjasama Indonesia dan Maroko (175/S)
- Rencana Indah Tuhan di Balik Kebudayaan Indonesia dan Maroko (174/M)
- Filosofi Kaizen sebagai Penjaminan Mutu Kualitas Hubungan Diplomatik Indonesia - Maroko di Bidang Pertanian (173/M)
- Budaya Kita Sama! (172/M)
- Morocco and Indonesia’s Culture Goes 2 Campus and School (171/M)
- Menanamkan Rasa Kebersamaan dalam Sebuah Persahabatan antara RI-Maroko (170/M)
- Memperkokoh Kerjasama Lewat Pernikahan Silang RI - Maroko (169/M)
- Maju Bersama Pendidikan RI Maroko (168/S)


























