Persahabatan Indonesia-Maroko : Satu Jiwa untuk Maju Bersama (187/S)
KOPI, Berbicara tentang sahabat, pasti hampir semua diantara kita memilikinya. Kita tak pernah merasa sendiri jika mempunyai sahabat. Sahabat selalu ada saat suka dan duka. Bersama saat tertawa dan tetap bersama saat terluka. Kita seolah ikut merasakan apapun yang dirasakan oleh sahabat kita, begitu pula sebaliknya. Jiwa kita seolah menyatu oleh ikatan erat yang disebut persahabatan.
Tidak hanya kita, suatu negara juga membutuhkan sahabat. Apalagi di jaman globalisasi ini, negara sepertinya wajib untuk bersahabat dengan negara lain agar tetap survive dalam menghadapi persoalan dunia yang semakin kompleks. Hubungan kerjasama antarnegara baik secara multilateral, regional, maupun bilateral mutlak diperlukan. Negeri kita sudah menjalin hubungan bilateral dengan banyak negara. Salah satu diantaranya adalah Maroko. Hubungan persahabatan Indonesia dengan negeri di kawasan Afrika Utara ini sudah terjalin selama setengah abad lebih. Sebelumnya, Indonesia dan Maroko sudah saling mengenal pada pertengahan abad ke 14 M melalui pengembara sekaligus sosiolog muslim Maroko bernama Ibnu Battutah. Begitu juga Maulana Malik Ibrahim, sesepuh Wali Songo asal Maroko yang dikenal dengan nama Sunan Gresik, datang untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Perkenalan Indonesia-Maroko semakin dekat saat peristiwa perjuangan kemerdekaan di beberapa negara Asia dan Afrika. Dukungan Indonesia mendorong Maroko aktif dalam Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung. Setahun setelah itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1956, Maroko meraih kemerdekaannya. Hari itu juga hubungan diplomatik antara dua negara ini terjalin, yang ditandai dengan dibukanya Kantor Kedutaan Besar RI di Rabat. Beberapa minggu kemudian, Presiden Soekarno beserta rombongan tiba di Rabat. Beliau mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko. Presiden Soekarno dianggap tokoh yang berperan dalam kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, termasuk Maroko. Nama Soekarno pun dijadikan sebagai nama jalan disana. Begitu juga nama Jakarta dan Bandung turut dijadikan sebagai nama jalan di negeri matahari terbenam tersebut.
Sejarah persahabatan Indonesia-Maroko selama 51 tahun itu masih terawat hingga saat ini. Berbagai kerjasama baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, pariwisata, sosial, dan budaya telah dilakukan oleh keduanya. Upaya kerjasama yang dilakukan antara lain pertukaran dosen dan tim peneliti untuk pendalaman khasanah ke-Islaman, kunjungan Dharma Wanita Persatuan bersama staf KBRI dalam rangka memberikan bantuan sosial kepada Asosiasi Sosial Budaya Tunanetra Maroko, kunjungan Tim Pertukaran Ilimiah Badan Litbang Pertanian ke INRA ( Intitute National de la Recherce Agronomique ) Maroko untuk mengidentifikasi bidang penelitian pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan, pemutaran film Laskar Pelangi di berbagai universitas di Maroko, dan banyak kegiatan lainnya. Seluruh kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menjaga tali persaudaraan kedua negara yang sudah lama terjalin.
Maroko merupakan negeri berbasis Arab dengan peradaban style versi Eropa. Menurut Musthafa Abdul Rahman, potret itu adalah keberhasilan sistem monarki di Maroko yang telah menjadikan Islam dan modernitas berjalan seiring. Islam dan kemodernan berpadu harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik (http://4binajwa.wordpress.com/khazanah-tijaniyah/maroko-keindahan-islam-di-ufuk-barat/). Hal ini hampir sama dengan kondisi yang ada di Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia, namun tetap berjalan seiring kemodernitasan jaman. Bahkan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko, Latifa Akherbach, menyampaikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dapat dijadihkan contoh sebagai negara yang mampu memadukan antara nilai Islam, demokrasi dan modernisasi, sehingga Maroko menilai Indonesia merupakan negara penting untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi tantangan dan krisis global (www.infogue.com). Hal ini tentunya dapat dijadikan pondasi yang bagus untuk menjalin hubungan kekerabatan yang lebih erat. Melalui persamaan kontur sosial budaya kedua negara tersebut, diharapakan hal tersebut dapat berkembang ke alur-alur sistem yang lain. Budaya sangatlah kompleks, banyak subpola-subpola yang mengakar kepadanya, seperti pendidikan, politik, hukum, ekonomi, kesenian, wisata, dan sebagainya. Dengan menjadikan budaya sebagai langkah awal dalam upaya mempererat kekerabatan, diharapakan hubungan Indonesia-Maroko dapat semakin bersimbiosis mutualisme.
Budaya merupakan identitas atau jati diri suatu bangsa. Ciri khas suatu bangsa akan terlihat melalui budayanya. Budaya sebagai jati diri bangsa, juga bisa dianggap sebagai jiwanya bangsa. Menyatukan jiwa kedua bangsa, berarti ikut merasakan, memahami, dan mengerti akan kondisi negara masing-masing. Banyak potensi Indonesia dan Maroko yang belum diketahui satu sama lain. Misalnya dalam pendidikan, popularitas Maroko untuk mahasiswa asing belum setingkat Mesir atau negara-negara di Eropa. Padahal kualitas pendidikan di sana tidak kalah baik dengan universitas di negara lainnya. Contoh lain adalah dalam bidang pariwisata. Masyarakat Indonesia yang mendapat bebas visa selama tiga bulan jika berkunjung ke Maroko, sepertinya kurang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal di Maroko banyak terdapat tempat yang menarik untuk dikunjungi. Misalnya daerah Volubilis yang memukau karena situs Kekaisaran Romawinya, ada juga derah Marrakesh dengan bangunan merah batanya yang indah, atau Kota Casablanca dengan kemodernananya, dan masih banyak lagi tempat menarik untuk dikunjungi. Sebaliknya, Indonesia dapat mengenalkan keindahan alamnya selain Pulau Bali yang sudah banyak dikenal. Banyak tempat menakjubkan di Indonesia yang belum begitu dikenal di mata dunia. Misalnya Ngarai Sianok di Sumatera Barat, Raja Ampat di Papua Barat, dan banyak tempat menakjubkan lainnya. Agar potensi kedua negara ini dapat saling dikenal, perlu dilakukan upaya perkenalan yang lebih intensif, misalnya melalui kunjungan pejabat tinggi kedua negara, promosi budaya masing-masing negara, kerjasama ekonomi, pendidikan, serta bidang lainnya.
Mengingat kebersamaan masa lalu yang indah serta kerjasama yang baik hingga saat ini, semestinya Indonesia dan Maroko bisa mempererat persahabatannya. Kita bisa mencontoh persahabatan tokoh kartun Doraemon dan Nobita dalam menjalani hari-harinya, Dora dan Boots dalam menyelesaikan misi mereka, atau dalam dunia nyata, dua sahabat yang menjadi maestro Microsoft, Bill Gates dan Paul Allen, dapat dijadikan inspirasi. Bukan tidak mungkin persahabatan Indonesia-Maroko akan menjadi duo hebat yang kerjasamanya dapat memberikan kontribusi penting bagi dunia internasional. Tugas Indonesia-Maroko kini adalah meneruskan serta mengembangkan hubungan bilateralnya, hingga Indonesia dan Maroko tetap menjadi sepasang sahabat, dulu, kini, esok, dan selamanya.
Biodata Penulis
Nama : Anisa Sativa Fillaili
Tempat, Tanggal Lahir : Kediri, 22 April 1993
Nama Sekolah : SMAN 1 Batu
Alamat Sekolah : Jalan K.H. Agus Salim No.55 Batu, Jawa Timur
Alamat Rumah : Perum.Lahor A.26 Batu, Jawa Timur
Nomer HP : 085646412163
Alamat e-mail dan Facebook : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
| < Prev | Next > |
|---|
- Menakar Hubungan RI – Maroko ke Masa Depan (186/M)
- Gebrakan Inovatif demi Kemesraan INDOMA (185/M)
- Persahabatan Indonesia-Maroko Bisa Saling Menguntungkan (184/M)
- Berjalan, Berkarya, dan Tumbuh Bersama dalam Sektor Pariwisata (183/M)
- Berlibur ke Maroko, Mengapa Tidak? (182/M)
- Hubungan Bilateral yang Harmonis antara Indonesia dan Maroko (181/S)
- Mengintip Maroko - Kisah 3 Blogger Indonesia yang Pernah ke Maroko (180/M)
- Tak Kenal Maka Tak Sayang, Dari Rasa Suka Jadi Kerjasama (179/M)
- Lentera Persahabatan (178/M)
- Sister City sebagai Pererat Persahabatan Indonesia-Maroko (177/M)
- Maroko dan Indonesia Sahabat Sekarang dan Selamanya (176/M)
- Jalinan Hubungan Kerjasama Indonesia dan Maroko (175/S)
- Rencana Indah Tuhan di Balik Kebudayaan Indonesia dan Maroko (174/M)
- Filosofi Kaizen sebagai Penjaminan Mutu Kualitas Hubungan Diplomatik Indonesia - Maroko di Bidang Pertanian (173/M)
- Budaya Kita Sama! (172/M)


























