Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai

Login & Kirim Warta



Komentar Warga
Kolom Pewarta
Teropong Pemimpin Idaman yang Ideal vers.....
22/02/2012 | Donnie Weda Dharmawan

KOPI - Saya suka sekali melihat iklan. Entah mengapa saya suka melihat bagaimana orang mengemas sed [ ... ]



Yang Terpinggirkan
Siswa Senior SMA PL Brutal, Orang Tua Ki.....
16/02/2012 | Redaksi Pewarta-Indonesia

Surat Terbuka Kepada: Yth Br. Giwal Santoso FIC- Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Brawijaya Jakarta [ ... ]


Foto Pewarta
SiagaJadilah bapak asuh bagi mereka...Aldi Febrian
Statistik
Anggota : 3907
Isi : 7353
Content View Hits : 1542474
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini768
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin2500

Warga Online : 40
IP Kamu : 38.107.179.217
Pewarta Online
None













By "CLICK" these banners, You do a lot
for this Cit-J website... Thank you!

Kolom Pewarta Indonesia-Maroko RI-Maroko : Dua Sinergi untuk Kejayaan Islam! (188/M)
Pemberitahuan: Bagi Peserta Lomba Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko yang belum mendapatkan kiriman Piagamnya hingga saat ini, mohon beritahukan ke Panitia melalui SMS/Call ke 081371051875 (Mbak Wina), PPWI akan mengirimkan soft-copy Piagam dimaksud melalui email yang bersangkutan. Untuk itu, kirim SMS ke nomor HP 081371051875 dengan format: NAMA LENGKAP spasi (NOMOR ARTIKEL) spasi ALAMAT EMAIL. Contoh: ALVIN TRI DANDY (598/S) noirescence@yahoo.com. Mohon segera dan beritahukan kepada rekan lainnya yang belum mendapatkan paigamnya juga. Terima kasih.

RI-Maroko : Dua Sinergi untuk Kejayaan Islam! (188/M)

#Pendahuluan

KOPI, Runtuhnya Khilafah Islamiyah (Turki Usmani) pada tahun 1924 setelah beberapa abad berkuasa di muka bumi ini menyebabkan banyak kemunduran bagi Ummat Islam di seluruh pelosok dunia dalam berbagai bidang. Bagai ayam kehilangan induknya, begitulah kini yang dirasakan sebagian besar Ummat Islam karena mereka tidak memiliki pemimpin yang betul-betul memperhatikan nasib rakyatnya sekalipun mereka tinggal di negara Islam (baca : negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam). Kemiskinan, kesengsaraan, kelaparan hingga gejolak politik hampir menjadi dilema di negara-negara Islam. Bagaimana Palestina terus diinjak oleh negara kaum kafir dan tidak ada satupun yang bisa menyelamatkannya. Bagaimana akhir-akhir ini Tunisia, Mesir, Libya dan mungkin akan merambah pada negara-negara Afrika di sekitarnya terus mengalami pergolakan politik yang mengguncang dunia. Ini disebabkan karena tidak adanya Khalifah yang bisa membuat kaum Muslim dunia menjadi satu suara. Melawan segala bentuk penjajahan orang kafir baik fisik maupun ideologi. Lalu apakah Islam akan bangkit kembali? Tentu dengan tegas jawabannya YA. Akan tetapi tidak bisa hanya dengan diam dan menunggu, harus ada action nyata yang dilakukan.

#Pembahasan

Berangkat dari permasalahan diatas, kerinduan akan sistem kekhalifahan semakin membuncah. Harapan itu masih ada. Jalan cahaya yang sangat terang masih bisa dilalui untuk mewujudkannya. Setidaknya harapan itu ada di pundak dua negara ini Indonesia dan Maroko. Mengapa harus mereka?

Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam terbesar di dunia saat ini. Tercatat sebanyak 236,7 juta jiwa penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk terakhir tahun 2010 lalu dan 89 % diantaranya beragama Muslim. Secara sosio-historis perkembangan Islam pun memiliki peran positif bagi bangsa. Mulai dari perlawanan santri – santri menghadapi imperialisme Belanda di masa penjajahan dalam Perang Paderi, Perang Diponegoro maupun pemberontakan lainnya. Banyak juga ormas – ormas yang telah berdiri seperti SDI (Serikat Dagang Islam) yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi, Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912, Al-Irsyad yang didirikan sekitar tahun 1914 oleh Syaikh Ahmad Surkasi al-Anshari, Persis (Persatuan Islam) yang didirikan oleh A. Hassan pada tahun 1923 dan NU (Nahdlatul Ulama) yang didirikan pada tahun 1926 oleh Syaikh Hasyim Asy’ari. Jumlah dan keberanian Muslim Indonesia sepatutnya bisa menjadi lokomotif untuk meraih kembali kejayaan Islam, meski tidak ditampikkan masih banyak masalah yang menimpa Ummat Islam di negara Indonesia tercinta ini.

Lalu bagaimana dengan Maroko?

Maroko pun merupakan salah satu negara di Afrika dengan persentase penduduknya yang beragama Islam cukup besar. Kekuatan maroko dalam hal keislaman memang banyak diakui memberikan sumbangsih besar terhadap dunia pendidikan. Dunia intelektual Arab-Islam kontemporer memang mengakui Maroko sebagai gudang para pemikir dan penulis produktif. Sebutlah misalnya, al-Jabiri di kritik nalar, Salim Yafut di epistemologi, Abdul Majid as-Sugair di relasi kekuasaan versus pengetahuan, Muhammad Sabila di modernitas, Abdussalam Benabdelali di filsafat kontemporer, Abdullah al-Arawi di sejarah, Taha Abdurrahman di filsafat bahasa dan akhlak dan Ali Omleil di sosiologi. Secara waktu memang Islam di Maroko jauh lebih dahulu muncul daripada di Indonesia. Versi kebanyakan menyebutkan Islam di Maroko sudah ada sejak dinasti Umayyah berkuasa. Setelah Maroko takluk dalam kekuasaannya, maka dinasti Umayyah menunjuk Tariq bin Ziyad untuk memerintah Maroko. Sejak saat itulah Maroko menjadi negeri yang cukup berpengaruh untuk memperdalam keilmuan Islam khususnya untuk bangsa-bangsa di Afrika.

Sinergi Indonesia dan Maroko

Indonesia dan Maroko sudah menjalin hubungan diplomatiknya sejak 50 tahun lalu. Kedua negara ini aktif dalam kerjasama atau organisasi Internasional. Maroko ikut terlibat sebagai peserta Konferensi Asia Afrika yang diprakarsai pemerintah Indonesia pada tahun 1955 di Bandung. Konferensi ini juga yang menghasilkan sebuah organisasi baru bernama GNB (Gerakan Non Blok) meski sampai saat ini peranannya sudah tidak terlalu signifikan untuk mengatasi pergolakan politik. Apalagi setelah terjadinya gejolak Mesir beberapa bulan lalu yang dipimpin Hosni Mubarok yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal GNB untuk periode 2009-2011. Sinergi Indonesia dan Maroko diwujudkan pula dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Nampaknya organisasi inilah yang akan menjadi angin segar sebagai wadah perjuangan Indonesia – Maroko menyatukan sinerginya demi mewujudkan kejayaan Islam. Mengapa demikian? Secara historis, organisasi ini didirikan di Rabat, Maroko pada 25 september 1969 sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969 oleh pengikut fanatik Kristen dan Yahudi di Yerussalem. Islam berontak jika ada yang melecehkannya. Hanya saja karena tidak ada kesatuan suara dari sang pemimpin (Khalifah) banyak Ummat Muslim hanya melakukan demonstrasi di negaranya masing-masing. Untuk itulah sudah seharusnya Indonesia dan Maroko meningkatkan kerjasamanya sebagai langkah tegas untuk kejayaan Islam kembali. Jumlah yang sudah sangat memadai jangan dibiarkan seperti buih yang terapung di lautan. Kaum muslimin harus benar-benar dikelola secara apik, diberi pendidikan yang baik dan dididik dengan sikap mental sesuai ajaran Islam yang benar. Pemerintah Indonesia bisa mengirim pelajar-pelajar muslim Indonesia berkualitas untuk menuntut ilmu di negeri Maroko meski sampai detik ini kerjasama dalam bidang pendidikan RI-Maroko bisa dikatakan cukup berhasil. Akan tetapi kerjasama disini harus memiliki misi memajukan Ummat Muslim secara global bukan hanya untuk kedua belah pihak negara saja. Begitu juga Maroko bisa mempelajari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme Belanda, perjuangan meraih kemerdekaan atau perjuangan lainnya karena semua itu tak lepas dari perannya tokoh-tokoh Islam Indonesia. Ya, Indonesia memiliki sinergi keberanian, sementara Maroko memiliki sinergi kecerdasan intelektual. Inilah dua sinergi yang harus disatukan demi kejayaan Islam. Setelah itu untuk memperbanyak jumlah kaum Muslimin, jangan lupa, adakan diplomasi dengan negara-negara muslim lainnya agar mau membantu menegakkan kembali kejayaan Islam yang kini masih menjadi mimpi.

#Penutup

Sistem Khilafah Islamiyah bukanlah sistem untuk ditakuti karena memang tak ada yang perlu ditakutkan dengan adanya sistem ini. Justru kebahagiaan, kesejahteraan dan ketentraman hidup akan kita dapatkan sebagaimana pada zaman Rasulullah SAW hingga para amirul mukminin (pemimpin) yang berakhir di Turki Usmani. Mari kita bangun dan bangkit dari tidur kita, jangan hanya bermimpi. Jangan menunggu orang lain untuk bergerak, jadilah kita sebagai lokomotif penggerak bagi ummat yang lain. Tapi itu semua tergantung kita. Semua itu adalah pilihan. Kita akan menjadi bagian dari penegak kejayaan Islam atau kita akan menjadi penepuk tangan saja ketika Khilafah sudah berdiri atau kita malah yang akan menjadi penghalang tegaknya Islam di muka bumi. Terserah anda mau pilih yang mana. Keputusan ada di tangan anda.

 

Biodata Penulis

Nama Lengkap : Martua Raja Lubis

Panggilan : Raja

Tempat/Tanggal Lahir : Sukabumi / 5 Oktober 1989

Universitas : Universitas Nasional PASIM Bandung

Alamat Kampus : Jalan Dr. Djunjunan (Terusan Pasteur) No. 167 Bandung

Alamat Rumah : Jalan R.A Kosasih Gg. Pangkalan RT 6/14 Desa Cisarua Kec. Cikole Kota Sukabumi Jawa Barat

Handphone : 0858 6026 3182

Facebook : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Twitter : @r4dzML

Blog/Situs Pribadi : www.rajaml.co.cc, www.raflyarsyah.multiply.com, www.raflypub6.wordpress.com


Artikel Lainnya: