Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Kriteria Anggota DPR Surat Untuk Wakil Rakyat (95/U)
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Surat Untuk Wakil Rakyat (95/U)

KOPI - Indonesia merupakan negara maritim dengan luas lautnya 2/3 dari luas seluruh wilayah keseluruhan dan sisanya merupakan daratan, yang terdiri dari pulau–pulau. Tidak hanya itu, negara kita merupakan negara dengan suku bangsa dan kebudayaan terbanyak di dunia. Garis pantainya hampir mencapai 14% dari total panjang garis pantai yang ada di seluruh dunia. Negara kita kaya raya gemah ripah loh jinawi akan sumber daya alam dan manusianya. Negara kaya identik dengan kehidupan rakyatnya juga kaya dan makmur.

Tapi apakah itu benar?

Wow… tidak!

“Demo lagi, demo lagi. Gara-gara dewan korup…” Liriknya meniru lirik lagu ciptaannya Kak Seto “Macet lagi, Sikomo lewat.”

Demo di sana sini. Tanda rakyat tidak setuju aturan ini itu dan lain–lain. Masalah demi masalah semakin mengembang, tapi belum tuntas juga. Yang terakhir heboh saat demo akan kenaikan harga bahan bakar, pada akhir bulan Maret kemarin. Rakyatlah yang paling kena imbasnya, terutama rakyat kecil yang paling sengsara. Bagaimana tidak, seorang nelayan butuh sekitar 20 liter solar untuk melaut. Kalau harga bahan bakar naik, bisa–bisa nelayan tidak melaut. Belum lagi kalau angin sangat kencang atau cuaca tidak bersahabat. Pasti nelayan tidak akan melaut. Dan lebih memilih pekerjaan di darat untuk sementara waktu. Keluarganya makan apa, karena telah menggantungkan hidupnya pada laut. Dan kita pun tidak akan bisa makan ikan.

Tidak hanya itu saja, bagaimana dengan para konsumen yang tinggal di perbatasan. Secara logika bensin harganya Rp 4.500,– per liter. Bahan bakar diangkut entah menggunakan perjalanan darat, laut, atau udara (mana yang dapat dijangkau) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di perbatasan atau di pedalaman yang hampir terisolasi. Butuh biaya tuh, lalu bahan bakar sampai di tangan konsumen dengan harga yang melangit bisa sampai Rp 25.000,– per liter. Perbedaanya jauh banget dengan yang di pusat. Hayo, BBM mau naik berapa rupiah lagi?

Pernah dengar tidak, Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Masih harus mengimpor beras, gula, sayur, buah, dan bahan pangan lainnya. Memangnya negara kita tidak dapat memproduksi sendiri? Padahal negara kita kalau ditanami tumbuh subur lho. Seperti jeruk, durian, apel, anggur, beras, dan masih banyak lagi. Jeruknya pun juga tidak kalah manisnya dengan jeruk impor. Bahkan lebih manis dari jeruk impor, sebut saja jeruk Medan. Sekali makan buat ketagihan (sekalian numpang promosi nih!). Yang lebih mengagetkannya lagi negara kita yang luas lautnya hampir 2/3-nya luas seluruhnya, masih harus mengimpor ikan laut. Nah, kaget kan? Kok bisa? Itulah negara kita, suka belanja yang tidak penting. Ck…ck…ck… Padahal kalau soal ikan kita nomor satu lho; seperti ikan bandeng dan teri. Tuh, kalsium dan omega 3–nya banyak. Tidak kalah dengan ikan salmon yang harga per kilo–nya mencapai 400.000 rupiah. Dapat untuk membeli ikan teri medan lima kilo tuh.

“Mau …dibawa kemana… produk pangan kita. Jika kau terus mengimpor pangan, dan tak pernah tanam sendiri. Utang kan bertambah…” menyontek lirik lagu “Mau dibawa kemana” milik grup band Armada, boleh kan?

Mau dikemanakan produksi pangan kita?

Kalau aku menjadi menteri Pangan (mimpi kali), aku akan mengusulkan kepada pemimpin atau wakil rakyat tak perlu mengimpor bahan pangan. Toh, produksi pangan kita tak kalah dengan produk impor. Tujuan lainnya adalah menolong petani agar harga pangan di pasar tidak jatuh dan tidak kalah dengan produk impor. Yang harus lebih diperhatikan adalah produk impor. Bagaimana bisa buah dan sayur bisa tahan berbulan–bulan dalam kondisi normal? Supaya buah awet, buah diberi suntikan ini itu yang justru produk impor lebih banyak mengandung penyakit. Sesampainya di negara pengimpor, buah dan sayur tidak cepat membusuk dan penampilannya masih cantik. Berbeda dengan produk lokal yang tidak tahan lama dan hanya bertahan paling lama seminggu setelah itu layu atau busuk. Tapi kan sehat dan rasanya juga tak kalah dengan produk impor. Tak ada suntikan ini itu dan aman untuk dikonsumsi.

Bukan lautan, tapi kolam susu,

kail dan jala cukup menghidupimu,

tiada badai, tiada topan ku temui,

ikan dan udang menghampiri diriku.

Orang bilang tanah kita tanah surga,

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Orang bilang tanah kita tanah surga,

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Ingat lagu itu nggak, itulah tanah kita yang terkenal akan kesuburannya.

Sebaiknya digalakkan tanam sendiri. Maksudnya, ingin makan sayur harus tanam di pekarangan rumah. Kalau tak punya pekarangan, bisa lewat pot dengan sistem tambulampot (tanaman buah dalam pot) begitu. Hasilnya kan lumayan, tak perlu belanja lagi. Ingin makan tinggal petik. Sebagai contohnya, siapa lagi kalau bukan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama. Beliau menanam sayur di halaman belakang istana kepresidenan sana. Untuk kita, tidak usah semua sayur ditanam. Tetapi yang paling penting adalah bumbu dapur, seperti jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan lain–lain. Bisa–bisa pekarangan dapat menjadi TOGA (tanaman obat keluarga). Jadi kalau sakit tinggal meramu sendiri saja obatnya (kreatif sedikit lah).

Tahu nggak, kalau tanaman di Indonesia itu 45% adalah tanaman obat. Wow…!!! Kita dapat mendirikan pabrik obat herbal. Sayangnya, tanaman di Indonesia belum dimanfaatkan semaksimal mungkin. Hanya menggantungkan produksi obat impor dan banyak mengandung bahan kimianya. Selama ini negara Asia Timur khususnya, China lah yang berhasil mengembangkan pengobatan herbal. Kapan giliran kita? Kalau kita berhasil mengembangkan pengobatan herbal, kita tak perlu obat China ini itu. Lagipula kita juga tidak bisa membaca tulisan Mandarin pada bungkus obatnya yang pasti isinya aturan pemakaian serta kandungannya dan membuat kening berkerut karenanya.

Dari sekian banyak penduduk Indonesia masih ada yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kalau menurut persentase sekitar 60% dari jumlah keseluruhan. Sedangkan penduduk yang berdiam di daerah perbatasan dengan negara tetangga, mereka juga memerlukan perhatian khusus. Karena mereka jauh dari jangkauan pemerintah. Barang kebutuhan sehari–hari pun juga mahal. Karena sistem transportasi yang kurang memadai dan sulit dijangkau oleh perjalanan darat, laut, atau udara (kalau ini saya menyontek acara Indonesiaku di stasiun TRANSTV). Bisa dibilang, belum mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Pembangunan lebih dipusatkan pada ibukota, terutama pulau Jawa. Katanya dibangun ini, itu dan lain–lain. Tapi kok tidak jadi–jadi. Alasannya terganjal masalah dana yang kurang. Bagaimana mau maju kalau dananya dicuri?

Mari kita belajar dari sejarah. Ketika Indonesia masih berupa Kerajaan, seperti: Kutai, Tarumanegara, Kediri, Singosari, Sriwijaya dan yang paling besar Majapahit. Yang kekuasaannya seluruh wilayah nusantara hingga mencapai Malaysia hingga Filiphina bagian selatan. Kerajaan sebesar Majapahit dapat runtuh dan digantikan Kerajaan Sriwijaya. Tahu apa sebabnya? Karena pembangunannya hanya bersifat di pusat saja. Sama seperti sekarang ini. Pulau Jawa–lah yang paling sering dibangun, sampai–sampai pulau Jawa menjadi pulau dengan penduduk paling padat di dunia, bahkan mengungguli pulau Honshu di Jepang dan Britania Raya (Inggris). Tahu kan, betapa sesaknya? Lalu, bagaimana dengan keadaan rakyat di luar pulau Jawa sana?

Coba saja pemerintah lebih memperhatikan rakyatnya, terutama pada masyarakat di pedalaman, perbatasan dan daerah yang terisolasi dari luar. Mereka harus mendapat perhatian yang lebih serius. Agar rakyat di perbatasan juga memperhatikan negaranya dan tidak melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai contohnya pulau Sipadan dan Ligitan. Kedua pulau itu secara geografis masih masuk wilayah NKRI. Karena pemerintah kita tidak memperhatikan pembangunan di pulau–pulau terpencil dan perbatasan. Dan Malaysia melakukan pembangunan di kedua pulau tersebut. Setelah melalui proses yang panjang dan alot, akhirnya kedua pulau itu lepas harus dari tangan NKRI. Apakah kita akan kehilangan Sipadan dan Ligitan lainnya?

Harus diperhatikan ya! Sayang kan, kalau satu per satu pulau di Indonesia melepaskan diri dari wilayah Indonesia. Itu menandakan pertahanan negara kita dan perhatian pemerintah masih kurang.

Saya harap pemimpin negeri dapat mengatasi kemiskinan. Kalau bisa anggota DPR tidak usah digaji. Kan pejabat negara dan wakil rakyat (anggota dewan) sudah mendapat fasilitas yang wah… serba komplit.

Kalau mereka minta gaji, yang 10%–nya disumbangkan untuk rakyat atau buat mengangsur utang negara. Kalau gaji pegawai baik di instansi pemerintahan maupun swasta, yang 10%–nya disumbangkan untuk negara. Ditambah lagi denda–denda yang dikenakan kepada pada terdakwa di meja hijau. Pasti utang negara lunas. Tetapi yang mengorupsi merajalela lagi nggak? Kalau masih ada yang mengorupsi, kasihan para pegawainya sudah dipotong 10% untuk utang negara. Kas negara jadi kosong. Kapan utang negara lunas?

Terus fasilitasnya dicabut saja, seperti; mobil dinasnya yang harganya milyaran diganti dengan mobil buatan Indonesia (misalnya: mobil Esemka) yang harganya dibawah harga mobil impor. Kalau mobil semua pejabat diganti dengan mobil produksi dalam negeri, bagaimana ya?

Sebagai contohnya Walikota Solo, Joko Widodo. Nggak malu tuh, memakai mobil produksi anak negeri sebagai mobil dinasnya. Tentunya ada rasa bangga karena menggunakan mobil produksi sendiri, tanpa harus mengimpor mobil yang harganya mencapai milyaran rupiah. Bukannya melunasi hutang, malah menambah hutang. Toh, mobilnya juga nggak kalah mentereng dengan mobil Presiden. Ini memacu anak negeri berlomba menciptakan mobil dan dipakai sendiri. Lumayanlah untuk memajukan produksi mobil nasional yang sempat terhenti saat jaman Presiden Soeharto, yaitu mobil Timor.

Rumah dinasnya tidak usah terlalu elit. Yang biasa–biasa saja, listriknya 220V. Hidup sederhana begitu. Jangan hidup mewah seperti Nunun Nurbaeti selalu belanja barang dengan merk–merk terkenal. Tidak tahu uang dari mana itu. Yang penting kepuasan diri sendiri dan tidak memikirkan rakyat, seperti Paris Hilton. Wajarlah Paris, dia kan anak orang kaya sudah biasa hidup mewah. Beda banget dengan Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono, anak desa yang bisa jadi Presiden. Atau Barack Obama, anak yang menghabiskan masa kecil di Indonesia, siapa sangka menjadi orang nomor satu di Amerika. Dua jempol mengacung. Top banget deh!

Berbagi dong dengan rakyat. Rakyat kan masih banyak yang sengsara, sementara pemimpin negerinya menumpuk harta. Maka, tak heran kalau wakil rakyat mayoritas perutnya gendut semua. Ya, iyalah hidup subur makmur fasilitas lengkap. Jalan–jalan ke luar negeri dibiayai negara lewat APBD atau APBN, dengan alasan study banding atau apalah. Bisa belanja ini itu. Gajinya kan utuh. Siapa yang nggak mau jadi anggota dewan. Dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Aku juga mau? Kalau jadi pejabat jangan gengsi lah. Ingat dulu waktu susahnya bagaimana. Masak setelah sukses jadi wong gedhe (orang besar: dihormati banyak orang) lupa dengan asalnya seperti pepatah kacang ojo lali kulite (kacang jangan lupa dengan kulitnya / asalnya).

Untuk urusan ekspor–impor harus diperhatikan. Kalau kita mengekspor barang, mengapa surat–suratnya selalu dipersulit. Belum lagi butuh biaya mahal banget. Aneh kan? Seharusnya kalau mengekspor lebih mudah daripada mengimpor barang. Kalau kita mengimpor barang, harganya murah banget. Seperti buah impor yang harganya lebih murah dibandingkan dengan buah lokal. Disamping itu, buah impor lebih tahan lama. Dari kelebihan itulah, mengapa buah lokal selalu kalah dari buah impor. Beras juga demikian, kita lebih memilih mengimpor beras dari Thailand. Padahal negeri kita juga penghasil beras. Mengapa memilih mengimpor daripada menanam sendiri?

Agar harga produk lokal dapat bersaing dengan produk impor, sebaiknya harga produk impor lebih mahal daripada produk lokal. Supaya masyarakat kita tidak mampu membeli produk impor. Tidak hanya itu saja, pemerintah juga menggalakkan bangga memakai produksi dalam negeri. Sekarang marak dengan bahan pangan organik, sayur organik, buah organik bahkan susu organik. Semua hal berbau organik. Ya, masyarakat sadar akan bahayanya bahan pangan yang mengandung banyak obat kimia, mulai dari pestisida hingga pupuk. Dengan adanya digalakkannya pangan organik, semua kembali ke masa lalu. Dimana pupuk tanaman hanya memakai pupuk kandang, belum ada pupuk pabrikan. Tentu saja sangat memacu kesadaran masyarakat untuk berkebun sendiri.

“Wakil rakyat seharusnya merakyat…” seperti lirik lagunya Iwan Fals. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh para wakil rakyat yang duduk sebagai anggota dewan. Tidak hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan urusan perut rakyat yang masih kelaparan. Heran, katanya negara kita kaya, tapi masih ada rakyat yang menderita gizi buruk. Dimana perhatian pemerintah? Kalau yang ini seperti acara realiti show di salah satu stasiun televisi swasta. Acara “Jika aku menjadi…,” mereka dapat belajar bagaimana rakyat miskin hidup, makan, dan melakukan pekerjaan sehari–hari yang pasti menghasilkan nilai rupiah yang tidak sepadan dengan pekerjaannya.

Dan membuka lapangan pekerjaan bagi para penduduknya. Jangan hanya mentang–mentang orang asing. Pasti lebih pintar. Padahal tidak semua orang Indonesia itu bodoh. Justru sebaliknya, orang Indonesia malah lebih pintar dari orang asing. Sebut saja para pemenang olimpiade sains. Mereka kebanyakan membawa nama Indonesia. Tapi mengapa, justru mereka yang pintar direkrut oleh negara lain? Sebagai contohnya mantan Presiden kita, B.J. Habibie. Dia tuh jempolan kalau membuat pesawat. Mengapa dia lebih memilih tinggal di Jerman? Karena beliau membuat pesawat di sana atau mungkin beliau direkrut oleh perusahaan pesawat Jerman. Bisa jadi kan? Apakah Indonesia dipenuhi oleh orang yang bodoh–bodoh saja?

Kalau bisa biaya pendidikan murah. Masak biaya pendidikan muahal amat. Benar ada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), SPP dihilangkan. Tapi buku LKS-nya (Lembar Kerja Siswa) buanyak banget. Sampai membuat repot orang tua murid bayarnya. Belum seragamnya, terutama seragam batik. Memang pihak sekolah yang menentukan. Tapi itu sama saja mencekik leher para orang tua murid. Belum lesnya. Murid masuk les atau tidak, yang penting bayar. Terus yang dibahas LKS. Lalu di sekolah juga membahas LKS. Pagi, siang, sore LKS yang dibahas. Belum lagi, kalau orang tua murid masih ada tunggakan seragam atau LKS. Maka tiap akhir ajaran rapor tidak dapat dibagikan. Karena orang tua murid belum melunasinya. Tolong carikan guru yang kreatif, yang dapat membuat soal sendiri untuk siswanya dan tidak mengandalkan LKS saja. Biar orang tua murid tidak membayar banyak uang. Dan membiasakan murid untuk mencatat materi pelajaran.

Masalah kesehatan juga tolong diprioritaskan. Kebanyakan pemegang jaminan kesehatan (ASKES) untuk rakyat tidak mampu, tidak mendapatkan jaminan kesehatan yang layak. Malahan pemegang Askes ditelantarkan di rumah sakit dan tidak segera ditangani. Justru yang lebih peduli adalah pihak swasta, seperti yayasan Peduli Kasih, atau apalah. Padahal mengurus suratnya repot banget. Namanya juga surat keterangan tidak mampu.

Masalah transportasi umum, seperti: kereta api, angkutan kota, bus, dan taxi. Tolonglah sistem keamanannya diperketat. Supaya para penumpangnya merasa aman untuk menggunakan transportasi umum dan tidak ada yang namanya pelecehan seksual atau apalah. Kalau ada lapangan pekerjaan, tidak mungkin ada premanisme. Lalu untuk armada kereta api sebaiknya ditambah atau gerbongnya yang ditambah, agar tidak mengalami penumpukan penumpang di stasiun. Kalau naik kereta api tidak harus berdesak–desakkan atau naik di atas atap kereta api yang mengandung banyak resiko, termasuk nyawa penumpang itu sendiri. Untuk menghindari penjambretan, jamnya jangan diundur. Harus tepat, jangan pakai jam karet yang leletnya minta ampun. Pakai jam besi, seperti jam yang dipakai di Jepang. Jamnya tepat banget.

Masih ingatkah dengan penyelenggaraan SEA GAMES kemarin? Kita sebagai tuan rumah tidak siap dengan adanya event tersebut. Dana penyelenggaraan SEA GAMES dirampas. Terjadi kesemrawutan pembangunan di sana sini. Padahal acaranya tinggal beberapa bulan lagi. Wah, wah, wah…. Pas hari H–nya banyak yang belum rampung. Apa tidak malu dengan para tamu dari wakil negara lain, tuh?

Biarpun begitu, tetapi para pahlawan olah raga kita maju dengan semangat juang yang tinggi untuk meraih juara. Dan terbukti Indonesia dapat menjadi juara umum. Terima kasih pahlawan-pahlawanku.

Coba saja para wakil rakyat bersikap seperti para atlet. Pasti rakyatnya makmur. Yang mempunyai rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi. Mereka berjuang bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk negara. Siapa yang tidak bangga dengan kemenangan Indonesia keluar sebagai juara umum dalam SEA GAMES. Siapa yang tidak bangga melihat negara kita maju seperti negara tetangga kita, Singapura.

Sebagai contoh, tengoklah negara jiran seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Mereka mempunyai luas negara yang lebih kecil dibandingkan dengan negara kita. Tetapi mereka lebih maju dari kita. Bahkan kita ketinggalan di belakang mereka. Karena kita belum dapat memanfaatkan sumber daya semaksimal mungkin, baik alam maupun manusianya.

Coba kalau para anggota dewan (DPR) jujur, pajak tersalurkan. Pasti akan menyejahterakan rakyat dan rakyat dapat menikmati pembangunannya. Kalau pejabat masih korupsi, rakyat tidak mempercayai pemerintah. Dan rakyat malas membayar pajak. Lalu kas negara kosong dan pembangunan tidak dapat dilaksanakan. Nah, bagaimana seandainya APBN atau APBD-nya dipublikasikan ke rakyat? Alasannya sederhana, supaya rakyat tahu uang negara untuk belanja apa saja (sistem transparansi).

Boleh usul tidak?

Seharusnya pemerintah mempunyai lembaga khusus seperti mempunyai wadah untuk menampung aspirasi takyat. Contohnya negara tetangga kita, Singapura. Mereka mempunyai wadah khusus yang menaungi atau menampung keluhan – keluhan dari masyarakat. Keluhan dari masyarakat disampaikan lewat lembaga tersebut yang mempunyai jam kantor buka pukul 05.00 – 00.00 malam. Di sana masyarakat dapat menyampaikan keluh kesahnya (curhat masalah pemerintah), lalu aspirasi masyarakat dicatat oleh petugas dan nanti diajukan pada rapat dewan (MPR/DPR) nantinya. Petugasnya bisa dari mahasiswa, LSM, dan mempunyai komputer untuk mencatat apa yang dikeluhkan oleh rakyat. Lalu para dewan perwakilan rakyat tersebut melakukan apa yang diminta masyarakat. Masyarakat puas dengan pembangunan dan pelayanan pemerintah. Tidak usah demo dan jangan emosi. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Presiden dapat bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dikeluhkan oleh rakyat. Kan Presiden dari rakyat dipilih oleh rakyat untuk rakyat.

Jadi, wakil rakyat tidak hanya menjadi pendengar informasi rakyat lewat media elektronik atau cetak. Presiden bisa mendengar keluhan rakyat secara langsung lewat lembaga tadi. Wawasan dan pengetahuan Presiden bertambah, tidak hanya mendengar dan melihat.

Presiden juga mempunyai wawasan luas mengenai keadaan global, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Gunanya untuk mengetahui pandangan mengenai masa depan negara dan bangsanya, yang bertujuan untuk menentukan kebijakan–kebijakan dalam hal mengambil keputusan memutuskan sesuatu. Langkah apa yang seharusnya diambil. Adakah peraturan–peraturan yang harus direvisi lagi? Kalau ada, dirubah sesuai dengan keadaan, situasi, dan kondisi saat ini.

Berita terakhir mengenai Nazarrudin, dijatuhi hukuman 4 tahun 10 bulan dan denda 200 juta rupiah dan tidak mengembalikan dana yang dikorup. Tidak sebanding. Wah, parah tuh. Seharusnya para terdakwa korupsi harus mengembalikan dana yang dikorupsi, dapat hukuman pidana dan denda. Semuanya harus dibayar apalagi kalau bukan untuk menambah kas negara, sebagian untuk membayar utang negara supaya cepat lunas dan rakyat kecil biar tak jadi korban. Kalau hanya dihukum pidana saja dan dana yang dikorupsi tidak dikembalikan, kita juga mau begitu? Enak tho.

Ini tidak sebanding dengan para pencuri, semangka, sandal, ayam dan padi hanya tiga ikat. Mereka dihukum pidana dan dikenai denda. Padahal harga barang yang dicuri harganya tidak melebihi denda yang dikenakan. Yang dicuri ayam 1 ekor, sebutir semangka, harganya tidak lebih dari 50.000, tetapi hukumannya lama banget 3 – 6 bulan penjara. Lha para koruptor Cuma 4 tahun 10 bulan hukuman pidana thok. Tidak membayar denda, dan tidak mengembalikan dana yang diambil. Apalagi fasilitas dalam penjara bak hotel berbintang lima. Siapa yang nggak betah tidur di penjara yang mewah begitu?

Mengapa hukum di negeri ini selelu memihak pada orang yang berkantong tebal, tidak memihak pada keadilan. Apa sih yang nggak bisa dilakukan orang yang berduit banyak. Hukum pun dapat dibeli, bahkan nyawa orang pun dapat dibeli. Berbeda dengan rakyat kecil. Mencuri seekor ayam untuk dijual lalu uangnya untuk beli beras satu liter. Betapa sengsaranya rakyat kecil. Mau makan saja harus mencuri ayam satu ekor. Lha orang berduit, sudah digaji berjuta – juta cukup buat makan, tapi korupnya sampi milyaran rupiah. Berapa kali lipatnya tuh, (mendingan hitung sendiri sajalah)? Wah, ada yang tidak beres dengan hukum di negeri kita.

Maju mundurnya suatu wilayah atau negara, tergantung dari manusianya, baik rakyat maupun pemerintah. Pemerintah mendukung apa yang dilakukan rakyat, seperti; peminjaman modal dengan bunga rendah untuk pengusaha kecil dan syaratnya dipermudah. Agar rakyat dapat memajukan usahanya dan dapat membuka peluang usaha kerja. Jadi rakyat dan pemerintah berperan serta memajukan negaranya.

Yang lebih penting, Indonesia masih belum siap membuka pasar global. Jika pasar global dibuka, lalu rakyat tidak siap untuk bersaing, bagaimana?

Rakyat harus siap bersaing dengan pengusaha asing, agar tidak tergusur atau terjajah di negaranya sendiri. Betapa mirisnya, hiks….

Apa yang seharusnya kita lakukan? Ya, pendidikannya diperhatikan, tidak hanya bergantung pada budaya menyontek. Lama–lama kita menjadi bangsa penjiplak karya orang lain. Dan menjadikan kita tidak kreatif. Bagaimana caranya?

Sekolahnya diperbaiki, agar siswa aman untuk bersekolah. Jembatan – jembatan dibangun agar siswa yang tinggal di seberang jembatan tidak harus menyeberangi sungai yang berarus deras (susahnya mau sekolah). Diperbanyak buku–buku tentang teknologi, sains dan penemuan–penemuan diperbanyak untuk dijadikan bahan bacaan bukan bungkus kacang atau nasi campur. Budayakan membaca. Aktifkan kerja otak, seperti; membaca, mendengar, menulis, menyimak dan menjawab di setiap sekolah. Budayakan juga siswa didikte cerita atau bacaan oleh guru, lalu siswa menulis dan menceritakan ulang bacaan yang didiktekan oleh guru. Jadi siswa yang datang ke sekolah tidak hanya 4D (datang, duduk, dengar, diam).

Seandainya kalau BBM dinaikkan menjadi Rp 15.000,– per liter untuk non subsidi dan Rp 5.500,– untuk pengguna sepeda motor. Lumayan tuh buat mengurangi polusi udara di Indonesia. Kalau BBM naik, pasti masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor milik pribadi. Dan akan beralih menggunakan anggutan umum.

Maaf, ya numpang curhat sedikit. Kalau bicara soal nggota dewan aku maunya yang:

1) Berpengalaman

2) Berwawasan luas

Mempunyai pandangan ke depan tentang negara ini.

3) Hidup sederhana

Kalau perlu mobil dinasnya dicabut saja, biar naik angkutan umum. Biaya perawatan dan penyusutan mobil dinas berkurang. Beban biaya yang dibayar pemerintah juga berkurang.

4) Mengabdikan dirinya hanya untuk kepentingan rakyat

Tidak mau menang sendiri, alias minta fasilitas ini itu, berbagai macam alasan. Hanya untuk menyenangkan pribadi. Dia duduk di DPR karena didukung rakyat dan harus bekerja untuk rakyat. Jadi kepentingan rakyatlah yang harus diperjuangkan.

5) Dapat menjadi contoh

Kalau rapat jangan ada keributan. Kayak anak kecil yang rebutan mainan.

6) Mampu mengatasi setiap permasalahan

Setiap masalah harus dirundingkan guna diselesaikan bersama. Sesuai dengan Pancasila sila ke–IV. Tidak usah bertengkar.

7) Menjadi orang yang berkualitas

8) Berdisiplin tinggi

Kalau ada rakyat jamnya tak boleh molor. Harus tepat, karena anggota dewan merupakan wakil rakyat. Jadi harus memberi contoh pada rakyatnya. Kalau rapat jangan internetan atau bicara sendiri (tertib).

9) Mempunyai rasa nasionalisme dan patrotisme yang tinggi.

10) Jujur

11) Bertanggung jawab

Kalau korup, ya harus mau dihukum. Apapun sanksinya harus dijalani.

12) Tidak menggunakan suara rakyat untuk kepentingan pribadi

Biasanya anggota dewan dipilih untuk mewakili rakyat agar duduk di DPR. Jadi anggota dewan dipilih hanya untuk memperjuangkan rakyat bukan untuk diri sendiri.

Kalau anggota dewan sudah bersikap seperti itu, Indonesia pasti maju dan tak kalah dengan negara lain. Hidup Indonesia! Hidup Indonesia! Hidup Indonesia! MERDEKA!!!

 

IDENTITAS PENGIRIM

Nama : Enif Pratiwi Pratugestim

Tmp/tgl lahir : Malang, 2 November 1988

Alamat kantor : Jl. Teuku Umar 174C Denpasar – Bali 80113

Alamat rumah : Kost d/a Jl. Pulau Misol Gg. IV No. 20 Denpasar – Bali 80113

d/a I Wayan Yudisabda (Budhe / sepupu) rumah sendiri Jl. Sumatera Gg.I No.6 Banjar Titih Denpasar – Bali

d/a Ibu Sri Mulyati (Bibi) kost Jl. Buluh Indah VII/1 Denpasar – Bali

No. HP : 085 3333 82 313 / 0361 – 8055378

Alamat e–mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Akun facebook : Enif Pratugestim

 

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.