Menanti Hadirnya Politikus Berjiwa Pancasila (185/M)
“Eine grosse Epoche hat das Jahrhundert geboren, aber der grosse Moment findet ein kleines Geschlecht” (suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar itu menemui manusia kerdil)
KOPI - Kalimat di atas merupakan sebuah syair karya penyair Jerman Friedrich Schiller yang ditulis dalam harian Kompas oleh Sri-Edi Swasono. Bagi Saya, syair tersebut cukup merepresentasikan kondisi sumber daya manusia yang terjun dalam perpolitikan di Indonesia saat ini. Jika dahulu masa besar bernama proklamasi diperjuangkan dan menemui pahlawan besar nan luar biasa sekaliber Bung Karno, Bung Hatta, dan M. Yamin, maka masa besar bernama reformasi yang diperjuangkan oleh rakyat dan mahasiswa Indonesia menemui politikus-politikus kerdil yang belum mampu menunjukkan kerja nyata.Setelah reformasi dikumandangkan, belum nampak sosok-sosok politikus yang mampu mewujudkan cita-cita Indonesia sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945.Dewan Perwakilan Rakyat yang merupakan politikus dan jnuga merepresentasikan masyarakat Indonesia justru menunjukkan sikap yang tidak selayaknya. Mulai dari kasus KKn hingga video dan gambar mesum menjadi potret suram sumber daya manusia yang duduk di kursi DPR. Terlepas dari raport merah anggota DPR selama ini, pemilihan umum 2014 tentu diharapkan mampu menjadi gerbang Indonesia yang lebih baik dengan memiliki anggota-anggota DPR yang ideal dan mampu membawa perubahan bangsa kea rah yang lebih baik. Seperti apakah anggota DPR yang ideal? Anggota dewan 2014 haruslah memiliki JIWA PANCASILA, yakni:
1. Jiwa dan tubuh yang sehat
Tuntutan tugas dan kewajiban yang harus dijalani anggota DPR disertai padatnya jadwal kegiatan mengharuskan seorang anggota DPR memiliki tubuh dan jiwa yang sehat. Beberapa calon anggota DPR yang gagal terpilih dan membuatnya mengalami gangguan kejiwaan sesungguhnya menjadi indikasi bahwa dirinya memang tidak layak menjadi seorang anggota DPR.
2. Ikhlas dan Tulus dalam Membangun Bangsa
Anggota DPR haruslah mereka yang tanpa pamrih dan ikhlas. Sudah seharusnya jika pencalonan dan kinerjanya didedikasikan untuk membangun dan demi kepentingan bangsa Indonesia.
3. Walau berbeda namun toleran dan menghargai pendapat
Malu rasanya melihat para anggota DPR mengacung-acungkan tangan tanda tak hormat ketika sedang melakukan sidang. Minimnya toleransi dan kemampuan menghargai pendapat orang lain membuat para anggota DPR kita saat ini cenderung emosional ketika mengahadapi perbedaan. Anggota DPR yang ideal adalah mereka yang harusnya mampu menyikapi perbedaan dengan bijak dan cerdas, apalagi tidak semua anggota DPR memiliki latar belakang politik, agaman dan budaya yang sama.
4. BerAdab dan Jujur
Jujur merupakan nilai moral yang saat ini mulai jarang ditunjukkan oleh anggota DPR kita. Jujur tidak hanya berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan keuangan, tapi juga waktu. Ketidakjujuran merupakan pondasi awal perbuatan KKN. Sulitnya menegakan pemberantasan korupsi harusnya menjadi salah satu pertimbangan untuk memilih anggota DPR yang memang memiliki kualitas moral yang baik, salah satunya,aspek kejujuran. Selain itu, maraknya skandal video dan foto mesum anggota DPR juga menunjukkan bahwa anggota DPR saat ini tidak beradab dan tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran. Jujur dan beradab merupakan kriteria yang harusnya dimiliki oleh anggota DPR kita.
5. Peka dan Empatik
Seorang anggota DPR seharusnya peka terhadap kondisi dan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, terutama yang dialami rakyat Indonesia. Kepekaan inilah yang mulai hilang dan jarang ditemukan dalam diri anggota DPR saat ini. Melalui kepekaan, anggota DPR diharapkan mampu berempatik, bukan berempatik kepada para pengusaha dan pemegang modal, bukan pula kepada para pemegang kekuasaan di pemerintahan. Anggota DPR diharapkan mampu berempatik kepada rakyat Indonesia, terutama kepada masyarakat miskin yang sudah seharusnya diperjuangkan hak dan kepentingannya.
6. Adil dan BijaksaNa
Anggota DPR haruslah seorang yang adil dan bijaksana. Mereka harus mampu menempatkan diri dan menempatkan orang-orang disekelilingnya secara adil, dan mereka juga harus mampu mengambil keputusan dan memandang suatu permasalahan secara bijaksana. Anggota DPR yang seringkali berbicara dan mengambil keputusan secara menggebu-gebu menunjukkan impulsivitas dan minimnya sifat bijaksana.
7. Cerdas dan kritis (memahami hukum dan konstitusi)
Sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 pasal 20 A mengenai fungsi DPR diantaranya adalah fungsi legsilasi, anggaran dan pengawasan, maka diperlukan anggota DPR yang cerdas dan kritis untuk dapat melakukan analisis dan mengkritisi kebijakan yang dibuat pemerintah serta menganalisa kondisi bangsa Indonesia. Seorang anggota DPR idealnya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai hukum dan konstitusi yang berlaku di Indonesia.
8. Aspiratif
Anggota DPR haruslah mereka yang mampu menampung aspirasi rakyat. Banyak cara yang sebenarnya bisa dilakukan oleh para anggota DPR kita untuk mengetahui aspirasi rakyat, salah satunya public hearing. Namun hal tersebut minim dilakukan anggota DPR kita saat ini, alih-alih melakukan public hearing, anggota DPR saat ini justru lebih banyak melakukan studi banding ke luar negeri, padahal Indonesia memiliki karakteristik iklim, budaya, dan kondisi sosial ekonomi kemasyarakatan yang unik dan khas dan menjadikan Indonesia berbeda dengan negara lain. Lebih baik menilik ke dalam untuk mengetahui apa kebutuhan masyarakat Indonesia, dari pada menghabiskan dana ke luar negeri untuk studi banding yang kemungkinan akan lebih sulit di terapkan di Indonesia.
9. Solutif
Tidak hanya kemampuan menganalisis dan mengkritisi kebijakan dan kondisi bangsa, seorang anggota DPR juga hendaknya mampu mencari solusi yang tepat untuk kemudian melaksanakan solusi tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi anggota DPR RI. Tidak hanya pandai bicara dan berargumentasi, seorang anggota DPR juga harus mampu melaksanakan apa yang menjadi pemikirannya.
10. Inovatif dan Visioner
Seorang anggota DPR haruslah visioner. Dia harus memiliki visi kedepan, baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Seseorang yang mengaku menjadi atau ingin menjadi anggota DPR tanpa visi misi membangun Indonesia, maka tidak layak menjadi anggota DPR. Anggota DPR juga diharapkan inovatif, mampu melakukan gebrakan-gebrakan dalam menyelesaikan permasalahan di Indonesia dengan melaksanakan visi-misi yang dimiliknya.
11. Lugas dan Berani
Anggota DPR saat ini cenderung mengambil kebijakan berdasarkan kesepakatan koalisi, bukan berdasarkan kebutuhan dan masa depan bangsa dan rakyat Indonesia. Ketakutan tidak mendapatkan jabatan di periode mendatang dan dikeluarkan dari koalisi menjadi dasar pengambilan kebijakan. Koalisi seharusnya dilakukan dengan rakyat Indonesia, bukan dengan orang atau partai yang berkuasa. Lugas dan berani haruslah menjadi salah satu karakteristik anggota DPR RI di masa yang akan datang. Headlam sebagaimana dikutip oleh Yudi Latif menyatakan: “Dalam politik, hanya satu hal yang sungguh-sungguh diperhitungkan dan itulah keberanian untuk memutuskan: memilih kebijakan,” .
12. Amanah dan bertanggung jawab
Anggota DPR yang ideal bukanlah mereka yang menghumbar janji ketika kampanye, namun tidak mau memenuhi janji yang telah diucapkan. Anggota DPR haruslah mereka yang bertanggung jawab dan menjalankan apa yang sudah dijanjikan kepada para pemilihnya.
Mengutuk dan menghujat anggota DPR tentu tidak akan membawa perubahan yang signifikan bagi Indonesia. Sebagai masyarakat umum, kita juga tidak bisa hanya duduk diam menanti hadirnya politikus yang capable dan ideal, karena bagaimanapun, pemimpin itu dipersiapkan dan didik, tidak muncul secara instan. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan memilih anggota DPR yang memang layak dan capable. Caranya? Mencari tahu profil calon anggota DPR yang akan kita pilih, mengetahui visi-misi dan juga menelusuri track record perjalanan hidup sang calon dan memastikan bahwa sang calon memiliki JIWA PANCASILA. Internet dan media massa tentu dapat menjadi salah satu pilihan tepat untuk mengetahui lebih jauh mengenai calon-calon anggota DPR yang akan kita pilih nantinya. Meski sudah sering dikecewakan oleh anggota DPR, kita harus tetap proaktif dan optimis bahwa akan ada dan masih ada anggota DPR yang memang layak menduduki kursi DPR, karena bagaimanapun, ini adalah Indonesia kita, dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik….
Sumber Bacaan:
Sri-Edi Swasono. Der Grosse Moment. Kompas, 2 September 2009
Yudi Latif. Epos Besar dengan Manusia Kerdil. Kompas, 24 Agustus 2010
Identitas Penulis
Nama : Noridha Weningsari
Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 24 Juli 1988
Pekerjaan : Mahasiswa S2 Profesi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UI
Alamat universitas : Kampus UI Depok
Alamat rumah : Jl. Robusta Raya Blok P5/23 Pondok Kopi JAKTIM 13460
No. HP : 085229251478
E-Mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
Facebook : Noridha Weningsari
Twitter : @noridha
| < Prev | Next > |
|---|
- DPR, Titipan Amanah Rakyat Indonesia (184/S)
- SOSOK DPR IDEAL: Dicari atau Dibentuk? (183/U)
- Menanti Wakil Rakyat yang Benar-Benar Mewakili Rakyat (182/P)
- Kriteria Anggota DPR Dambaan Rakyat (181/S)
- Calon Anggota DPR RI Yang Kredibel Dan Bermoral (180/U)
- Kriteria Anggota DPR Dambaan Rakyat (179/G)
- Mendamba Wakil Rakyat Yang Merakyat (178/U)
- Menanti Sosok Seorang Bung Hatta di Kursi DPR-RI (177/S)
- Rindu Pada Yang Layak Di Rindu (176/U)
- 12 Poin untuk Anggota Dewan (175/M)
- Ragam Sudut Pandang Satu Keputusan (174/S)
- Aku Merindukan Anggota Dewan yang Merakyat (173/G)
- “Mencari Sosok Kedua” (172/M)
- 12 Karakter unggul untuk mewakili rakyat (171/G)
- Anggota DPR RI Masa Depan (170/S)


























