Teropong Pemimpin Idaman yang Ideal versi Iklan dan ala Agama Hindu (44/U)
KOPI - Saya suka sekali melihat iklan. Entah mengapa saya suka melihat bagaimana orang mengemas sedemikian rupa wajah dagangannya menjadi sempurna tanpa cela. Tapi kali ini sebuah iklan saya lihat sangat lain, karena mempertanyakan keabsahan diri. Waktu kudibangun dulu aku bertanya menjadi apa. Akankah besar ataupun kecil. Jadi pujaan atau terabaikan. Dalam hati saya bergumam, untung saja iklan itu hanya berbicara tentang semen. Karena saya berharap pemimpin-pemimpin bangsa ini jangan pernah mendengar lagu itu. Kenapa? Saya takut mereka membayangkan ibu pertiwi ini dewasa ini? Kenapa saya demikian takut? Karena sekarang ini Indonesia adalah parodi iklan. Siapa nanti yang akan menjawab hari ini apakah negeri ini jadi pujaan? Atau terabaikan? Semuanya kabur, kalaupun ada yang mau menjawab saya takut mereka hanya beriklan.
Masih tentang iklan semen tadi, saya benar-benar dibuat heran, di zaman ketika orang lupa bagaimana bercermin melihat diri sendiri, masih ada iklan yang justru mempertanyakan eksistensinya diri sendiri. Apakah tidak takut dagangannya tidak laku. Sudah, jawab saja akan besar, tidak perlu mempertanyakan jadi pujaan atau terabaikan, habis perkara. Namun lagi-lagi saya maklum, namanya saja iklan yang aneh.
Nama saya Donnie Weda Dharmawan, mahasiswa semester 4 yang hendak menuliskan pemimpin idaman yang ideal di zaman serba digital tak terbatas. Sebelumnya saya berpikir bahwa yang akan saya tulis ini tidak akan menjadi menarik. Dalam hati saya, kriteria pemimpin apa yang bisa diberikan oleh mahasiswa seperti saya? Untuk mencapai ranah pemerintah jelas mustahil bagi saya.
Saya bingung, kriteria pemimpin idaman yang ideal seperti apa yang akan saya tuliskan. Kalaupun saya harus menulis tentang pemimpin idaman yang ideal sudah tentu itu adalah murni pendapat saya. Saya bingung harus memulai dari mana menuliskan pemimpin idaman yang ideal, tetapi saya akan mencoba meneropong pemimpin idaman yang ideal versi iklan dan ala Agama Hindu.
Pengantar tulisan tadi mencoba mengumpamakan sosok pemimpin idaman yang ideal. Iklan selalu dikemas dengan packaging yang begitu menarik oleh sang produsen agar menarik hati konsumen. Pencitraan yang terkadang berlebihan membuat terkadang iklan sangat membosankan bagi konsumen untuk ditonton. Penggunaan tagline yang mudah diingat, artis domestik bahkan mancanegara yang menjadi brand ambassador seakan menghipnotis konsumen untuk terbujuk menggunakan produknya. Iklan disini saya umpamakan adalah seorang “pemimpin”. Sebagai seorang mahasiwa, melihat begitu banyak orang yang ingin menjadi pemimpin seakan miris. Miris karena pencitraan dirinya yang begitu sensasional, pencapaianya yang dikatakan berhasil. Mari melihat pemimpin tidak dari “cover” yang diumbar dengan bahasa iklan yang kias, tetapi berpikir bijak dengan logika bahwa “cover” yang baik belum tentu mencerminkan “content” yang baik pula. Terkadang, dengan pencintraan yang sederhana juga mencerminkan pribadi pemimpin yang bersahaja. Teropong pemimpin idaman yang ideal selanjutnya adalah teropong dalam Agama Hindu.
Kepemimpinan dalam Agama Hindu merupakan hal yang sangat terkait dengan etika karena berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan manusia lain yaitu antara pemimpin dengan yang dipimpin. Agama Hindu mengajarkan bahwa ada delapan sifat Dewata (Asta Bratha) sebagai simbol-simbol keagamaan Agama Hindu. Kepemimpinan dan etika Hindu bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan jasmani dan rohani berdasarkan dharma, moksartham jagadhita ya ca iti dharma (kebahagiaan di dunia dan di akhirat).
Diantaranya pertama, memiliki sifat seperti matahari atau sang surya. Dalam Agama Hindu disebut dengan Surya Bratha. Setiap pagi selalu terbit dari sebelah timur dan sore akan tenggelam sebelah barat tepat pada waktunya. Dia memberikan kekuatan, energi, semangat, dan harapan untuk hidup. Dari sifat atau watak sang surya itulah, manusia dapat mencontoh sifat kedisiplinan dalam menjalani kehidupan, selalu memberikan kekuatan, semangat, dan harapan bagi dirinya dan kemudian ditularkan kepada semua yang ada di sekelilingnya, terutama keluarga dan masyarakat. Selain itu, matahari pelita dunia dan diharapkan manusia juga dapat berperan sebagai penerang kehidupan bermasyarakat. Jangan sebaliknya, menimbulkan ketidakdisiplinan kinerja, menciptakan situasi panas, tidak bersemangat kerja, dan menumbuhkan permusuhan satu sama lain.
Kedua, watak bulan atau sang candra. Diistilahkan dalam Agama Hindu yakni Candra Bratha. Saat malam, sinar matahari sudah tidak lagi menerangi sebagian bumi sehingga sinar bulan akan menggantikan kedudukan matahari, yaitu penerang malam. Makna filosofisnya, pemimpin harus bisa mencontoh bulan yang dapat menerangi diri sendiri dan orang lain saat dalam kegelapan hati dan pikiran. Pengertian penerangan adalah memberikan nasihat, penjelasan, pendidikan, dan memberikan suri tauladan bagi orang yang belum mengerti atau yang sesat. Bukan sebaliknya, malah tidak memberikan contoh yang baik, mudah sekali berkata bohong dan bertindak diktator, serta membiarkan masyarakat tetap hidup dalam kegelapan.
Ketiga, angin atau sang bayu. Dalam Agama Hindu diistilahkan dengan Bayu Bratha. Bayu dapat dijadikan sebagai pedoman para nelayan atau pelaut yang fungsinya dapat menggantikan peralatan kompas jika ingin bepergian berlayar pada malam hari. Filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa memberikan pedoman atau petunjuk cara melangkah ke arah yang benar supaya tidak tersesat, menjadi teladan bagi orang lain, dan hendaknya dapat menampilkan diri dengan baik dan benar serta tidak mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari aturan.
Keempat, bumi, tanah atau kisma. Yama Bratha begitu diistilahkan dalam Agama Hindu. Tanah atau bumi memiliki sifat sabar, welas asih atau murah hati. Biar bumi diinjak-injak, digali, dibom, bahkan diperlakukan apa saja, ia tidak akan bereaksi apa pun dan akan menerima apa adanya. Filosofisnya, seorang pemimpin hendaknya bisa mencontoh bumi, yaitu sebagai tempat berpijak, tumpuan bagi orang yang berkeluh-kesah dan pengayoman masyarakat. Bukan sebaliknya, tempat keresahan, kegundahan, dan ketidakpastian.
Kelima, laut, samudera tau baruna. Baruna Bratha begitu diistilahkan dalam Agama Hindu. Laut merupakan muara (hilir) semua sungai yang mengalir dari pegunungan (hulu), baik berasal dari sungai besar atau kecil, sungai bersih atau kotor (berpolusi), maupun sungai yang berkelo-kelok atau lurus. Filosofisnya, pemimpin hendaknya harus siap sebagai penampung berbagai kesulitan yang sedang melanda masyarakat, penciptaan kehidupan, kesabaran, penyejuk, kehausan akan informasi, dan transformasi. Bukan menjadi penciptaaan bencana dalam kehidupan yang sulit dan tidak mau menerima keluhan masyarakat serta apatis.
Keenam, api atau dahana. Dalam Agama Hindu dikenal dengan sebutan Agni Bratha. Sifat api adalah melahap apa saja yang ada di dekatnya tanpa melihat siapa, apa, kapan, dimana, dan mengapa. Filosofisnya, seorang pemimpin harus berani bertindak tegas dan tanpa pandang bulu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai tempat penerang hati-nurani, pelita hidup dan kehidupan. Bukan sebaliknya, pemicu, provokator atau pembangkit nafsu amarah dan nafsu setan serta membiarkan ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam tata kehidupan bernegara.
Ketujuh, angin atau maruta. Dalam Agama Hindu diistilahkan dengan Kuwera Bratha. Sifat angin bisa bertiup ke mana-mana dan ada di mana-mana yang tidak membedakan ruang, waktu, dan tempat. Nilai filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa masuk ke segala lini, tidak membedakan suku, bangsa, ras, dan agama yang bisa dirasakan sampai ke masyarakat tingkat bawah sekalipun.
Kedelapan, langit atau angkasa. Indra Bratha begitu diistilahkan dalam Agama Hindu. Langit merupakan tempat bagi benda-benda langit, yaitu bintang, bulan, meteor, dan komet. Pada saat langit mendung dan terlihat hitam kelam disertai dengan suara gelegar guntur maupun kilatan petir yang akhirnya muncul hujan deras, langit tetap diam dan tidak pernah protes. Filosofisnya,seorang pemimpin harus tetap tegar, perkasa, dan percaya diri dalam menghadapi suara masyarakat yang kencang, tekanan, dan berbagai tantangan lainnya. Pada saat udara cerah, langitpun cerah. Sehingga seorang pemimpin haruslah memiliki sifat berwibawa dan selalu bermanfaat.
Dari pemaparan teropong pemimpin idaman yang ideal versi iklan dan ala agama hindu, semoga kita bisa lebih bijak untuk menentukan pemimpin yang ideal untuk masa depan.
Referensi :
http://tiwul.wordpress.com/2009/04/05/asta-brata/. Diakses tanggal 14 Februari 2012
http://naradewi.blogspot.com/2011/07/pengertian-asta-bratha.html. Diakses tanggal 14 Februari 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan. Diakses tanggal 14 Februari 2012
Biodata:
Nama: Donnie Weda Dharmawan
Email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
Alamat : Universitas Pendidikan Ganesha
| < Prev | Next > |
|---|
- Presiden dari Alam (43/S)
- Menjejaki Keterpurukan, Menginspirasi Grade Pemimpin Bangsa, Demi Songsong Indonesiaku Jaya (42/S)
- Kriteria Calon Presiden Indonesia Masa Depan (41/S)
- Kiat-kiat Memilih Calon Presiden Indonesia Masa Depan (40/M)
- Berkaca dari History (39/S)
- Presiden Impian Negara Indonesia (38/M)
- Sosok Soeharto sebagai Agent of Change Indonesia untuk Masa Depan (37/M)
- Kriteria Pemimpin Indonesia Ke Depan (36/M)
- Presiden Harapan Bangsa Garuda (35/M)
- Presiden yang Mencintai Rakyat (34/M)
- Menanti Sang Presiden Pembangun Puing-Puing Bangunan yang Rusak (33/U)
- Ksatria untuk Negeriku (32/M)
- Presiden Dambaanku (31/M)
- Pemimpin Idaman (30/U)
- Antara Mimpi, Umar, dan Bung Karno (29/S)


























