Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin Banten

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Statistik
Anggota : 6406
Isi : 10453
Content View Hits : 4812714
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Kriteria Presiden RI Pemimpin Indonesia yang Ditaati Rakyat (143/M)
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Merayakan Paskah bagi semua saudara sebangsa Indonesia yang merayakannya. Semoga keselamatan dan kedamaian di antara sesama sebangsa-senegara Indonesia akan senantiasa dicurahkan ke segenap penjuru nusantara dan dunia... Amin...

Pemimpin Indonesia yang Ditaati Rakyat (143/M)

...Tidak ada Negara tanpa pemimpin. Dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan. (Umar bin Khatab)

KOPI - Seseorang akan ditaati karena dua hal. Yang pertama karena dia sangat disegani, dan yang kedua adalah karena dia sangat dicintai. Beberapa orang beranggapan bahwa ditaati karena dicintai adalah lebih utama daripada ditaati karena disegani. Ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Jika seorang pemimpin ditaati hanya karena dia dicintai, maka tidak semua rakyatnya akan menaatinya. Karena tidak semua rakyatnya bisa mencintainya betapapun sang pemimpin telah berusaha dengan keras.

Sang Pemimpin tidak akan pernah bisa memaksa orang-orang tertentu yang berseberangan pendapat dengannya untuk mencintainya. Para Coruptor Wanna Be misalnya. Mereka pastilah akan membenci Sang Pemimpin setiap kali Sang Pemimpin mengeluarkan kebijakan yang membuat para Coruptor Wanna Be itu tidak bisa melakukan keinginannya. Karena itulah, sang pemimpin juga harus bisa menjadi sosok yang sangat disegani. Terutama oleh para Coruptor Wanna Be itu.

Untuk dapat menjadi sosok yang dicintai sekaligus disegani oleh rakyat, berikut ini kriteria yang harus dimiliki oleh Sang Pemimpin.

Yang pertama, Pemimpin Indonesia haruslah paham dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam hidupnya. Ini penting, karena pancasila adalah dasar Negara yang wajib diterapkan oleh seluruh bangsa Indonesia, tak terkecuali oleh pemimpinnya.

Yang kedua, Pemimpin Indonesia haruslah berperilaku baik. Istilah populernya, berakhlaq mulia. Akhlaq ini bukan hanya perilaku yang dipertontonkan di hadapan media dan rakyat. Melainkan juga dalam perilaku keseharian. Seperti suka bermusyawarah, tidak diktator, tidak suka berkata kotor, tidak suka melemparkan kesalahan pada orang lain, jujur, bisa dipercaya, tidak berbohong meskipun dalam candaan, serta bersih dari hal-hal kriminal seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Jika Sang Pemimpin memiliki akhlaq yang baik, termasuk dalam kehidupan pribadinya, niscaya ia akan bisa dicintai sekaligus disegani oleh seluruh rakyatnya. Bahkan, bisa jadi akhlaqnya yang mulia tersebut mampu menginspirasi banyak orang untuk kemudian diteladani.

Yang ketiga, Pemimpin Indonesia haruslah peduli pada rakyatnya. Yang harus dipikirkan oleh Sang Pemimpin adalah kemaslahatan warganya, bukan kemaslahatan diri dan kelompoknya.

Contoh kepedulian Sang Pemimpin pada rakyat misalnya peduli untuk memberikan lapangan pekerjaan yang lebih banyak pada rakyat, sehingga pengangguran berkurang. Menganggur itu bisa mengeraskan hati dan membuat kasar perilaku. Jika angka pengangguran dapat ditekan, niscaya angka kriminalitas juga dapat diturunkan.

Tak hanya memberikan lebih banyak lapangan pekerjaan, Sang Pemimpin juga harus bisa memberi edukasi kepada masyarakat terkait dengan kemandirian. Agar masyarakat tidak terlalu cengeng dan tidak terlalu bergantung pada orang lain. Edukasi tersebut diperlukan untuk membuat masyarakat lebih bisa berinisiatif, berinovasi, serta kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri mereka sendiri. Selain itu, rasa percaya diri masyarakat juga harus diperbaiki. Agar masyarakat tidak lagi bermental budak.

Yang keempat, Pemimpin Indonesia haruslah bersedia dekat dengan rakyat. Salah satu contoh yang menarik adalah kisah Umar bin Khatab (tokoh pemimpin Islam) yang menginspeksi kesejahteraan rakyatnya hampir tiap malam. Sendirian, tanpa Panwal (Pasukan Pengawal).

Sang Pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan laporan dari para menteri. Bagaimanapun, merasakan keadaan masyarakat langsung di lapangan akan jauh berbeda rasanya dengan hanya mendengar laporan dari menteri ataupun menonton berita dari televisi. Karena saat berada langsung di lapangan, seseorang akan dapat lebih berempati dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh masyarakat.

Yang kelima, Pemimpin Indonesia harus bersedia dikritik oleh masyarakat, bahkan minta dikritik bila perlu. Salah satu contoh yang juga sangat menarik adalah kisah Umar bin Khatab yang menangis karena tak ada seorangpun dari menteri maupun rakyatnya yang berani mengkritiknya.

Teladan di era ini yang bisa kita ambil adalah seperti yang dilakukan oleh Joko Widodo, mantan Wali Kota Solo. Beliau mengumpulkan masyarakat untuk mengeluarkan uneg-uneg langsung di hadapannya. Tanpa melalui wakil. Langsung, face to face.

Keenam, Pemimpin Indonesia haruslah bersedia untuk tidak bermegah-megahan. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang berpakaian lusuh dan bertambal setelah mengemban jabatan sebagai pimpinan tertinggi umat muslim. Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa pemimpin yang bermegah-megahan akan menyakiti hati rakyatnya.

Jadi, meskipun Sang Pemimpin sebenarnya adalah seorang bangsawan, jauh sebelum ia mengemban jabatan sebagai Pemimpin Bangsa, sebaiknya ia menghindari gaya hidup yang bermegah-megah. Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan, adalah contoh lain dari pemimpin yang berasal dari kalangan kaya raya yang mendadak rela menjalani gaya hidup luar biasa sederhana setelah diamanahi menjadi pemimpin.

Ketujuh, Pemimpin Indonesia haruslah terlihat kuat dan memiliki harga diri. Tidak banyak curhat dan mengeluh pada rakyat. Juga tidak mudah goyah pendirian ketika dipengaruhi atau bahkan diancam oleh orang/negara lain. Dengan sikap ini, Pemimpin Indonesia tidak hanya akan disegani oleh rakyatnya, tapi juga oleh negara-negara lain di seluruh dunia.

Kedelapan, Pemimpin Indonesia haruslah memiliki sifat amanah (kompeten/professional di bidangnya). Sang Pemimpin harus benar-benar memahami ilmu tata negara. Ilmu tentang bagaimana cara membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Kesembilan, Pemimpin Indonesia haruslah jauh dari sifat NATO (No Action, Talk Only). Perbuatan Sang Pemimpin haruslah selaras dengan apa yang ia katakan atau ia janjikan. Kalau Sang Pemimpin menghimbau warganya untuk mengurangi kemacetan, maka ia tidak boleh menambah kemacetan jalan dengan iring-iringan Panwalnya.

Kesepuluh, Pemimpin Indonesia haruslah mencintai rakyatnya. Karena dengan mencintai rakyatnya, Sang Pemimpin akan rela mengorbankan banyak hal dari dirinya. Dengan mencintai rakyatnya, Sang Pemimpin akan bersedia mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadinya.

Kesebelas, Pemimpin Indonesia haruslah bisa berbuat adil serta memberikan kesejahteraaan pada rakyatnya. Sang Pemimpin tidak boleh melakukan “tebang pilih” dalam menyelesaikan kasus kriminal. Sang Pemimpin juga harus bisa memaksimalkan APBN untuk sebaik-baik kesejahteraan rakyat. Bukan untuk kesejahteraan pribadi ataupun segolongan orang.

Last but not least, yang kedua belas, Pemimpin Indonesia haruslah seseorang yang takut pada Tuhannya. Ini luar biasa penting. Karena, kalau Sang Pemimpin takut pada Tuhannya, serta selalu merasa diawasi oleh-Nya, niscaya ia tidak akan melakukan penyimpangan-penyimpangan yang dimurkai oleh Tuhannya.

Kriteria-kriteria di atas sebenarnya tidak hanya berlaku bagi Pemimpin Indonesia. Melainkan juga berlaku untuk seluruh pejabat bangsa. Bahkan lebih dari itu, kriteria-kriteria tersebut akan sangat indah ketika dapat diaplikasikan oleh kita semua. Karena sejatinya, kita semua adalah pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Wallahu ‘alam. Semoga bermanfaat.

 

Identitas Penulis

Nama: Erlinda Rakhmawati

Tempat/tanggal lahir: Purworejo, 1 Mei 1988

Nama Universitas: STMIK Amikom Yogyakarta

Alamat Universitas: Jl Ringroad Utara

Alamat Rumah: Jl Kemuning I No. 411 Perumnas Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta

Nomor telepon seluler: 087 839 478 036

Alamat e-mail: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Akun facebook: erlind kerren

 

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.