Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta
            Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Remaja Kuningan Gagas Gerakan Gemar Bers.....
22/02/2013 | Andri Ana

KOPI, Kuningan – Untuk mengurangi kenakalan remaja di jalanan, memang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan olahraga bersepeda. Hal tersebutlah yang dirintis oleh beberap [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 6180
Isi : 8776
Content View Hits : 3053212
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini5423
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin7044

Warga Online : 106
IP Kamu : 50.16.36.153
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Kriteria Presiden RI Mencermati Calon Pemimpin Indonesia (262/M)

Mencermati Calon Pemimpin Indonesia (262/M)

KOPI - Seorang penyair Yunani kuno, Euripides (406 SM), pernah berkata, “Sepuluh serdadu yang dipimpin dengan bijak dapat mengalahkan seratus serdadu musuh yang tidak mempunyai pemimpin[1].” Itulah esensi diperlukannya seorang pemimpin dalam suatu tata kelompok atau organisasi, termasuk negara.

Sukarela dan Totalitas

Pada hakikatnya, negara adalah sebuah organisasi non-profit. Menurut Peter F. Drucker, organisasi non-profit adalah organisasi sukarela[2]. Penekanannya adalah pada dimensi kesukarelaan. Saya tidak akan membatasi setiap orang yang ingin menjadi pemimpin negara Indonesia, menjadi presiden RI (Republik Indonesia). Boleh siapa saja dan dari kalangan mana saja asalkan syarat pertama ini telah ia penuhi: kesukarelaan, tanpa tedeng aling-aling apapun.

Sikap sukarela adalah sikap murni mengabdi tanpa ambisi kepentingan pribadi ataupun golongan. Tujuan pengabdiannya adalah murni untuk kepentingan bersama. Sebab dalam hal ini berkonteks negara, berarti haruslah murni demi kepentingan rakyat semata.

Sebuah ungkapan bijak terkenal mensyaratkan pemimpin adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya. Maksudnya adalah sikap totalitas. Totalitas sangat erat hubungannya dengan kesukarelaan yang telah disebutkan sebelumnya. Seorang Winston Churchil pernah mengeluarkan kalimat yang bermakna totalitas, “My duty to my party ends when my duty to my country begins[3].” Ketika seseorang telah bersukarela untuk menjadi pemimpin negara, ia pun seharusnya dengan sukarela akan meninggalkan segala kesenangan dan kepentingan pribadinya untuk total dalam pengabdian.

Mudah sebenarnya untuk mencermati apakah seorang calon presiden alias calon pemimpin negara itu sukarela dan akan totalitas atau tidak. Seorang calon presiden yang sukarela dan totalitas tentu berani berjanji untuk melepaskan segala jabatan yang tengah dipegangnya sekarang ketika terpilih nanti. Bila sebelumnya calon presiden tersebut memiliki jabatan dalam suatu partai politik ataupun organisasi lainnya, ketika terpilih nanti ia harus rela menanggalkannya. Begitupun bila sang calon adalah seorang pengusaha ataupun pemangku posisi di perusahaan atau kantor apapun.

Hal ini benar-benar ditujukan untuk menguji kesukarelaan/keikhlasan dan totalitas para calon sebelum memasuki babak pemilihan presiden selanjutnya. Saya tak mengharuskan bahwa seorang calon presiden haruslah tak berpartai alias dari pihak inndependen. Saya juga tak melarang seorang calon presiden yang berprofesi sebagai ini, itu, dan sebagainya. Yang terpenting apapun latar belakangnya, ketika ia terpilih sebagai presiden nanti fokus utamanya hanyalah tugas negara bukan pofesi lain, dan prioritasnya hanyalah kepentingan rakyat bukan golongan apapun.

Hukum, Politik, dan Militer

Saya pernah membaca sebuah buku yang berisi kumpulan biografi singkat presiden-presiden Amerika Serikat sejak presidennya yang pertama [4]. Rata-rata seorang presiden di sana memiliki kecakapan dalam bidang hukum, politik, dan militer. Ketiga bidang tersebut memang menjadi bidang yang sangat esensial dalam suatu pemerintahan sebuah negara.

Saya tidak membatasi seorang calon presiden haruslah memiliki latar belakang di ketiga bidang tersebut. Tapi, syarat terpentingnya adalah seorang presiden harus memiliki wawasan yang luas di berbagai bidang terutama dalam ketiga bidang tersebut apapun latar belakangnya.

Kesamaan antara bidang hukum, politik, dan militer adalah ketiganya sama-sama sering membutuhkan keputusan yang sangat tepat dan juga cepat dari seorang pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin haruslah seorang yang cerdas, bijak, percaya diri, tegas, dan berani.

Keenam kriteria sifat tersebut, termasuk wawasan yang luas, dapat kita teliti bersama apakah dimiliki oleh seorang calon presiden atau tidak. Caranya adalah dengan mencermati setiap kata yang keluar dari calon presiden tersebut. Terutama ialah ketika kata-kata tersebut merupakan jawaban langsung atas suatu pertanyaan, misalnya dalam suatu acara debat capres, tanya-jawab capres, konferensi pers, dan sebagainya.

Seorang calon presiden yang berwawasan luas, cerdas, dan bijak tentu tidak akan kesulitan dalam menjawab berbagai pertanyaan seputar negara yang akan ia pimpin ke depannya. Seorang calon presiden yang percaya diri, tegas, dan berani tentu akan berbicara lurus, jelas, dan terbuka alias dengan makna tersurat, serta tanpa banyak koreksi dan pertentangan antar pernyataan-pernyataannya sendiri.

Visi Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin apalagi presiden haruslah memiliki visi yang jelas. Bagi saya, sebuah negara dikatakan telah mati bukanlah ketika mengalami penjajahan, melainkan ketika tidak lagi memiliki tujuan yang jelas. Begitupun hakikatnya seorang manusia, apalagi seorang pemimpin negara. Seorang presiden mutlak haruslah seorang yang visioner (memiliki visi ke depan) dan optimis.

Seorang calon presiden dapat dikatakan visioner apabila ia mampu memandang jauh ke depan. Ia telah memiliki rancangan rencana negara ke depan beserta analisis kondisinya. Calon presiden yang visioner bahkan dapat menganalisis kendala ke depan yang bakal ditemuinya serta kemungkinan solusi yang akan diaplikasikannya. Seorang calon presiden yang optimis adalah ia yang selalu memiliki harapan baik ke depan dan kata-kata serta sikapnya selalu dapat menjadi motivasi bagi orang lain, dalam hal ini adalah rakyatnya, bagaimanapun keadaannya.

Pemimpin yang Menyenangkan

Seorang pemimpin negara tidak akan disukai oleh semua orang. Namun, hal yang terpenting adalah seorang presiden harus disenangi oleh rakyatnya. Presiden yang menyenangkan adalah presiden yang rendah hati dan siap sedia untuk melayani. Bahkan dalam suatu riwayat hadits dikatakan bahwa “Seorang pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka”[5].

Seorang pemimpin dapat dikatakan rendah hati ketika ia dapat menerima siapapun rakyat yang datang kepadanya, tanpa membeda-bedakan. Penerimaan rakyat dalam hal ini bukan berarti dalam bentuk fisik semata tetapi juga dalam bentuk non-fisik seperti pesan dan aspirasi. Seorang pemimpin negara yang rendah hati terbiasa beraktivitas dekat rakyat. Ia terbiasa dengan kegiatan ala rakyat dan terbiasa berada di tempat-tempat di mana rakyatnya berada. Ia terbiasa dengan kesederhanaan. Seorang pemimpin yang siap sedia untuk melayani terbiasa membuka diri seluas-luasnya bagi rakyat. Ia siap menerima keluhan rakyat kapan saja. Ia siap turun ke lapangan kapan saja dan di mana saja.

Kedua kriteria terakhir ini hanya dapat kita cermati dari pengalaman hidup sang calon pemimpin negara itu sendiri. Seorang calon presiden yang terbiasa dengan kesederhanaan dan terbiasa membuka diri dan beraktivitas dekat rakyat akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki kedua kriteria tersebut.

Memilih seorang pemimpin negara perlu kecermatan tinggi. Kita harus memilih presiden yang paling mendekati sempurna dari semua kriteria yang telah disebutkan di atas. Meskipun tak akan ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Meskipun tak akan ada calon presiden yang sempurna di negara ini. Namun, tekad kita haruslah kuat untuk memilih calon presiden kita sendiri dengan mencermati para calon yang ada sesempurna mungkin caranya.

 

Pustaka Pendukung

[1] http://www.weingraber.com/quotes/topic/leadership/

[2] Drucker, Peter F. Managing the Non-Profit Organization, Principles and Practices. 2005. New York: HarperCollins.

[3] Alfian, M. Alfan. Menjadi Pemimpin Politik. 2009. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

[4] Suhindriyo. Biografi Singkat Presiden-Presiden Amerika Serikat (1789-2001). 1999. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

[5] http://hikmahkebaikan.blogspot.com/2011/08/pemimpin-itu-pelayan.html

 

Identitas Penulis

Nama : Utomo Priyambodo

Tempat/tanggal lahir : Bekasi/23 November 1992

Nama sekolah/universitas : Institut Teknologi Bandung

Alamat sekolah/universitas : Jalan Ganesha No.10, Bandung

Alamat rumah : Kp. Kebantenan RT 05/04 No.13 Jatiasih

Nomor telepon seluler : 08567166184

Alamat e-mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Akun facebook : Utomo Priyambodo

 


Artikel Lainnya: