Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDATiga Pilar "Gowes Bareng" Bersama Masyar.....
01/08/2015 | Joe R Manalu

KOPI - Cengkareng - Sabtu pagi (01/08) kegiatan tiga Pilar "Gowes bareng" bersama dengan masyarakat ± 200 yang di hadiri Kapten inf Ober Purba (Danramil 04/Ckr) beserta jajarannya , Kompol Aji Sutarj [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Supadiyanto

Supadiyanto

Mang Ucup dalam Lipatan Perjalanan Hidup Saya

KOPI - Selamat dan sukses kepada Bapak Robert (Mang Ucup) yang dinobatkan oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) menjadi Man of The Year 2015 sebagai Tokoh Nasional Peduli Kemanusiaan pada hari ini (Sabtu, 12 Desember 2015) di Jakarta. PPWI sangat tepat memilih Mang Ucup sebagai tokoh pilihan mengingat ketokohan dan kepakarannya dalam bidang kemanusiaan, komunikasi (media), dan pendidikan. Persinggungan saya dengan Mang Ucup secara langsung (kontak fisik), sesungguhnya baru terjadi pada tahun 2008; namun sejak tahun 2006 sesungguhnya saya sudah terkoneksi dengan beliau melalui serangkaian tulisan. Mang Ucup termasuk penulis yang produktif.

Kebanyakan tulisan Mang Ucup berupa nilai-nilai kebatiniahan (rohaniah), serta catatan ringan. Guyonan, sindiran, ironisme, satir; kerap muncul dalam tulisan Mang Ucup. Namun yang paling kuat adalah persoalan gaya hidup. Sebagai tokoh penting dalam bidang perkomputeran di Indonesia, sekaligus penggagas berdirinya lembaga pendidikan berbasis komputer dan informatika; Bapak Robert memiliki kontribusi dalam memajukan dunia perkomputeran dan multimedia. Salah satu guru menulis saya, harus saya akui adalah Mang Ucup. Pada tahun 2008, saya pernah diajak berkunjung ke apartemen; tempat tinggal beliau di Jakarta. Tiba-tiba saya diminta untuk mengambil kertas dan pena; kemudian Mang Ucup mengucapkan satu kata saja; lantas saya diminta untuk menuliskan sebanyak-banyaknya padanan kata (sinonim) dalam waktu satu menit saja. Hal itu dilakukan untuk kata lainnya juga; baik sinonim maupun antonim.


Tujuan utama dari latihan itu sesungguhnya untuk memvariasikan kata sehingga ketika kita menulis memiliki banyak pilihan kata yang variatif; sehingga tidak monoton; dan tidak membosankan. Ada pengalaman yang cukup lucu dan mengesankan ketika saya bersinggungan langsung dengan Mang Ucup. Pada suatu siang ketika saya tengah mencangkul sawah
(dalam bahasa Jawa macul); Mang Ucup menelpon saya dan meminta saya untuk segera hadir ke Jakarta pada pagi harinya. Tidak banyak penjelasan; entah saya diminta untuk apa; Mang Ucup mewajibkan saya harus ke Jakarta. Sebagai anak kampung; saya "yes" saja; diminta oleh seorang tokoh besar bernama Mang Ucup. Tanpa banyak pertanyaan,
segera saya beli tiket kereta api cendol (Kereta Api Progo) dan menuju ke Jakarta sore harinya pukul 17.00 WIB. Sampai Jakarta pada pukul 04.00 WIB keesokan paginya.


Langsung saja saya mencari alamat di mana Mang Ucup tinggal. Di sana saya di minta untuk beraudiensi dengan Raja Keraton DIY (Sri Sultan HB X) yang juga punya tempat tinggal di daerah Menteng. Akhirnya saya bersama Pak Robert dan rekan lainnya; berkunjung ke rumah Sultan HB X. Bercermin dari kejadian tersebut, saya baru sadar bahwa Mang Ucup memiliki maksud sendiri untuk "menaikkan" derajat seseorang ke kedudukan yang lebih tinggi; dengan cara membenturkan kita dengan tokoh-tokoh nasional; sehingga dengan sendirinya kita terdampak oleh ketokohan tokoh tersebut.


Ada cukup banyak pengalaman lain yang sangat berharga yang saya dapatkan dari kepribadian Mang Ucup. Seperti saya diminta untuk mengoperasionalisasikan situs Harian Online Kabar Indonesia (HOKI) dengan menjadi editornya; bahkan terakhir pada masa kampanye Pemilu Presiden 2014 kemarin saya pernah diminta untuk membuat tandingan "Tabloid Obor"; untuk menetralisir dampak negatif dari Tabloid "ilegal" tersebut. Tentu saja penuh "deg-degan" saja saya mengerjakan program tersebut bersama dengan rekan lainnya. Dalam tensi politik yang tinggi; tentu saja mengerjakan pekerjaan di atas; seperti hidup dalam tensi atau tekanan hidup yang tinggi. Walaupun akhirnya, program tersebut tiba-tiba dihentikan pada tengah malam; dengan telpon mendadak dari Mang Ucup kepada saya yang meminta menghentikan pekerjaan tersebut; di mana Mang Ucup mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan dari para pengelola tabloid tandingan yang akan diterbitkan. Berikut ini saya bukakan, satu bab yang pernah saya tulis dalam buku berjudul:   "Mang Ucup Menaklukkan Dunia"


Dalam sejarah dunia Teknologi dan Informasi (TI) di Tanah Air, nama Robert Nio sempat menyedot kekaguman banyak kalangan di era tahun 80-an. Oleh para pakar komputer dan TI, beliau sempat dijuluki sebagai raja komputer. Di samping pula ahli dalam hal pemrograman, Mang Ucup nama kebanggan Robert Nio, juga dikenal luas sebagai pengusaha industri komputer ternama di Indonesia. Robert Nio tercatat juga sebagai pelopor lembaga pendidikan tinggi komputer pertama di Indonesia dengan nama Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika (LPKIA). Namun di balik kesuksesannya, ternyata menyimpan banyak misteri kehidupan yang tidak terungkap ke permukaan. Nah pada kesempatan yang berbahagia inilah, realitas kehidupan Robert Nio dapat diketahui dengan sejujur-jujurnya.


Robert Nio yang dilahirkan pada 19 Juli 1942 silam itu dengan nama lahir Nio Tjoe Siang. Robert Nio yang juga dikenal luas sebagai Direktur Utama Harian Online Kabar Indonesia (HOKI) yang berkantor di Belanda dan pernah menorehkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai media massa dengan jumlah penulis terbanyak se-Indonesia, bermaksudkan membeberkan kepada publik siapakah sebenarnya jati dirinya. Tepat pada 19 Juli 2012 (besok), Jusuf Randi nama lain Robert Nio genap berusia 70 tahun. Sebuah rentang usia yang sangat panjang, dan sangat langka manusia yang berusia pada umur tersebut masih terlihat sehat, bugar dan masih aktif melakukan pekerjaan bisnisnya. Yang terjadi kebanyakan adalah, banyak penduduk lanjut usia yang jompo, tidak aktif berkarya lagi. Bahkan sebagian yang lain, hidupnya ditopang dengan berbagai alat bantu kesehatan. Tetapi itu tidak berlaku bagi Robert Nio. Kunci utama Mang Ucup memperoleh panjang umur dan tetap dalam kondisi prima hingga sekarang adalah dengan banyak berolahraga. Setiap pagi sebelum menjalankan aktivitasnya Mang Ucup selalu maniak pergi ke ruang kebugaran. Dan meski usianya sudah lansia, otot lengan dan bahunya masih tetap kencang dan berotot, tidak kalah jika dibandingkan dengan mereka yang berusia 30-40 tahun.
Beliau yang dilahirkan di tengah keluarga sederhana, dengan 4 saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, harus berjuang mati-matian dalam menggapai berbagai kesuksesan hidupnya. Prinsip hidup yang membedakan dari saudara-saudara kandungnya adalah kenekatannya dan mental pantang berputus asa. Entah mengapa tabiatnya sangat berbeda jauh dengan kakak dan adik-adik kandungnya.


Suatu ketika, ia sempat dimarahi bapaknya karena berani menyetir sebuah jip milik keluarga yang menabrak sebuah sekolahan, padahal usianya baru 8 tahun. Kenekatan Mang Ucup kecil memang tidak berhenti sampai di situ. Di masa menuju dewasanya nanti, Mang Ucup sampai berani bertaruh nyawa menghabiskan masa mudanya di berbagai negara Eropa. Yang ampuh lagi, hanya bermodalkan dengkul. Artinya, tidak mempunyai bekal uang (modal), relasi (kawan), bahkan bahasa asing. Hanya tekad dan keberanian yang membaja saja yang ada dalam dirinya semasa muda dahulu.
Nyali bisnisnya juga sudah sangat menonjol sejak kecil. Meksipun semasa masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama divonis sebagai anak bodoh dan bandel. Salah satu gurunya pernah mengejeknya dengan mengatakan kalau otaknya lebih kecil daripada ayam. Artinya Mang Ucup kecil dinilai sangat bodoh, bahkan lebih bodoh daripada sekedar seekor ayam sekalipun. Memang Mang Ucup yang dikenal tolol oleh para guru dan teman-temannya, pernah tidak naik kelas 1 dan 5 SD, serta harus mengulangi kelas kembali pada saat duduk dibangku SMP kelas 2.
Tetapi umpatan dari gurunya di atas, tidak membuat kecil hati (minder) Mang Ucup. Dengan tekad bajanya, Mang Ucup ingin membuktikan diri kepada dunia, bahwa dirinya adalah orang yang berguna bagi bangsa dan negara dan seluruh kehidupan dunia ini.


Cirikhas fisik yang melekat dalam tubuhnya adalah tompel. Ya, di mukanya menempel sebuah tompel. Menurut pengakuan ibunya, sewaktu ia hamil kedua, pernah melihat dan membenci seorang karyawan diskotik yang wajahnya terdapat sebuah tompel. Entah mengapa, ketika ia melahirkan, hasilnya terdapat sebuah tompel yang menempel pada wajah anak keduanya itu. Tak ayal, dalam babak selanjutnya, Mang Ucup mendapatkan julukan juga sebagai si Tompel. Berdasarkan pranala China, Mang Ucup dilahirkan pada hari Minggu dengan shio Kuda. Watak kuda adalah perkasa, jantan, kuat, pantang menyerah, gesit dan tangkas. Dan tidak tertampik lagi, Robert Nio memiliki watak, karakter dan tabiat di atas. Dan relevan dengan hal di atas, Mang Ucup sangat hobi berkuda sejak kecil. Setiap merayakan ulang tahun dirinya atau orang tuanya, Mang Ucup memberikan kado atau oleh-oleh dengan cara naik kuda. Tampak gagah dan terkesan “cow boy” banget.


Jiwa bisnisnya terasah semenjak kecil. Bisnis pertama yang masih sangat diingatnya adalah mencuri mangga milik tetangga sebelah. Dasar punya bakat bisnis. Mangga-mangga tersebut tidak sekedar dimakannya. Melainkan dibuat rujak, kemudian menjualnya. Hasilnya fantastis. Mang Ucup memperoleh uang dalam jumlah lumayan besar waktu itu. Melalui cara kreatif demikian, Mang Ucup yang waktu itu masih terbilang anak kecil bisa memberikan tambahan penghasilan untuk orang tuanya.


Mang Ucup sewaktu kecil memang terkenal dengan kenakalan dan keusilannya. Bagi kedua orangtuanya, kerap juga dibuat kesal. Lantaran hampir tiap malam, Mang Ucup jarang berada di rumah. Ayah dan ibunya ingin mencarinya, tetapi tidak tahu harus mencari di mana. Bahkan karena di rumahnya berdekatan dengan kelenteng, ulah nakalnya tiba-tiba muncul di sana. Sesaji yang kerap dihidangkan oleh pihak kelenteng kerap dicurinya. Terutama sesaji berupa daging sangat digemari. Padahal teman sebayanya tidak berani mengotak-atik berbagai sesaji yang dihidangkan pihak kelenteng. Mereka menganggap sesaji-sesaji tersebut sakral dan ada makhluk halus yang menungguinya. Kebandelan Mang Ucup kecil inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi kepala geng, dan membuatnya ia disegani oleh teman sepermainannya. (*)

Yogyakarta, 12 Desember 2015, pukul 11.40.12 WIB

 

 

 

IDE dan PUBLIKASI: Beranikah (Puan/Tuan) Menulis Artikel di Surat Kabar (Nasional dan Lokal), Sekarang?

Prolog

Pernyataan fenomenal yang pernah dilontarkan oleh John Naisbitt, penulis dari Amerika Serikat yang terkenal dengan konsep Megatrend dan Global Paradox-—hingga kini masih dikutip banyak tokoh di Indonesia, bahkan di mancanegara. Padahal pernyataannya sederhana saja. Begini: "siapa menguasai informasi, ia akan menguasai dunia. Siapa menguasai dunia, ia akan mencapai kejayaan". Bukankah tuan/puan acap kali mendengar lontaran kalimat tersebut?

Mehmet Murat Ildan, novelis Turki juga pernah melontarkan "kalimat sakti" model begini: "ada dua jenis kekuatan besar yang bisa mengguncangkan dunia: gempa dahsyat dan ide-ide besar". Ucapan milik Mehmet Ildan, sempat dijadikan "quote" di pojok kanan bawah oleh Koran Sindo (dulu bernama Harian Seputar Indonesia) edisi Selasa (5/11/2013); yang menjadi ciri khas dari surat kabar nasional milik salah satu raja media di Indonesia, Harry Tanoe Soedibyo.

Mengapa pemikiran John Naisbitt dan Mehmet Ildan di atas, atau pemikiran milik tokoh lainnya, banyak dijadikan rujukan (referensi) banyak tokoh di dunia? Jawabannya gampang. Sebab mereka memiliki ide dan terpublikasikan. Tetapi apakah orang yang memiliki ide saja, selalu akan dikenal banyak orang? Tidak selalu, kecuali orang yang bersangkutan segera mempublikasikannya.

Nah, selesai sudah jawabannya. Sehingga saya tak perlu lagi melanjutkan kajian dalam makalah pendek ini. Karena, kata kuncinya, hanya ada dua saja. Satu, ide. Dua, publikasi. Tapi kalau tuan/puan ingin mengetahuinya lebih dalam lagi, baca makalah ini selanjutnya…

 

Soal Ide

Kalau tuan/puan ingin membuat sendiri suguhan bernama bakso, di samping harus memahami mengenai teori dasar membuat bakso; puan/tuan harus memiliki bahan-bahan berupa daging sapi, mie, dan aneka bahan mentah lainnya. Sama dengan menulis, untuk bisa menghasilkan karya jurnalistik—entah berupa berita, artikel/opini, syair, puisi, foto, film, cerpen, novel, buku, naskah film, naskah drama, naskah teater; bahkan karya ilmiah berupa skripsi, tesis, desertasi, makalah ilmiah, jurnal ilmiah, dan semacamnya; setiap orang membutuhkan ide. Ide, atau yang disebut sebagai gagasan. Ide, gagasan merupakan fondasi dari setiap karya.

Bagaimana cara mendapatkan ide/gagasan di atas? Bagaimana cara Anda mendapatkan bahan dasar pembuat bakso berupa daging sapi, mie dsb.? Dengan cara membeli bahan-bahan dasar tersebut di pasar, toko, atau tempat kulakan lainnya?

Apakah dalam hal mendapatkan ide menulis, tuan/puan juga harus membeli ide/gagasan tersebut dari penjual ide? Inilah uniknya ide. Setiap orang dikarunia Tuhan berupa otak. Otak, yang didalamnya adalah perangkat lunak bernama akal; merupakan komputer alamiah yang sungguh luar biasa. Guru Besar-nya Profesor Baharuddin Jusuf Habibie (mantan Presiden dan Wakil Presiden RI yang terkenal berkat teori crack (retakan)), dipermaaf saya lupa namanya, pernah mengatakan bahwa kalau seluruh komputer di dunia ini dirangkai menjadi satu kesatuan; maka tidaklah cukup untuk menyamai kecanggihan sebuah otak manusia. Artinya, satu otak manusia, ya milik tuan/puan dan kita ini, sungguh dahsyat, bahkan lebih ampuh dari komputer pentium tercanggih manapun di dunia ini.

Sekali lagi, dari manakah tuan/puan akan mendapatkan ide menulis? Dari dalam kesadaran otak tuan/puan, yang sungguh dahsyat tersebut. Kalau tubuh tuan/puan diibaratkan sebuah laptop atau komputer, otak tuan/puan analog Central Processor Unit (CPU)-nya. Otak adalah pengendali kesuluruhan tubuh tuan/puan, kecuali jantung tuan/puan. Panca indera tuan/puan itu ibarat input bagi komputer/laptop yang memberikan masukan data/informasi pada otak tuan/puan. Dengan demikian, sejatinya ide didapatkan dari proses melihat, mendengar, meraba, merasakan, mencium/membaui. Mata, telinga, hidung, lidah (mulut), kulit merupakan "radar" yang memproses keseluruhan informasi/data yang akan dikirimkan ke dalam otak puan/tuan. Ketika informasi sudah masuk dalam otak, maka informasi tersebut akan diproses, dikaji, dianalisis, dikomparasi, disintesis, disimpulkan, dan proses berfikir lainnya. Lantas lahirnya ide, gagasan, konsep, teori, pemikiran baru dan produk gagasan lainnya.

Sejatinya proses membaca, menghitung, mendengarkan, berdiskusi, meneliti, menyanyi, merenung, meditasi, berbicara, melamun, bermimpi, berimajinasi (berkhayal), dan bentuk-bentuk lain yang melibatkan proses kreatif lainnya; sesungguhnya adalah kegiatan untuk mengekspresikan apapun yang "dipikirkan" oleh otak tuan/puan. Kalau tenggerokan dan perut tuan/puan haus dan lapar, maka puan/tuan akan segera minum dan makan, bukan? Sama saja. Otak kita ini juga secara alamiah akan merasa haus, lapar, atau tidak haus, kenyang. Kalau otak tuan/puan haus, dan lapar; maka otak tuan/puan butuh asupan gizi yang bernama bacaan, tontonan, musik, hiburan, dan semacamnya. Otak tuan/puan yang lapar dan haus tersebut butuh "makanan dan minuman". Sesungguhnya kegiatan membaca, mendengarkan, menonton, berdiskusi, melihat dan seterusnya adalah sama dengan kegiatan makan dan atau kegiatan minum. Dengan demikian, otak tuan/puan akan "kenyang informasi".

Kalau dipetakan, sesungguhnya sumber ide itu bisa beragam bentuk. Bisa berupa inspirasi, ilham, mukjizat. Inspirasi adalah ide yang datangnya disengaja. Pada umumnya, inspirasi dihasilkan berkat upaya kreatif. Datangnya inspirasi bisa dipicu karena lingkungan sekitar, berdiskusi dengan lawan bicara, atau bahkan sedang sendirian. Ilham adalah bentuk ide/gagasan yang terlahir dengan ketidaksengajaan. Setiap orang berpeluang atau berpotensi memiliki inspirasi. Tetapi tidak bisa semua orang mendapatkan ilham. Sebab ilham itu, ibarat "keberuntungan". Sedangkan mukjizat itu hanya diperuntukkan bagi para Rasul atau orang-orang suci, yang sifatnya top-down; atau menjadi hak prerogatif Tuhan semata.

Datangnya inspirasi dan ilham, umumnya diturunkan secara "spontanitas, sekejab, tiba-tiba". Kalau orang yang mendapatkan inspirasi maupun ilham tersebut tidak segera untuk merajut atau mengikatnya dalam bentuk tulisan, inspirasi maupun ilham tersebut akan hilang atau mudah dilupakan. Di samping tuan/puan harus menulisnya, sebaiknya ilham dan atau inspirasi yang datangnya sekejab tersebut ditunjamkan dalam ingatan (memori) secara mendalam.

Membaca buku, koran, komik, novel, cerpen, jurnal, media online; mendengarkan radio; menonton televisi, mengamati situasi dan kondisi lingkungan sosial di sekitar tuan/puan; adalah kegiatan positif yang diharuskan agar tuan/puan mendapatkan banyak ide/gagasan, terutama berupa inspirasi.

Bagaimana kalau tuan/puan tidak segera mendapatkan ide/gagasan untuk dijadikan bahan tulisan, padahal sudah banyak membaca, mendengarkan, dan menonton, meneliti? Berarti ada kesalahan dalam mekanisme tubuh tuan/puan. Tuan/puan tidak terbiasa menulis, bukan? Biasanya tuan/puan, biasa berbicara saja. Padahal apa bedanya menulis dan berbicara? Berbicara adalah mengungkap isi fikiran dalam otak tuan/puan melalui suara mulut. Otak berfikir, kemudian menghasilkan struktur kata dan kalimat yang kemudian dikirimkan kesyaraf-syaraf lidah, mulut, dan bibir tuan/puan untuk diucapkan. Menulis adalah mengungkapkan isi fikiran yang ada dalam otak tuan/puan melalui tulisan yang dihasilkan dari gerak jari-jari tangan tuan/puan, entah dengan menggoreskannya pena pada kertas, menekan-tekan panel-panel huruf dan kode pada papan komputer/laptop, atau mengetik pada papan ketik di telpon genggang milik tuan/puan; tanpa perlu mengucapkannya melalui ucapan.

Atau menulis adalah menuliskan isi fikiran dalam otak tuan/puan. Tuan/puan sudah mengenal kata "membatin", bukan? Sejatinya, kata "membatin" itu salah besar. Sebab, batin yang ada dalam hati kita ini tidak bisa berfikir. Batin itu tidak bisa membatin. Batin, hati, nurani hanya bisa merasakan perasaan, dalam bahasa Jawa "mak prepet" atau "mak ces", "mak sengkring", "mak tratap". Yang bisa memikirkan dalam angan-angan atau tidak diucapkan itu hanyalah otak. Jadi yang tepat adalah "mengotak", bukan "membatin".

Sekarang tuan/puan sudah tidak bisa berdalih lagi tidak bisa menulis mulai dari sekarang, bukan? Sebab, menulis itu sama dengan berbicara. Apakah tuan/puan tidak bisa berbicara? Saya bertanya, dari mana ide/gagasan tuan/puan bisa berbicara? Baik berbicara maupun menulis, hanya "keluarannya" saja yang berbeda. Berbicara berpusat di otak, kemudian dikeluarkan dengan mulut (suara). Menulis berpusat di otak, lantas dikeluarkan dengan jari-jari tangan menjadi tulisan (tanpa suara). Dengan kata lain, menulis adalah berbicara tanpa suara, berbicara dengan tulisan. Nah, definisi itu yang hingga kini saya nilai paling tepat.

 

Soal Publikasi

Tuan/puan sudah memiliki banyak ide/gagasan yang berlimpah. Puan/tuan juga sudah memiliki banyak tulisan dalam bentuk naskah berita, naskah artikel, naskah puisi, naskah syair, naskah penelitian, naskah cerpen, bahan foto, naskah novel, naskah film dsb; akan tetapi belum ada satupun orang yang pernah membacanya, mendengarnya, atau menontonnya? Dengan lain kata, tuan/puan belum pernah mempublikasikan naskah-naskah jurnalistik tersebut kepada publik. Kalau demikian adanya, tuan/puan adalah orang yang sangat egois. Karena tidak mau membagikan pengalaman, pengetahuan, data/informasi kepada orang lain. Hidup itu proses dialektika, bahkan "multialektika".

Ide adakah fondasi dari berbagai karya. Ia baru menjadi fondasi. Kalau ia berupa rumah, berarti rumah tersebut belum bisa dihuni. Sebab masih berupa fondasi saja. Maka ia membutuhkan tiang-tiang penyangga, memerlukan atap, genting dan berbagai fasilitas rumah di dalamnya. Agar bisa dihuni dengan nyaman.

Publikasi adalah masalah perlunya membangun tiang-tiang penyangga rumah, perlunya membangun atap, dinding, jendela, kamar tidur, meja dan kursi tamu, dll. Agar banyak orang mengetahui dengan benar, bahwa tuan/puan memiliki rumah, yang benar-benar rumah. Bukan sekadar rumah yang baru dibangun fondasinya saja. Publikasi adalah masalah memberitahukan kepada sebanyak mungkin orang akan ide/gagasan dan pemikiran yang dimiliki tuan/puan.

Ada banyak cara untuk mempublikasikan ide/gagasan tuan/puan yang sudah mewujud menjadi karya jurnalistik tersebut. Pertama, publikasi melalui media arus utama (mainstreams media). Kedua, publikasi melalui media arus tidak utama (non mainstreams media). Ketiga, publikasi melalui diskusi, workshop, seminar, atau forum ilmiah lain. Keempat, publikasi melalui jurnal ilmiah. Kelima, publikasi melalui penerbitan buku (arus utama, maupun penerbitan independen). Keenam, publikasikan melalui pergaulan sehari-hari.

Dari enam cara di atas, sejatinya bisa tuan/puan pilih salah satu cara yang paling efektif menurut kadar kemampuan, dan keterampilan diri. Akan tetapi efek samping (implikasi) akan pemublikasian ide/gagasan tuan/puan bisa bernilai sangat besar, kalau bisa mensinergisasikan enam model publikasi secara serentak. Misalkan tuan/puan memiliki ide A, maka tuan/puan harus mempublikasikannya melalui media arus utama, sekaligus media arus non utama, forum ilmiah, jurnal ilmiah, penerbitan buku, dan pergaulan sehari-hari. Akan tetapi untuk bisa melakukan hal yang sangat sempurna tersebut, tentu membutuhkan perjuangan yang berat, biaya yang mahal, dan waktu yang sangat panjang.

 

Segera, Tulis Ide dan Kirimkan ke Surat Kabar

Galibnya para penulis pemula terbentur dengan persoalan mendasar. Yakni tidak bisa membuat artikel yang menarik. Mereka umumnya terkendala pada masalah fundamental ini, yakni tak kuasa menjawab bagaimanakah membuat artikel agar menarik perhatian redaktur? Baiklah, pertanyaan ini bakal penulis jawab dengan menguraikan beberapa rahasia (resep) agar Anda gampang dan semakin produktif menulis artikel di berbagai surat kabar.

Menurut pendapat saya, untuk membikin naskah artikel yang penuh kejutan, isi artikel kian berbobot namun orisinalitas karya tulis tetap terjamin; para calon penulis artikel (kolumnis) harus menerapkan tujuh langkah strategis berikut ini:

Temukan ide (gagasan) baru terkait tulisan

Pilih saja judul tulisan yang bombastis

Cari lead yang kuasa memancing rasa penasaran

Buat trik analisis artikel yang memukau pembaca

Utamakan orisinalitas karya

Buat pengantar surat artikel yang persuasif

Kenali karakter dan teknik pengiriman artikel.

Untuk menjadi kolumnis—yang karyanya dimuat berbagai media massa cetak maupun elektronik—sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Bila dikatakan mudah, juga tidak selalu begitu. Sebab kompetisi antarpenulis di jagat raya ini amat ketat.

Pun amat keliru, benar. Banyak pihak menganggap bahwa untuk menjadi penulis itu butuh bakat alam. Anggapan ini, secara jujur adalah keliru besar. Meskipun faktor bakat cukup berperan, namun persentasenya tak dominan (amat kecil). Hemat penulis, menulis itu setara keterampilan (skill) yang bisa diasah setiap saat. Otak itu laksana bayonet, semakin sering terasah, kian tajam. Semakin banyak membaca, kualitas tulisan penulis—semakin tajam dan berkualitas.

Hanya saja, agar puan/tuan bisa menulis artikel yang menarik minat banyak pembaca dan pihak redaktur—membutuhkan keuletan, kejelian dan bekerja keras. Minimal ada empat aktivitas yang bisa meng-up grade kemampuan seseorang dalam menghasilkan artikel yang bagus. Yakni proses berpikir, membaca, berdiskusi, dan menulis—secara intensif dan kontinu.

Sekali lagi, bagaimana cara mendapatkan ide tulisan atau artikel agar dapat dimuat di surat kabar? Begitulah pertanyaan yang berkali-kali dilontarkan kepada saya, ketika saya diundang menjadi pembicara dalam berbagai acara seminar, workshop, atau diklat jurnalistik di berbagai kota. Pertanyaan tersebut memang amat penting. Masalahnya, ada banyak orang yang gagal menjadi penulis karena tidak mempunyai bahan atau ide yang bisa dijadikan dasar pemikiran untuk memulai sebuah tulisan. Sementara itu untuk menggali dan menumbuhkembangkan munculnya ide, inspirasi, atau gagasan untuk dijadikan bahan tulisan, kita harus punya minat yang tinggi dalam membaca.

Membaca apa? Membaca apa saja. Karena melalui proses membaca tersebut kita akan menambah stok cakrawala pengetahuan. Melalui budaya membaca, misalkan membaca koran, buku, majalah, artikel di internet dan sumber referensi bacaan lain, akan memperkaya wacana dan pemikiran tuan/puan tentang segala hal. Sebenarnya itu tidak terbatas pada membaca bahan dari berbagai referensi di atas. Tuan/puan juga bisa membaca lingkungan di sekitar kita seperti dari alam, pegunungan, laut, dan apa saja yang bisa memperkaya khazanah pengetahuan tuan/puan.

Penulis, adalah profesi yang unik dan membutuhkan pemikiran yang konsiten dan perjuangan keras. Kalau Anda ingin menjadi seorang novelis, belajarlah dulu menjadi seorang penulis cerpen (cerpenis). Kalau Anda ingin menjadi seorang kolumnis, belajarlah dulu menjadi seorang penulis artikel. Kalau Anda ingin menjadi seorang penulis buku, belajarlah dulu menjadi penulis apa saja. Yang penting, keterampilan Anda dalam menuangkan gagasan bisa tertuang secara sistematis dan fasih dalam menggunakan bahasa jurnalistik.

Saya pernah menjumpai begitu banyak dosen dan guru yang cerdas. Mereka memiliki segudang catatan prestasi ampuh dalam menghasilkan jurnal-jurnal ilmiah dan penelitian ilmiah. Tetapi kenapa mereka gagal menjadi penulis di media massa cetak maupun elektronik? Persoalannya ternyata amat sederhana. Para intelektual kampus tersebut tidak memahami bahasa jurnalistik yang sederhana. Sehingga mereka gagal dalam mempresentasikan pemikiran mereka kepada publik.

Bahasa jurnalistik itu adalah model bahasa yang ditulis dengan mengedepankan faktor kesederhanaan bahasa, cekatan, dan lugas. Formula patennya mengacu pada rumus 5WH (what, who, when, why, where dan how), dan bukan ragam bahasa yang diutarakan dengan bertele-tele yang membuat pembaca cepat bosan. Banyak orang cerdas yang gagal memuat karya tulisnya di media cetak karena tidak memahami esensi bahasa jurnalistik. Sebagus apa pun gagasan dan ide yang dimiliki seorang penulis yang tertuang dalam tulisannya, tulisan tersebut tetap tidak akan bisa dimuat di surat kabar kalau yang bersangkutan tidak memahami bahasa jurnalistik. Nah, untuk memahami bagaimana penggunaan bahasa jurnalistik, rajinlah membaca surat kabar setiap hari. Amati saja bagaimana ragam bahasa yang dipergunakan oleh para wartawan/penulis yang karyanya dimuat pada surat kabar yang Anda baca. Perhatikan bagaimana cara mereka mengutarakan berbagai berita, informasi, dan argumentasi dengan gaya bahasa jurnalistiknya masing-masing.

Kendati masing-masing media cetak dan elektronik memiliki gaya dan ciri khasnya masing-masing terkait bahasa jurnalistik, tetapi ada satu yang sama: seluruh media massa mengembangkan bahasa jurnalistik dengan mengemasnya secara menarik, sederhana dan cekatan. Mengapa demikian? Itu karena segmentasi para pembaca media massa yang beragam, mengharuskan semua informasi yang disajikan dalam media massa harus dikemas secara sederhana dan mengena. Sehingga informasi tersebut mudah dipahami oleh setiap orang. Bahkan tukang becak pun tidak harus mengernyitkan dahinya untuk memahami informasi yang disajikan (Supadiyanto, 2012: 41-49).

Nah, tak usah galau dan ragu lagi. Segera tuangkan ide/gagasan yang tuan/puan miliki menjadi berbagai karya jurnalistik berupa artikel maupun bentuk lainnya. Lantas segera tuan/puan kirimkan ke berbagai surat kabar arus utama. Zaman yang sudah canggih ini, tuan/puan tak usah repot-repot mengirimkan artikel atau karya jurnalistik yang tuan/puan miliki memakai jasa pos, cukup mengirimkannya melalui e-mail saja. Tinggal "klik", sampai detik itu juga. Tak tahu alamat e-mail berbagai surat kabar di Indonesia? Tak usah takut, ada kuncinya! Tak tahu berbagai aturan teknis lainnya terkait dunia jurnalistik? Tak perlu galau, semua sudah ada "kunci Inggris-nya". Salah satunya baca saja buku berjudul: “BERBURU HONOR DENGAN ARTIKEL, TIPS DAN STRATEGI MENANGGUK RUPIAH DARI SURAT KABAR” terbitan Elex Media Komputindo/EMK (Kelompok Kompas Gramedia). Buku tersebut memang sengaja didedikasikan untuk tuan/puan, di seluruh persada Nusantara ini.

 

Epilog

Semoga bermanfaat! Salam terkreatif! Terima kasih.

 

Yogyakarta, 09 November 2013, pukul 12.51.59 WIB

 

 

*) Makalah ini akan saya presentasikan dalam Pendidikan dan Pelatihan Jurnalisme Warga bagi Anggota Polri dan PT Matahari Kahuripan Indonesia (MAKIN Group) (Gelombang II) yang dihelat oleh MABES POLRI-PT MAKIN Group-PPWI di Jambi, Sumatra Utara pada 18-22 November 2013

Catatan: makalah ini juga sudah terpublikasikan di: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/11/10/ide-dan-publikasi-beranikah-puantuan-menulis-artikel-di-surat-kabar-nasional-dan-lokal-sekarang-606623.html

 

 

Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To?

KOPI - Pernahkah Anda mengamati berbagai “slogan eksentrik” bahkan terkesan “eksotik”—yang terpampang pada bak truk-truk pengangkut pasir, truk-truk tronton, maupun truk-truk gandeng yang lalu lalang di jalan raya Yogyakarta-Magelang-Temanggung-Semarang (YMTS)? Pastilah bagi Anda yang kerap atau setidaknya pernah melintasi jalan-jalan yang pernah disebutkan di atas; akan mendapati berbagai “slogan eksentrik” yang terdapat pada bak belakang truk-truk tersebut

Tentu ada banyak kesan yang ditimbulkan setelah Anda membacanya. Bagi Anda yang serius membaca lantas menelaah maksud mendalam dari “slogan-slogan” itu, Anda akan dibuat tersenyum sendiri (dalam bahasa Jawa: cengar-cengir) atau bahkan Anda akan merasa malu sendiri, jijik maupun perasaan lainnya. Bagi Anda yang membaca slogan-slogan tersebut dengan iseng saja, sambil lalu (jalan), maka tak akan memberikan kesan apapun. Namun bagi Anda yang memiliki kepekaan sosial, kejelian psikologi ekonomi politik kehidupan; Anda pasti akan menemukan berbagai pesan moral yang simpatik, pesan politik maupun pesan ekonomi, pesan kreatif dan kritik sosial yang sungguh dahsyat. Slogan yang dimaksud dalam hal ini berupa kata-kata yang sengaja ditonjolkan pada bak-bak truk, yang kerap juga dilengkapi dengan gambar-gambar wanita cantik (seksi). Bahkan ada sejumlah bak truk yang sengaja memajang gambar wanita-wanita seksi yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Misalkan saja slogan yang berbunyi: Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To? Selingkuh Plinteng Dhase; Abang Selalu Kusayang, Tak Ada Uang Abang Kutendang, dan model slogan lainnya.

Fenomena sosial ini tentu menarik untuk dilakukan kajian ilmiah dari berbagai aspek (sudut pandang, perspektif, paradigma maupun pendekatan), misalkan dari sisi sosiologis, ekonomis, politis atau dari perspektif psikologi-komunikasi. Dalam persepsi sebagian orang, profesi sopir, entah menjadi sopir truk tronton maupun truk pengangkut pasir atau jenis sopir kendaraan lainnya, dipandang sebagai bidang pekerjaan “kelas tiga”. Sebab pekerjaan tersebut identik dengan kerja yang mengandalkan otot (tenaga), hidup di jalanan yang liar, riskan pada kecelakaan kerja (tabrakan) dan aneka stigmatisasi (negatif) lainnya.

Apalagi bekerja sebagai sopir truk pengangkut pasir, yang harus memiliki kesabaran sepuluh kali lipat daripada menjadi sopir bus yang bisa berjalan cepat. Sebab tak ada sopir truk yang sedang mengusung pasir bisa berjalan cepat. Entah di jalanan yang lempang, apalagi di jalan tanjakan maupun jalan menurun; truk wajib dijalankan dengan kecepatan yang sangat terbatas (lambat). Dalam bahasa Jawa, truk tersebut berjalan timik-timik (pelan-pelan). Sehingga kerap memicu terjadinya kemacetan arus lalu lintas di sejumlah titik; terutama di kawasan Temanggung dan Ambarawa yang memiliki jalan meliuk-liuk dan lebar bahu jalan yang relatif tidak begitu besar (tapi syukurlah, mulai April 2013 kemarin, sebagian jalan utama di Magelang menuju Temanggung dan Semarang sudah diperlebar dan diperhalus). Kontan, para sopir truk kerap mendapatkan omelan dari para pemakai jalan raya lain; yang merasa terganggu akibat kehadiran truk-truk tersebut menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Berangkat dari Pengalaman Pribadi

Secara matematis, jarak YMTS adalah 125 kilometer. Dengan asumsi sebagaimana yang tercantum di bawah ini. Jarak tersebut diukur dari Kotagedhe (Yogyakarta) dan Jalan Erlangga, Kawasan Simpang Lima (Kampus MIKOM UNDIP). Berdasarkan pengalaman saya sejak kuliah di Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang; sejak Cawu I hingga Cawu III (September 2012 – Juli 2013) melakukan perjalanan darat yakni dengan mengendarai sepeda motor (Honda-Legenda) dari Kotagedhe (Yogyakarta) menuju Kampus MIKOM UNDIP Semarang di kawasan Plemburan. Dalam satu minggu, paling tidak saya harus menempuh YMTS sebanyak 4 hari (bolak-balik), yakni hari Senin, Rabu, Kamis dan Jumat. Berangkat dari rumah di Kotagedhe (Yogyakarta) setiap pagi pukul 04.00 WIB (Shalat Subuh dalam perjalanan) dan sampai di rumah kembali pukul 18.00 WIB (saat Maghrib).

Dalihnya, pagi hari saya harus mengikuti perkuliahan di Kampus MIKOM UNDIP Semarang yang dimulai pukul 08.00 hingga 10.30 WIB; kemudian sore harinya harus mengajar di Kampus UIN Sunan Kalijaga dan Akademi Komunikasi Radya Binatama Yogyakarta (pukul 14.00-17.30 WIB). Dengan demikian, dua pekerjaan tersebut (kuliah dan mengajar di kota dan propinsi yang berbeda) mengharuskan saya untuk menjadi komuter (penglaju). Dengan beban mengajar di dua kampus berbeda sebanyak 20 SKS (ada 6 kelas yang harus diampu) dan kuliah dengan mengambil mata kuliah dengan bobot 15 SKS; sehingga total SKS yang saya ambil adalah 35 SKS; sungguh merupakan pekerjaan terberat dalam hidup saya. Tingkat stres sangat tinggi, namun berkat adanya “banyak hiburan intelektual” ketika mengendarai sepeda motor dengan jalur YMTS-STMY, menjadikan rasa stres tersebut hilang dengan sendirinya.

Mengapa saya lebih memilih mengendarai sepeda motor, bukan naik bus, travel atau pesawat terbang? Di samping alasan finansial, lebih hemat tentunya; juga karena alasan politis. Yakni ingin lebih mengenal medan jalan di jalur YMTS, atau bisa juga dibalik, jalur STMY (Semarang-Temanggung-Magelang-Yogyakarta) sekaligus menguji ketahanan fisik dan mental. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah menempuh jarak Yogya-Jakarta (melalui rute Pantura) dan kembali lagi dari Jakarta-Yogyakarta (melalui rute Pansela = Pantai Selatan Jawa) dengan mengendarai sepeda motor (Honda-Legenda) pada Juni 2007 silam. Hal serupa juga pernah saya lakukan kembali pada Mei 2010.

Tentunya, ada banyak pengalaman menarik yang bisa diperoleh ketika menjadi penglaju dari YMTS-STMY. Secara intelektual, berkahnya adalah lahirnya analisis tulisan ilmiah ini. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan jalur YMTS yang berjarak 125 kilometer dengan naik sepeda motor adalah persis 3,5 jam. Namun untuk menempuh jarak yang serupa dengan jalur STMY ternyata lebih pendek yakni cukup 3 jam lebih 15 menit saja. Tahukah Anda alasan strategisnya?

Ada dua alasan realistis yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, perjalanan pada jalur YMTS, adalah perjalanan “naik” sehingga dibutuhkan tenaga (gas) yang lebih berat; sedangkan perjalanan pada jalur STMY merupakan jalur “turun”, sehingga lebih cepat. Kedua, perjalanan pada jalur YMTS selalu terhalang oleh kendaraan truk-truk pengangkut pasir yang berjalan lambat karena muatannya penuh; sedangkan perjalanan pada jalur STMY, truk-truk pengangkut pasir tersebut sudah tidak bermuatan lagi. Dengan begitu, truk-truk pengangkut pasir yang sudah kosong muatannya tersebut, melaju dengan cepat dan tidak menghalangi para pengendara sepeda motor. Truk-truk pengangkut pasir itu mengambil muatan pasir di kawasan Magelang dan Temanggung. Truk-truk tersebut menyuplai pasir maupun batu dan material lain ke kawasan Semarang dan sekitarnya; sehingga ketika barang muatan sudah diturunkan di lokasi tujuan (Semarang) atau kota-kota sekitarnya; truk-truk tersebut tak bermuatan melaju menuju kawasan Temanggung maupun Magelang untuk mengisi lagi muatan pasir. Berapa bensin yang dihabiskan untuk menempuh jarak YMTS-STMY (250 kilometer)? Yakni sebanyak 5,78 liter (atau setara dengan Rp 26.000, dengan asumsi harga bensin Rp 4.500 per liter). Dengan demikian, sangat jelas; biaya perjalanan dari Yogya ke Semarang, atau sebaliknya; dengan mengendarai sepeda motor jauh lebih irit daripada kita naik bus, travel maupun pesawat terbang.

Secara lebih rinci, jarak YMTS sebesar 125 kilometer dengan rincian sebagai berikut ini. Jarak Kotagedhe-perbatasan Kabupaten Magelang (gapuro ‘selamat datang’ di perbatasan DIY-Jateng) sebesar 33 km, jarak gapuro perbatasan DIY dan Jateng-Secang persis sejauh 33 km, sedangkan jarak Secang-Temanggung (gapuro perbatasan Temanggung dan Kabupaten Semarang) sejauh 14 km, dan jarak gapuro perbatasan Temanggung dan Kabupaten Semarang-Kampus MIKOM Universitas Diponegoro yang terletak di kawasan Simpanglima sejauh 45 km.

Secara sosiologis, penduduk di kawasan YMTS bermata pencaharian sebagai petani. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk DIY sebanyak 3,2 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk Jateng bersandarkan data Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Propinsi Jateng sebanyak 39,2 juta jiwa. Namun berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri RI sebanyak 32,9 juta jiwa (persoalan perbedaan data jumlah penduduk di Jateng di atas, tentunya menjadi masalah besar yang harus dicarikan solusinya).

Jika diamati lebih mendetail, sebagian besar penduduk yang tinggal di dekat jalan raya YMTS membuka warung, toko, bengkel atau usaha bisnis lainnya. Di sejumlah titik, khususnya di kawasan Temanggung dan Semarang ada banyak tempat pemberhentian truk-truk tronton dan pengangkut pasir; di mana di kawasan pemberhentian tersebut berdiri warung-warung makan dan tempat peristirahatan. Terdapat juga depot-depot pasir, tempat penampungan pasir yang siap diangkut oleh truk-truk pengangkut pasir.

Parade Slogan Nyentrik

Secara umum, penyajian 25 slogan yang terpampang di berbagai truk pengangkut pasir maupun truk tronton di bawah ini ditulis dengan menggunakan bahasa “jalanan”, dalam bahasa Jawa “ngoko”, tidak memperhatikan tata bahasa baku (tak sesuai dengan Ejaaan Yang Disempurnakan/EYD), berisi sindiran, memelesetkan merek tertentu menjadi kata gaul (bahasa gaul atau bahasa pop), dan tak sedikit yang menyerempet atau mengarahkan ke hal-hal yang berbau seks. Namun ada juga yang berisi motivasi dan kata-kata simpatik, iklan dll. Berikut ini disajikan sebanyak 25 slogan yang tertera di bak truk-truk pengangkut pasir maupun tronton, yang berhasil dikumpulkan.

1. Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To?

2. Cen Penak Sing Maido

3. Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

4. Pulang Malu, Tak Pulang Tambah Malu

5. Pulang Padu, Tak Pulang Rindu

6. Jaman Saiki Yen Ora Ngoyo, Ora Iso Urip Mulyo

7. Mbelgedezbens

8. Hidup Denganmu, Mati Tanpamu

9. Ora Sabar Maburo

10. Galau Stadium 4

11. Komandan 27

12. Star, Stir, Stor, Stop

13. Nak Ra Ono Ngangeni, Nak Ono Kudu Dhupak

14. Lembu Sekilan

15. Pasukan Merapi

16. Numpang Nampang

17. Juragane Pring

18. Rindu Terlarang

19. Tresno Sudro

20. Selingkuh Plinteng Dhase

21. Randa Teles Pinggir Dalan

22. Abang Selalu Kusayang, Tak Ada Uang Abang Kutendang

23. Wani Piro…

24. Si Putih Tampil Semburat Cooy…

25. Patuh Berlalu Lintas Cermin Budaya Cah Gunung Pati

Interpretasi Sosial

Untuk menginterpretasikan (menafsirkan) berbagai pesan yang ingin disampaikan melalui 25 slogan di atas, kita harus memahami juga gambar-gambar pendukung yang menyertai slogan-slogan yang ada di bak truk-truk tersebut. Slogan-slogan yang terpampang pada bak-bak berjalan itu menjadi wahana efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kepada para pembacanya di berbagai kota. Sebab mobilisasi (pergerakan) truk-truk tersebut berjalan dari satu kota ke kota lainnya, bahkan lintas propinsi dan lintas pulau di Indonesia. Dengan demikian, slogan-slogan tersebut menjadi reklame/pesan berjalan, yang dibaca dengan sengaja maupun tidak disengaja oleh para pemakai jalan raya. Secara intelektual, slogan-slogan yang terpampang pada bak truk-truk itu merupakan bagian kreativitas manusia untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Menurut Abner Cohen dalam bukunya berjudul: Two Dimensional Man: An Easy on the Anthropology of Power and Symbolic in Complex Society, dinyatakan bahwa manusia adalah homo symbolicum, di mana kita semua adalah kreator simbol yang potensional. Menurut Benedict R. O’G Anderson, bahasa, ungkapan, slogan atau mode wacana seperti halnya artefak budaya populer lainnya bisa menjadi ajang pementasan gaya hidup subkultur atau komunitas yang dibayangkan.

Dalam kamus komunikasi politik, dinyatakan bahwa bahasa adalah tempat pertarungan kuasa dan dusta, penaklukan dan perlawanan, hegemoni dan kontestasi. Maka dalam bahasa populer, bahasa adalah wahana pementasan gaya hidup dan bahkan gaya hidup itu sendiri (Ibrahim, Idi Subandy, 2011). Bahasa gaul juga dapat dipahami sebagai sarana untuk mengomunikasikan identitas suatu komunitas. Maka dari itu, kita terlebih dahulu harus memahami basis sosial dan ekonomi berkembangnya sebuah ragam bahasa dan lapis sosial penuturnya.

Dari berbagai referensi, paling tidak ada 3 argumentasi yang bisa dijadikan landasan fungsional mengapa sekarang banyak bermunculan bahasa gaul. Pertama, bahasa gaul digunakan demi membangun keeratan dan keintiman dalam hubungan sosial masyarakat modern. Kedua, bahasa gaul sebagai bentuk perlawanan terhadap formalitas dalam berbahasa “baik dan benar” yang dirancang dan dikampanyekan oleh para perekayasa bahasa sejak era “rezim bahasa” Orde Baru. Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa ekspresi bahasa (gaul) sebagai pementasan gaya hidup dan gaya hidup itu sendiri.

Maka sejatinya penggunaan bahasa gaul berkaitan erat dengan bagaimana kita membangun identitas komunal (Habermasa, 1981). Berikut ini akan dibedah satu persatu makna pesan yang terkandung secara tersurat (implisit) serta tersirat (eksplisit) dari 25 slogan yang terpampang dalam bak truk-truk pengangkut pasir dan tronton yang berlalu lalu di jalur YMTS:

Slogan 1: Piye Kabare Le; Isih Penak Jamanku To?

Slogan pertama ini tertulis dalam Bahasa Jawa model ngoko. Bahasa Jawa ngoko digunakan oleh komunikator untuk berbicara dengan teman sebaya atau kepada pihak/orang lain yang dipandang lebih rendah status sosialnya. Dalam bahasa Indonesia, makna dari slogan di atas adalah: Bagaimana Kabarnya Adik, Masih Enak Zamanku Bukan… Di samping slogan tersebut terpampang foto mantan Presiden RI kedua Soeharto yang memakai jaket kulit hitam, mimik mukanya sedang tersenyum dan tampak sedang melambaikan tangan.

Jelaslah makna pesan yang ingin disampaikan penulis slogan tersebut lebih bersifat politik. Seolah slogan itu ingin meminta pendapat Anda untuk membandingkan bagaimana mutu kehidupan di era Orde Baru dan Orde Reformasi sekarang ini. Sang sopir, kernet dan pemilik truk tersebut mengemukakan gagasan mereka melalui slogan di atas, sehingga dengan secara tak langsung mengatakan bahwa hidup di era Orde Baru itu lebih enak dan makmur jika dibandingkan dengan hidup di zaman sekarang; di mana orang-orang jalanan, maksudnya sopir dan kernet truk itu merasakan benar bagaimana suka dukanya hidup berjuang mengais rezeki dengan menjadi sopir truk dan kernet truk.

Slogan 2: Cen Penak Sing Maido

Slogan kedua ini tertulis dalam bahasa Jawa ngoko pada truk lainnya. Arti dalam bahasa Indonesianya adalah: Memang Enak Yang Mencela. Tak ada embel-embel foto, ilustrasi atau kata-kata pendukung lainnya pada slogan ini. Pesan slogan ini bermaksud memberikan pembenaran bahwa dengan mencela itu bisa memberikan kenyamanan atau kenikmatan hidup bagi orang yang sedang mencela; sebab ia bisa mengeluarkan emosi dan argumentasinya mengapa ia harus mencela, daripada orang atau pihak yang dicela yang tentu saja terkena beban emosi yang berat. Ibarat perkelahian, orang yang mencela adalah pihak yang melakukan pemukulan pertama pada pihak lainnya.

Pastinya orang yang terkena pukulan akan merasa sakit lebih dahulu. Jika dimaknai secara politik, sejatinya slogan kedua ini mengukuhkan “sindiran halus” dari slogan pertama di atas. Hubungannya dengan slogan pertama: Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To? adalah slogan kedua tersebut mendukung dengan jawaban argumentatif bahwa dari slogan pertama yang bernada tanda tanya. Slogan tersebut menjawabnya langsung: Memang Enak Yang Mencela.

Slogan 3: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

Slogan ketiga ini bermakna kondisi yang dilematis, bahkan multitafsir. Mengapa dilematis, sebab orang yang mengalami kondisi demikian, dihadapkan pada dua situasi sulit yang sama-sama berat dilakukan. Memilih salah satu pilihan, berarti harus menanggung risiko hidup yang akan dirasakan. Yakni orang tersebut akan mengalami rasa malu atau perasaan rindu yang teramat berat. Mengapa multitafsir? Tafsir pertama, orang yang mengalami situasi ini menyandang status sebagai seorang pekerja keras namun ketika ia pulang dengan tidak membawa uang yang memadai sebagai upahnya untuk diberikan kepada istri dan anak-anaknya, orang bersangkutan akan merasa malu untuk pulang. Namun jika ia gengsi untuk tidak pulang, maka yang bersangkutan akan menderita rasa kerinduan kepada anak, istri dan keluarganya.

Tafsir kedua, selama ini para pekerja keras seperti sopir dan kernet memiliki citra negatif menjadi pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK), mengingat hidup mereka yang jauh dari keluarga, lintas kota/propinsi. Kelelahan fisik yang sangat besar, tentulah membutuhkan istirahat yang cukup. Adanya lokasi pelacuran atau tempat prostitusi baik secara terselubung maupun terang-terangan, seperti di kawasan Kabupaten Semarang yang terdapat lokasi pelacuran legal, menjadi jujugan “kaum jalanan” seperti para sopir dan kernet truk. Risikonya adalah ketika mereka pulang, mereka akan merasa malu pada istrinya terkait perbuatan yang sudah dilakukan tersebut; namun jika mereka tidak pulang, secara manusiawi orang bersangkutan juga merasakan kerinduan yang memuncak pada keluarga di rumah.

Tafsir ketiga, slogan di atas merupakan motivasi hidup. Yakni sebagai hasil penginterpretasian atas tafsir pertama dan tafsir kedua di atas. Di mana letak motivasi hidupnya? Agar seseorang tidak mengalami kondisi dilematis dalam hidup, sebagaimana disebutkan di atas; maka ia harus bekerja dengan keras untuk memperoleh banyak penghasilan untuk diberikan kepada istri dan anak-anaknya. Sehingga ketika pulang ke rumah, yang bersangkutan tidak merasa malu; sekaligus terbayarkan rasa rindunya. Motivasi hidup lainnya yaitu agar seseorang tidak merasa malu untuk pulang, maka ia harus setia pada sang istri; sehingga tak mungkin lagi pulang dengan rasa malu. Sebab sang istri di rumah meyakini sang suami sangat mencintainya dan tak menduakan hatinya. Sang suami juga sangat setia dalam menjaga kepercayaan sang istri, di mana pun dan kapanpun itu.

Slogan 4: Pulang Malu, Tak Pulang Tambah Malu

Slogan keempat ini hampir memiliki persamaan makna dengan slogan ketiga di atas (Pulang Malu, Tak Pulang Rindu). Hanya saja memiliki tingkat kedilematisasian yang lebih berat lagi. Langkah hidup yang dipilih selalu mengarahkan pada opsi yang serbasulit. Opsi pertama, ketika ia pulang ke rumah akan merasa malu. Ketika tak pulang ke rumah, rasa kemaluannya tambah berlipat-lipat. Maka opsi pertama, menjadi pilihan yang lebih bijaksana untuk dilakukan.

Slogan 5: Pulang Padu, Tak Pulang Rindu

Bagi mereka yang berasal dari luar Jawa dan tak memahami Bahasa Jawa dengan baik dan benar, slogan ini bisa saja disalahartikan. Sebab bermakna ambigus. Pasalnya, slogan kelima ini merupakan kombinasi antara Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Sehingga bagi mereka yang berasal dari luar Jawa, dan tak memahami bahasa Jawa; pasti terkecoh dengan makna slogan ini. Kata yang mengecoh pada slogan tersebut yakni “padu“. Dalam kamus bahasa Indonesia, padu artinya “kompak’. Namun “padu” dalam konteks Bahasa Jawa artinya “bertengkar”. Jadi slogan kelima ini arti yang dimaksudkan adalah “jika pulang selalu bertengkar, tidak pulang menanggung rasa rindu”. Kondisi yang sama dilematis dengan slogan ketiga dan keempat terdahulu.

Slogan 6: Jaman Saiki Yen Ora Ngoyo, Ora Iso Urip Mulyo

Slogan keenam ini murni dalam terminologi Bahasa Jawa. Artinya adalah “Zaman Sekarang Kalau Tidak Bekerja Keras, Tidak Akan Hidup Makmur“. Slogan ini memiliki pesan moral positif, sebagai pemotivasi hidup. Jika Anda ingin hidup makmur, maka harus bekerja keras.

Slogan 7: Mbelgedezbens

Slogan ketujuh ini merupakan hasil kreativitas seseorang dalam memelesetkan sebuah merek mobil terkenal dari Jerman. Kalau di Jerman ada mobil atau kendaraan umum atau bahkan truk tronton dengan merek “Mercedes Benz“. Maka Slogan Mbelgedezbenz, adalah upaya pemelesetan merek mobil di atas. Dalam Bahasa Jawa, Mbelgedezbens; yang kemudian jika ditulis secara baku menjadi “Mbelgedes ben“, artinya setara dengan makna: “Ngapusi ben“. Terjemahan dalam bahasa Indonesia, artinya: cuma bohong, biarkanlah.

Lepas dari konteks itu, slogan ini bisa juga dikaitkan dengan dunia politik. Di mana logo mobil “Mercedes Benz” yang berupa Bintang Mercy, mirip dengan logo Partai Demokrat. Sehingga bagi para pembaca yang “kreatif juga” bisa menghubung-hubungkan makna antara “Mercedes Benz“, “Mbelgedezbens” dan “Partai Demokrat”.

Slogan 8: Hidup Denganmu, Mati Tanpamu

Slogan kedelapan yang terpampang pada bak truk ini menekankan makna akan realitas kehidupan. Dengan logika “orang jalanan”, realitas kehidupan itu disikapi dengan watak mereka. Logika berpikir semacam ini identik dengan analogisme demikian. Kalau istrimu mati, engkau memang mencintainya; akan tetapi ketika ia sudah mati; engkau tidak bisa mati bersama. Sebab kalau engkau mati bersamanya; sama halnya dengan berputus asa. Maka jika slogan itu dilanjutkan kembali, logikanya akan muncul tafsir baru; yakni “Aku Nikah Lagi”.

Slogan 9: Ora Sabar Maburo

Slogan kesembilan ini murni juga dalam bentuk Bahasa Jawa “ngoko“. Artinya, Tidak Sabar Silakan Terbang Saja. Slogan yang terpampang pada bak truk pengangkut pasir ini, jelas memberikan pesan kebijaksanaan atau agar berperilaku arif. Truk pengangkut pasir yang berjalan sangat lambat, sehingga kerap membuat kemacetan lalu lintas; memberikan pesan agar para pemakai jalan raya yang lain bersikap sabar ketika menemui adanya kemacetan lalu lintas. Dalam perspektif komunikasi, model slogan demikian termasuk dalam bentuk sindiran. Bagi siapapun yang tidak sabar, diminta untuk terbang saja.

Slogan 10: Galau Stadium 4

Slogan kesepuluh ini menggunakan akar kata yang sedang populer di kalangan anak muda. Yakni galau, di mana dalam kamus Bahasa Indonesia artinya kacau tidak karuan. Atau sebuah perasaan bingung, sebab kehilangan identitas diri atau tidak memiliki pegangan hidup. Stadium 4 sendiri dipinjam dari terminologi kedokteran (kesehatan). Dalam konteks tersebut, sang komunikator bermaksud menunjukkan kondisi galau tingkat paling akut (terpuncak). Dalam dunia medis, tingkat penyakit yang paling berat atau terparah adalah stadium IV. Yang artinya sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

Slogan 11: Komandan 27

Jelaslah slogan kesebelas ini lebih ingin menunjukkan hubungan dengan dunia kemiliteran. Komandan 27, dimaknai sebagai pimpinan nomor 27. Artinya, truk yang dikemudikan oleh sopir yang pada bak truknya terpampang slogan Komandan 27; merupakan milik seorang anggota militer; atau setidaknya ia memiliki famili dari kalangan militer. Secara politik, slogan tersebut memberikan “gertakan psikologis” kepada siapapun bahwa truk bersangkutan bersama sopir dan kernetnya memiliki hubungan dengan dunia kemiliteran. Sehingga memberikan semacam petunjuk kepada publik, atau pihak lain agar “jangan membuat persoalan” pada mereka.

Slogan 12: Star, Stir, Stor, Stop

Slogan kedua belas ini lebih merupakan permainan kata. Namun memiliki makna yang saling terkait. Slogan tersebut memberikan ritme kehidupan bagi sang sopir dan kernet dalam menjalani rutinitas kehidupan yang monoton melalui 4 tahap di atas. Yakni: star, stir, stor, stop. Star, maksudnya tak lain adalah memulai pekerjaan. Bisa dilakukan kapan saja; namun pada umumnya pekerjaan para sopir dan kernet truk pengangkut pasir dimulai pagi hari. Stir, maksudnya mengemudi. Stor, maksudnya memberikan pendapatan yang sudah diperoleh kepada perusahaan atau juragan (bos). Stop, dapat diterjemahkan sebagai berhenti melakukan pekerjaan tersebut; sebab semua kewajiban sudah dilakukan; sehingga mereka berhak untuk pulang ke rumah beristirahat; mendapatkan upah, dan di hari mendatang mereka akan melakukan rutinitas kehidupan yang sama.

Slogan 13: Nak Ra Ono Ngangeni, Nak Ono Kudu Dhupak

Slogan ketiga belas ini ini juga dalam bentuk Bahasa Jawa. Nak Ra Ono Ngangeni, Nak Ono Kudu Dhupak; maksudnya adalah Kalau Tidak Ada Membuat Rindu, Kalau Ada Harus Ditendang. Sebuah slogan yang dilematis juga. Pertanyaannya, siapakah yang dirindukan dan harus ditendang dalam konteks slogan di atas?

Ada dua tafsir yang bisa dimunculkan. Pertama, yakni istri. Kedua, truk itu sendiri. Kenapa istri dan truk, menjadi dua substansi yang dirindukan dan harus ditendang. Soalnya kalau tidak ada istri, sang suami akan merindukan kehadirannya. Namun ketika sang istri sudah ada di hadapan; kerap kali terjadi pertengkaran berkaitan dengan kebutuhan ekonomi; sehingga sang suami sering melancarkan aksi “barbarnya”, dengan menendang sang istri. Dalam konteks lain, ketidaktersediaan kendaraan truk bagi seorang sopir truk, tentu saja menjadi kerinduan yang sangat berat. Sebab mereka menggantungkan hidup mereka pada kehadiran sebuah truk untuk mendapatkan penghasilan. Akan tetapi ketika truk tersebut sudah ada, sang sopir acap kali terbawa emosi untuk “menendang” truk tersebut sebab truk tersebut sering membawa sial.

Slogan 14: Lembu Sekilan

Slogan keempat belas ini dalam Bahasa Jawa, Lembu Sekilan. Lembu artinya sapi, sedangkan sekilan maknanya satu rentangan telapak tangan kanan (jarak antara ujung ibu jari dan anak jari). Jadi Lembu Sekilan, dapat diterjemahkan sebagai sapi yang hanya satu rentangan telapak tangan kanan. Slogan ini bisa ditafsirkan sebagai penunjuk bahwa truk tersebut dipergunakan untuk mengangkut hewan ternak berupa sapi; khususnya sapi-sapi yang masih kecil. Dalam Bahasa Jawa, anak sapi namanya pedhet.

Slogan 15: Pasukan Merapi

Slogan kelima belas ini mengesankan semangat heroistik. Menurut saya, slogan ini sangat tepat bagi para sopir, kernet dan truk-truk pengangkut pasir Gunung Merapi. Sebab memang pasir-pasir yang ditambang di kawasan Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten, maupun Kabupaten Boyolali bersumber dari aktivitas Gunung Merapi. Pasukan Merapi memberikan identifikasi sekaligus justifikasi bahwa pembangunan infrastruktur di berbagai kota di Indonesia, sebagai buah karya dari Pasukan Merapi yang menyuplai secara rutin pasir-pasir untuk membangun berbagai gedung, hotel, kampus, rumah sakit, rumah penduduk dan bangunan lain yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Tanpa kehadiran Pasukan Merapi ini, sesuai dengan slogannya tersebut; pembangunan daerah, bahkan pembangunan nasional bisa terganggu. Dengan menorehkan slogan Pasukan Merapi, sang pemilik truk ingin memberikan pesan kepada publik agar jangan melupakan kiprah dan andil truk-truk pengangkut pasir beserta para krunya (sopir dan kernet).

Slogan 16: Numpang Nampang

Slogan keenam belas ini menggunakan idiom Bahasa Jawa. Slogan berbahasa Jawa: Numpang Nampang, dapat diartikan sebagai Ikut Berpose (Pamer). Kesan yang ingin ditonjolkan oleh slogan ini tidak lain kreativitas sang penggagas ide slogan tersebut untuk memanfaatkan ruang yang ada (bak belakang truk yang kosong), untuk diberdayakan secara maksimal menampilkan ide kreatifnya.

Slogan 17: Juragane Pring

Slogan ketujuh belas ini juga dalam bentuk Bahasa Jawa. Juragane Pring, artinya adalah bosnya penjual bambu. Pesan slogan ini yakni ingin menunjukkan pada para pembaca bahwa truk tersebut khusus mengangkut bambu. Bagi siapapun yang bermaksud membeli atau membutuhkan bambu dalam jumlah besar, bisa langsung memesannya melalui sopir maupun kernet truk tersebut. Dengan demikian, slogan tersebut lebih bermotif iklan (ekonomi). Sebab juga terpampang nomor telpon seluler yang sewaktu-waktu bisa dihubungi.

Slogan 18: Rindu Terlarang

Slogan kedelapan belas ini juga dapat dimaknai secara ambigus, sebab dapat ditafsirkan sebagai slogan dalam bahasa Indonesia; maupun kombinasi Bahasa Jawa dan Indonesia. Tafsir pertama (memahami slogan dalam perspektif Bahasa Indonesia), maksudnya adalah rindu yang paling dilarang. Kalau sampai melanggar aturan atau norma untuk mengobati rasa rindu yang terlarang tersebut; maka yang bersangkutan akan menanggung risikonya; baik berhadapan dengan sanksi hukum positif maupun hukuman sosial dan hukuman secara ideologis (religius).

Tafsir kedua, slogan diinterpretasikan sebagai kombinasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Terlarang, dalam Bahasa Jawa maksudnya adalah paling mahal. Jadi Rindu Terlarang, maksudnya bukan rindu yang paling dilarang (dalam konteks bahasa Indonesia), melainkan rindu yang paling mahal harganya. Untuk mengobati rasa rindu tersebut, seseorang harus rela megorbankan harta, raga dan jiwanya.

Slogan 19: Tresno Sudro

Slogan kesembilan belas, Tresno Sudra, juga dalam bentuk Bahasa Jawa. Artinya yakni Cinta Sudra. Sudra adalah kasta terendah dalam kepercayaan agama Hindu. Di mana status sosial di lingkungan masyarakat Hindu dibedakan menjadi 4 kelas (kasta). Pertama, kasta Brahmana. Kedua, kasta Ksatria. Ketiga, kasta Waisa dan terakhir kasta Sudra. Sang penggagas ide slogan dari Tresno Sudra itu ingin mengekspresikan bahwa truk pengangkut pasir adalah simbol kelas bawah (Sudra). Di mana para sopir dan kernet, yang menjalankan kemudi truk tersebut bergelut dengan dunia pasir yang kotor, berat dan penuh memeras keringat. Maka menggeluti profesi sebagai supir truk, kernet truk atau sekadar sebagai kuli pengangkut pasir (yang bertugas menaiikkan pasir dari area penambangan ke atas truk pengangkut pasir, atau menurunkan pasir dari atas truk ke lokasi pemesan pasir tersebut) adalah bentuk kecintaan kaum sudra pada pekerjaan mereka.

Slogan 20: Selingkuh Plinteng Dhase

Slogan kedua puluh ini, mengandung makna pesan ancaman (intimidasi), namun juga mengundang rasa humor bagi pembacanya. Sayangnya, bagi mereka yang tak memahami Bahasa Jawa tak akan bisa menafsirkan maknanya. Arti dari Selingkuh Plinteng Dhase adalah “berselingkuh akan terkena ketapel kepalanya”. Pesan moral yang dikandung dalam slogan tersebut, tentu bukan saja ditujukan pada sang kernet dan sopir truk tersebut. Tetapi kepada siapapun yang membaca slogan tersebut. Bagi siapapun yang mencoba berselingkuh, hukumannya adalah akan diketapel kepalanya. Kendati hanya menjadi semacam gertakan semata, namun slogan ini akan memancing kesadaran kepada publik, terutama pada sang sopir dan truk untuk tidak melakukan selingkuh. Sebab dunia sopir dan kernet truk, menurut saya, memang riskan akan dunia perselingkuhan atau pelacuran.

Slogan 21: Randa Teles Pinggir Dalan

Slogan kedua puluh satu ini beridiom Bahasa Jawa. Maksudnya adalah seorang istri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya (janda) tengah berada di pinggir jalan. Atau dapat juga teles dalam konteks di atas dimaknai sebagai rambut yang masih basah sehabis keramas. Dengan demikian, Randa Teles Pinggir Dalan dapat diartikan sebagai janda yang baru saja berkeramas di pinggir jalan. Interpretasi lebih lanjut dalam slogan tersebut adalah, mengapa janda tersebut berkeramas. Apakah memang benar-benar rambutnya memang gatal, sehingga ia harus melakukan mandi dan keramas. Atau keramas, dalam konteks lainnya, yakni janda tersebut baru saja “mandi besar”. Sebuah ritual dalam teologi agama Islam, yang mengharuskan seseorang (entah bagi kaum pria maupun wanita) yang sudah dewasa harus mandi besar dan berkeramas; akibat berhubungan badan atau mengeluarkan mani (sperma) secara sengaja maupun tidak sengaja (mimpi basah).

Slogan 22: Abang Selalu Kusayang, Tak Ada Uang Abang Kutendang

Slogan kedua puluh dua ini berisi pesan yang bermaksud memuji, namun kemudian langsung menghempaskannya. Abang Selalu Kusayang, adalah slogan pertama yang berupa pernyataan selalu merasa cinta dan sayang pada sang pujaan hati (Abang). Sedangkan slogan sambungan (kedua) berupa: Tak Ada Uang Abang Kutendang, sebagai jawaban atas slogan bagian pertama di atas; yang ternyata rasa cinta dan sayangnya tersebut bukan atas dasar cinta sejati; tetapi lebih dilandasi faktor uang semata. Model slogan demikian, juga bisa menimbulkan humor bagi para pembacanya, sehingga mengundang derai tawa yang bersifat spontanitas.

Slogan 23: Wani Piro?

Slogan kedua puluh tiga ini sangat istimewa. Sebab hanya bisa diinterpretasikan satu perspektif saja. Sebab di samping slogan tersebut terpampang gambar wanita cantik yang cukup seksi. Maka satu-satunya interpretasi yang bisa muncul dari slogan tersebut yakni Anda berani membayar berapa rupiah untuk dia? Wani Piro adalah idiom dalam Bahasa Jawa. Artinya, Berani membayar berapa? Jadi yang terpenting dalam slogan tersebut adalah soal uang, sebab orang yang memiliki uang terbesar; akan dengan mudah menjadi pemilik barang/orang yang ditawarkan di atas. Akan tetapi, slogan tersebut juga dapat dimaknai sebagai sindiran halus bagi siapapun yang suka melacurkan diri atau menjadi pelanggan prostitusi (pelacuran).

Slogan 24: Si Putih Tampil Semburat Coy…

Slogan kedua puluh empat ini juga memakai Bahasa Inggris pada akhir kalimatnya. Coy, adalah sebuah kata dalam Bahasa Inggris yang artinya malu-malu kucing. Slogan ini tertulis pada bemper belakang truk tronton berplat H. Pesan dari slogan ini dapat diinterpretasikan sebagai bentuk sanjungan kepada seorang gadis berkulit putih yang berlagak sok pemalu (malu-malu kucing).

Slogan 25: Patuh Berlalu Lintas Cermin Budaya Cah Gunung Pati

Slogan kedua puluh lima ini sangat simpatik, santun dan mengiklankan identitas kelokalitasan sebuah daerah. Slogan yang mengkampanyekan agar kita selalu mematuhi peraturan berlalu lintas. Sangat jelas, pemilik truk ini adalah orang yang berdomisili di Gunung Pati. Tentunya sangat lucu, andaikan truk ini sengaja atau tidak sengaja melakukan pelanggaran lalu lintas; misalkan menerabas lampu merah di pertigaan Jalan Secang-Magelang.

Dengan demikian, secara garis besar, setelah dilakukan penginterpretasian makna atas munculnya “slogan-slogan eksentrik” pada bak truk-truk di jalan raya YMTS; dilatarbelakangi oleh berbagai motif. Pertama, motif ekonomi. Yakni memberikan motivasi hidup, sehingga spirit kerja dapat meningkat tajam. Kedua, motif politik. Ketiga, motif sosial. Keempat, motif moralitas. Kelima, motif humor. Keenam, motif seksualitas. Ketujuh, motif iseng semata. Dan kedelapan, motif iklan (propaganda) berupa pemberitahuan maupun ajakan. Kesembilan, motif penunjukan identitas diri, komunitas maupun grup. Kesepuluh, motif ekpresi kreativitas diri. Kesebelas, motif berupa kritikan.

Konklusi

Minimal ada 3 kesimpulan “mahapenting” yang relevan diungkapkan dalam karya ilmiah ini. Pertama, ratusan truk pengangkut pasir, truk tronton maupun truk gandeng (belum ada data yang tepat mengenai berapa banyak jumlah truk dan sopir truk serta kernet truk di kawasan Jateng dan DIY) yang melintasi jalan raya YMTS memiliki karakteristik unik yakni mencantumkan slogan-slogan eksentrik. Kendati demikian, banyak juga truk-truk yang tampil polos, tanpa ada sedikitpun slogan atau gambar-gambar tertentu yang bermaksud menarik perhatian. Berdasarkan pengamatan di lapangan (selama kurang lebih 8 bulan/sejak September 2012-April 2013), ditemukan 25 model slogan yang terpampang di berbagai bak truk. Adapun 25 slogan eksentrik tersebut adalaH: Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To?; Cen Penak Sing Maido; Pulang Malu, Tak Pulang Rindu; Pulang Malu, Tak Pulang Tambah Malu; Pulang Padu, Tak Pulang Rindu; Jaman Saiki Yen Ora Ngoyo, Ora Iso Urip Mulyo; Mbelgedezbens; Hidup Denganmu, Mati Tanpamu; Ora Sabar Maburo; Galau Stadium 4; Komandan 27; Star, Stir, Stor, Stop; Nak Ra Ono Ngangeni, Nak Ono Kudu Dhupak; Lembu Sekilan; Pasukan Merapi; Numpang Nampang; Juragane Pring; Rindu Terlarang; Tresno Sudro; Selingkuh Plinteng Dhase; Randa Teles Pinggir Dalan; Abang Selalu Kusayang, Tak Ada Uang Abang Kutendang; Wani Piro…; Si Putih Tampil Semburat Cooy…; Patuh Berlalu Lintas Cermin Budaya Cah Gunung Pati.

Kedua, secara prinsipiil, setelah dilakukan penginterpretasian makna atas munculnya “slogan-slogan eksentrik” pada truk-truk yang melintas di jalan raya YMTS; dilatarbelakangi oleh berbagai motif. Yakni: motif ekonomi, motif politik, motif sosial, motif moralitas, motif humor, motif seksualitas, motif iseng semata, motif iklan (propaganda) berupa pemberitahuan maupun ajakan, motif penunjukan identitas diri, komunitas maupun grup, motif ekpresi kreativitas diri, dan motivasi kritikan.

Ketiga, slogan-slogan yang terpampang pada bak truk-truk pengangkut pasir, tronton dan gandeng yang berlalu lalang di jalur YMTS, merupakan sarana efektif dan kreatif untuk menampilkan pesan-pesan komunikasi. Sebab, truk-truk tersebut berjalan melintasi berbagai kota di Jateng dan DIY; bahkan keluar Pulau Jawa. Sehingga bak truk identik dengan reklame berjalan. Dengan demikian, idealnya slogan-slogan yang dimunculkan pada bak-bak berbagai truk itu harus berisi pesan yang positif (motivasi, kritik sosial, sindiran membangun, memberi pesan moral, kritikan politik, iklan layanan masyarakat, iklan perusahaan, dll.). Hendaknya slogan-slogan yang menjerumuskan pada eksploitasi tubuh wanita, dihilangkan dari slogan-slogan tersebut. Sebab, menurut saya, di samping mengganggu kenyamanan dalam berkendaraan bagi pemakai jalan raya, juga riskan memantik terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Menurut Direktur Lalulintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol M Naufal, ada 4 faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, yakni faktor jalan, kendaraan, cuaca serta faktor kesalahan manusia (human error). Dari 4 penyebab kecelakaan di atas, faktor human error menjadi penyebab kecelakaan yang tertinggi karena mencapai 16.414 kasus. Berdasarkan data Direktur Lalu Lintas Polda Jateng, sepanjang tahun 2012 terjadi 21.586 kasus kecelakaan lalulintas; sehingga menyebabkan 3.410 orang meninggal dunia, sebanyak 25.587 orang luka berat dan 21.172 orang luka ringan, kerugian materi sebesar Rp 23 miliar (Republika, 2013).

Sedangkan sepanjang tahun 2011 kemarin, tercatat ada 19.830 kecelakaan di Jateng. Akibatnya, 4.482 orang tewas, 2.587 orang menderita luka berat dan 25.172 orang menderita luka ringan. Jumlah kerugian material ditaksir hampir Rp 19 miliar. Di mana jalur Magelang-Semarang, merupakan salah satu “jalur maut” di Jateng.

Keempat, sebagai saran dalam penelitian ini, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang bisa meminta pendapat langsung melalui wawancara mendalam dengan para sopir, kernet truk serta pemilik truk mengenai motivasi utama yang menyebabkan mengapa mereka menampilkan “slogan-slogan eksentrik” pada bak truk-truk di jalur YMTS. Dengan demikian, akan memberikan informasi yang lebih komprehensif lagi, dan tentunya menambah bobot analisis dari penelitian sosial ini. Minimal ada 3 kesimpulan “mahapenting” yang relevan diungkapkan dalam karya ilmiah ini. Pertama, ratusan truk pengangkut pasir, truk tronton maupun truk gandeng (belum ada data yang tepat mengenai berapa banyak jumlah truk dan sopir truk serta kernet truk di kawasan Jateng dan DIY) yang melintasi jalan raya YMTS memiliki karakteristik unik yakni mencantumkan slogan-slogan eksentrik. Kendati demikian, banyak juga truk-truk yang tampil polos, tanpa ada sedikitpun slogan atau gambar-gambar tertentu yang bermaksud menarik perhatian. Berdasarkan pengamatan di lapangan (selama kurang lebih 8 bulan/sejak September 2012-April 2013), ditemukan 25 model slogan yang terpampang di berbagai bak truk. Adapun 25 slogan eksentrik tersebut adalaH: Piye Kabare Le, Isih Penak Jamanku To?; Cen Penak Sing Maido; Pulang Malu, Tak Pulang Rindu; Pulang Malu, Tak Pulang Tambah Malu; Pulang Padu, Tak Pulang Rindu; Jaman Saiki Yen Ora Ngoyo, Ora Iso Urip Mulyo; Mbelgedezbens; Hidup Denganmu, Mati Tanpamu; Ora Sabar Maburo; Galau Stadium 4; Komandan 27; Star, Stir, Stor, Stop; Nak Ra Ono Ngangeni, Nak Ono Kudu Dhupak; Lembu Sekilan; Pasukan Merapi; Numpang Nampang; Juragane Pring; Rindu Terlarang; Tresno Sudro; Selingkuh Plinteng Dhase; Randa Teles Pinggir Dalan; Abang Selalu Kusayang, Tak Ada Uang Abang Kutendang; Wani Piro…; Si Putih Tampil Semburat Cooy…; Patuh Berlalu Lintas Cermin Budaya Cah Gunung Pati.

Kedua, secara prinsipiil, setelah dilakukan penginterpretasian makna atas munculnya “slogan-slogan eksentrik” pada truk-truk yang melintas di jalan raya YMTS; dilatarbelakangi oleh berbagai motif. Yakni: motif ekonomi, motif politik, motif sosial, motif moralitas, motif humor, motif seksualitas, motif iseng semata, motif iklan (propaganda) berupa pemberitahuan maupun ajakan, motif penunjukan identitas diri, komunitas maupun grup, motif ekpresi kreativitas diri, dan motivasi kritikan.

Ketiga, slogan-slogan yang terpampang pada bak truk-truk pengangkut pasir, tronton dan gandeng yang berlalu lalang di jalur YMTS, merupakan sarana efektif dan kreatif untuk menampilkan pesan-pesan komunikasi. Sebab, truk-truk tersebut berjalan melintasi berbagai kota di Jateng dan DIY; bahkan keluar Pulau Jawa. Sehingga bak truk identik dengan reklame berjalan. Dengan demikian, idealnya slogan-slogan yang dimunculkan pada bak-bak berbagai truk itu harus berisi pesan yang positif (motivasi, kritik sosial, sindiran membangun, memberi pesan moral, kritikan politik, iklan layanan masyarakat, iklan perusahaan, dll.). Hendaknya slogan-slogan yang menjerumuskan pada eksploitasi tubuh wanita, dihilangkan dari slogan-slogan tersebut. Sebab, menurut saya, di samping mengganggu kenyamanan dalam berkendaraan bagi pemakai jalan raya, juga riskan memantik terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Menurut Direktur Lalulintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol M Naufal, ada 4 faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, yakni faktor jalan, kendaraan, cuaca serta faktor kesalahan manusia (human error). Dari 4 penyebab kecelakaan di atas, faktor human error menjadi penyebab kecelakaan yang tertinggi karena mencapai 16.414 kasus. Berdasarkan data Direktur Lalu Lintas Polda Jateng, sepanjang tahun 2012 terjadi 21.586 kasus kecelakaan lalulintas; sehingga menyebabkan 3.410 orang meninggal dunia, sebanyak 25.587 orang luka berat dan 21.172 orang luka ringan, kerugian materi sebesar Rp 23 miliar (Republika, 2013).

Sedangkan sepanjang tahun 2011 kemarin, tercatat ada 19.830 kecelakaan di Jateng. Akibatnya, 4.482 orang tewas, 2.587 orang menderita luka berat dan 25.172 orang menderita luka ringan. Jumlah kerugian material ditaksir hampir Rp 19 miliar. Di mana jalur Magelang-Semarang, merupakan salah satu “jalur maut” di Jateng.

Keempat, sebagai saran dalam penelitian ini, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang bisa meminta pendapat langsung melalui wawancara mendalam dengan para sopir, kernet truk serta pemilik truk mengenai motivasi utama yang menyebabkan mengapa mereka menampilkan “slogan-slogan eksentrik” pada bak truk-truk di jalur YMTS. Dengan demikian, akan memberikan informasi yang lebih komprehensif lagi, dan tentunya menambah bobot analisis dari penelitian sosial ini. (*)

 

Catatan: artikel ini juga sudah termuat di Kompasiana dengan situs: http://regional.kompasiana.com/2013/07/25/piye-kabare-le-isih-penak-jamanku-to-576438.html

 

 

 

Strategi Menulis Buku bagi Mereka yang Sibuk

Apakah untuk bisa menulis buku, saya harus dulu menjadi penulis profesional; maksudnya harus benar-benar meluangkan waktu khusus untuk menulis buku? Apakah untuk bisa menulis buku, saya harus memiliki hobi membaca buku atau sumber referensi lainnya? Apakah untuk bisa menulis buku, saya harus mengenal editor atau pihak penerbit buku terlebih dahulu? Apakah untuk bisa menulis buku, saya harus menguasai bahasa Indonesia dan bahasa asing secara baik dan benar? Apakah untuk bisa menulis buku, saya harus memiliki ide yang belum pernah dimiliki oleh penulis lainnya? Kalau saya tidak memiliki hobi menulis, apakah saya masih bisa menulis buku? Kalau saya tidak memiliki waktu luang, apakah masih mungkin saya bisa menulis buku? Bagaimanakah cara saya mendapatan sumber ide/gagasan untuk menulis buku? Bagaimanakah menyatukan berbagai ide menulis menjadi satu kesatuan? Bagaimanakah mengatasi masalah kebosanan dalam menulis buku? Kenapa saya sudah membaca banyak buku, padahal pekerjaan saya sebagai pustakawan; namun saya tidak bisa menulis buku? Berapa besarnya royalti yang saya dapatkan dari menulis sebuah buku yang sudah diterbitkan? Bagaimanakah mengatasi masalah jika naskah buku saya selalu ditolak oleh penerbit agar bisa diterbitkan? Apakah yang terpenting dilakukan pertama kali ketika kita mau menulis buku? Kapankah waktu ideal untuk menulis buku? Mengapa naskah buku saya selalu ditolak oleh penerbit? Bagaimanakah cara menerbitkan buku sendiri dan berapa besar biayana? Berapa lama masa tunggu untuk mengetahui naskah buku diterbitkan atau tidak oleh penerbit? Bolehkan kita mengirimkan satu naskah buku yang sama ke lebih dari dua penerbit berbeda? Apakah cara mengirimkan naskah buku ke penerbit harus melalui pos [cetak] ataukah cukup melalui e-mail? Apakah bisa hasil penelitian diterbitkan menjadi sebuah buku populer? Berapa panjang naskah buku itu idealnya?

Model-model pertanyaan di atas merepresentasikan kegalauan dari sebagian orang mengenai betapa sulitnya menulis sebuah buku. Dan tidak salah memang, pertanyaan di atas dilontarkan kepada para penulis profesional. Mengingat budaya tulis di Indonesia masih kalah jauh dengan budaya lisan [oral]. Berdasarkan pengalaman saya, agar seseorang bisa menulis buku yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia Group atau penerbit buku skala besar lainnya yang terpokok adalah memiliki ide menulis. Kalau Anda tidak memiliki waktu luang sama sekali, korbankanlah waktu istirahat Anda untuk menulis. Agar Anda memiliki karya intelektual yang terabadikan.

Karya. Dengan bermodalkan karya, bisa menjadikan kaya. Ya, kaya dalam konteks materiil maupun nonmateriil. Kaya material itu memiliki uang dalam jumlah besar, tabungan melimpah, rumah yang mewah, kendaraan pribadi perlente dan segala anasir serupa lainnya. Kaya nonmateriil itu memiliki banyak rekan, popularitas, kecerdasan, pahala ilmu dan tafsir kontemporer lain. Selama menekuni dunia tulis-menulis selama belasan tahun, saya pernah menjadi penulis pragmatis, penulis idealistis, bahkan penulis kontemporer (kombinasi pragmatis dan idealistis).

Menjadi penulis pragmatis itu, sekadar mengejar honor. Yang penting karya kita dimuat di media massa, kemudian dapat honor dari berbagai redaksi media. Lho bagaimana, biaya kuliah saya dari jerih payah keringat sendiri. Berdosakah saya kalau saya menulis demi mendapatkan penghasilan? Toh, menulis, mengetik, mengomputer atau me-laptop itu sebuah pekerjaan halal.

Dalam bahasa agama, upah adalah hak yang wajib didapatkan oleh setiap pekerja. Jadi sangat "etis" kalau ada penulis yang mengharapkan imbalan atau upah atau honor atau royalti dari setiap pekerjaannya. Dan menulis dengan menggunakan laptop adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh setiap orang, termasuk oleh seluruh anggota TNI [Supadiyanto, 2012].

Penulis adalah profesi yang abadi, tidak pernah mengenal istilah pensiun sebagaimana profesi lainnya. Setua apa pun usia seseorang, asalkan masih bisa membaca dan menulis (mengetik) tetap bisa menjadi penulis. Untuk menjadi penulis, juga tidak membutuhkan modal besar. Penulis itu bukan karyawan. Mereka adalah pengusaha, sebagai pabrik ide (gagasan) itu sendiri. Untuk menjadi penulis juga tidak membutuhkan kantor. Bisa dikerjakan dari mana saja, kapan pun saja. Jelaslah, kerja penulis menjadi sangat elastis, fleksibel dan terbebas dari berbagai target dan tekanan kerja, sebagaimana profesi wartawan, guru, karyawan dll, yang terbebani oleh berbagai aturan dan target kerja.

Menjadi penulis artikel maupun penulis buku, adalah salah satu profesi cerdas dan prospektif di masa kini dan yang akan datang. Saya menyebut penulis artikel (opini) itu sebagai artikelis atau para praktisi media massa menyebutnya sebagai kolumnis. Dengan menjadi penulis artikel maupun penulis buku, ada banyak keuntungan material dan nonmaterial yang bisa Anda peroleh.

Pertama, honor yang besar. Kita bisa mendapatkan royalti sebesar 10 persen dari harga jual setiap bukunya yang terbeli. Berbagai redaksi surat kabar dan penerbit menyediakan imbalan berupa royalti atau uang untuk setiap artikel yang telah termuat di berbagai surat kabar.

Kedua, popularitas, jelas nama Anda akan banyak dikenal oleh para pembaca. Oplahnya Kompas itu sekitar 500 ribu eksemplar per hari. Jawa Pos juga memiliki oplah dalam jumlah tersebut. Kedaulatan Rakyat beroplah sekitar 110-150 ribu eksemplar. Kalau artikel Anda termuat di Rubrik Opini Kompas, berarti artikel tersebut dicetak dalam jumlah sebanyak oplah surat kabar tersebut. Bayangkan betapa mahalnya berapa ongkos yang harus Anda bayar jika publikasi itu Anda cetak sendiri. Tentu sangat mahal. Jadi minimal akan ada 500 ribu pembaca Kompas yang membaca artikel Anda. Lipat gandakan jumlah di atas, jika satu koran dibaca secara berjamaah (kolektif). Logis, Anda segera menjadi terkenal.

Ketiga, kepuasan intelektual. Gagasan yang Anda miliki bisa diketahui oleh publik, dan wacana yang disodorkan buku atau artikel tersebut akan dijadikan rujukan bagi banyak orang. Secara intelektual, ketika artikel Anda termuat di surat kabar, Anda akan merasa puas secara intelektual.

Keempat, kepuasan batiniah. Hal ini bersinggungan dengan misi dakwah dan nilai spiritualitas. Bahwa dakwah dapat dilakukan dengan cara menulis melalui surat kabar ataupun buku. Para ulama yang tidak pernah menulis di surat kabar, akan kalah gaung dengan seorang ulama yang rajin menulis di berbagai koran.

Kelima, sesungguhnya dengan menjadi penulis artikel maupun penulis buku, sejatinya Anda mempromosikan institusi atau lembaga di mana Anda bekerja, berkarya atau menuntut ilmu. Sebab, seringkali seorang penulis artikel maupun penulis buku mencantumkan nama institusinya, misalkan sebagai dosen tetap UIN Sunan Kalijaga, Anggota DPR RI, atau staf pengajar Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Salah satu cara kampus untuk mempopulerkan institusi pendidikannya yakni dengan memprovokasi sebanyak mungkin mahasiswa dan dosen di kampus bersangkutan menjadi penulis artikel di berbagai surat kabar dan media online atau menjadi penulis buku.

Menulis adalah pekerjaan intelektual yang membutuhkan kejernihan berfikir (rasionalitas) dan keterampilan berbahasa jurnalistik. Banyak orang cerdas yang gagal menjadi penulis yang baik, karena mereka tidak mampu mengemas gagasan (ide) mereka dalam bahasa jurnalistik yang sederhana, komunikatif dan menarik. Dibutuhkan banyak latihan dan latihan menulis, agar Anda segera menjadi penulis andal.

Tak ada jalan pintas untuk menjadi penulis terkenal, selain dengan bermodalkan latihan keras dan terus berlatih menulis. Menurut saya, kalau Anda ingin mengharapkan pendapatan/honor harian, jadilah penulis artikel. Anda ingin mengharapkan honor mingguan, jadilah penulis cerpen, puisi, syair, sajak aatau resensi buku/film. Anda ingin mendapatkan honor bulanan, menulislah novel atau buku. Dan Anda bisa melakukan tiga pekerjaan berlapis di atas, ke dalam diri Anda. Maka jadilah penulis artikel, sekaligus cerpenis, novelis, resensor, penyair maupun penulis buku. Niscaya dalam hidup Anda akan mendapatkan honor harian, mingguan, bulanan dan tahunan—sepanjang hidup Anda. Dan lebih dari semua itu, Anda juga akan mendapatkan ganjaran pahala dari Tuhan, jika semua itu Anda niati dengan ikhlas dan beribadah.

Sudah banyak penulis yang bisa melakukannya... Anda juga harus bisa melakukannya, mulai dari sekarang juga! Mari kita bersama mulai perburuan honor dan royalti dengan menjadi penulis [Supadiyanto, 2012].

 

Curhat Para Calon Penulis

Berikut ini saya sajikan sebagian model "curhat" yang dilakukan oleh para calon penulis yang ditujukan kepada saya, yang masuk di telpon seluler saya. Di mana pada umumnya para calon penulis masih mengalami banyak kendala dalam menulis maupun menerbitkan karya mereka.

 

082110760241 27 Mei 2013 pukul 22.47.35 WIB: Selamat malam Pak Supadiyanto, nama saya Melina. Saya salah satu penggemar Bapak karena sifat kegigihan bapak yang selalu jadi penulis. Apa kiat Bapak jika saya punya bakat menulis cerpen, drama atau puisi di sisi lain saya juga suka menulis artikel/opini. Bisa bapak beri saran apa saya harus fokus atau jalankan saja. Pak makasih untuk saran yang membangunnya. Kalau sedang ada ide apa perlu untuk melupakan urusan pribadi dalam keluarga, teman dll. Besok akan saya email bapak. Makasih

 

Herman Jakarta: 19 Maret 2013 pukul 15.50.19 WIB: Wah mantap mas. Mas saya punya naskah buku motivasi tapi belum dapat penerbit yang pas. Saya juga aktif menulis di koran nasional, tapi kalau di koran daerah belum mencoba.

 

085743843116 (Fuad) 20 Februari 2013 pukul 12.10.29 WIB: Salam, Pak resensi buku Berburu Honor dengan Artikel saya resensi dan dimuat di Koran Jateng Pos kurang lebih 2 minggu lalu. Apakah dari penulis ada reward-nya Pak?

 

Foly Akbar 21 Februari 2013 pukul 11.49.55 WIB: Ass... waktu hari Minggu, saya tulis resensi buku bapak di SKH Kedaulatan Rakyat.. Konon pembaca KR itu ratusan ribu.. Ada bonus enggak nihh?? Hehehehe Folly Akbar.

 

085727756802 26 Maret 2013 pukul 11.28.27 WIB: Pak mau tanya kalau di Republika rubrik opini namanya apa? Trims.

 

Hedi TNI Blitar 6 April 2013, pukul 21.40.41 WIB: (SMS merespon kasus tragedi LP Cebongan): Menurut saya sepertinya berita kurang seimbang..coba sekali-kali media mewawancarai istri almarhum bagaimana perasaannya? Jangan kejadian dijadikan agenda politik...Apakah tentara bukan manusia karena seolah-olah HAM tidak berlaku untuk tentara? Seperti cerita pewayangan Kumbokarno (jadi korban kepentingan).

 

082139699764 14 Feb 2013 pukul 12.46.46 WIB: Salam ta'aruf Mas Supadiyanto. Saya sangat mengagumi produktivitas Anda dalam menulis di berbagai media cetak dan elektronik. Saya dosen di UNIPDU Jombang yang selama ini lebih banyak menulis di beberapa jurnal ilmiah dan ingin sekali intens menulis di berbagai media sebagaimana anda selama ini. Mohon berkenan memberikaan tips opini yang menarik, tajam dan jitu agar dimuat di media cetak itu yang bagaimana? Terima kasih dan salam literasi; Andik Wahyun M dengan email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

 

081267712350 12 Feb 2013, pukul 20.24.38 WIB: Pak Supadiyanto saya mau bertanya, kalau saya membuat surat pengantar yang sama seperti yang ada di buku anda, tapi sedangkan saya belum berpengalman artikel saya dimuat di surat kabar, bagaiman dalam hukum negara, apakah termasuk kebohongan...

 

081380896494 13 Feb 2013, pukul 18.50.03 WIB: Met malam Pak Supadiyanto, saya yusuf bako di Kupang NTT yang beberapa hari lalu beli buku BHDA, saya peminat menulis yang ingin juga menulis di media, saya yakin bisa sukses juga seperti Bapak,

 

7 April 2013, pukul 16.35.51 WIB: Met sore Pak Espede, saya Yusuf Bako di Kupang NTT. Saya pembaca buku Berburu Honor Dengan Artikel. Saya mau tanya apa ada pelatihan menulis artikel online dan apa majalah online yang Bapak asuh terima kiriman artikel dari pembaca. Makasih sebelumnya.

 

087805766864 11 Februari 2013, pukul 14.47.55 WIB Dian Kurnia Sumedang: Bukunya bagus, Pak. Mencerahkan penulis pemula seperti saya. Salam kenal.

 

083167369382 (4 Januari 2013 pukul 19.46.15): Selamat malam Pak Supadiyanto, saya Jhon dari Pekanbaru Riau. Berkenankah Bapak menjadi editor artikel saya? terima kasih.

 

085217325530 (19 Jan 2013 pukul 05.52.53): Saya mau tanya Pak, kira-kira judul yang cocok untuk artikel tentang kewirausahaan apa ya Pak? Mohon sarannya trims Ruli-Bogor.

 

30 Maret 2013 pukul 07.10.40 WIB: Selamat pagi Pak. Saya mau meminta saran Bapak. Judul apa yang cocok untuk sebuah opini dengan tema ketika generasi muda berbicara politik Tx (Ruli-Bogor).

 

08985638046 (26 Des pukul 17.14.25 WIB): Kalau cerpen saya berkarakter 35 ribu kata, lebih baik dikirim ke majalah apa ya? Inggih Pak, terima kasih infonya..HUDI Bringin.

 

08985638045 (18 Des 2012, pukul 16.19.03 IB): Selamat sore mas/pak, saya mau tanya dan mohon jawabannya, ketika mengirim cerpen lewat email itu apa menggunakan kata pengantar dulu? Maaf mau tanya lagi, Koran Kompas itu terbitnya setiap hari

atau seminggu sekali dan untuk rubrik cerpennya tiap terbit cuma memuat 1 cerpen atau lebih..Hudi anak Salatiga.

 

087770037095 (17 Des 2012, pukul 12.02.51 WIB): Selamat siang Bapak Supadiyanto, maaf mengganggu waktu Bapak. Saya sudah baca buku karya Bapak yang berjudul: Berburu Honor dengan Artikel, buku ini bagi saya sangat bagus bagi saya. Terima kasih atas ilmunya yang bapak berikan kepada masyarakat luas salah satunya melalui buku ini. Saya Ibnu Hafidz mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta urusan terjemahan Bahasa Arab, saya sangat senang dengan dunia kepenulisan salah satunya jurnalistik. Minta doanya juga dari Bapak agar jalan ke depannya segala sesuatunya dimudahkan oleh Allah. Terima kasih atas waktunya Pak.

 

08985638045 (14 Des 2012, pukul 14.07.15 WIB): Pak tadi saya memebaca tulisan Anda di Kompasiana tentang tata cara menulis cerpen. Kalau tidak salah bulan Agustus kemarin. Bolehkah saya berguru pada Anda, Pak? dari penulis amatir.

 

085213352211 (16 Des 2012 pukul 12.28.19 WIB): Thank's sudah menulis buku "BHDA". Buku ini sesuatu banget&sangat memotivasi saya. Baru sebulan saaya mengamalkan perintah buku ini, kini saya sudah menangguk honor ratusan ribu rupiah dari Koran Radar Cirebon dan Fajar Cirebon. (Verry Wahyudi, Mahasiswa FISIP Univ 17 Agustus 1945 Cirebon).

 

085732098979 (6 Des 2012, pukul 08.40.49 WIB) Ass. Pak, saya Asmaul Husna, guru SMA Al Hikmah Surabaya Jawa Timur. Pak, saya numpang meresensi buku bapak, saya siap menerapkan ilmu dari ide Bapak dan mengembangkan kemampuan menulis saya. Mohon doa dan dukungan Bapak, makasih. www.

085643521823 (5 Des 2012, pukul 16.19. 48 WIB): Ass, Pak Supadiyanto, di mana ya kalau mau cari buku BHDA. Saya sudah cari di Gramedia jogja (sudirman dan Malioboro) tapi stok kosong. Di Togamas dan Social Agency juga nggak ada. Barangkali Bapak punya stoknya, hehe... Terima ksih (Adit Jogja). Alamat saya; Idea World Kidz Saapen GK I no. 154 Yogyakarta 55221, terima kasih.

 

085724721241 Assalaamualaikum... selamat pagi Pak Supadiyanto...Setelah saya membaca buku Bapak yang Berburu Honor dengan Artikel..Saya mau bertanya Pak..jika mengutip kata orang dari koran lain, penulisan yang benarnya bagaimana Pak? Apakah seperti ini misalnya (Udin, Tribun Forum, edisi 12 Oktober 2012)? Terima kasih. Pak saya mau bertanya lagi, sebenarnya masih banyak pertanyaan saya mengeni tulis-menulis artikel Pak..hehe.. Seandainya artikel saya terbit di Kompas edisi 04-12-2012. Untuk 2 minggu kemudian bisa dikirim lagi ke media cetak lain tidak Pak artikel saya? Atau tunggu 1 bulan buat dikirim ke media cetak lainnya? Terus Pak ada tip-tips gak untuk berkomunikasi dengan pihak redaktur media cetak?: Terima kasih, saya mas Asep Pak dari Bandung....Makasih atas tipsnya, oh iya Pak sebetulnya saya masih punya kendala Pak ketika mau membikin artikel, semangat, tekad sudah ada dalam jiwa saya pak, malah saya gemar baca buku+koran Kompas, tapi ketika mau membuat artikel, saya malah bingung mau membuat artikel apa Pak..mungkin ada saran gitu dari Baapak buat menyiasati hal yang saya alami tersebut supaya saya bisa menghasilkan artikel yang bombastis, unik dan menarik? Terima kasih dan salam ikhlas.

 

085217325530, Selamat malam, Pak. Saya pembaca buku Bapak dari Bogor ingin menanyakan kapan kita tahu artikel kita dimuat atau tidak. Karena 3 minggu yang lalu saya kirim artikel belum ada jawban sama sekali. Terimakasih Pak.

 

082193112344 Dengan mas Supadiyanto? Saya punya tulisan Identitas Kader IMM, selama ini menjadi materi dasar diperkaderan IMM. Saya pingin jadikan buku mas, gimana ya mas? Biaya cetak sekarang mahal banget mas, ada tips untuk menerbitkan buku gak? Saya Hasrul, dari Sulawesi Tenggara. Saya baca bukunya tentang Berburu Honor dengan Artikel itu. Email sy: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

 

085727756802 Asslamualaikum wr wb, Pak saya berniat mengirimkan resensi saya ke koran, kira-kira koran apa yang gampang tembus ya Pak? Mohon referensinya.... Terima kasih 10210116.

 

085735243542 Pak dalam resensi kalau kita bandingkan buku yang kita resensi dengan buku lain, boleh menyebut buku pembanding apa gak boleh?

 

085217325530 Selamat malam, Pak Supadiyanato. Saya Ruli dari Bogor, pembaca buku tentang artikel. Mau nanya, kalau artikel mahasiswa sebaiknya dikirim ke redaksi mana ya Pak? Trims.

 

081287712350 Ass..Wr b.. salam kenal, saya Fauzi dr Cirebon pembaca setia buku Anda, saya mau tanya soal surat pengantar, itu bisa harus ditulis tangan/boleh dikirim lwat e-mail, terus dalam kode etik surat pengantar yang seperti itu atau hukumnya gimana?

 

081363109877 Ass.. saya telah membaca buku "Berburu Honor Dengan Artikel" apa buku motivasi jurnalistik bapak yang lain? Trmksh.

 

085728739032 Yan, koe mlebu neng ADITV YOGYA, acara Macapat Syafaat. pikiranku setengah, koyo Cak Nun, setengah ro sopo Yan? 085214154483 Pak.liputan.sampean. di MetroTV. Apik.

 

NB: Artikel ini termuat juga di sini: http://media.kompasiana.com/buku/2013/07/14/strategi-menulis-buku-bagi-mereka-yang-sibuk-573469.html

 

*) Makalah spesial ini saya presentasikan pada Pendidikan dan Pelatihan Jurnalisme Warga PPWI – Paspampres RI di Markas Komando PASPAMPRES Jakarta pada 25 Juni - 02 Juli 2013

 

Peta Bisnis Media Massa di Indonesia Pra Pemilu 2014

Konglomerasi Media dan Ekonomi Politik Media

Harian Umum Koran Jakarta edisi 27 Februari 2013 kemarin memuat artikel saya berjudul: Konglomerasi Media [atau bisa dibaca di sini: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/113449]; di mana saya sangat merisaukan di mana para pemilik media massa yang saat ini berprofesi sebagai politisi, memanfaatkan jaringan media massa milik mereka untuk kepentingan meraih karier politik; yakni menguasai "Istana Negara". Judul aslinya adalah Konglomerasi Media, Tarik Ulur Misi Bisnis-Politik; namun oleh editornya—subjudulnya "dipenggal" menjadi sebagaimana yang tertulis di atas. Dengan membuat panjang judul artikel saya di atas, saya ingin menekankan bahwa media massa adalah hasil perkawinan genetis antara kepentingan ekonomi [bisnis] dan kepentingan politik [kekuasaan]. Hal ini relevan dengan pemikiran teori ekonomi politik media yang dilontarkan oleh para pemikir dalam kelompok Frankfurt School Jerman yang beraliran "kiri-kritis-radikal".

Di Indonesia kini, teori ekonomi media sudah terbukti benar karena melahirkan para konglomerat media; yang kaya gara-gara bisnis medianya. Dan teori politik media juga sudah terbukti; karena para pemilik media massa itu sudah banyak yang menjadi pejabat eksekutif [menteri]. Kita tinggal menunggu klimaksnya, apakah pada Pilpres 2014 mendatang; akan menghasilkan para eksekutif yang notabene-nya mereka pemilik media? Jika itu benar terjadi; maka sudah lengkaplah kesahihan "teori ekonomi politik media" ini. Sehingga sangat rasional, di masa depan akan tercipta "rezim media" di mana kekuasaan eksekutif [presiden, wakil presiden dan menterinya], bahkan legislatif dan yudikatifnya akan dikuasai oleh para pemilik media massa.

Mengapa saya memiliki analisis model demikian. Mari kita tilik peta industri media massa [cetak dan elektronik] di Indonesia dewasa ini. Bahwa faktanya, saat ini [Sabtu Wage, 29 Juni 2013]; berbagai perusahaan media massa cetak dan elektronik yang ada di Indonesia hanya dikuasai oleh 13 perusahaan raksasa saja. Siapakah mereka? Mereka adalah MNC Group dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo mempunyai 20 stasiun televisi, 22 stasiun radio, 7 media cetak dan 1 media online; Kompas Gramedia Group milik Jacob Oetomo memiliki 10 stasiun televisi, 12 stasiun radio, 89 media cetak dan 2 media online; Elang Mahkota Teknologi milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja mempunyai 3 stasiun televisi dan 1 media online; sedangkan Mahaka Media dipunyai oleh Abdul Gani dan Erick Tohir mempunyai 2 stasiun televisi, 19 stasiun radio, dan 5 media cetak; CT Group dipunyai Chairul Tanjung memiliki jaringan 2 stasiun televisi, 1 media online.

Grup perusahaan lainnya adalah Beritasatu Media Holdings/Lippo Group yang dimiliki James Riady mempunyai 2 stasiun televisi, 10 media cetak dan 1 media online; Media Group milik Surya Paloh memiliki 1 stasiun televisi dan 3 media cetak; Visi Media Asia (Bakrie & Brothers) milik Anindya Bakrie mempunyai 2 stasiun televisi dan 1 media online; Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan dan Azrul Ananda mempunyai 20 stasiun televisi, 171 media cetak dan 1 media online; MRA Media milik Adiguna Soetowo dan Soetikno Soedarjo memiliki 11 stasiun radio, 16 media cetak; Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo mempunyai 2 stasiun radio dan 14 media cetak; Tempo Inti Media milik Yayasan Tempo memiliki 1 stasiun televisi, 1 stasiun radio, 3 media cetak dan 1 media online; Media Bali Post Group (KMB) milik Satria Narada mempunyai 9 stasiun televisi, 8 stasiun radio, 8 media cetak dan 2 media online (Nugroho,Yanuar. dkk. 2012 dan Lim, M. 2012).

Jika dipetakan kembali, di luar 13 grup korporasi media massa nasional di atas; terdapat perusahaan media raksasa milik negara [milik rakyat] yakni TVRI, RRI dan Kantor Berita Antara; yang selama ini penggunaannya lebih diberdayakan sebagai “kepanjangan tangan” dari pemerintah yang sedang berkuasa, sehingga publik (masyarakat) merasa kurang memilikinya. Dan juga di berbagai daerah, hingga kini masih hidup perusahaan media lokal yang terlepas dari struktur manajemen 13 perusahaan raksasa nasional di atas. Mereka adalah KR Group (SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, SKM Minggu Pagi, KR Radio), Pikiran Rakyat Group (Pikiran Rakyat, Galamedia, Pakuan, Priangan, Fajar Banten, Radio Parahyangan, Percetakan PT Granesia Bandung), Suara Merdeka Group (Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Harian Tegal, Harian Pekalongan, Harian Semarang, Harian Banyumas dll.), Bisnis Indonesia Group (Bisnis Indonesia, Solopos, Harian Jogja, Solopos FM) serta grup perusahaan daerah lain.

Era konvergensi media yang melahirkan para kongomerat media menyebabkan terjadinya pemusatan kepemilikan media massa, dan timbulnya tarik ulur antara idealisme pers, kepentingan bisnis dan kepentingan politik. Industri media massa di Indonesia kini dikendalikan sejumlah pemilik modal yang terkonsentrasi, yang mengarah ke oligopoli media, bahkan monopoli kepemilikan media (Supadiyanto, 2013).

Jelaslah adanya oligopoli media, yang mengarahkan terciptanya monopoli media massa mengancam hak publik dalam mengakses informasi, sebab perusahaan media massa dikendalikan para pemilik modal dan digunakan untuk mengeruk keuntungan. Tentunya media masssa menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka yang mencari kekuasaan. Hal ini terutama terjadi dengan sejumlah pemilik media yang erat terhubung ke politik. Sebagai contoh sederhana, Aburizal Bakrie (pemilik Visi Media Asia yang sekaligus menjadi Ketua Umum Partai Golkar), Surya Paloh (pemilik Media Group dan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat), Harry Tanoesoedibjo (pemilik MNC Group dan sekaligus politikus Partai Hanura, sebelumnya pernah bergabung dengan Partai Nasional Demokrat), Dahlan Iskan (bos Jawa Pos Group sekaligus pejabat pemerintah yang kini menjadi Menteri BUMN), dll. Sehingga munculnya persepsi publik yang menguatkan bahwa kepentingan para pemilik media mengancam hak warga dalam memperoleh informasi yang jujur dan netral, karena para pengusaha media menggunakan media sebagai alat kampanye politik untuk memengaruhi opini publik. Singkatnya, media telah menjadi sebuah mekanisme sistematik bagi para pengusaha dan politikus dalam menyampaikan kepentingan mereka sambil mendapatkan keuntungan dari bisnis.

Dengan demikian, akan terjadi kompetisi bisnis sekaligus kompetisi politik, sebab para pengusaha media tersebut juga merangkap profesi sebagai politikus, yang berkeinginan kuat menjadi pejabat negara di berbagai lembaga eksekutif maupun legislatif. Terkonsentrasinya kepemilikan media massa di Indonesia pada sejumlah pengusaha, melahirkan para konglomerat media massa. Sebut saja mereka misalkan adalah Chairul Tanjung dan Hary Tanoesoedibjo. Berdasarkan data yang dirilis oleh Majalah Forbes edisi November 2012, dua pengusaha di atas tercatat sebagai orang terkaya ke-5 se-Indonesia tahun 2012 dengan total kekayaan mencapai USD 3,4 miliar dan orang terkaya ke-29 se-Indonesia dengan jumlah kekayaan mencapai USD 1,04 miliar.

Sedangkan menurut versi Majalah Globe Asia, menempatkan Aburizal Bakrie (Visi Media Asia) menjadi orang terkaya ke-9 se-Indonesia, memiliki kekayaan sebesar USD 2,2 miliar, Chairul Tanjung (CT Group) sebagai orang terkaya ke-24 se-Indonesia dan Hary Tanoedoedibjo (MNC Group) sebagai orang terkaya ke-26 se-Indonesia, Jakob Oetama (Kompas Gramedia Group) sebagai orang terkaya ke-46 se-Indonesia, Dahlan Iskan (Jawa Pos Group) sebagai orang terkaya ke-80 se-Indonesia, Sukamdani Gitosardjono (Bisnis Indonesia Group) sebagai orang terkaya ke-101 se-Indonesia, Surya Dharma Paloh sebagai orang terkaya ke-102 se-Indonesia.

Melihat sejarah pers Indonesia di masa lalu, pada masa Orde Lama berkuasa, Presiden Soekarno memberikan ruang dan kesempatan kepada pers untuk berkembang; di mana sebelumnya (prakemerdekaan) pers diposisikan sebagai alat perjuangan di masa peperangan menjadi alat popaganda negara. Sehingga muncul juga media massa yang selalu mengkritisi berbagai kebijakan yang digulirkan pemerintah. Partai-partai politik dan pejabat pemerintah pada masa Orde Lama memiliki surat kabar sendiri, misalkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menerbitkan Bintang Timur dan ABRI memiliki Berita Yudha, surat kabar Indonesia Raya dimiliki Partai Sosialis Indonesia, sedangkan Partai Nahdhatul Ulama membuat surat kabar Duta Masyarakat dan Partai Masyumi membidani lahirnya Abadi, dan Suluh Marhaen adalah media yang dikuasai Partai Nasional Indonesia (PNI).

Di masa Orde Baru, kehidupan pers benar-benar diintervensi pemerintah. Lahirlah peraturan-peraturan yang tak memungkinkan munculnya media massa yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Akibatnya, banyak perusahaan media massa yang terkena pembreidelan (penghapusan hak terbit), sebagai dampak dari pemberitaan yang dinilai berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Surat kabar yang pernah mengalami pembreidelan seperti Kompas, Tempo, Sinar Harapan dll. Di bidang media elektronik, pada masa itu hanya ada satu stasiun televisi yang dikendalikan oleh pemerintah yakni TVRI. Pada tahun 1989, lahirlah televisi swasta nasional pertama bernama RCTI yang dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo (putra ketiga Soeharto), lantas menyusul kemudian lahir SCTV yang dimiliki oleh Sudwikatmono (sepupu Soeharto), TPI yang dimiliki Siti Hardiyanti Rukmana (putri Soeharto), ANTV milik Bakrie Group (Aburizal Bakrie, politikus Golkar), dan Indosiar milik Agung Laksono (politikus Golkar). Artinya, pada masa Orde Baru, hanya para keluarga dan kroni Soeharto sajalah yang bisa mendirikan perusahaan media massa. Bahkan untuk mendukung eksisensi Golkar, didirikan surat kabar Suara Karya, Harmoko (Menteri Penerangan) memiliki Pos Kota, Peter Gontha (rekanan bisnis Bambang Trihatmodjo) mendirikan Indonesian Observer, Sudono Salim (Liem Sioe Liong) mendirikan Indosiar TV, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie mendirikan ANTV, Surya Paloh mendirikan Metro TV (Shen & Hill, 2000; Ida, 2006, 2009, 2011).

Pada masa pemerintahan Orde Baru, SIUPP hanya diberikan kepada keluarga Soeharto dan politisi yang dekat dengan Soeharto. Sehingga hanya sedikit perusahaan media massa yang berdiri di masa Orde Baru. Karakteristik ruang gerak pers di masa rezim Orde Baru di bawah Soeharto, yakni adanya pembatasan ruang publik, termasuk pembatasan yang ketat terhadap kebebasan pers. Pers dibatasi dalam mengkritik terhadap pemerintah dengan menggunakan berbagai metode, yakni: sensor formal dan informal, larangan publikasi (baik sementara dan permanen), pemberlakuan SIUPP yang ketat untuk semua publikasi berita, dan pengawasan dan kontrol negara terhadap profesi wartawan melalui PWI (McCargo, 2003).

Pada masa Orde Reformasi, di mana era kebebasan pers sangat dijunjung tinggi, memunculkan lahirnya berbagai media massa baru dan bahkan media lama yang pernah terkena pembreidelan oleh penguasa Orde Baru seperti Koran Tempo telah terbit kembali. Dalam periode sejarah ini, pers benar-benar mengalami kemajuan pesat. Langkah merger dan akuisisi ditempuh oleh sejumlah perusahaan sebagai strategi bisnis media yang dinilai ampuh hingga sekarang. Dari tahun 1998-2000 saja tercatat hampir 1.000 perusahaan media yang mendapatkan izin terbit dari pemerintah, kendati hanya sedikit perusahaan media yang bisa bertahan sebab terjadi kompetisi bisnis yang sangat ketat. Jumlah media cetak pada awal tahun 1999 sebanyak 289 buah, dan pada tahun 2001 menjadi 1.881 buah.

Akhir tahun 2010, jumlah media cetak menyusut menjadi 1.076 buah (Data Serikat Penerbit Surat Kabar, 2011). Surat kabar dengan oplah tertinggi dipegang oleh Kompas dengan 600.000 eksemplar per hari, Jawa Pos 450.000 eksemplar per hari, Suara Pembaruan 350.000 per hari, Republika 325.000 eksemplar per ari, Media Indonesia 250.000 eksemplar per hari dan Koran Tempo dengan 240.000 eksemplar per hari. Pada tahun 2002, jumlah stasiun radio mencapai 873 buah. Pada tahun 2003, ada 11 stasiun televisi, 186 surat kabar harian, 245 surat kabar mingguan, 279 tabloid, 242 majalah dan 5 buletin (Gobel and Eschborn, 2005).

Bagaimana peta industri media dalam skala global? Fakta menunjukkan bahwa industri media massa sedunia hanya dikuasai oleh 6 perusahaan media massa raksasa milik Yahudi. Perusahaan tersebut adalah Vivende Universal, AOL Time Warner, The Walt Disney Co., Bertelsmann AG, Viacom, dan News Corporation. Enam konglomerasi media massa dunia tersebut menguasai 96 persen pasar media dunia (Ramdan, Anton A. 2009). Bahkan menurut Robert W. Mc Chesney pada tahun 2000, penguasa media massa tinggal 3 perusahaan raksasa (holdings), yang kemudian mereka disebut sebagai The Holy Trinity of the Global Media System. Chesney merisaukan dampak dari adanya kenyataan jika kekuataan media sebagai produsen budaya, produsen informasi politik dan kekuatan ekonomi; terkonsentrasi pada beberapa orang saja (Chesney, 2000).

 

Rontoknya Bisnis Media Cetak

Berikut ini sederet realitas sosial yang semakin menguatkan hegemoni industri media cetak tak sehebat (seampuh) lagi, sebagaimana sebelum era teknologi internet dikomersialkan. Pertama, gulung tikarnya perusahaan koran tertua dan terbaik di AS sekaliber The New York Times mengalami kolaps akhir tahun 2011. Kebangkrutan The New York Times memaksa pihak manajemennya melego 16 surat kabar daerahnya kepada Halifax Media Holdings senilai USD 143 juta. Langkah The New York Times menjual asetnya untuk mengatasi beban utang. Dalam 9 bulan pertama 2011, pendapatan iklan The New York Times turun 7 persen, atau hanya USD 190 juta. Padahal tahun 2010, pendapatan tahunan iklan The New York Times setinggi USD 2,4 miliar. Kini, The New York Times beralih ke bisnis media online (Kontan edisi 29 Desember 2011).

Kedua, anjloknya jumlah oplah surat kabar dengan oplah tertinggi sedunia, yang dipegang Yomiuri Shimbun (surat kabar di Jepang). Di mana oplahnya mencapai 10 juta eksemplar per hari. Dalam The 33rd NSK-CAJ Fellowship Program di Nippon Press Centre (Senin, 24/9/2012), terungkap industri pers Jepang pun tengah mengalami masalah besar. Sebab generasi muda Jepang (usia 20-30 tahun) tidak pernah membaca koran. Menurut Mr Masaki Satsuka, Director of Editorial, Technology and International Affairs Committee of NSK, ketidakmauan generasi muda Jepang membaca koran berdampak negatif pada oplah koran. Dampaknya, menurunkan jumlah oplah koran 1-2 juta eksemplar (Kedaulatan Rakyat edisi 25 September 2012).

Ketiga, beralihnya majalah Newsweek ke versi online mulai awal Januari 2013 kemarin, karena sejak tahun 2010 merugi sampai USD 40 juta. Pemimpin Redaksi majalah Newsweek, Tina Brown mengumumkan bahwa Newsweek akan beralih versi online dengan nama Newsweek Global. Kebijakan tersebut untuk menekan ongkos cetak dan distribusi serta diorientasikan bagi 70 juta pengguna komputer jinjing di AS (Kompas edisi 20 Oktober 2012).

Keempat, semakin tingginya jumlah pemakai internet juga menjadi ancaman bagi bisnis media cetak, jika tak ditangani secara seius. Data valid yang disajikan Tempo edisi 10 Februari 2013 sangat mencengangkan terkait jumlah pengguna internet di dunia. Pada tahun 2002 silam, jumlah pengguna internet di dunia baru mencapai 569 juta orang atau 9,1 persen dari total penduduk dunia. Sedangkan di Indonesia, pada tahun tersebut tercatat sebesar 4,5 juta pemakai internet atau 4,24 persen total penduduk. Tahun 2012, jumlah pengguna internet menjadi 2,27 miliar atau setara 33 persen populasi dunia. Di Indonesia sendiri pada tahun 2012, ada sebanyak 55 juta penggguna internet atau 22,1 persen populasi Indonesia. Padahal juga pada tahun 2000 silam, jumlah pengguna internet di Indonesia baru mencapai 2 juta orang. Menurut data yang dirilis oleh Internet World Stats 2012, jumlah pengguna internet di Nusantara ada 39,6 juta orang.

Menurut Antara News 2012, bahkan jumlah pemakai internet sudah mencapai 48 juta pemakai internet. Yang lebih menakjubkan lagi, Saling Silang bahkan berani merilis data bahwa jumlah pemakai internet di Indonesia sekarang sudah mencapai angka 84,748 juta orang. Bersandarkan sejumlah data pendukung, penulis berani memprediksikan, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 100 juta orang pada tahun 2015. Akan meningkat mencapai 175 juta pemakai internet pada tahun 2020, dan 250 juta pemakai internet pada tahun 2025 (Supadiyanto, 2012).

Menurut Dirjen Sumberdaya Perangkat Pos dan Informatika Kemen Kominfo Budi Setiawan (antaranwews.com, 31 Oktober 2012), dari 245 juta penduduk Indonesia, pengguna internet mencapai 55 juta orang. Jumlah ini sekitar 22,4 persen dari seluruh penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Indonesia menduduki peringkat ketiga se-Asia, setelah Cina dan Jepang. Berdasarkan penelitian Nielsen, Indonesia juga masuk sebagai pengguna telepon seluler yang cukup tinggi, karena 48 persen dari jumlah penduduknya memilikinya, diikuti oleh Thailand dan Singapura. Berdasarkan data Kominfo April 2012, tercatat sebanyak 44,6 juta pengguna facebook dan sebanyak 19,5 juta pengguna twitter di Indonesia. Sedangkan berdasarkan data yang disajikan Tempo edisi 10 Februari 2013, ada sebanyak 100 juta pengguna facebook, 500 juta pemakai twitter dan 135 juta pemakai Linkedin. Padahal tahun 2002, baru ada sebanyak 3 juta pemakai friendster di Indonesia.

Berdasarkan data penelitian Yahoo! Inc. di tahun 2011 tentang Perilaku Penggunaan Internet di Indonesia yang dimuat thejakartapost.com, aktivitas penggunaan internet di Indonesia paling banyak digunakan untuk social networking yaitu 89%, disusul untuk portal sebanyak 72% dan membaca berita di website sebanyak 61%. Penelitian yang dilakukan di 13 kota besar di Indonesia selama 3 bulan dengan 4.482 koresponden ini, juga menemukan bahwa saat ini di area perkotaan di Indonesia, internet sudah menjadi media terbesar kedua setelah televisi, mengalahkan eksistensi surat kabar dan radio. Di sini internet user juga mulai mengambil alih audience traditional media di mana pengguna internet sebagian besar berusia 15–24 tahun. Keunggulan media online yang jauh lebih unggul dalam kecepatan menayangkan, kontennya lebih bervariatif dan berdaya jangkau luas, dapat diakses seluruh audiens di seluruh dunia, dan secara ekonomi sangat murah, menjadikan banyak manajemen perusahaan media cetak mengubah formatnya menjadi media online. Media cetak yang memiliki media online dengan konten yang sama, atau model e-paper, menjadi bumerang bagi eksistensi media cetaknya, sebab bisa menurunkan tirasnya.

Kelima, jumlah wartawan profesional sangat minim di Indonesia. Dari 100-125 ribu wartawan di Tanah Air, hanya ada 10 ribu wartawan profesional. Hasil survei yang dilakukan Dewan Pers menguatkan kondisi di atas. Sebab sekitar 70 persen wartawan Indonesia (70 ribu–87.500 wartawan) belum pernah membaca KEJ (Kode Etik Jurnalistik). Dewan Pers mencatat, sepanjang tahun 2011 ada 800 pelanggaran yang dilakukan wartawan (Kedaulatan Rakyat edisi 27 September 2012).

Keenam, produksi surat kabar dan media cetak lain yang butuh ongkos sangat mahal, serta bahan kertas yang berasal dari pohon-pohon hutan, secara sistematik merusak lingkungan hidup. Sedangkan media online benar-benar seratus persen tidak membutuhkan bahan kertas dan pasti tidak merusak lingkungan hidup. Sebab, dengan tak adanya permintaan kertas koran oleh pihak percetakan koran-koran itu, ada banyak kayu hutan yang bisa terselamatkan. Pasalnya untuk membikin bahan mentah kertas-kertas koran dibutuhkan banyak sekali kayu hutan alam. Hitung saja untuk menghasilkan 1 ton pulp (bubur kertas) diperlukan 4,5 meter kubik kayu. Indonesia kini berada pada urutan ke-9 di jajaran negara produsen pulp terbesar di dunia, hingga bisa menyumbang 2,5-2,7 juta ton per tahun. Posisi teratas produsen pulp dan kertas dunia tetap dipegang Amerika Serikat, yang produksinya 52,6 juta ton pulp dan 82 juta ton kertas. Merujuk data penelitian Greenpeace—tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektar pertahun, yang mayoritas disebabkan aktivitas illegal logging (Johnston, 2004). Menurut data Departemen Kehutanan RI (2006), luas hutan Indonesia yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar hutan yang ada. Parahnya, laju deforestasi dalam 5 tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar pertahun. Akibatnya, kerugian finansial negara yang diakibatkan maraknya penebangan hutan liar itu mencapai angka Rp 83 miliar per hari. Bisa jadi hari ini, ketika kita sedang asyik berdiskusi dalam forum yang sangat mulia ini—luas hutan kita terus terkikis habis, hingga luasnya nanti tinggal nol (0) hektar (Supadiyanto, 2009).

 

Ekspektasi Terakhir

Sebagai seorang intelektual kampung, saya berharap besar kepada rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang saat ini bekerja sebagai aparatur negara [TNI/Polri] bisa menyikapi dan merespons dengan baik berbagai realitas ekonomi-politik media massa di Tanah Air. Sehingga dapat memahami dengan komprehensif bagaimana "psikologi" institusi media massa bersama "aparaturnya" bekerja. Dalam konteks negara demokrasi, aparat TNI/Polri adalah alat pertahanan negara yang berkewajiban melindungi dan melayani rakyat. Dan aparat negara juga harus bisa menempatkan diri seelegan mungkin dalam konteks era globalisasi di mana di masa mendatang; di samping Indonesia memiliki TNI AD, TNI AU dan TNI AL; juga harus segera membutuhkan TNI "Multimedia atau Siber"; di mana matra terakhir tadi dibutuhkan guna menangkis dan menjinakkaan "serangan musuh dalam dunia siber dan multimedia". [***]

Yogyakarta-Malang, 25 Juni 2013, pukul 16.25.12 WIB

NB: Artikel ini termuat juga di sini: http://media.kompasiana.com/new-media/2013/07/14/peta-bisnis-media-massa-di-indonesia-pra-pemilu-2014-573468.html

*) Makalah spesial ini saya presentasikan pada Pendidikan dan Pelatihan Jurnalisme Warga PPWI – Paspampres RI di Markas Komando PASPAMPRES Jakarta pada 25 Juni - 02 Juli 2013

 

Ekonomi Politik Media, Riset, Gerakan Sosial dan Perubahan Sosial

Pewarta-Indonesia, Pertama, bagaimanakah peta kepemilikan media massa di Indonesia saat ini (18 Mei 2013)? Kedua, seberapa ampuh atau hebatkah wartawan (penulis, peneliti) media massa dan jaringan media sosial dalam menggerakkan publik melakukan berbagai perubahan sosial? Ketiga, lebih sakti manakah antara pengusaha media massa (konglomerat) dan wartawan itu dalam menentukan arah kebijakan redaksional dan korporasional media massa? Keempat, mengapakah para pengusaha media massa selalu mendominasi (menghegemoni) berbagai kepentingan "ekonomi dan politik" media massa dibandingkan pihak wartawan atau publik? Kelima, soal kesejahteraan hidup wartawan, memangnya berapakah gaji tertinggi yang diperoleh para wartawan di Indonesia? Keenam, bagaimana pula kualitas laporan jurnalistik yang dihasilkan oleh para wartawan di Indonesia melalui berbagai media massa cetak dan elektronik? Ketujuh, mengapakah juga para pemilik media (pengusaha/konglomerat media) kini berlomba-lomba sekaligus menjadi politisi?

Stop dulu. Rencananya saya akan melontarkan 93 model pertanyaan lagi, agar genap menjadi 100 model pertanyaan. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu dalam forum intelektual ini, maka saya hanya mengajukan 7 model pertanyaan di atas dan dicoba dikupas secara tuntas. Dengan bertitik tolak dari 7 model pertanyaan kritis di atas, kita akan dengan mudah secara objektif sekaligus subjektif dalam memetakan secara intelektual maupun instingtif berbagai fakta, data, informasi, interpretasi dan sintesis atas problematika kompleks tersebut.

Mari kita bedah satu persatu pokok persoalan di atas. Saya akan mengupasnya dengan gaya konvensional saja, di mana akan diuraikan secara runtut dan tersistematis, agar setiap orang yang membaca makalah ini dengan segera mudah memahami gagasan (pemikiran) yang saya coba sodorkan dan konstruksikan di tengah forum yang dihelat oleh para aktivis mahasiswa UGM ini.

Peta Kepemilikan Media Massa di Indonesia Sekarang (18 Mei 2013)

Tahukah Anda secara global (mondial), peta industri media massa di seluruh dunia ini hanya dikuasai oleh para pengusaha Yahudi. Fakta menunjukkan bahwa industri media massa sedunia hanya dikuasai oleh 6 perusahaan media massa milik Yahudi. Perusahaan raksasa media massa tersebut adalah Vivende Universal, AOL Time Warner, The Walt Disney Corporation, Bertelsmann AG, Viacom, dan News Corporation. Enam konglomerasi media massa dunia tersebut menguasai 96 persen pasar media dunia (Ramdan, Anton A. 2009). Para konglomerat (orang-orang terkaya sedunia) media dunia berkepentingan menguasai industri media massa di dunia, di samping untuk mengeruk keuntungan (misi materi); juga sekaligus dalam rangka menyebarkan pengaruhnya (misi non materi). Bagaimanakah implikasi jangka panjangnya, ketika industri media massa dikuasai hanya oleh 6 korporasi Internasional yang menguasai 96 persen pasar dunia? Tentulah kepentingan bisnis maupun politik dari para pemilik modal (pengusaha) media massa itu menghegemoni publik. Publik, rakyat, penduduk, masyarakat, Anda dan kita menjadi “tak berdaya” oleh kekuatan korporasional media-media massa raksasa tersebut.

Mari panca indera kita arahkan kepada peta industri media massa di Indonesia saat ini. Siapakah para penghegemoni industri media massa di Indonesia? Adalah 13 grup perusahaan media swasta nasional. Mereka adalah MNC Group dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo mempunyai 20 stasiun televisi, 22 stasiun radio, 7 media cetak dan 1 media online; Kompas Gramedia Group milik Jacob Oetomo memiliki 10 stasiun televisi, 12 stasiun radio, 89 media cetak dan 2 media online; Elang Mahkota Teknologi milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja mempunyai 3 stasiun televisi dan 1 media online; sedangkan Mahaka Media dipunyai oleh Abdul Gani dan Erick Tohir mempunyai 2 stasiun televisi, 19 stasiun radio, dan 5 media cetak; CT Group dipunyai Chairul Tanjung memiliki jaringan 2 stasiun televisi, 1 media online. Grup perusahaan lainnya adalah Beritasatu Media Holdings/Lippo Group yang dimiliki James Riady mempunyai 2 stasiun televisi, 10 media cetak dan 1 media online; Media Group milik Surya Dharma Paloh memiliki 1 stasiun televisi dan 3 media cetak; Visi Media Asia (Bakrie & Brothers) milik Anindya Bakrie mempunyai 2 stasiun televisi dan 1 media online; Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan dan Azrul Ananda mempunyai 20 stasiun televisi, 171 media cetak dan 1 media online; MRA Media milik Adiguna Soetowo dan Soetikno Soedarjo memiliki 11 stasiun radio, 16 media cetak; Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo mempunyai 2 stasiun radio dan 14 media cetak; Tempo Inti Media milik Yayasan Tempo memiliki 1 stasiun televisi, 1 stasiun radio, 3 media cetak dan 1 media online; Media Bali Post Group (KMB) milik Satria Narada mempunyai 9 stasiun televisi, 8 stasiun radio, 8 media cetak dan 2 media online (Nugroho, Yanuar. dkk. 2012 dan Lim, M. 2012).

Jika dipetakan kembali, di luar 13 grup koorporasi media massa nasional di atas; terdapat perusahaan media raksasa milik negara yakni TVRI, RRI dan Kantor Berita Antara; yang selama ini penggunaannya lebih diberdayakan sebagai “kepanjangan tangan” dari pemerintah yang sedang berkuasa, sehingga publik (masyarakat) merasa kurang memilikinya. Dan juga di berbagai daerah, hingga kini masih hidup perusahaan media lokal yang terlepas dari struktur manajemen 13 perusahaan raksasa nasional di atas. Mereka adalah KR Group (SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, SKM Minggu Pagi, KR Radio), Pikiran Rakyat Group (Pikiran Rakyat, Galamedia, Pakuan, Priangan, Fajar Banten, Radio Parahyangan, Percetakan PT Granesia Bandung), Suara Merdeka Group (Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Harian Tegal, Harian Pekalongan, Harian Semarang, Harian Banyumas dll.), Bisnis Indonesia Group (Bisnis Indonesia, Solopos, Harian Jogja, Solopos FM) serta grup perusahaan daerah lain. Menurut pandangan Bambang Sadono, mantan Pemimpin Redaksi Suara Karya dan Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, karakterististik dari perusahaan-perusahan pers lokal tersebut sangat kokoh secara bisnis, politik, sosial, maupun kebudayaan dan mempunyai pelanggan fanatis. Media-media yang lahir tidak lama setelah kemerdekaan tersebut tumbuh menjadi bagian masyarakatnya, sehat secara ekonomi, sehingga menjadi rujukan dunia bisnis. Masing-masing juga menjaga jarak secara politis, walaupun di suatu waktu terlihat dekat dengan kelompok politik tertentu, namun tidak sampai menjauhi kelompok yang lain. Media-media yang menjadi landmark bagi lingkungan kulturnya masing-masing, bisa disebut sebagai pintu masuk sosialisasi gagasan dan nilai baru di bidang politik, bisnis, sosial, maupun kebudayaan (Sadono, Bambang, 2013).

Globalisasi yang memicu terjadinya era konvergensi media, akhirnya hanya melahirkan para kongomerat media menyebabkan terjadinya pemusatan kepemilikan media massa, dan timbulnya tarik ulur antara idealisme pers, kepentingan bisnis dan kepentingan politik. Industri media massa di Indonesia kini dikendalikan sejumlah pemilik modal yang terkonsentrasi, yang mengarah ke oligopoli media, bahkan monopoli kepemilikan media (Supadiyanto, 2013).

Terkonsentrasinya kepemilikan media massa di Indonesia pada sejumlah pengusaha, melahirkan para konglomerat media massa. Sebut saja mereka misalkan adalah Chairul Tanjung dan Hary Tanoesoedibjo. Berdasarkan data yang dirilis oleh Majalah Forbes edisi November 2012, dua pengusaha di atas tercatat sebagai orang terkaya ke-5 se-Indonesia tahun 2012 dengan total kekayaan mencapai USD 3,4 miliar dan orang terkaya ke-29 se-Indonesia dengan jumlah kekayaan mencapai USD 1,04 miliar. Sedangkan menurut versi Majalah Globe Asia, menempatkan Aburizal Bakrie (Visi Media Asia) menjadi orang terkaya ke-9 se-Indonesia, memiliki kekayaan sebesar USD 2,2 miliar, Chairul Tanjung (CT Group) sebagai orang terkaya ke-24 se-Indonesia dan Hary Tanoedoedibjo (MNC Group) sebagai orang terkaya ke-26 se-Indonesia, Jakob Oetama (Kompas Gramedia Group) sebagai orang terkaya ke-46 se-Indonesia, Dahlan Iskan (Jawa Pos Group) sebagai orang terkaya ke-80 se-Indonesia, Sukamdani Gitosardjono (Bisnis Indonesia Group) sebagai orang terkaya ke-101 se-Indonesia, Surya Dharma Paloh sebagai orang terkaya ke-102 se-Indonesia.

Di tengah cengkeraman 13 korporasi media massa swasta-nasional dan sejumlah konglomerasi media daerah di atas, idealnya negara dalam hal ini TVRI, RRI dan Kantor Berita Antara sebagai representasi Lembaga Penyiaran Publik, harus berani vis to vis dengan 13 korporasi swasta nasional di atas. Selama ini "TVRI Grup" sudah pasti keok bersaing dengan 13 korporasi swasta nasional yang didukung dengan sumber pendanaan yang dapat dikatakan tak terbatas dan SDM yang kreatif, muda dan enerjik. Kendati “TVRI Grup” memiliki korporasi yang tak kalah besar; sebab didukung oleh 27 stasiun TVRI, puluhan stasiun RRI (dalam negeri maupun di mancanegara) dan 1 media online Antara; ternyata belum mampu merebut simpati publik untuk fanatik pada "TVRI Grup". Hingga saat inipun citra “TVRI Grup” sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah yang berkuasa, masih terus ada dan sulit dihilangkan, sebagaimana yang terjadi di era Orde Baru dahulu. TVRI memiliki 27 stasiun televisi, yang terdiri atas 1 stasiun nasional (Jakarta), 26 stasiun lokal (NAD, Sumut, Sumbar, Riau-Kepri, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Jabar-Banten, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, NTT, Kalbar, Kalsel, Kalimantan Tengah, Kaltim, Sulut, Sulsel, Maluku-Maluku Utara, Papua, Gorontalo, NTB, Sulbar dan Sulawesi Tengah). Karyawan TVRI pada tahun 2007 berjumlah 6.099 orang, terdiri atas 5.085 PNS dan 1.014 tenaga honor/kontrak yang tersebar di seluruh Indonesia dan sekitar 1.600 orang di antaranya adalah karyawan Kantor Pusat dan TVRI Stasiun Pusat Jakarta (http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_Republik_Indonesia). Bisakah mulai dari sekarang rakyat mencintai TVRI Group? Dan mampukah manajemen “TVRI Grup” sendiri terbebas dari "intervensi" pemerintah? Ingat sebagian dana operasional dari “TVRI Grup” berasal dari anggaran negara, di mana anggaran negara bersumber dari aneka pajak yang ditarik dari rakyat oleh pemerintah. Jadi Yang membiayai operasional “TVRI Grup” sesungguhnya adalah rakyat. Maka logikanya, “TVRI Grup” adalah industri media massa milik rakyat.

Wartawan, Media (Massa dan Sosial) dan Perubahan Sosial

Salah satu alat untuk melakukan perubahan sosial yakni melalui media massa. Model perubahan sosial yang bagaimanakah? Apakah perubahan sosial yang bersifat positif atau negatif? Karenanya media massa memiliki kemampuan untuk 2 hal di atas sekaligus. Media massa bisa digunakan untuk apa saja, entah dalam pengertian positif maupun negatif. Tergantung dari siapakah yang menggunakan media massa, pihak manakah juga yang menguasai media massa serta bagaimanakah kemampuan intelektual para penikmat, pemirsa, pembaca dan pendengar (audiens) media massa tersebut. Sejarah tak lebih dari rangkaian fakta yang coba dikonstruksikan oleh berbagai media massa. Keruntuhan rezim Orde Baru yang hegemonik dan mengekang kebebasan pers; tak lain juga berkat kontribusi media massa yang mampu menggerakkan komitmen publik dalam menggelorakan gerakan Reformasi 1998.

Kini para pejabat negara dan politisi menyadari bahwa media massa memiliki kekuatan penuh dalam memengaruhi maupun mempersuasi kalangan pembaca, pendengar dan pemirsa; sehingga mereka secara optimal memanfaatkan media massa maupun jejaring media sosial sebagai media kampanye politik maupun kampanye Pemilu. Jelaslah kualitas SDM wartawan sangat menentukan kualitas jurnalistik yang dihasilkan melalui berbagai media massa.

Ekonomi Politik Media dan Gaji Wartawan

Teori ekonomi politik media yang dilontarkan oleh Profesor Vincent Mosco memang sangat tepat untuk mengkritisi praktik industri media massa kontemporer. Secara prinsipiil, ada 3 ide pokok teori ekonomi politik media; yang saya lebih senang menamainya sebagai “segitiga besi ekonomi politik media”. Yakni meliputi gagasan tentang komodifikasi, strukturasi dan spasialisasi (Mosco, Vincent, 2009). Sederhananya, bahwa seluruh kekuatan media massa digerakkan untuk mencapai keuntungan finansial (motif ekonomi-bisnis) sehingga segala berita dan informasi yang disajikan difungsikan untuk dikomodifikasikan dengan pemasukan (uang) dari iklan melalui rating, trafict maupun oplahnya. Di samping itu juga digerakkan untuk melakukan gerakan sosial yang berperspektif ras, gender dan kelas dengan memperhatikan kepentingan agen dan struktur (institusi). Selain itu juga industri media massa digerakkan untuk mengatasi kendala ruang dan waktu, melalui strategi integrasi vertikal dan horisontal. Secara umum, percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti penemuan internet yang memicu terjadinya globalisasi, yang kemudian mengarahkan tercapainya era konvergensi media massa; secara tak langsung menuntut kemampuan ganda dari para pekerja media. Di mana dalam konteks itu, para pekerja media termasuk di dalamnya para wartawan "dieksploitasi" untuk semakin memperkaya para pemilik media massa. Terbukti kesejahteraan wartawan di Indonesia masih cukup rendah.

Merujuk data penelitian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2011, berikut ini disajikan daftar gaji bulanan yang diperoleh para wartawan berbagai media massa di kawasan Jakarta. Gaji wartawan Harian Bisnis Indonesia mencapai Rp 4.979.280; Harian Kompas Rp 5.500.000; Tabloid Kontan Rp 3.700.000; Harian Republika Rp 2.300.000; Harian Jurnal Nasional Rp 2.500.000; LKBN Antara Rp 2.700.000; Harian Seputar Indonesia Rp 2.250.000; Koran Tempo Rp 2.700.000; Harian Indopos Rp 3.300.000; Harian Pos Kota Rp. 1.700.000; Harian Berita Kota Rp 2.800.000; Harian Warta Kota Rp 2.700.000; Harian Jakarta Globe Rp 5.500.000; Harian Rakyat Merdeka Rp 2.000.000; Harian Sinar Harapan Rp 2.000.000; Majalah Swa Rp 2.696.990; Majalah Gatra Rp 2.500.000; TPI/MNC TV Rp 2.400.000; Trans TV Rp 2.500.000; SCTV Rp 2.500.000; DAAI TV Rp 2.480.000; Radio KBR 68H Rp 3.300.000; I Radio Rp 2.400.000; Radio Sonora FM Rp 3.300.000; Hukumonline.com Rp 1.600.000; Kompas.com Rp 2.700.000; Detik.com Rp 2.400.000; Vivanews.com Rp 2.600.000; Okezone.com Rp 2.300.000; TV One Rp 3.500.000 (AJI, 2011). Jika dibandingkan dengan perolehan gaji wartawan yang bekerja di daerah, tentunya angka jauh dari nominal di atas. Bahkan angkanya masih banyak yang berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Bagaimana kondisi riil sistem penggajian di negara tetangga. Bersandarkan data penelitian yang dilakukan Universitas Indiana dan Poynter Institute di Amerika Serikat (2002), upah jurnalis di Amerika Serikat rata-rata memiliki pendapatan USD 43.600 per tahun; atau sekitar USD 3.633 per bulan. Sedangkan jurnalis di Filipina, seperti jurnalis MindaNews yang sudah menjadi karyawan tetap mendapat upah bulanan P 10.000 per bulan (sekitar USD 238). Untuk yang bekerja di SunStar, upah per bulannya rata-rata P 8.000 per bulan (USD 190). Untuk yang bekerja di koran komunitas Iloilo, gaji bulanannya berkisar antara P 6.000 (USD 142) sampai P 8.000 per bulan (USD 190). Di Malaysia, merujuk data www.pressreference.com, jumlah surat kabar di sana hanya ada 31 suratkabar harian. Jurnalis di sana rata-rata mendapatkan upah 1.800 Ringgit atau sekitar Rp 5.124.600 per bulan.

Dengan masih relatif rendahnya perolehan gaji yang didapatkan oleh para wartawan di Indonesia, jika disandingkan dengan gaji wartawan di negara lainnya; jelas sangat berpengaruh pada profesionalitas kerja mereka. Untuk itulah diperlukan upaya bebagai pihak (perusahaan media, organisasi wartawan, Dewan Pers, KPI, dll) untuk menaikkan gaji wartawan profesional. Program Standar Kompetensi Wartawan (SKW) yang sudah diberlakukan sejak tahun 2011; dan kini sudah meluluskan sekitar 3000-an wartawan profesional; seharusnya juga diikuti dengan upaya peningkatan gaji yang mereka peroleh. Sebagaimana yang berlaku dalam dunia pendidikan, di mana guru yang lulus uji sertifikasi guru; otomatis mendapatkan gaji bulanan yang besarnya dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Hal ini perlu dilakukan agar yang kaya dalam industri media massa tidak hanya pemiliknya saja; melainkan juga para wartawannya juga.

Tren Pengusaha Media menjadi Politisi

Di zaman Orde Reformasi, media massa menjadi sangat liberal (bebas), bahkan berubah menjadi kekuatan yang ampuh dalam mengontrol pusat-pusat kekuasaan. Dan kecenderungan yang terjadi selama ini, malahan para praktisi media massa termasuk para konglomerat media massa di Tanah Air berambisi besar menjadi penguasa politik. Entah dengan bergabung atau mendirikan organisasi politik atau dengan mendeklarasikan keikutsertaannya dalam pesta demokrasi 5 tahunan bernama Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah.

Dari analisis politik, Pemilu dan Pilkada merupakan agenda 5 tahunan yang menjadi ajang pertarungan politik paling nyata antara para politisi, pemilik modal (pebisnis), akademisi, peneliti dan massa. Sah-sah saja para pemilik media massa memiliki kepentingan besar dalam berbagai momentum politik berupa pesta demokrasi. Sebab hajatan politik berupa Pemilu dan Pilkada, akan mengubah tatanan politik dalam skala nasional dan lokal. Implikasinya sangat luas, pergantian kepemimpinan nasional maupun lokal berpengaruh besar pada berbagai kebijakan politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan hingga pertahanan dan keamanan.

Sangat wajarlah para konglomerat media massa berlomba-lomba dalam memberikan dukungan politik maupun finansial kepada para kandidat pemimpin, entah mereka yang memperebutkan jabatan eksekutif maupun legislatif. Dengan harapan adanya pergantian atau pemertahanan pucuk-pucuk pimpinan di berbagai institusi pemerintahan, secara tidak langsung memberikan keuntungan bisnis pada keberlangsungan eksistensi media massa yang dimiliki. Kompetisi bisnis antara para konglomerat media massa, akhirnya tidak murni bersinggungan dengan masalah perebutan pangsa pasar yang terbuka bebas (likuid). Melainkan sudah memasuki wilayah pengaruh politik, di mana masing-masing konglomerat media merasa memiliki kepentingan politik untuk melipatgandakan keuntungan bisnis perusahaan media, sekaligus kalau bisa menancapkan pengaruhnya pada pusat-pusat kekuasaan. Sebab pusat-pusat kekuasaan itu sangat efektif dalam memengaruhi pasar atau masyarakat.

Terjunnya para konglomerat media massa dalam dunia politik, apakah dapat dikatakan akan mengurangi idealisme media massa dan juga berpengaruh negatif pada masa depan politik di Indonesia? Pertanyaan di atas, sangat tepat menjadi bahan penelitian/kajian lintas sektoral, khususnya para peneliti politik, tata negara, hukum dan psikologi komunikasi. Sebab dengan keterlibatan para pengusaha media massa, misalkan Surya Paloh yang memiliki Media Group (Metro TV, Media Indonesia, Lampungpost dll.) melalui Partai Nasional Demokratnya, serta Dahlan Iskan yang memiliki Jawa Pos Group yang kini menjadi Menteri BUMN; jelas berpengaruh besar pada kemurnian media massa dalam mencerdaskan publik. Sebab, pada konteks itu; Media Group akan memiliki “sikap ganda” dalam memberitakan berbagai hal yang berkaitan dengan Surya Paloh dan Partai Nasional Demokrat serta berita-berita yang dinilai sebagai kontrapolitiknya. Begitu pun dengan Jawa Pos Grup, tentu saja akan memiliki “ambiguitas” dalam menentukan sikap ketika mengkritisi keburukan/kekurangan yang dimiliki oleh Dahlan Iskan, Kementerian BUMN dan jajaran di bawahnya.

Dalam teori ekonomi politik media, sebuah gagasan yang dimunculkan oleh kelompok pemikir dari Frankfurt School Jerman; menyatakan bahwa berbagai kebijakan redaksional yang digulirkan oleh perusahaan-perusahaan media massa sangat terdekte oleh berbagai kepentingan ekonomi (bisnis) dan kepentingan politik (kekuasaan) dan menihilkan pengaruh idealisme dalam mendirikan media massa. Hal ini menyebabkan adanya fenomena persekongkolan (konspirasi) antara para politikus dan pengusaha media massa. Sebab para politikus memiliki kepentingan untuk mempublikasikan berbagai pemikiran dan gagasannya agar diketahui publik, sedangkan media massa membutuhkan sumber-sumber berita yang mampu menarik minat dari kalangan pembaca, pendengar dan pemirsa.

Dengan terjunnya para pengusaha media massa (konglomerat media), teori politik ekonomi media massa tersebut seolah lebur dalam satu pihak. Kini para pengusaha media massa itu sekaligus yang menjadi politisinya. Artinya, mereka akan menggunakan perusahaan media massa yang dimiliki sebagai alat propaganda. Yakni menyosialisasikan berbagai manuver-manuver politik maupun nonpolitik yang dimiliki oleh pengusaha media massa yang telah berprofesi ganda menjadi politisi tersebut, untuk merealisasikan keinginan atau cita-cita (ambisi) politik para pemilik media massa atas kekuasaan legislatif dan eksekutif.

Politik hegemoni dan hegemoni politik akan mendera kehidupan bangsa ini, ketika negeri ini dikuasai oleh para politikus yang notabene-nya para pemilik atau konglomerat media massa. Probabilitas lainnya, terjadi perseteruan atau pertarungan nyata antara berbagai perusahaan media massa di Indonesia yang dikuasai oleh para politisi, sebagai akibat dari politik hegemoni. Di mana seorang politisi ingin menebarkan pengaruh kuat kepada seluruh penduduk, agar mudah memenangkan berbagai kompetisi politik melalui Pemilu dan atau Pilkada. Dalam bahasa bisnis perniagaan, politik hegemoni sama artinya dengan politik monopoli. Di mana hanya ada satu pemain tunggal saja yang menguasai seluruh sendi kehidupan.

Maka tidak terelakkan lagi, media massa menjadi institusi bisnis (berfungsi untuk mengeruk keuntungan), institusi politik (bermaksud untuk menyebarkan berbagai ideologi dan pengaruh) sekaligus menjalankan fungsi keberpihakan pada publik (pembebasan publik atas ketertutupan informasi dan berusaha mencerdaskannya). Tiga fungsi yang dimainkan media massa tersebut, berimplikasi besar pada politisasi media massa di Tanah Air. Kendati pun, hal tersebut tidak bisa terbaca secara terang-terangan (vulgar), tetapi lebih bersifat tersamarkan.

Liputan Komprehensif (Liputan Mendalam, Liputan Investigatif, dan Liputan Interpretatif)

Saya sengaja membedah berbagai persoalan mengenai peta kepemilikan media massa di Indonesia sekarang; wartawan, media (massa dan sosial) dan perubahan sosial; ekonomi politik media dan gaji wartawan; dan tren pengusaha media menjadi politisi agar kita bisa mengenai kondisi riil yang tengah dihadapi wartawan di masa kini. Sehingga berbagai kondisi di atas sangat mempengaruhi kualitas produk jurnalistik yang dihasilkan dan independensi yang dimiliki. Liputan investigatif sehingga menghasilkan berita yang berimbang dan objektif; hanya bisa dilakukan oleh para wartawan yang benar-benar memiliki 9 mental ideal sebagai jurnalis yang disebut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2006) sebagai 9 Elemen Penting Jurnalisme yakni: kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, loyalitas pertama jurnalisme kepada publik (masyarakat), intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi, wartawan harus tetap independen dari pihak yang mereka liput, pemantau kekuasaan, jurnalisme harus menghadirkan sebuah forum untuk kritik dan komentar publik, wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan, wartawan harus menjaga berita proporsional dan komprehensif dan wartawan harus mendengarkan suara hati nuraninya (Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel, 2006).

Namun menurut saya, 9 elemen penting jurnalisme di atas perlu ditambahkan 1 elemen (pilar) lagi agar para wartawan pada masa kini benar-benar bisa independen dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Yakni setiap wartawan harus mendapatkan jaminan kesejahteraan hidup dari perusahaan dan negara; sekaligus memiliki "saham bersama" dalam perusahaan tempatnya bekerja. Maka ketika 9 elemen penting jurnalisme plus 1 elemen tambahan jurnalisme di atas dapat dimiliki oleh setiap wartawan; maka kinerja para wartawan sudah tak bisa diragukan lagi kualitasnya. Dalam praktiknya, masih sangat minim jurnalis yang mau melakukan liputan komprehensif yang meliputi liputan mendalam, liputan investigatif dan liputan interpretatif. Sebab kebanyakan jurnalis pada saat ini inginnya menghasilkan karya jurnalistik yang serbainstan. Apalagi di masa kini, industri media massa menuntut faktor kecepatan dan ketepatan; terutama di media online yang mengandalkan pada teknologi internet.

Menurut Ullmann dan Honeyman, liputan investigatif yakni sebagai sebuah kerja menghasilkan produk dan inisiatif yang menyangkut hal-hal penting dari banyak orang atau organisasi yang sengaja merahasiakannya, yang meliputi 3 elemen dasar yang mendorong kerja penyelidikan oleh wartawan yakni laporan investigasi bukanlah laporan yang dibuat oleh seseorang, subjek kisahnya meliputi sesuatu yang penting alasannya bagi pembaca /pemirsa, dan menyangkut sejumlah hal yang disembunyikan dari hadapan publik. Namun menurut Chris White: menerjemahkannya sebagai pekerjaan jurnalis yang bertujuan untuk mengungkapkan dan mendapatkan sebuah kisah berita yang bagus dan menjaga masyaraat untuk memiliki kecukupan informasi dan mengetahui adanya bahaya di tengah kehidupan mereka. Sedangkan menurut pendapat Rivers dan Mathews, menerjemahkannya sebagai pekerjaan membuka pintu dan mulut yang tertutup rapat. Goenawan Muhammad memgartikan investigative reporting sebagai upaya reportase investigatif yang tengah bergerak mengikuti naluri penciuman untuk membuka upaya pihak-pihak yang menutupi-tutupi suatu kejahatan dan Atmakusumah mengartikannya sebagai kegiatan peliputan yang mencari, menemukan dan menyampaikan fakta-fakta adanya pelanggaran, kesalahan atau kejahatan yang merugikan kepentingan umum atau masyarakat. Namun apapun definisi dari liputan investigatif, menurut Atmakusumah, liputan investigatif hanya memiliki 5 tujuan utama dan karakter/sifat, yakni: untuk mengungkapkan kepada publik informasi yang perlu mereka ketahui, karena menyangkut kepentingan atau nasib mereka; laporan penyelidikan tidak hanya mengungkapkan hal-hal yang secara operasional tidak sukses, tapi dapat juga sampai kepada konsep yang keliru; laporan penyelidikan memiliki risiko tinggi, karena bisa menimbulkan kontroversi, kontradiksi dan konflik, sebab jurnalis harus menggali bahan-bahan informasi yang dirahasiakan, karena itu jauh hari sebelumnya, harus dipikirkan benar berbagai akibat yang ditimbulkan terhadap subjek laporannya serta penerbitan pers itu sendiri; maka untuk menghadapi dilema di atas dibutuhkan kecintaan dan semangat pengabdian kepada kepentingan publik, termasuk menjaga idealisme para jurnalis dan seluruh struktur organisasi penerbitan pers (Santana K, Septiawan. 2004).

Mengingat tantangan dan hambatan yang bakal dihadapi oleh para wartawan investigatif sangat besar, idealnya juga mereka harus memiliki karakter ideal yakni: selalu ingin tahu (wants to know), mampu mendapatkannya (able to find out), mampu memahaminya (able to understand), mampu menyampaikannya (able to tell the public), menimbulkan keinginan bereaksi (wants actions), peduli terhadap permasalahan orang lain (cares about people also), memiliki cukup pengetahuan fakta-fakta (facts knowledge), memiliki rasa iba terhadap pembaca (private conscience/readers), memiliki kepedulian aksi publik (public action), memiliki kecukupan informasi hukum untuk melawan berbagai ketamakan (laws/against greeds) dan memiliki kecukupan semangat untuk melakukan perbaikan sosial (reform).

Menurut Burgh, berbagai wilayah atau ruang lingkup liputan investigasi, meliputi: hal-hal yang memalukan yakni berhubungan dengan perkara ilegal atau pelanggaran moral; penyalahgunaan kekuasaan; dasar faktual dari hal-hal yang tengah menjadi pembicaraan publik; keadilan yang korup; manipulasi laporan keuangan; bagaimana hukum dilanggar; perbedaan antara profesi dan praktisi; serta hal-hal lain yang sengaja disembunyikan (Santana K, Septiawan. 2004).

Menurut Coronel, ada dua tahap dalam liputan investigasi. Tahap satu: petunjuk awal (first lead); investigasi pendahuluan (initial investigation); pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis); pencarian dan pendalaman literatur (literature search); wawancara pakar dan nara sumber (interviewing experts); penjejakan dokumen (finding a paper trail); wawancara sumber kunci dan saksi (interviewing key informants and sources). Tahap selanjutnya: pengamatan langsung di lapangan (firts hand observation); pengorganisasian data (organizing files); wawancara lebih lanjut (more interviews); analisis dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data); penulisan (writing); pengecekan fakta (fact checking); dan pengecekan pencemaran nama baik (libel check) (Santana K, Septiawan. 2004).

Terlepas dari rasa suka atau tidak suka, menurut pandangan saya, Koran Tempo dan Majalah Tempo merupakan 2 buah media cetak yang layak dijadikan referensi menarik sebagai model media massa yang mengembangkan tipe "liputan investigatif" untuk setiap karya-karya jurnalistik mereka; meskipun dalam perjalannya media cetak tersebut pernah terbentuk kasus di mana Bambang Harymurti, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo menerbitkan berita berjudul: “Ada Tomy di Tenabang” di Majalah Tempo edisi 3/9 Maret 2003 yang dinilai "provokatif, berita bohong"; sehingga mengakibatkan yang bersangkutan divonis 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta; kendati dalam perjalanannya, Mahkamah Agung memutuskan membebaskan Bambang Harymurti dari segala dakwaan di atas.

Tak ada satupun media massa di Indonesia yang netral dan terbebas dari kepentingan ekonomi politik media. Selagi peta kepemilikan media massa di Indonesia hanya dimiliki oleh 13 grup perusahaan swasta nasional. Di mana ke depan akan mengarah terjadinya duopoli media dan akhirnya menjadi monopoli media. Monopoli media massa oleh satu perusahaan besar media massa merupakan kiamat besar bagi peradaban industri media massa; sebab segala informasi menjadi monoton, sama dan homogen. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Yanuar Nugroho, dkk. Serta Merlyna Lim (2012), ada 13 grup perusahaan media raksasa (swasta) menghegemoni berbagai jaringan media cetak, elektronik dan media online di Indonesia. Mereka adalah MNC Group, Kompas Gramedia Group, Elang Mahkota Teknologi, Mahaka Media, CT Group, Beritasatu Media Holdings (Lippo Group), Media Group, Visi Media Asia, Jawa Pos Group, MRA Media, Femina Group, dan Tempo Inti Media serta Media Bali Post Group (KMB). Konsentrasi kepemilikan industri media terjadi sebagai konsekuensi logis yang tak dapat terelakkan dari kepentingan para pemilik modal dalam mendorong perkembangan industri media di Tanah Air. Bangsa ini hanya memiliki tiga perusahaan media massa yang bisa dikatakan milik publik, yakni: TVRI, RRI dan Antara. Itupun keberadaannya, selama ini lebih dikatakan sebagai “milik penguasa” bukan milik publik atau rakyat.

Jelaslah adanya oligopoli media, yang mengarahkan terciptanya monopoli media massa mengancam hak publik dalam mengakses informasi secara liberal, demokratis, interaktif dan menyehatkan, sebab perusahaan media massa dikendalikan para pemilik modal dan digunakan untuk mengeruk keuntungan. Tentunya media masssa menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka yang mencari kekuasaan. Hal ini terutama terjadi dengan sejumlah pemilik media yang erat terhubung ke politik (Supadiyanto, 2013).

Media massa memang menjadi alat propaganda sekaligus menjadi alat penggerak sosial (massa) yang sangat efektif untuk melakukan berbagai perubahan sosial. Makanya para politisi dan pejabat negara memiliki kepentingan dengan media massa, dan memanfaatkan keberadaannya untuk kepentingan mereka juga. Sudah sewajarnya juga para aktivisi mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memberdayakan keberadaan media massa dan jaringan media sosial untuk melakukan konterhegemoni terhadap berbagai ideologi, kebijakan dan wacana yang merugikan siapapun.

Teori ekonomi politik media massa yang dimiliki oleh Vincent Mosco, bisa menjelaskan mengenai relasi antara kepentingan bisnis dan kepentingan politik para pemilik media massa, praktisi media massa dan penguasa negara. Masih rendahnya gaji bulanan yang diperoleh para wartawan di Indonesia menjadi salah satu penyebab utama mengapa karya jurnalistik yang dihasilkan sebagian wartawan masih dangkal, rendah dan masih jauh dari kategori sempurna. Progran Standar Kompetensi Wartawan (SKW) yang digalakkan oleh Dewan Pers sejak tahun 2011; belum diikuti dengan upaya peningkatan kesejahteraan wartawan di Indonesia. Semakin maraknya para pemilik media massa (konglomerat media) yang terjun menjadi politisi, entah dengan mendirikan partai politik baru maupun bergabung dengan partai politik lama merupakan strategi "ekonomi-politik" yang kini menjadi tren dalam industri media. Para pemilik media massa itu memiliki kepentingan untuk mengincar berbagai posisi dalam kursi kekuasaan eksekutif; misalkan dengan menjadi presiden, wakil presiden maupun menteri. Pemilu 2014 merupakan pertarungan besar-besaran antara para politisi yang merangkap sebagai pengusaha media massa seperti Aburizal Bakrie, Harry Tanoesoedibjo, Surya Dharma Paloh dan Dahlan Iskan, bahkan Chairul Tanjung. Tidak menutup kemungkinan, para pemilik media massa yang lainnya juga memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang sama; terkait dengan pucuk kepemimpinan nasional; karena mereka sangat menentukan berbagai kebijakan pembangunan ipoleksosbudhankamnas yang akan digulirkan di masa depan.

Liputan komprehensif yang meliputi liputan mendalam (indepth reporting), liputan investigatif (investigative reporting) dan liputan interpretatif (interpretative reporting); merupakan intisari atau nyawa dari kegiatan jurnalistik itu sendiri. Liputan investigatif yang sekarang ini jarang diterapkan oleh para wartawan; mengakibatkan maraknya karya jurnalistik yang kurang berimbang (imparsialitas) dan kurang objektif. Kunci sukses untuk menjadi jurnalis investigatif yakni kecakapan mereka dalam menggali informasi yang tersembunyi, tak pernah kenal putus (pantang menyerah), berani menghadapi ancaman bahkan teror kematian dan berbagai hambatan waktu, dana dan tenaga.

Sesungguhnya liputan investigatif bukanlah karya individual, melainkan karya tim (kolegial); sehingga lebih solid, komprehensif dan multiparadigma. Untuk menjadi wartawan investigatif, sesungguhnya menjadi wartawan yang peneliti; sebab pekerjaan wartawan itu sama dengan peneliti; bahkan sama juga dengan pekerjaan intelejen. Dengan demikian, hasil liputan investigatif mempunyai kemampuan untuk memprediksi masa depan, dengan bermodalkan hasil analisis data yang diperoleh secara mendalam, kejelian dan pantang berputus asa. Mengenai model penulisan berita investigatif, cenderung mengembangkan model penulisan softnews atau feature; bukan hardnews. Kendati sangat memungkinkan bagi jurnalis investigatif untuk menuliskan hasil laporannya dalam "bentuk hardnews yang berseri".

Sudah saatnya bagi Anda berstatus sebagai mahasiswa, aktivis kampus, peneliti dan dosen untuk menghegemoni media massa cetak dan elektronik dalam makna yang sesungguh-sungguhnya, atau dalam konteks penghegemonian wacana intelektual... Atau Anda akan terhegemoni oleh mereka, sadar atau tidak sadar, segera atau tempo yang akan datang. (***)

Semarang, 17 Mei 2013, pukul 21.42.10 WIB

 

 

*) Makalah pendek ini termuat juga di Kompasiana edisi Ahad, 19 Mei 2013 (bisa diklik di sini: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/05/19/ekonomi-politik-media-riset-gerakan-sosial-dan-perubahan-sosial-557390.html) dan pernah saya sampaikan dalam Sekolah Kementerian yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) “Kabinet Bangkit Bergerak” di Gelanggang Mahasiswa UGM Yogyakarta pada Sabtu, 18 Mei 2013 pukul 10.00.00 - 12.15.00 WIB


 
Artikel Lainnya...

Deputi IV Staf Presiden Hadiri Pelantikan Suroto sebagai Ketua DPW Permata Riau
Minggu, 30 April 2017

KOPI, Pekanbaru - Tatang B . Tama Deputi IV kantor Staff kepresidenan membidani lahirnya Permata (Perkumpulan Masyarakat Transmigrasi). Permata relawan pasangan Jokowi - Jusuf Kalla saat Pilpres tahun 2014 kemaren. Ketua Umum DPP Permata,  Yana Achbarie melantik pengurus DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Propinsi Riau yakni Suroto, ST, MT sebagai ketua DPW Permata Riau, Sekretaris Dalimin. Dalam sambutannya Yana mengatakan, “Program Permata... Baca selengkapnya...

YAPMI Gandeng PPWI Selenggarakan Pemilihan Top Model Junior Indonesia 2017
Sabtu, 29 April 2017

KOPI, JAKARTA - Berdasarkan hasil konsultasi dan pertemuan PPWI Nasional dengan perwakilan dari Yayasan Pembina Model Indonesia (YAPMI), kedua pihak bersepakat untuk saling mendukung dan bekerjasama dalam penyelenggaraan event pemilihan Top Model Junior Indonesia tahun 2017, yang grand finalnya akan diadakan di Jakarta pada September 2017. "Kegiatan audisi pemilihan calon Top Model Junior di daerah-daerah akan berlangsung di bulan Mei s/d... Baca selengkapnya...

Komedi Senyum Lakukan Kunjungan Sosial ke Panti Asuhan Maria Immaculata
Kamis, 27 April 2017

KOPI, Jakarta - Seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi yang masuk dalam kehidupan kita saat ini, termasuk serangan pengaruh budaya barat yang begitu sedemikian dahsyatnya menerpa generasi muda kita, yang dampaknya tidaknya di kota metropolitan saja, namun sudah sampai ke daerah-daerah nusantara pelosok, yang sudah tidak mampu lagi dibendung oleh pemerintah kita yang menyebabkan, perubahan yang sangat mendasar pada tatanan kehidupan... Baca selengkapnya...

Alamak... Cantik Kali, Supir Uber Taksi Filipina
Rabu, 26 April 2017

KOPI, Filipina - Pemerintah kota Pekanbaru kurang kreatif, bila supir Trans Metro atau Bus Way pengemudinya seorang wanita cantik dan seksi , pasti banyak orang menaiki bus Trans Metro khususnya pria dari berbagai latar belakang profesi dan suku.   Bus Trans Metro milik Pemkot (Pemerintah kota Pekanbaru) pengemudinya pria.Pengelola bus Trans Metro tidak kreatif, inovatif mencari gebrakan baru agar masyarakat pergi kekantor menaiki bus... Baca selengkapnya...

Pansus I DPRD Padang Panjang Kulap ke PDAM
Minggu, 23 April 2017

KOPI, PADANG PANJANG - Meskipun pelanggan Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang Panjang 8000 pelanggan, namun PDAM masih tetap mengalami kerugian investasi. Hal ini dikatakan oleh Plt Direktur PDAM Padang Panjang, Jevie C Eka Putra. Menurutnya, kondisi ini terjadi dikarenakan terjadinya kebocoran pipa air yang sudah tidak layak pakai.   "Saat ini kita baru mampu mengganti pipa sepanjang 1,2 km dengan pipa paralon. Karena tahun 1989... Baca selengkapnya...

SDN 18 Sungai Pandahan Rehab Taman Kota
Jumat, 21 April 2017

KOPI, Pasaman - Yulinar, S.Pd kepala SDN 18 Sungai Pandahan Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman bersama majelis guru melaksanakan perehaban taman kota Lubuk Sikaping. Saat media ini turun ke lokasi kepala sekolah menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan atas anjuran dari pemerintah daerah, (20/04). "Pemerintah daerah menghimbau kepada seluruh instansi untuk membuat taman bunga masing-masing di wilayah Kecamatan Lubuk Sikaping," tutur... Baca selengkapnya...

Peringati HUT TMII, Bupati Pasaman Lepas Rombongan Seni Budaya ke Jakarta
Jumat, 21 April 2017

Bupati Yusuf Lubis saat menyalami rombongan menjelang keberangkatan ke Jakarta. KOPI,  Pasaman - Puluhan rombongan seni budaya dari Group Sanggar Pasaman Saiyo dilepas Bupati Pasaman Yusuf Lubis menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis 20 April 2017. Pelapasan rombongan tersebut dalam rangka ulang tahun TMII di Jakarta. “Di samping HUT TMII, pihak panitia juga menggelar pegelaran budaya di Jakarta. Jadi, kesempatan kita dari... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALMenjijikkan, Ditemukan Kotoran Manusia d.....
30/03/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Lisburn – Di kutip dari The Guardian, ditemukan kotoran manusia dalam kaleng minuman berkarbonasi yakni Coca Cola. Kotoran manusia ditemukan  [ ... ]



NASIONALSudut Pandang PPWI Terhadap Jurnalisme.....
18/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

KOPI, Solok - Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA., yang merupakan lulusan PPRA Lemhannas tahun 20 [ ... ]



DAERAHBersama KPK, 19 Kabupaten/Kota Komitmen .....
29/04/2017 | M. Dwi Richa JP

Bersama KPK, 19 Kabupaten/Kota Komitmen Wujudkan Pemerintahan Bersih KOPI, Pasaman - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  Republik Indonesia meminta  [ ... ]



EKONOMIMother & Baby Fair 2017 Digelar 2 Kali d.....
27/04/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Menginjak tahun ke-10, untuk pertama kalinya Mother & Baby Fair Jakarta diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Periode pertama digelar  [ ... ]



HANKAMBazar HUT Kostrad ke-56, Obral Sembako M.....
08/03/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam rangka memeriahkan HUT ke-56, Kostrad menyelenggarakan “Bazar Murah Prajurit Kostrad & Insan Media”, Rabu (8/03/2017) berte [ ... ]



PARIWISATAPesona Wisata Sampuran Sorosah Kabupaten.....
24/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

Pesona Wisata Sampuran Sorosah April 24, 2017 KOPI, Pasaman : Satu lagi Destinasi Wisata Air Terjun yang tersembunyi di Alam Pasaman. Air Te [ ... ]



POLITIKKades Pelalawan : "Kami Ucapkan Salam Te.....
14/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Kepala Desa (Kades) merupakan perpanjangan pemerintahan pusat ke daerah. Semasa pemerintah Gubernur Riau (Gubri) yang terdahulu y [ ... ]



OPINIPenelitian Tindakan, Mengapa Begitu Pent.....
11/04/2017 | Nova Indra

Cara yang digunakan untuk mengeksplorasi informasi untuk memperoleh variasi perbaikan alternatif atas dasar aspek praktis; dalam hal ini adalah memp [ ... ]



PROFILBrigadir David Gusmanto Bhabinkamtibmas .....
30/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Taratakbuluh- Brigadir David Gusmanto , Bhabinkamtibmas desa Teratak buluh, Polsek Siak Hulu, kabupaten Kampar, propinsi Riau berdayakan pemuda [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAEksistensi dan Peran RT - RW Harus Diper.....
25/02/2017 | Redaksi KOPI

KOPI, Makassar - Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Pewarta Warga Indonesia - Sulsel, (DPD PPWI Sulsel Ir. Imansyah Rukka mengatakan peran rukun te [ ... ]



ROHANIShalat Pengisi Ruang Hati Dihadapan Alla.....
17/05/2016 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI,Jakarta, Dalam sehari semalam kita diwajibkan untuk shalat sebanyak lima kali. Setelah itu juga dianjurkan memperbanyak shalat-shalat sunat lainn [ ... ]



RESENSIMARS, Film Kisah Perjuangan Meraih Mimpi.....
03/05/2016 | Zohiri Kadir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Bertempat di XXI, Palaza Senayan, Jakara, Senin 92/5/2016) dan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2016 , Multi Buana K [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIRinduku Terkubur di Kampung Lansek.....
21/02/2016 | Nova Indra

siang ini
riak Tabek Kaluai masih sama
saat hatiku bicara tentangmu
tentang cinta, tentang rindu kita

hingga kini
terngiang gelak tawa
dua pecinta ber [ ... ]



CURAHAN HATIWaspadalah… Modus Penipuan Menjual Nam.....
06/04/2017 | Didi Ronaldo
article thumbnail

KOPI, Siak Hulu, Waspadalah Gerombolan begal beraksi wilayah Siak Hulu, kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Kami memantau gerak-gerik gerombolan Begal te [ ... ]



SERBA-SERBIKetua Bhayangkari Riau Milawati Kagum.....
30/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pelalawan – Kagum dengan keindahan batik tulis bono Pelalawan, Ketua Bhayangkari Daerah Riau Ibu Milawati Zulkarnain beserta rombongan  melak [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.