“EAN” Puan vs Tuan

0
23

Pewarta-Indonesia, Tuan tak bisa mesti selamanya menjadi juragan. Puan, juga tak punya hukum alam untuk tetap menjadi bos besar. Tuan dan puan, suatu ketika—pada momentum tertentu-entah dalam jangka waktu satu tahun, dua, tiga tahun atau entah berapa lama itu; bisa saja ia menjadi yang dipertuan, atau diperpuan.

Anda ikhlas mau bukti konkretnya. Ah sederhana itu, Rek? Lihat itu perjalanan karir para pejabat tinggi di negeri ini. Dulu–Susilo Bambang Yudhoyono secara struktural adalah “anak buah” dari Wiranto. SBY juga pernah menjadi “adik buah” dari Megawati Soekarnoputri. Wiranto sendiri jelas pernah sudah menjadi “keponakan buah” Megawati. Bahkan Prabowo, juga boleh dikata sebagai “adik sepupu buah” dari Wiranto.

Tapi sekarang, suasana sudah lain benar. Zaman sewaktu-waktu bisa berubah. Laju roda cakra manggilingan bisa berputar dengan ritme cepat, bolak-balik, banting ke kanan atau serong ke kiri; tampak seperti tak terkendali lagi dari arah kejauhan maupun kedekatan. Dulu yang menjadi “bapak buah” atau “ibu buah” bisa jadi akan kembali lagi menjadi “anak laki-laki buah” dan atau “anak perempuan buah”. Bisa saja Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang dalam masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu tetap menjadi “anak buah” dari SBY; tidak mustahil bisa melejit menjadi “bapak buah”; ya tentu saja harus melalui proses seleksi nasional yang bernama Pilpres 2009 itu.

Jadi hubungan antara tuan-puan dan yang dipertuan-diperpuan; pada kondisi tertentu bisa naik-turun; mulur-mungkret (istilah Jawa bilang); tergantung faktor keberuntungan, kecerdikan dan olah strategi serta hukum alam. Banyak orang masiah terus menyangka, kini sukses menjadi miliarder; tapi jangan yakin dulu kalau sepuluh tahun mendatang tetap memiliki banyak simpanan uang di bank-bank luar negeri sana. Malahan, siapa menyangka uang tabungan itu; besok pagi menjadi barang utangan yang besarnya juga tak lebih kecil dari jumlah tabungan yang sekarang tersimpan itu.

Tapi bukankah sungguh beruntung sekali bukan orang yang sudah sejak dari kecil, langsung diberi nama “Puan?”. Puan Maharani misalnya—sang anak kesayangan mantan Presiden RI yang kini mencoba lagi peruntungannya kembali melaju menjadi Calon Presiden Megawati Soekarnoputri itu. Dari kontur estetika nama asmanya saja sudah menjadi “Puan”. Artinya, walaupun ia suatu ketika dikondisikan menjadi orang bawahan misalkan; ia tetap berjiwa “puan”, “juragan”; bukan anak buah, pesuruh atau bawahan.

Kalau antara tuan head to head tuan, puan vis to vis puan atau saling silang antara—tuan versus puan—atau sebaliknya puan kontra tuan dalam Pilpres 8 Juli 2009—saling bertarung secara “ksatria dan betina”; pastilah akan terjadi pergesekan fisik, perbenturan intelektual, persinggungan sumber dana modal—tidak saja oleh tuan dan puan tersebut. Melainkan juga oleh tim sukses masing-masing dan pendukungnya.

Pergesekan fisik maksudnya terjadi kontak fisik antara tuan dan puan itu; maupun kontak fisik antarhulu balang dan wadya bala-nya. Tetapi yang menarik untuk dicermati di sini adalah bagaimana kompleksitisitasnya perbenturan intelektual dan adu sumber dana modal untuk sebuah kompetisi nasional tersebut.

Kalau diibaratkan sebuah kue donat, ada kelompok orang yang memperebutkan donat tersebut tapi terkait hanya ada tinggal satu donat saja; maka mau tak mau donat tersebut harus dibagi adil oleh sang penjualnya. Siapa yang membeli dengan persentase finansial yang lebih besar; tentunya bagian donatnya lebih besar. Dan siapa orang yang hanya memiliki tabungan dana kecil, serta tak berani adu strategi untuk merebut hati sang penjual donat tersebut; dijamin bagiannya ya kecil saja porsinya. Atau paling buruknya, ia tak kebagian sama sekali. Nol besar, begitu.

Apakah Anda masih ingin menjadi tuan atau puan, kalau begitu resikonya. Kalah, sama sekali. Atau menang tetapi kalah, kalah namun menang. Menang tapi menang, kalah tapi kalah beneran. Memang berat menjadi orang yang kalah bertarung, lebih mudah menanggung resiko menjadi orang yang menang. Tetapi tidak selalu orang yang menang, selalu senang.

Tak jarang orang yang kalah, lantas harus tidak senang. Semua punya resikonya masing-masing; tergantung pada diri kita masing-masing untuk menyikapi kemenangan dan atau kekalahan itu. Salah satunya dengan menggunakan strategi pemberian nama seseorang, “Puan atau Tuan”. Jika kalah namanya tetap Puan, menangpun tetap ksatria bernama Tuan. Begitukan? (**)