“EAN” Pecundang

0
24

Pewarta-Indonesia, Pecundang. Kerap kali orang mengumpat orang lain dengan sambil memelototkan matanya, “uh, dasar pecundang kau”. Dalam kamus keseharian, pecundang bisa saja kita samaartikan dengan sembrono, teledor, ciut nyali, penakut dan maksud lain yang setipe dengan itu.

Pecundang. Kalau ada politikus yang gemar mengambil uang rakyat, misalkan main proyek dengan kontraktor; bea proyek yang cuma habis setengah ribu juta rupiah, ia bilang habis satu setengah miliar. Lantas sisa kelebihan dari mark up proyek itu; ia kantongi dalam saku bajunya yang kedodoran itu—pantas pula ia kita sebut sebagai pecundang.

Ada lagi, kalau ada pemain sepak bola yang ia sudah berposisi di depan gawang lawan sembari menggiring bolanya dan sudah head to head dengan kipernya; namun di saat ia akan melancarkan tendangan mautnya; justru ia terpeleset; para penggemar bola menjuluki ia sebagai pecundang. Masih? Banyak dong, jika ada pencuri yang baru membuka jendela secara paksa; namun baru sekali ketok jendela itu sang empunya rumah langsung memergoki kecerobohan pencuri itu; rekan maling itu pasti akan menamai karibnya itu sebagai pecundang.

Anak-anak cowok seusia sekolah dasar zaman sekarang juga sudah gemar berpacaran. Ketika kepergok berbuat hal yang tak pantas itu, dua anak SD itu menangis meraung-raung karena betapa malunya ia diarak keliling kampung. Nah, anak model begini juga bisa kita bilang sebagai pecundang.

Sekarang kalau ada tiga calon presiden RI, lengkap dengan tiga pasang calon wakil presiden RI masing-masing; yang memperebutkan seperiuk nasi bernama “Istana Negara”, kemudian andai ia dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menyelundupkan emas-emas, ikan-ikan, minyak ke luar negeri untuk ia jual secara pribadi dalam kerangka mendanai bea kampanye ia dan tim suksesnya; apakah tidak pantas kalau ia misalkan kita sebut sebagai pecundangnya pecundang.

Kalau kemudian nanti, kita hanya bisa mendengarkan janji-janji kampanye tiga Capres-Cawapres itu; entah mereka nantinya akan menang, pun atau akan kalah; tetap saja tak bakal merealisir janji-janjinya tersebut; tidak sangat pantaskah kalau ia tidak kita namai juga sebagai bukan “pecundang”?

Pecundang, kadang kata itu amat kita benci kehadirannya. Seenak-enaknya mengucapakan kata “pecundang”, sejujurnya lebih nikmat untuk tidak bilang kata yang satu itu. Apalagi benar-benar menjadi seorang pecundang (beneran). Wuih, takut kita. (***)