Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Kolom Pewarta Wilson Lalengke Menggugat Kesaktian Pancasila

Menggugat Kesaktian Pancasila

Hakekatnya, Pancasila dipandang dan diletakkan sebagai suatu idealisme atau sesuatu keadaan ideal bagi sebuah tatanan kemasyarakatan bangsa Indonesia. Ia kemudian diadopsi menjadi sebuah ideologi negara yang secara kontekstual akan menjadi acuan ideologis bagi setiap elemen penyelenggara negara, yakni pemerintah dengan semua perangkat-perangkatnya yang tergabung dalam eksekutif, yudikatif, dan legislatif; dan juga elemen masyarakat seluruhnya. Dalam bahasa lain, Pancasila biasanya disebut sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, yang lebih berkonotasi sebagai pandangan dan pegangan hidup berbangsa dan bernegara. Sampai pada titik ini, hampir tidak ada persoalan yang ditemukan pada Pancasila.

Masalah kemudian muncul ketika kita menganalisa secara mendalam tentang apa itu falsafah dan apakah Pancasila cukup pantas untuk dikategorikan sebagai sebuah falsafah hidup? Secara singkat, falsafah adalah hasil berfilsafat atau berpikir atau kontemplasi. Menurut asal katanya, filsafat berarti mencintai dan pencinta kebijaksanaan (Bahasa Yunani, phílos: teman atau pencinta, dan sophía: kebijaksanaan). Dari pengertian ini kemudian orang memberikan julukan kepada para filosof sebagai “orang bijak”, yang selalu berpikir “bagaimana sebaiknya” sebelum mereka melakukan sesuatu tindakan.

Terdapat empat bidang yang menjadi fokus filsafat. Pertama disebut ilmu etika, yakni bidang ilmu filsafat yang mempelajari tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap dan bertingkah laku. Kedua adalah ilmu metafisika yang mempelajari tentang esensi alam dan segala isinya, termasuk hukum-hukum alam yang ada di dalamnya. Ketiga, epistemologi yang biasa disebut juga teori ilmu pengetahuan. Cabang ilmu filsafat ini berhubungan dengan kebenaran dan keyakinan yang menjadi dasar penerimaan sesuatu yang disebut pengetahuan. Keempat adalah ilmu logika, yang fokus kajiannya menyangkut logis tidaknya sebuah alasan dari sebuah tindakan atau fenomena.

Pendapat para ahli boleh saja berbeda antara ahli yang satu dengan yang lainnya tentang falsafah atau hasil kongkrit dari filsafat yang baik dan sempurna. Namun umumnya dipahami bahwa sebuah falsafah yang ideal semestinya merupakan perpaduan dari keempat sub elemen dari filsafat seperti disebutkan di atas. Sebagai contoh, Deontologi-nya Immanuel Kant (1724-1804) mengajarkan tentang “perbuatlah kepada orang lain apa yang anda inginkan orang lain perbuat terhadap anda” sebagai dasar ia bersikap dan berbuat sesuatu. Ini jelas sebuah ajaran etika dalam filsafat Barat, yang karena esensi alamiah setiap manusia adalah sama derajatnya maka perlakuan terhadap orang lain juga mesti sebanding dengan apa yang kita harapkan dari orang lain perbuat terhadap kita; dan ini adalah alur berpikir yang logis. Kebenaran dari pernyataan itu hampir tidak dapat terbantahkan, dan ketika ajaran itu diyakini oleh seseorang, maka ia kemudian menjadi ilmu pengetahuan.

Kembali kepada Pancasila; sebagai sebuah hasil berpikir mendalam, maka ia dapat dikatakan sebagai falsafah bagi komunitas yang membenarkan dan meyakininya. Namun pada tataran nilai per nilai di dalam Pancasila, perlu dilakukan kajian dan analisis yang lebih dari sekedar pemenuhan selera politis negara untuk mengklaim Pancasila sebagai suatu falsafah. Apalagi untuk mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi tanpa cacat yang harus diadopsi dan diyakini secara buta bagi warga negaranya.

Sebagai contoh, Sila pertama dari Pancasila berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Bicara ketuhanan, langsung atau tidak, pasti akan bersentuhan dengan yang namanya kepercayaan dan agama. Benar ada filsafat agama, namun pada titik kajian tentang eksistensi “Tuhan” dan “kekuasaan-Nya” yang bekerja mengatur alam semesta menjadi sumir dan tidak mendapatkan jalan keluar yang memuaskan secara logika. Akhirnya, pada setiap diskursus agama yang terbentur pada tembok besar “siapa tuhan?”, setiap orang berargumen bahwa ketuhanan sesuai dengan “ajaran agama” yang harus diyakini tanpa perlu bertanya “mengapa?” Contoh lain, Sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Esensi yang dikandung pada sila ini dapat dipahami sebagai suatu idealisme persatuan dan kesatuan semua unsur, manusia, tanah, laut, kekayaan alam, dan segalanya, yang ada di nusantara dari Merauke di Timur hingga ke Sabang di sebelah Barat. Keadaan “satu Indonesia” itu hampir tidak bermakna apa-apa secara filosofis, karena bilapun ada rasa saling menghormati antar sesama suku, antar masyarakat di Indonesia, dan kerjasama di antara mereka, hal tersebut bukan semata-mata dilakukan karena sila ketiga itu.

Berdasarkan pemikiran tersebut, Pancasila sebagai sebuah kesatuan antar sila-silanya pada titik tertentu memiliki kelemahan filsafati untuk disebut sebagai falsafah karena tidak seluruhnya mencerminkan kriteria filsafat secara teoritis maupun praktis. Namun pada sila-sila tertentu, seperti Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tetap mengandung nilai falsafah yang tinggi dan dapat diterima di setiap komunitas manusia di manapun berada. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia juga merupakan unsur falsafah yang perlu dijadikan pedoman berbangsa dan bernegara.

Terlepas dari benar tidaknya, diterima atau ditolaknya argumen di atas, yang paling penting bagi kita adalah memahami secara baik sebuah konsep nilai sebagai ilmu filsafat. Ketika konsep nilai itu tidak memenuhi standar keilmuan, yang salah satunya adalah memenuhi standar logika, maka konsep tersebut kurang tepat dikatakan sebagai falsafah. Ia hanya sebuah konsep keyakinan belaka yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya secara logika, sebagaimana halnya konsep agama dan aliran-aliran kepercayaan.

Kita ibaratkan Pancasila dapat dikategorikan sebagai sebuah falsafah hidup. Dalam kondisi ini, Pancasila semestinya juga dapat menjadi dasar pengembangan teori-teori filsafat selanjutnya sebagai “turunan” dari Pancasila itu sendiri. Sebagai contoh, teori keadilan-nya John Rawls (1921-2002) yang banyak jadi rujukan bagi kebijakan politik di negara-negara maju merupakan elaborasi lebih lanjut dari teori Utilitarianisme-nya Jeremy Bentham (1748-1832 ) dan John Stuart Mill (1806-1873). A theory of Justice (teori keadilan) hasil pemikiran filsuf Amerika, John Rawls, ini kemudian dijadikan landasan berpikir oleh pemikir lainnya untuk memunculkan idealisme “turunan” selanjutnya seperti Global Distributive of Justice (distribusi keadilan global) yang dikemukakan oleh salah satunya Prof. Goran Collste, seorang filsuf berkebangsaan Swedia.

Dalam konteks ini, Utilitarianisme sebagai sebuah falsafah hidup telah berperan aktif dalam mengatur tata nilai sebuah masyarakat, umumnya masyarakat Barat, dan falsafah tersebut dalam perjalanan sejarahnya mengalami pengembangan sesuai kebutuhan jaman dan kemajuan berpikir masyarakatnya. Dengan argumen ini, ingin ditegaskan bahwa bila memang Pancasila adalah sebuah falsafah hidup bagi sebuah bangsa bernama Indonesia, maka seharusnya konsep nilai tersebut dapat dijadikan landasan berpijak bagi menghasilkan “falsafah-falsafah turunan” selanjutnya sesuai dengan keadaan kekinian masyarakat Indonesia. Bila ia tidak mampu menjembatani kebutuhan pengembangan filsafat ke masa depan, maka Pancasila tidak lebih dari sebuah doktrin mati yang tidak bernyawa, yang justru tidak dapat dijadikan pandangan hidup berbangsa dan apalagi bernegara dalam jangka waktu yang lama.

Keberadaan Pancasila sebagai sebuah falsafah hidup mengundang tanda tanya besar ketika 1 Oktober dijadikan sebagai hari Kesaktian Pancasila. Sebagian orang memandang keinginan untuk mempertahankan peninggalan kebijakan orde baru itu justru melemahkan esensi Pancasila sebagai falsafah, penuntun manusia untuk hidup sebagai layaknya manusia beradab. Betapa tidak, bila Kesaktian Pancasila itu lahir atas dasar peristiwa berdarah, yang merupakan lembaran hitam bangsa ini. Logika mana yang dapat membenarkan bahwa Pancasila dianggap sakti ketika militer dan rakyat berhasil “menyelamatkannya” dengan melenyapkan jutaan nyawa manusia Indonesia yang notabene mengakui Pancasila sebagai miliknya juga? Jikapun yang dibunuh itu adalah kaum komunis, adakah Pancasila menuntun bangsa ini untuk menghabisi nyawa mereka?

Bukan hasrat ingin mengecilkan arti gugurnya beberapa jenderal di Lubang Buaya, namun apakah Pancasila mengajarkan untuk membunuhi orang lain (baca: rakyat) sebagai bayaran bagi tujuh jenderal itu? Tidaklah salah jika ada kalangan yang berpandangan bahwa pembunuhan besar-besaran pasca peristiwa 30 September 1965 itu bukan atas arahan atau tuntunan Pancasila, tetapi dilakukan oleh “oknum” pemerintah transisi saat itu. Artinya, Pancasila tidak harus menjadi kambing hitam sebagai “terdakwa” dalam diskursus ini. Jika logika tersebut boleh kita adopsi bersama sebagai sebuah kebenaran, maka sesungguhnya yang sakti itu bukan Pancasila, tetapi “oknum” pemerintah transisi masa itu alias pemerintah orde baru. Jadi seharusnya bukan hari Kesaktian Pancasila, tetapi hari Kesaktian Orde Baru.***

___________
Penulis Wilson Lalengke adalah alumnus program pascasarjana bidang studi Global Ethics (Inggris) dan Applied Ethics (Belanda, Swedia). Sumber awal: KabarIndonesia.Com, 30 September 2007, yang kemudian disadur-ulang oleh uncen.wordpress.com on December 6, 2007.

 

Tradisi Hari Raya Ka Gun di Gunung Sahilan- Kampar
Senin, 26 Juni 2017

KOPI, Gunung Sahilan - Rumah adat Sompu tempat berkumpul bagi anak kemenakan satu suku Masyarakat Gunung Sahilan. Disanalah mereka saling bermaafan dengan ninik mamak, sekaligus juga membicarakan soal masa depan suku, tanah soko, perincian uang soko. Dan disini pula tempat silaturrahim antar anak cucu, ninik mamak dengan sanak famili yang tinggal diluar Gunung Sahilan. Lebaran Ka Gun yaitu perayaan lebaran adat ini jatuh pada tanggal 2... Baca selengkapnya...

Dubes Maroko Bertukar Cenderamata dengan Ketum PPWI
Minggu, 25 Juni 2017

KOPI, Jakarta – Duta Besar Berkuasa Penuh Kerajaan Maroko untuk Indonesia, H.E. Mr. Oubadia Benadbellah berkenan memberikan cenderamata kepada ketua Umum PPWI Wilson Lalengke, beberapa waktu lalu di kediaman resmi Dubes Maroko, Jl. Mataram No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Cenderamata tersebut adalah bentuk penghargaan sang Duta Besar kepada alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu atas jasa-jasanya membantu Kedubes Maroko dalam... Baca selengkapnya...

Keluarga Lintas Atjeh Buka Bareng "Bu Lam Oen"
Jumat, 23 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Loyalitas, Solidaritas, Soliditas Dan Jiwa Korsa terus dipupuk oleh keluarga besar Lintas Atjeh, moment kebersamaan dalam meningkatkan tali silaturahmi dengan Bukber. Ada hal menakjubkan yang dilakukan keluarga Lintas Atjeh bersama anggota PPWI Aceh Selatan pada saat berbuka puasa di rumah Rahmatillah di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (22/06/2017), yang menyajikan menu buka puasa... Baca selengkapnya...

PPWI Media Grup Aceh Selatan Bagi Takjil Gratis Kepada Pengguna Jalan
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Bulan Suci Ramadhan adalah penuh berkah, semua orang, organisasi atau komunitas berlomba - lomba memanfaatkan untuk berbuat kebajikan, tak terkecuali Komunitas Persatuan, Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DPC Aceh Selatan. Setelah sebelumnya media Lintas Atjeh dan PPWI Aceh Selatan melaksanakan buka puasa bersama dan menyantuni anak yatim piatu di Desa Lhok Ruekam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kali ini kembali... Baca selengkapnya...

Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa, Media Lintas Atjeh Santuni Dhuafa
Rabu, 21 Juni 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Dalam bulan puasa ini mari kita sucikan hati bersihkan jiwa, saling peduli dan mengasihi, masih banyak saudara kita yang butuh perhatian dan kasih sayang, terlebih kepada kaum dhuafa dan yatim piatu. Hal tersebut disampaikan oleh Pimred Lintas Aceh Ari Muzakki pada saat mengunjungi kediaman kaum dhuafa dan anak yatim piatu bersama rombongan dalam rangka buka puasa bersama dan menyantuni yatim piatu di Gampong Lhok Reukam,... Baca selengkapnya...

Cek Endra Beri Santunan Masyarakat Di Pasantren Miftahul Jannah
Selasa, 20 Juni 2017

  KOPI Sarolangun, Memberi santunan pada Anak yatim, orang tua Jompo serta masyarakat telah menjadi kebiasaan dimata publik dan semakin  melekat pada sosok Cek Endra yang kini juga menjabat sebagai Bupati Sarolangun. Pasalnya, Kegiatan Santunan tersebut kerab dilakukan Cek endra bukan hanya saat Bulan Ramadhan, akan tetapi telah menjadi kebiasaan, sebab berbagi dan bersodakoh adalah merupakan Amal yang Pahalanya terus mengalir. Kegiatan itu... Baca selengkapnya...

Presiden Joko Widodo Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Istana
Selasa, 20 Juni 2017

KOPI, Jakarta - Buka puasa dilaksanakan secara lesehan di Istana Negara, Senen (12/6-17). Presiden mengundang anak yatim piatu dan penyandang disabilitas berbuka bersama di istana. Sebelum berbuka di awali pembacaan pemenang lomba Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat anak-anak digelar tadi pagi (red. Senen). Acara dilanjutkan dengan mendengarkan kultum dan buka puasa bersama. Presiden Jokowi beserta anak yatim menunaikan Shalat Maghrib... Baca selengkapnya...

PENDIDIKANObrolan Santai dengan Kepsek SMK I Sei K.....
19/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pelalawan - Pak Kepsek (Kepala Sekolah) saya dengar dulu Sekolah ini milik yayasan alias swasta, kini sudah negeri bagaimana ceritanya. Betul ,  [ ... ]



EKONOMIHari ke-14, Pengunjung Jakarta Fair Menc.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Malam muda-mudi yang diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun Kota DKI Jakarta yang ke-490, berhasil digelar dengan meriah di  [ ... ]



HANKAMBeri Penyuhan Hukum, Yonif PR 502 Kostra.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Kalimantan Barat - Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI – Malaysia Yonif Para Raider 502 Kostrad yang dipimpin oleh Letkol In [ ... ]



OLAHRAGAIni Dia Para Pemenang Wrangler True Wand.....
21/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Sebuah petualangan besar tahun ini “Wrangler True Wanderer 2017” baru saja menemukan pemenangnya. Mereka telah menunjukan bahwa m [ ... ]



PARIWISATAJakarta Fair Kemayoran Tetap Buka di Har.....
23/06/2017 | Yeni Herliani

  KOPI, Jakarta - Penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2017 kini telah memasuki hari ke-15. Sebanyak 2.700 perusahaan yang tergabung dalam 1 [ ... ]



HUKUM & KRIMINALWaspada !!.. Menaiki Roller Coaster, Men.....
24/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Pusat perbelanjaan Trans Mart  barusan diresmikan oleh pemiliknya Chairul Tanjung sebulan yang lalu telah memakan korban seorang  [ ... ]



OPINIPertanyaan Berkualitas untuk Keluarga Be.....
23/06/2017 | Andrew Prasatya

KOPI - Sekarang kerja di mana? Pacar yang itu kok nggak dibawa ke rumah? Kapan nikah? Gajinya berapa? Sederetan pertanyaan tersebut kerap menjadi momo [ ... ]



PROFILObrolan Santai dengan Camat Sentajo Agus.....
11/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Kuantan Singingi - Obrolan santai dengan Camat Sentajo Raya Agus Iswanto, SSTP dengan wartawan Pewarta- Indonesia di ruangan kerjanya, hari Jum [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAYoesi Ariyani Lestarikan Tari Klasik Jaw.....
28/05/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam era globalisasi sekarang ini, nilai-nilai tradisi sudah mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat modern karena dianggap tidak s [ ... ]



ROHANIHari Raya Idul Fitri 1438 H, Yonif 115/M.....
24/06/2017 | Haes Hajuna

KOPI, ACEH SELATAN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, Yonif 115/ML beserta kompi-kompi jajaran Yonif 115/ML menyerahkan zakat fitra [ ... ]



RESENSIFilm Jailangkung: Dari Permainan, Beruba.....
15/06/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - PERMAINAN boneka jailangkung masih adakah yang memainkannya? Ada dan banyak. Ritual pemanggilan arwah sangat lumrah dilakukan. Apalagi [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIMenatap Rasa.....
07/06/2017 | Mas Ade

Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



CURAHAN HATISeptember Nanti Tembilahan Tuan Rumah Wo.....
06/06/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru - Indragiri Hilir (Inhil) merupakan daerah penghasil Kopra terbesar di Asia, 432 ribu Hektare kebun Kelapa milik rakyat maupun milik  [ ... ]



SERBA-SERBISekjen IMASEPA Jabar Mengucapkan Selamat.....
25/06/2017 | Barnabas Subagio

KOPI - Bandung, Sekretaris Jenderal Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua Jawa Barat (Sekjen IMASEPA JABAR) Leonardus O. Magai mengucapkan Selamat meray [ ... ]


Other Articles

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.