Koin Cinta Bilgis dan Ketidakadilan Publik

0
13

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

Pewarta-Indonesia, Bilgis Anindya Passa, balita penderita penyakit Arteresia Billier, akhirnya meninggal dunia. Hilangnya imunitas (kekebalan) tubuhnya memudahkan tiga bakteri ganas menyerang sikecil hingga ia harus menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 15.00 WIB, Sabtu (10/3) lalu di RS Karyadi, Semarang. Dalam kesadaran kemanusiaan normatif, tentu kita sudah pada tempatnya menyampaikan simpati dan turut berduka cita atas berpulangnya Bilgis. Keiklasan menerima takdir yang ditunjukan oleh pihak keluarga, khususnya ibunda Bilgis, Dewi Farida, adalah cerminan ketakwaan yang patut diapresiasi oleh semua kita. Selayaknya sebagai umat beragama, kita berdoa semoga arwanya mendapat tempat yang terbaik di alam sana, amin.

Pada tataran kontekstual kekinian, sesungguhnya ada pelajaran bagus yang dapat menjadi wacana untuk dianalisa dan menjadi renungan masyarakat dari fenomena kehadiran Bilgis hingga kepada kepergian bayi berusia 19 bulan itu. Sebagaimana telah diketahui masyarakat banyak bahwa Bilqis diketahui mengidap penyakit langka, Arteresia Billier, yakni saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal sejak usia 2 minggu. Akibatnya, sekujur tubuhnya menghitam dan kekuningan, perutnya buncit dan gatal di seluruh tubuhnya. Untuk menyembuhkan penyakit anak tersebut hanya dapat ditempuh dengan jalan operasi cangkok hati, yang pada kesimpulan terakhir Bilgis akan mendapatkan cangkokan hati dari ibunya.

Masalah pelik muncul ketika orangtua sianak harus menyediakan biaya operasi tidak kurang dari satu miliar rupiah untuk kesembuhan anak kesayangannya tersebut. Tentu ini adalah jumlah yang amat fantastis. Pihak medis beralasan bahwa mahalnya biaya peralatan operasi, obat-obatan, dan tingginya resiko yang dihadapi dalam proses operasi hingga mencapai kesembuhan pasien langka ini menyebabkan biayanya sangat mahal.

Walaupun bukan tergolong masyarakat miskin, biaya pengobatan sejumlah miliaran itu tidaklah mudah bagi orang tua Bilgis. Menghadapi kenyataan ini, pasangan orang tua sibayi, Doni Ardianta Passa dan Dewi Farida tidak putus asa. Sangat kebetulan, di penghujung tahun lalu hingga awal tahun ini terjadi fenomena “people power”, gerakan publik yang amat massif muncul membela Prita Mulyasari, terdakwa kasus pencemaran nama baik, melalui gerakan Koin Peduli Prita. Berbekal nuansa situasi emosional publik yang sedang “merayakan kemenangan” membela Prita Mulyasari yang dinilai terzolimi oleh sistem hukum yang tidak memihak rakyat kecil, orang tua Bilgis dengan gemilang mampu mengambil simpati luar biasa dari masyarakat luas untuk membantu mereka mengumpulkan koin bagi biaya operasi anaknya. Tidak kurang dari Rp. 1,5 miliar berhasil terkumpul melalui program Koin Cinta Bilgis yang tidak lepas dari dukungan media massa, terutama sebuah stasiun televisi swasta.

Secara awam, sesungguhnya tidak ada yang salah dalam usaha orang tua Bilgis dan dinamika sosial pengumpulan koin untuk Bilgis di atas. Justru ada sebuah kebanggaan bahwa rakyat Indonesia masih memiliki rasa empati yang amat tinggi terhadap penderitaan yang dialami sesama bangsanya. Fenomena Bilgis telah melahirkan sebuah kesadaran baru tentang solidaritas simpati kepada sesama manusia yang sedang dalam derita dan perlu pertolongan.

Namun demikian, ada persoalan substansial yang perlu dicermati dan direnungkan oleh masyarakat, kita semua, yakni potensi munculnya sikap dan perilaku yang mencerminkan ketidak-adilan publik. Dalam kasus Bilgis, pertanyaan yang harus selalu dikemukakan saat menggalang dana publik adalah “mengapa harus Bilgis?” Jika Anda secara individu-individu adalah anggota keluarga dekat sipenderita, maka sudah merupakan kewajiban Anda membantunya. Tapi bila bukan siapa-siapanya Bilgis, maka harus diingat bahwa ada ribuan bahkan jutaan Bilgis-Bilgis lainnya di negeri ini yang juga punya hak yang sama untuk diperhatikan oleh masyarakat. Ketika kita hanya membantu Bilqis Anindya Passa, maka hakekatnya kita telah bersikap pilih kasih, tidak adil, terhadap sesama manusia.

Media massa merupakan pihak yang memiliki andil terbesar dalam menciptakan ketidak-adilan publik. Kemampuan profesionalitas media menggiring masyarakat kepada sebuah kesimpulan yang telah ditetapkan media tertentu yang akhirnya menjadi opini publik telah sangat jelas menjadi perangkap kesadaran publik. Tayangan dan ulasan yang secara terus-menerus pada titik sentral (fokus) yang diinginkan pihak pengendali media mampu menghipnotis masyarakat untuk melakukan apa yang dikehendaki media massa. Hal tersebut telah terjadi berulang kali pada banyak kasus, hanya saja dengan pola dan strategi yang berbeda-beda.

Fenomena Bilgis juga harus dimaknai bahwa kecerdasan masyarakat Indonesia merespon sesuatu masalah sangat mendesak untuk ditingkatkan. Kemampuan berfikir logis dengan kalkulasi yang lebih masuk akal adalah salah satu komponen penting untuk diwacanakan dan diupayakan. Bagaimana tidak, biaya pengobatan 1 miliar seharusnya dapat dipahami sebagai sebuah indikasi yang terang-benderang bahwa kesembuhan bayi mungil itu dari penyakitnya amat sangatlah kecil. Yang dengan demikian, sumbangan yang berapapun juga tidak akan memberi makna apa-apa dikaitkan dengan usaha penyembuhannya.

Selamat jalan Bilgis, semoga kepergianmu meninggalkan kenangan indah bagi pencerdasan bangsa yang engkau tinggalkan.

Sumber image di sini

BAGIKAN
Berita sebelumyaIndobatt Gelar Acara Persaudaraan Demi Perdamaian di Lebanon
Berita berikutnyaPeringatan HUT ke 46 Dharma Pertiwi
I came from a poor family in Central Celebes, Indonesia. “Shony” - that’s what my family and friends call me. With help from IFP, I completed a master’s in Global Ethics from the University of Birmingham, England in 2006. My interest in this field of study was based on over 15 years’ worth of studying and teaching “Indonesian Moral Education”. I believe the moral ethics of a nation is influenced by the global hegemonic values that are adopted and developed by the nation itself. Writing is one of my favorite hobbies.