Oleh: Razlina Reichardt*)
Pewarta-Indonesia, Pikiran dan perasaanku selalu dan selalu saja ke Aceh, walau ragaku nun jauh di negeri orang. Segala sesuatu tentang perkembangan Aceh selalu aku mengikutinya. Walau terkadang sangat menyedihkan. Terutama bila akau membaca tentang perkembangan Ekonomi di Aceh, boleh dikata setelah perjanjian MOU.
Pada thn 2006 aku pernah pulang ke Aceh. Saat itu baru saja 1 tahun pembangunan yang dilakukan di Aceh setelah terjadinya gelombang dasyat Tsunami yang mengorbankan ratusan ribu nyawa manusia.
Sekarang, mungkin semakin berkembang. Yang ingin aku sampaikan disini tentang pembangunan ekonomi pertanian yang nampaknya semakin merosot dan mundur menurutku.
Sewaktu aku pulang ke kampung halamanku di Aceh bahagian Selatan, dimana dulunya sawah melintang sepanjang perjalanan pulang, namun kini telah berdiri perkantoran-perkantoran pemerintah, pertokoan maupun rumah-rumah penduduk yang semakin padat, walaupun dalam keadaan dan situasi yang sangat kritis.
Disamping minyak dan gas, Aceh juga dulunya terkenal pengexport beras sampai ke negeri tetangga. Tapi sekarang Aceh malah menginport beras dari luar daerah. Bukankah ini sangat menyedihkan dan saya kira ini merupakan sampel mundur buat kita bansa yang selalu bangga dengan keagungan Iskandar Muda. Bangsa yang terkenal gagah melakukan hubungan diplomatik dengan berbagai negara di dunia tempo dulu.
Aku ingin mengusulkan, bagaimana bila Aceh (kita) bekerja sama, membangun hubungan yang nyata dan jelas, cepat dan dirasakan oleh seluruh rakyat. Hal itu bisa dilakukan dengan menjalin ikatan bersama negara-negara berkembang seperti Europa yang juga maju dengan pertanian dan perternakan, bukan hanya di bidang industri saja. Contohnya, pertanian dan perternakan di Jerman dan Denmark tentu sangatlah jauh perbedaannya dengan Aceh dan saya yakin peluang besar masih terbuka untuk kita memajukan Aceh.
Di negara-negara Eropa mungkin adanya kemajuan tehnologi agra kimia. Apa salahnya sarjana pertanian kita diutus untuk belajar mengenai kemajuan tehnologi pertanian dengan Jerman dan Denmark? Agar se-kembali ke Aceh nantinya bisa menciptakan hasil pertanian semaksimal mungkin, bahkan bisa mengexport kembali keluar negeri.
Bila saya ke toko Asia di Jerman untuk membeli beras, beras tersebut banyak berasal dari negara tetangga Aceh di Asia, bukan dari Indonesia juga bukan dari Aceh. Padahal Aceh bukanlah daerah propinsi di Indonesia yang dilarang menjual barangnya ke luar negeri. Nyatanya, sepi sekali barang dari Aceh di luar negri.
Yang pastinya kejayaan tak akan datang tanpa usaha yang gigih dalam kebersamaan untuk kemajuan Aceh. Gebrakan pemerintah pilihan rakyat Aceh ditunggu oleh semua orang.
*) Penulis, Razlina Reichardt adalah aktivis World Achehnese Association berdomisili di Jerman
Sumber image: google.co.uk
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|






















Mohon info dimana bisa Beli Regulator...
AWAS MUN TEU LULUS SIAH KEHED!!!!!!!
Up. Bapak Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc...
haaiii........ w dah penah liad mrek...
siapapun pemimpinnya selain mempunyai...