Perkenankan saya menuturkan beberapa bait kalimat kapadamu wahai Bapak Presiden dan Wakil Presiden. Sungguh sekian lama ungkapan ini tersimpan dalam sudut ruang hati hingga hari ini Allah swt kabulkan do’a hambaNya, betapa bahagia hati bila surat ini telah berada dalam genggaman tanganmu yang hebat dan matamu yang bersinar dengan cermat membaca surat dari seorang ibu yang begitu jauh jaraknya denganmu.
Bapak Presiden dan Wakil Presiden
Saya adalah seorang ibu sekaligus pemimpi, bila senja telah datang maka hati begitu riang cepat saya tarik tirai jendela agar malam cepat tiba, pada pertengahan malam saya berwudhu lalu bentangkan sajadah, dalam sujud akhir untaian do’a saya rangkai nan indah pada Yang Maha Kuasa, supaya Allah jadikan kelak kedua putra saya pemimpin-pemimpin yang berpegang tegug pada tali agama Allah. Bagi saya mereka adalah inspirasi hidup dan mereka bagaikan matahari yang tak pernah berhenti bersinar. Mereka adalah tumpuan masa depan dunia dan investasi akhirat kelak. Sungguh pada tiap tetes embun pagi akan membawa kesejukan dalam setiap episode hidup mereka, Allahumma Amin.
Bapak Presiden dan Wakil Presiden…
Suatu hari putra sulung saya bertanya, “Wahai Bunda”, mengapa negeri kita ini seperti ini? Orang yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin, apakah bapak presiden dan wakilnya dapat merasakan kepahitan dan kepedihan hidup rakyat kecil? Dan tiba-tiba putra saya bertanya lagi, apakah bapak presiden dan wakilnya mengetahui detail berapa jumlah anak-anak yang putus sekolah ?Bunda katakan padaku, berapa banyak kepala keluarga yang tidak mampu menafkahi keluarganya karena kehilangan pekerjaan dan tak punya modal untuk membuka usaha…putraku menyerang dengan berbagai pertanyaan, saya tetap membisu lalu menatap wajahnya yang polos dan tak berdosa, tiba-tiba saya tersentak, putra saya menangis…”bunda”, begitu banyak musibah dan bencana yang menimpa negeri ini, “Bunda” katakan…mengapa bunda hanya diam saja.
Ya Tuhan…lidah ini terasa kelu seakan tak ,mampu berkata apa-apa, putra saya terisak pilu lalu terdengar dia berbisik ,kezaliman para pejabat membuat rakyat semakin menderita. Hukum hanya ditegakkan bagi orang-orang kecil saja…,di mana keadilan? tidak takutkah bapak presiden dan wakilnya kepada hukum Allah? diakhir penuturannya ia begitu marah dan matanya sembab…
Bapak Preisiden dan Wakil Presiden…
Menatap wajahnya dengan seulas senyum lalu saya berkata padanya, “anakku”, seluruh ungkapanmu adalah sebuah kebenaran, bahwa pada hakekatnya negara kita adalah negara yang dirahmati Allah SWT, namun sejak dahulu hingga detik ini hamba-hambaNya telah terperosok begitu jauh ke dalam jeratan kesenangan hidup duniawi yang semu dan memperdayakan. Para penguasa kita telah mengambil tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan yang tidak dilandaskan kepada moral agama.,,dan apa yang kita saksikan saat ini adalah salah satu bentuk kemurkaan Allah yang maha dahsyat.
Bapak Presiden dan Wakil presiden…lalu kepadanya saya berkisah tentang seorang negarawan yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz, putraku…,suatu hari orang-orang bertanya, siapa yang harus mewujudkan keadilan untuk mereka? Pemimpin atau rakyat?. ,Umar bin Abdul Aziz menjawab, para penguasalah yang harus lebih dahulu memulai, baru kemudian rakyat. .Jika itu terwujud , maka keadilan menjadi tanggung jawab bersama. Abadilah seorang penguasa berdosa karena melakukan suatu kezaliman, maka rakyat juga ikut berdosa jika mereka tidak mau mengontrol dan mengawasinya. Bahkan menurut Umar bin Abdul Aziz, rakyat yang tidak mau melalukannya berhak dikenai sanksi hukuman, apalagi jika mereka tidak mengingkari kemaksiatan dan kezaliman yang dilakukan penguasa.
Ketahuilah anakku, Umar bin Abdul Aziz tidak sembarang memilih sahabat. Ia memiliki beberapa kriteria, “ Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkata kepada sahabat-sahabatnya: Siapapun di antara kalian bisa bersahabat denganku asal dapat memenuhi lima syarat: ia harus bisa membimbing aku menegakkan keadilan, membantuku melakukan kebaikan, menjadi perantara menyampaikan hajat orang-orang tertentu kepadaku, tidak menggunjing siapapun di hadapanku, dan mau membantuku menyampaikan amanat kepada rakyat. Jika memenuhi kelima syarat itu mari kita bersahabat dekat. Dan jika tidak, sebaiknya menjauh dariku. Demikian anakku sekelumit kisah tentang seorang negarawan yang shaleh.
Bapak Presiden dan Wakil Presiden…Sesaat putra saya terdiam dan terlihat jelas kesedihan di pelupuk matanya, “Bunda”…ia memanggil saya dengan sorot mata yang tajam namun berkaca-kaca…,Aku begitu merindukan Bapak SBY seperti sosok Umar bin Abdul Aziz senantiasa mencintai rakyatnya dan Aku menginginkan Bapak Boediono beserta seluruh para pejabat yang diplih oleh SBY memenuhi lima kriteria para sahabat Umar bin Abdul Aziz.., mungkinkah itu terwujud Bunda?
Wahai Bapak Negara… Saya katakan padanya, “anakku” sungguh kerinduanmu merupakan impian seluruh rakyat Indonesia akan datang seorang pemimpin negara yang merakyat. Karenanya kami mohon wahai bapak negara tegakkan keadilan dan wujudkan kerinduan yang begitu lama telah dinantikan oleh rakyatmu.
Wassalam, Aceh Besar, 24 September 2009
Hormat Saya
Risma S.Ag
Informasi :
Nomor HP : 085664106821
Alamat : Desa Lamtheun Kec. Darul Imarah Aceh Besar.
T.T.L : Meulaboh 6 September 1974
Pekarjaan : Guru
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|






















Mohon info dimana bisa Beli Regulator...
AWAS MUN TEU LULUS SIAH KEHED!!!!!!!
Up. Bapak Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc...
haaiii........ w dah penah liad mrek...
siapapun pemimpinnya selain mempunyai...