Memahami Kebijakan Pendidikan

Email Cetak PDF

Pewarta-Indonesia, Kegagalan terbesar impelementasi kebijakan pendidikan adalah menempatkannya sebagai tujuan. Sebagai sebuah cara, kebijakan diuraikan dalam bentuk program dan kegiatan. Jika tujuan pendidikan memfasilitasi peserta didik menjadi individu yang survive, maka patut dipertanyakan, apakah kegiatan keseharian pendidikan saat ini mampu menghasilkan orang-orang yang survive? Dalam tujuan pendidikan diramu perimbangan antara knowledge, skill dan values yang akan menciptakan manusia terampil dan berbudi pekerti, tetapi justru aktivitas pendidikan didominasi oleh kegiatan kognitif, karena tujuan disamakan dengan kebijakan.

Dalam era otonomi daerah sekarang, pemerintah daerah sebagai pemegang mandat publik harus menempatkan pendidikan sebagai kebijakan publik. Aktivitasnya akan tampak dari keberpihakan pemerintah untuk mempersiapkan anak didik menuju hidup yang survive sebagai politisi, pengusaha, karyawan, akademisi, peneliti, petani terdidik, nelayan terdidik dan lain sebagainya. Artinya kebijakan pendidikan harus diupayakan sejalan dengan kebijakan lainnya. Kebijakan pendidikan untuk mengubah proporsi sekolah kejuruan dengan umum menjadi 70:30 perlu diikuti kebijakan penyediaan lapangan kerja yang bersesuaian. Ini adalah sebuah cara, bukan tujuan. Oleh karena itu yang terpenting bukan mengejar target pencapaian proporsi tersebut, tetapi kebermaknaan kebijakan itu untuk memperbanyak orang-orang yang survive.

Demikian juga kebijakan tentang persyaratan minimal S1 bagi guru. S1 bukan tujuan tetapi alat yang digunakan untuk menampilkan kinerja profesional. Ketika kebijakan ini diperlakukan sebagai tujuan maka pencapaian target menjadi kehilangan makna, sebab peningkatan jumlah S1 tidak menunjukkan kinerja yang optimal. Kebijakan profesionalisme guru yang mempersyaratkan pendidikan S1 belum berhasil memacu guru menambah ilmu, sebab perolehan ijazah menjadi tujuan. Orang yang hirau mutu tidak bertambah, meski pemilik ijazah S1, S2 dan S3 bertambah.

Ciri utama dunia masa depan adalah persaingan, sementara pendidikan kita semakin langka menanamkan daya juang dan ketangguhan. Hal ini diperkuat oleh fenomena tidak tangguhnya siswa menghadapi berbagai ujian termasuk ujian nasional. Idealnya permasalahan di sekolah harus disetting lebih rumit dari kondisi sebenarnya, sehingga siswa terbiasa menghadapi masalah yang lebih sulit dari keadaan yang sebenarnya.

Paradoks

Idealnya, tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia-manusia yang dapat menjadi problem solver sejati, yaitu manusia-manusia yang dapat mengatasi permasalahan kehidupan sehingga dapat menjadi survive. Namun fenomena yang terjadi sekolah cenderung menempatkan pembelajaran bidang studi menjadi tujuan. Hal ini tampak dari pola evaluasi yang dilaksanakan di sekolah. Siswa seolah-olah digiring menuju perolehan nilai yang tinggi sebagai tujuan, pada hal perolehan nilai tersebut baru sepertiga dari kompetensi yang dibutuhkan menjadi orang yang sukses. Secara massive siswa dan guru larut dalam perjuangan mengejar nilai yang sesungguhnya belum menggambarkan nilai hidup yang survive. Atas kenyataan ini, perlu ada kebijakan untuk mengubah masalah yang dihadapi siswa di sekolah “harus” diupayakan lebih sulit dari kondisi kehidupan nyata agar para siswa terbiasa menghadapi tantangan yang diharapkan berujung pada kemampuan untuk survive.

Saat ini, ditemukan sebuah paradoks, situasi sekolah justru lebih sederhana dari pada situasi riel kehidupan yang akan dihadapi oleh siswa. Gambaran situasi dunia kerja dan persaingan kualitas pada dunia kerja bagi lulusan sekolah kejuruan justru berbeda dengan situasi kerja riil yang ditemukan di lapangan. Persoalannya, bagaimana mungkin melakukan setting yang lebih kompleks di sekolah sementara sekolah masih berada dalam standar yang serba kekurangan, baik dari sarana maupun guru?

Inilah pentingnya memperkenalkan pembelajaran berbasis masalah. Namun kesulitan yang sangat prinsip bagi bagi guru dalam hal ini justeru menemukan masalahnya. Menemukan sebuah masalah jauh lebih sulit dibanding memecahkan masalah. Sepanjang siswa dapat memecahkan masalahnya tanpa harus berinteraksi dengan orang lain atau sumber belajar lain maka sesungguhnya belum menerapkan pembelajaran masalah.

Tampaknya diperlukan kebijakan untuk kebijakan. Banyak kebijakan yang diperlakukan sebagai tujuan. Oleh karenanya, sebuah kebijakan perlu diikuti dengan kebijakan lain guna mejamin ketercapaian tujuan. Berbagai kebijakan yang sangat populer saat ini tentang pendidikan telah menimbulkan berbagai ekses yang kurang positif. Kebijakan tentang akreditasi perguruan tinggi sejatinya untuk mendorong perguruan tinggi dapat memenuhi standar minimal perguruan tinggi berkualitas. Sayangnya status akreditasi diperlakukan sebagai tujuan oleh beberapa perguruan tinggi. Akibatnya, hasil akreditasi dimaksud tidak seutuhnya dapat menggambarkan kondisi objektif sebuah perguruan tinggi. Belum lagi persoalan ini ditambah “disparitas” akibat faktor-faktor subjektivitas lainnya.

Definisi kebijakan pendidikan sebagaimana adanya dapat disimak melalui pernyatan-pernyataan berikut ini. “Carter V. Good (1959) (dalam Imron, 2002:18) menyatakan, Educational policy is judgment, derived from some system of values and some assesment of situational factors, operating within institutionalized adecation as a general plan for guiding decision regarding means of attaining desired educational objectives.”

Pengertian pernyataan di atas adalah, bahwa kebijakan pendidikan adalah suatu penilaian terhadap sistem nilai dan faktor-faktor kebutuhan situasional, yang dioperasikan dalam sebuah lembaga sebagai perencanaan umum untuk panduan dalam mengambil keputusan, agar tujuan pendidikan yang diinginkan bisa dicapai.

Hal menarik lainnya dapat disimak dalam sebuah konstitusi Jepang, yakni Undang-Undang Pendidikan yang ditetapkan pada Tahun 1947. Pokok-pokok undang-undang tersebut adalah i) Prinsip Legalisme, ii) Prinsip Administrasi yang Demokratis, iii) Prinsip Netralitas, iv) Prinsip Penyesuaian dan Penetapan Kondisi Pendidikan, dan v) Prinsip Desentralisasi. (Research and Statistic Planning Division, Ministry of Education, Science, Sports and Culture of Japan, 2000).

Prinsip yang pertama menetapkan bahwa mekanisme pengelolaan diatur dengan undang-undang dan peraturan-peraturan. Sebelum Perang Dunia II masalah pendidikan diputuskan oleh Peraturan Kekaisaran dan pendapat parlemen dan warga negara diabaikan. Namun, setelah reformasi pendidikan pasca perang urusan pendidikan diatur oleh undang-undang dan peraturan di parlemen.

Prinsip kedua mengindikasikan bahwa sistem administrasi pendidikan harus dibangun berdasarkan konsensus nasional dan mencerminkan kebutuhan masyarakat dalam membuat formulasi kebijakan pendidikan dan prosesnya.

Prinsip ketiga menjamin bahwa kewenangan pendidikan harus independen dan tidak dipengaruhi dan diinterfensi oleh kekuatan politik.

Prinsip keempat mengidikasikan bahwa pemegang kewenangan pusat dan lokal mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua dengan menyediakan fasilitas-fasilitas pendidikan yang cukup untuk mencapai tujuan pendidikan.

Prinsip kelima menyatakan bahwa pendidikan harus dikelola berdasarkan otonomi pemerintah lokal karena pendidikan merupakan fungsi dari pemerintah lokal.

Nah, dapat disimpulkan bahwa kebijakan pendidikan adalah suatu produk yang dijadikan sebagai panduan pengambilan keputusan pendidikan yang legal-netral dan disesuaikan dengan lingkugan hidup pendidikan secara moderat.

Comments
Add New
Imelda Tingginehe   |20-02-2010 23:04:09
saya saat ini sedang melakukan penulisan tugas akhir, kebutulan judunya ke arah kebijakan pendidikan
di daerah perbatasan. sekiranya saya bisa mendapatkan buku ini. n bagaimana caranya?
Imelda Tingginehe  - dapat buku   |20-02-2010 22:58:38
mat malam, bisakah saya mendapatkan bukunya klu ada? bagaimana caranya utk mendapatkanya?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

29 August 2008|6:20:04AM

Bahasa Lainnya

English Arabic Chinese (Simplified) Japanese Indonesian
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia

Foto Pewarta

Pajak dari Rakyat untuk Rakyat
02 July 2010
 Merekam suasana para pekerja dinas pekerjaan umum (PU) dalam memperbaiki jalan yang rusak tgl. 24/05/2010 sekitar jam 23.24 di Jl. Moch Soleh Iskandar (Jalan Baru - Bogor), belakangan...

Beritahu Pewarta Lain

Masuk

Yang Terpinggirkan

Manusia Timpang
06/04/2010 | Ainuddin Chalik
article thumbnail

Manusia goncang. Kita sedang goyah, timpang, dan kadang kalap. Relijiusitas -potensi kebertuhanan it [ ... ]


Konsultasi Kesehatan

Tingkatkan Inovasi Untuk Percepatan Lawan TBC
30/03/2010 | Frans Rendi Norton

Pewarta-Indonesia, Tingkatkan Inovasi, percepat aksi melawan Tuberkulosis adalah tema peringatan Har [ ... ]


Warta Redaksi


ppwi_jateng.jpg
Pewarta-Indonesia, Pengurus Daerah PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) Suamtera Utara saat ini sedang bersiap-siap untuk diresmikan oleh
2885923160_e6c9c0dae6.jpg
Pewarta-Indonesia, Genderang Piala Dunia 2010 (PD2010) sudah riuh-rendah bertabuhan. Ajang kompetisi sepakbola dunia 4 tahunan itu memang selalu
28602_117758944931669_100000926920815_91771_1394453_n.jpg
PEWARTA-INDONESIA, JOGJA -- Helatan nasional bertajuk: Pendidikan dan Pelatihan Nasional Jurnalistik Tingkat Dasar dan Mahir yang dihelat oleh

Komentar Pewarta

Polling Warga

Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Statistik

Anggota : 820
Isi : 3133
Content View Hits : 524337

Pewarta Online

mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini725
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin916

Warga Online : 29
IP Kamu : 38.107.191.112

Advertise :
Pasang Iklan Murah
Mau Pasang Iklan Murah, dan banyak dilihat pengunjung?? klik disini!
ID Card PPWI
Gimana sih cara untuk mendaftar atau mendapatkan ID Card Citizen Journalis, Klik disini!
Attribute PPWI
Member Website PPWI sudah, ID Card Sudah, belum ada attribute. Order disini!
ID Card PPWI

Gimana sih cara untuk mendaftar atau mendapatkan ID Card Citizen Journalis, Klik disini!
Attribute PPWI

Attribute PPWI
Member Website PPWI sudah, ID Card Sudah, belum ada attribute. Order disini!

Video Pewarta

Tabloid Explore Indonesia

  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia

Sehat & Bugar

Viagra dalam Buah Semangka
15/03/2010 | Surya
article thumbnail

Pewarta-Indonesia, Sepotong semangka yang segar merupakan buah yang merupakan favorit semua orang dan berdasarkan penelitian yang dilakukan, seman [ ... ]