




Oleh : Joshua M. Z. Stanton*)
Pewarta-Indonesia, New York, New York - Meskipun saya seorang Yahudi dari New York, saya tahu bagaimana rasanya menjadi Muslim di Prancis.
Ketika belajar ke luar negeri di Strasbourg, Prancis, pada 2007, saya memutuskan untuk memelihara jenggot sampai lebat. Saya tak tahu kalau di Prancis hanya pria Yahudi dan Muslim tradisional yang tidak memangkas rapi kumis dan jenggot. Karena saya tak mengenakan yarmulka (kopiah orang Yahudi) atau tutup kepala lainnya, orang-orang yang melihat saya di jalan mengira saya Muslim.
Saya merasa polisi dan orang-orang yang lewat memandang saya dengan curiga, dan bahkan pada saat di dalam bus yang penuh sesak, hanya segelintir orang yang mau duduk di sebelah saya-kecuali kalau tidak bisa mereka hindari. Suatu kali seseorang menguntit saya pulang dan hendak menantang berkelahi, dan kecewa begitu mengetahui saya cuma orang Amerika yang kebingungan, dan bukan seorang Muslim Prancis.
Halaman 1 dari 7
29 August 2008|6:20:04AM
| Assimilated but Stateless 26/09/2009 | Redaksi Pewarta-Indonesia Di tanah Udik orang-orang kami beranak pinak |
| Jalan Kaki Jinakan 9 Penyakit 20/01/2010 | Surya Pewarta-Indonesia, Studi dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh- [ ... ] |
| Rokok Bisa Tingkatkan Resiko Katarak 20/01/2010 | Surya Pewarta-Indonesia, Kondisi lensa mata sangat berpengaruh pada tajamnya penglihatan. Jika lensa mata keruh, gambar yang tertangkap tidak jelas. Katar [ ... ] |