Soal Busana Islami, Pemko Perlu Konsisten
KOPI, Padang Panjang -- Ketua Forum Muballigh Kota Padang Panjang, H. Nasrullah Nukman, berpandangan, Pemerintah Kota Padang Panjang perlu konsisten dan tegas dalam menegakkan aturan berbusana islami, baik untuk kalangan pegawai dan pelajar maupun masyarakat.
“Ketika Walikota Yohanis Tamim dahulu mengeluarkan edaran tentang penggunaan busana islami di Kota Padang Panjang, sudah ada pola dan modelnya. Busana untuk pelajar putri jelas polanya. Pola busana pegawai negeri perempuan sudah ada pula. Tapi kini, pola itu sudah ditinggalkan, sehingga timbullah persoalan berbusana yang tak islami di kota berjuluk Serambi Mekah ini,” ujar Nasrullah kepada Singgalang dan pewarta-indonesia.com, Ahad (12/2), di Padang Panjang.
Pimpinan Markas Dakwah Padang Panjang itu melihat, maraknya kalangan perempuan yang berbusana ketat dan mengabaikan pola berbusana islami, terutama di lingkungan pelajar seusai sekolah dan pegawai negeri sipil, tidak terlepas dari pengaruh para desainer yang ingin menjual dagangannya tanpa mereferensi ketentuan berbusana Islam sedikit pun.
Kita amat prihatin, tegasnya, sebagai perintis dan barometer penerapan busana islami di Sumbar, kini pola berbusana kalangan perempuan di Padang Panjang malah sudah banyak yang meniru gaya-gaya kalangan yang tidak Islam. Kendati tetap mengenakan jilbab, tuturnya, tapi karena modelnya yang sempit dan tidak memenuhi kaidah, maka tetap saja tidak dapat dikatakan islami.
Seirama dengan Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang Panjang, H. Alizar Chan, Buya Nasrullah pun mendesak Pemko Padang Panjang untuk kembali melakukan penertiban terhadap pola, model dan desain busana islami yang dikenakan warga kota, terutama di lingkungan pelajar, pegawai negeri dan pengunjung tempat-tempat umum.
“Rokok saja bisa ditertibkan oleh Pemko Padang Panjang, kok busana yang sangat urgen dan memiliki kaitan langsung dengan kepatuhan terhadap aturan Allah SWT itu tidak bisa? Di sinilah dibutuhkan sikap konsisten dan tegas dari seorang pemimpin,” tambahnya.
Pantuan Singgalang di beberapa tempat umum, kalangan perempuan memang sudah banyak yang tidak lagi mengindahkan tuntunan berbusana menurut Islam. Selain banyak yang mengenakan celana ketat, mereka juga mengenakan baju kaos oblong ukuran mini, kendati tetap mengenakan jilbab dan ‘manset’.
Busana resmi di lingkungan pegawai dan anggota Satpol PP yang perempuan di Kota Padang Panjang, kini juga terkesan sudah tidak sesuai lagi dengan norma-norma Islam. Jilbab tidak lagi menutupi dada mereka, tapi sudah dililitkan di leher. Sementara bajunya sudah pendek, sedikit saja di bawah pinggang. Demikian pula dengan bagian bawahnya yang dituntunkan untuk mengenakan rok hingga ke batas mata kaki, kini sudah banyak yang berganti dengan celana panjang yang menyerupai celana lelaki.(*)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Berzakat Bukanlah Wujud Kedermawanan
- Pemko Padangpanjang Beri Reward Kafilah MTQ
- Seribuan Anak TK Padati Bancah Laweh
- Anugerah Rumah Puisi untuk Ali Audah
- Dedi Pimpin KNPI Padang Panjang
- Komisi II DPRD: DPRD Tidak Serahkan Dana Tanggap Darurat Korban Kebakaran
- Orangtua dan Sekolah Harus Sejalan
- Lagi, Ulama Sorot Mifan
- Kesuksesan Bisa Diraih Lewat Impian Besar
- Kerugian Kebakaran PTSM Capai Rp1 Miliar
- Si Jago Merah, Kembali Hanguskan Pasar Padang Panjang
- Wawako Edwin: Padang Panjang Bersiap Jelang Idul Fitri
- IUUKPP Gelar Sahur On The Road dan Buka Bersama Anak Yatim
- IUUKPP Gelar Ramadhan Charity
- Wawako Edwin Undang Wartawan Buka Bersama























Soal Busana Islami, Pemko Perlu Konsisten


