Ketua Umum Asosiasi Karet Indonesia Transfer Ilmu Kepada Petani Karet Sawahlunto
KOPI, Sawahlunto - “Sektor perkebunan karet saat ini merupakan sector usaha yang sangat menjanjikan dibanding perkebunan holtikultura lain, karena disamping harga komoditas ini sangat menggembirakan, kayu karet yang sudah tidak menghasilkan getah lagi bisa digunakan untuk bahan baku mebel yang saat ini mencapai harga Rp 300 ribu perkubik” ungkap Drs.H. Asril Sutan Amir Ketua Umum Asosiasi Karet Indonesia ketika memberikan motivasi kepada sejumlah petani karet Sawahlunto dalam acara Seminar teknik peningkatan produksi karet perkebunan rakyat sabtu (5/3) di Gedung Pusat Kebudayaan kota Sawahlunto.
Karet juga memiliki keunggulan lain jika dibandingkan dengan tanaman lain. Karet merupakan tanaman pelestari lingkungan yang mampu mengikat molekul CO2 (karbondioksida) sebesar 7 ton dalam setiap satu produksi karet. Selain itu dengan luas areal yang sama tanaman karet lebih banyak mendatangkan penghasilan dibandingkan tanaman holtikultura lainnya. Jika dibanding tanaman sawit yang menghasilkan 2 kali dalam sebulan, sawit dapat menghasilkan setiap hari.
Karena berbagai keunggulan tersebut Pemerintah kota Sawahlunto sejak tahun 2004 atau awal pemerintahan Amran Nur memprogramkan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui budidaya tanaman karet di perkebunan rakyat. Walikota Sawahlunto dalam sambutannya optimis di tahun 2013 penghasilan rata-rata masyarakat akan mencapai Rp 25 juta pertahun jika masyarakat mau menanam karet di lahan-lahan terlantar.
“Pendapatan petani akan lebih besar daripada pendapatan daerah. Satu juta karet setara dengan 800 ton perbulan, jika dikonversikan dengan harga karet saat ini Rp 20-23 ribu perkg setara dengan Rp 16 miliar perbulan” ungkap Wako.
Dalam seminar itu Asril Sutan Amir, putra Silungkang yang telah sukses malang melintang di industri karet nasional juga berbagi berbagai pengalamannya. “Petani Sumatera Barat punya kebiasaan mencampur lateks dengan kotoran/sampah sebenarnya kebiasaan ini malah merugikan petani karena harga jual jadi lebih rendah” ujarnya.
“Sebenarnya petani bisa menjual lateks dengan harga yang lebih tinggi, buat kesepakatan atau koperasi bersama 10 atau 20 orang petani yang berkomitmen untuk menghasilkan karet putih yang bebas dari kotoran kemudian antar langsung ke pabrik tanpa melalui tangan ketiga, petani bisa lebih untung karena pabrik mau membeli dengan harga yang lebih tinggi” ungkap Asril menawarkan solusi.
Untuk mengatasi penyakit karet akar putih bisa diakali dengan menanam kunyit, jahe, lengkuas atau lidah mertua dengan jarak 1 meter dari tanaman karet “dengan tanaman ini jamur akar putih akan hilang dengan sendirinya” ujarnya. Selain itu areal tanam juga harus bersih karena kayu atau ranting mati sangat potensial mengundang rayap yang akan merusak akar.
Sementara itu Al seorang petani karet asal Barangin mengaku sangat terbantu dengan adanya seminar ini. “Acara semacam ini yang sebenarnya sangat dibutuhkan masyarakat” ungkap Al. ”Karena banyak petani yang telah mendapat bantuan bibit karet tetapi tidak tahu teknik menanam yang baik. Dengan ilmu yang kami dapat melalui seminar ini akan kami perbaiki cara tanam dan mudah-mudahan apa yang petani dan pemerintah cita-citakan bisa terwujud nantinya”. (Abi/Rni)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|























Ketua Umum Asosiasi Karet Indonesia Transfer Ilmu Kepada Petani Karet Sawahlunto


