11-11-11 dan Kesan 4 Tahun PPWI

KOPI, Yogyakarta - 11-11-11. Tripel sebelas, bukanlah angka mistik. Tetapi angka tersebut amat unik. Apalagi jika saya deret menjadi 11-11-11, 11:11:11. Artinya tanggal 11 November 2011, pukul 11.00 lebih 11 menit, lebih 11 detik.
Momentum tersebut juga menjadi sangat spesial di mata Persatuan Pewarta "PPWI" Warga Indonesia yang genap berusia 4 tahun pada 11 November 2011 (11-11-11). Sepanjang rentang waktu tersebut, PPWI telah mengalami banyak dinamika, fluktuasi, gerak maju, stagnan bahkan mundur. Intinya satu, semua dinamika tersebut telah memberikan proses pendewasaan yang lebih matang. PPWI yang baru 4 tahun berdiri, memang membutuhkan suntikan spirit pendewasaan diri. Agar segera menjadi institusi yang mapan, kokoh dan kuat idiologi keorganisasiannya.
Sebagai embrio organisasi yang pada awal mula berdirinya bertujuan untuk mewadahi kepentingan beraktualisasi bagi setiap warga negara dalam bidang jurnalisme, tanpa membeda-bedakan kultur, agama, profesi, suku, ras dan etnisitas, PPWI berani mendeklarasikan diri sebagai organisasi nirlaba, non profit orientasi, yang diprakarsai oleh sejumlah tokoh penting. Penulis, sebagai salah satu pelaku sejarah berdirinya PPWI, meskipun bukan sebagai tokoh mainstream, 4 tahun lalu, tepatnya ketika ikut hadir dalam pendeklarasian PPWI di Aula Kampus SMA Regina Pacis, Slipi, Jakarta Selatan pada 11 November 2007, sudah memiliki firasat baik bahwasannya organisasi ini bakal menjadi besar dan diterima berbagai elemen masyarakat.
Bukti empiriknya, dalam kurun waktu 4 tahun saja, PPWI telah mengembangkan sayapnya hingga ke daerah. Secara kasar mata, pembentukan DPD dan DPC di berbagai daerah di Tanah Air, hingga detik ini masih terus berlanjut. Dan targetnya, akan terbentuk 33 DPD PPWI setingkat propinsi serta ratusan DPC PPWI sekaliber kabupaten/kotamadya. Meski realisasinya, selama 4 tahun berdirinya PPWI, baru terbentuk 13 Dewan Pengurus Daerah PPWI yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Papua, Riau, DKI Jakarta, Kalteng, dan DI. Yogyakarta. DPD PPWI DIY merupakan DPD PPWI yang pertama kali dibentuk di Indonesia. Serta sekitar 22 DPC PPWI yakni Subang, Siak, Padang Panjang, Luwu, Malang, Blitar, Minahasa, Labuhan Batu, Selayar, Manado, Pelalawan, Nias Barat, Surabaya, Pati, Medan, Deli Serdang, Tanah Bumbu, Kampar, Makassar, Jaya Wijaya, Tanah Datar, dan Kolaka. Kabarnya DPD PPWI Kalsel dan DPC PPWI Bogor dan beberapa daerah lainnya siap dideklarasikan dalam waktu yang tidak lama lagi.
Meski demikian, dari DPD dan DPC PPWI yang sudah terbentuk itu, masih jauh dari target awal. Tetapi yang patut diapresiasi adalah semangat yang melatarbelakangi terbentuknya PPWI pada tingkat daerah. Yang masing-masing diliputi dengan karakter dan ciri-khasnya masing-masing, sesuai dengan kendala dan hambatan yang mendera masing-masing pengurus di masing-masing daerah. Menjelang ulang tahun ke-4 PPWI, ada yang menarik kali ini. Rencananya dalam waktu dekat ini, pengurus PPWI nasional akan mengadakan pertemuan nasional sekaligus penempaan karakter di Markas Besar Kopassus TNI AD Cijantung, Jakarta selama seminggu (20-26 November 2011). Penempaan mental sangat penting dalam kerangka membentuk karakter, prinsip hidup dan rasa nasionalisme (patriotisme).
Orang cerdas di Indonesia amat banyak. Mencari orang cerdas saja itu mudah. Tetapi mencari orang cerdas yang memiliki karakter yang unggul dan bertanggungjawab, itu yang sulit. Dalam kesempatan tersebut, kita berpesan kepada seluruh peserta acara di atas, untuk bisa benar-benar memanfaatkan kesempatan seoptimal mungkin. Sebagai wahana peningkatan kualitas diri. Dan yang paling sangat vital, jangan sampai dilupakan juga agar pertemuan nasional tersebut, hendaknya juga harus dimanfaatkan untuk mempersatukan visi dan misi yang dimiliki PPWI. Sehingga tujuan utama berdirinya PPWI dapat semakin membumi. Idealnya juga, setiap utusan DPD dan DPC PPWI yang ikut dalam pertemuan nasional nanti, harus mempersiapkan segala ide dan gagasan terbaik, yang bisa memajukan PPWI.
Masalah pendanaan, sebagaimana yang menggelayuti pergerakan organisasi pada umumnya, hendaknya dapat dipikirkan oleh setiap pengurus PPWI maupun anggota yang terlibat dalam organisasi non politik tersebut. Pertemuan nasional diantara pengurus PPWI dan segenap pihak yang peduli terhadap aktivitas jurnalisme di Indonesia pada 20-26 November 2011, adalah pertemuan nasional pertama yang sebelumnya pernah dilakukan. Tetapi sayangnya, setiap peserta yang akan ikut dalam hajatan nasional tersebut, diharuskan membayar ongkos administrasi yang cukup mahal. Dari semula yang Rp 1,5 juta turun menjadi Rp 1 juta. Itupun masih terlampau mahal. Ini menjadi pertanyaan kita, sehingga hanya orang-orang yang memiliki cukup uang saja yang bisa berpartisipasi dalam acara tersebut.
Kita berharap di masa-masa mendatang, kalaupun dibutuhkan tarikan biaya, nominalnya rendah saja. Ini adalah bentuk kritik internal, yang hendaknya bisa disikapi dengan baik oleh setiap petinggi PPWI. PPWI adalah organisasi yang harus merakyat, membumi dan harus identik dengan pewarta warga alias pewarta rakyat.
Singkronisasi PPWI dan KOPI
Pewarta rakyat, berarti wartawannya rakyat. Wartawan yang diperuntukkan rakyat, diperankan oleh rakyat dan ditegakkan demi kesejahteraan rakyat. Tugas utama pewarta rakyat adalah mengimbangi berita-berita dan informasi yang diekspos besar-besar oleh media massa berorientasi pada industri bisnis. Terbentuknya Koran Online Pewarta-Indonesia (KOPI), yang tidak lain juga dipunggawani oleh sebagian pengurus PPWI, tidak lain untuk merealisasikan misi besar PPWI. Singkronisasi misi PPWI dan KOPI, perlu diperbincangkan lebih lanjut.
Sebab jika tidak, dalam masa tertentu bisa terjadi miskomunikasi diantara keduanya. Menurut hemat penulis, KOPI lebih baik ditempatkan sebagai "humas-nya" PPWI. Dialah media massa yang mewartakan segala gagasan, pendapat dan sikap resmi (legal) seluruh elemen yang tergabung dalam PPWI. Tetapi bukan kemudian kondisi ini menjadikan KOPI tidak penuh dinamika, tidak ada polemik dan adu gagasan di antara sesama pewarta warga. Ibaratkan sebuah samudra, PPWI adalah elemen batuan dan cadas yang membentuk permukaan samudra tersebut. Sedangkan KOPI adalah air yang mengisi samudra tersebut. Akan terus terjadi pencerahan dan pergulatan intelektual, spiritual dan batin yang bakal melingkupti seluruh institusi PPWI dan KOPI, tetapi tidak dalam kerangka menemukan perpecahan. Setiap perbedaan pasti ada persamaannya, dan saben persamaan, mestinya juga ada titik perbedaannya.
Tugas PPWI dan KOPI adalah mempersatukan sejuta perbedaan dalan satu persamaan, serta membuat lebih berwarna-warni persamaan yang ada, sehingga lebih indah hidup ini. Sebagai media massa, KOPI, suatu ketika bisa saja berubah haluan atau bentuk. Idiom Koran Online, yang menyertai KOPI, bisa saja berubah menjadi Harian Nasional Pewarta Indonesia (HNPI), atau nama lainnya yang lebih menjurnalistik dan merakyat. Koran Online itu belum populer di dunia, apalagi ia kombinasi antara bahasa Indonesia dan Inggris. Ada ketidakkonsistensian di sana. Berbeda daya dobraknya ketika ia akan berubah nama menjadi Koran Nasional atau Harian Nasional, pasti lebih aplikatif dan diterima khalayak ramai.
Tak ada yang tidak berubah di dunia. Semuanya pasti mengalami perubahan, apapun itu. Semoga tulisan pendek ini, bisa menjadi penyemangat dan sebagai bahan pematik dalam pertemuan nasional PPWI nantinya. Menganalisa konten yang disajikan KOPI sejak kemunculannya beberapa tahun lalu, menunjukkan terjadi peningkatan dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hingga kini jika seluruh karya jurnalistik yang termuat di KOPI dikumpulkan menjadi satu, ketika tulisan pendek ini saya buat, terdapat 6.648 buah tulisan yang telah ditayangkan. Artinya selama satu tahun, kemampuan pewarta KOPI membuat karya jurnalistik sekitar 2.216 buah berita. Atau dengan kata lain, ada perputaran berita sebanyak 6 buah perhari.
Kalkulasi ini menandakan daya kemampuan pewarta KOPI dalam memproduksi karya jurnalistik masih terbilang amat rendah. Kendati begitu yang patut kita banggakan adalah KOPI yang beramalat situsi di: www.pewarta-indonesia.com dikunjungi rata-rata sebanyak 2.300-2.500 pembaca perhari. Sedangkan jumlah penulis yang dimiliki KOPI yakni 2.733 orang serta jumlah hits (klik) atas berita-berita yang telah ditayangkan KOPI yakni sebanyak 1.284.543. Sebuah angka yang amat fantastis, bukan? Artinya KOPI telah dibaca oleh jutaan pembaca di dalam negeri dan luar negeri. Amat fantastis bukan?
Dan satu catatan penting lagi, dari 6.648 berita yang pernah termuat itu, terdapat dua berita yang terbanyak diklik oleh para pembaca. Berita pertama berjudul: "Rubrik Opini dan Lumbung Dolar" yang ditulis oleh Bapak EspedE Ainun Nadjib telah diklik sebanyak 2.929 klik, sehingga menjadi berita yang paling banyak dibaca atau diklik. Sedangkan artikel berjudul: "Panduan Praktis bagi Citizen Reporter Pemula" yang dibuat oleh Bapak Wilson Lalengke (Pemimpin Redaksi KOPI, yang juga mantan Pemimpin Redaksi Harian Online KabarIndonesia) menduduki peringkat kedua, dengan mendapatkan sebanyak 2.475 klik.
Itulah sekelumit pandangan sederhana dari saya, guna menyongsong PPWI yang sebentar lagi genap berusia 4 tahun. Dan yang paling terakhir, meski saya mendahului dari siapapun, selamat Hari Ulang Tahun ke-4 PPWI 11 November 2011, kita selalu menantikan perubahan yang lebih baik. Kita tidak tahu, apakah SEA Games XXVI di Palembang dan Jakarta yang dibuka tepat tanggal 11 November 2011 memang disesuaikan dengan agenda HUT ke-4 PPWI, ataukah itu hanya sebuah kebetulan saja.
Entah disengaja atau tidak, yang terpokok HUT ke-4 PPWI kali ini lebih istimewa ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Setujukah atau kontrakah Anda...! (**)
*) EspedE Ainun Nadjib, Anggota Dewan Editor KOPI, pengurus DPD PPWI DIY 2008-2013
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- DPC PPWI Bogor Segera Terbentuk
- PPWI Kal-Sel Akan Dibentuk
- Pengiriman Piagam Lomba Menulis RI-Maroko Tertunda
- Pengurus PPWI Cabang Kolaka Selesai Dilantik
- Anggota PPWI Akan Ikuti Diklat Kepemimpinan dan Bela Negara di Mako Kopassus
- Subhan, Plt. Sekretaris Umum DPC PPWI Padang Panjang
- PPWI Provinsi Kalimantan Tengah Terbentuk
- Tim PPWI Kunjungi Kopassus - Cijantung
- PEWARTA FOTO WARGA: Menjadi seorang Citizen Photographer Journalist
- Pernyataan Sikap PPWI atas Masalah Penyebaran SMS "Matikan TV Saat SBY Pidato"
- Pengumuman Hasil Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional tentang RI-Maroko
- BREAKING NEWS: Pengumuman Lomba Menulis RI-Maroko Ditunda Hingga Minggu Pagi
- Lomba Menulis Bertema Hubungan RI-Maroko Ditutup
- PPWI Banten Siap Roadshow Jurnalistik Go To School
- PPWI Banten Laksanakan Serangkaian Aksi Sosial


























