Refleksi Menjelang Fajar 2010: Hargai dan Gunakanlah Waktu untuk Kebajikan

0
51

Pewarta-Indonesia, Tak terasa waktu telah membawa kita dipengujung tahun 2009, waktu pulalah yang yang akan memisahkan kita dengan tahun 2009. Tentu 518.400 menit yang lalu, 8.640 jam yang lalu, 360 hari yang lalu, dan 48 minggu yang lalu serta 12 bulan ini memiliki makna bagi kita, ada peristiwa indah yang kita lalui dan banyak pula peristiwa yang mengecewakan dan menyakitkan yang harus kita alami di tahun 2009 ini. Semua cerita tersebut hanya menjadi kenangan dan sebatas kenangan belaka. Karena waktu memiliki tiga fase, pertama, waktu yang lalu, itu hanya jadi kenangan, kedua, waktu sekarang, itulah yang sebenarnya kita miliki sedangkan ketiga, waktu yang akan datang, itupun hanya sebatas cita-cita, impian atau program belaka, bisa jadi kenyataan dengan catatan bila kita laksanakan dan akan tetap menjadi program bila tidak dilaksanakan.



Cerita tentang waktu, mengingatkan penulis pada memori ketika penulis mengajak sang kekasih, dr. Juniarti menikah. Waktu itu, istri menolak untuk menikah cepat (2005), malah mengusulkan agar menikah pada tahun 2007, dengan alasan ingin melanjutkan studi spesialisnya dan ingin hidup sendiri dulu. Tapi, dengan tulus penulis menjelaskan tentang waktu bahwa waktu yang kita miliki adalah sekarang ini karena dua fase waktu yang lain bukan punya kita, waktu yang lalu hanya tinggal cerita dan kenangan saja sedetikpun tidak akan kembali menemui kita, sedangkan masa yang akan datang juga hanya cita-cita dan impian saja, bisa jadi milik kita bisa jadi bukan milik kita, banyak faktor yang akan mewarnai masa yang akan datang sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, doa kita ataupun taqdir kita. Begitulah penjelasan penulis untuk istri. Penjelasan ini ternyata mampu membuat istri menangis dan komit untuk menikah sesuai dengan jadwal yaitu di tahun 2005.

Persoalan waktu juga mengingatkan penulis kepada ungkapan Malik Bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan) saat ia memulai uraiannya dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadis Nabi Saw.: Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. “Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.”Kemudian, tulis Malik Bin Nabi lebih lanjut, Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu –selain Tuhan– tidak akan mampu melepaskan diri darinya.

Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah SWT. Berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang menunjuk pada waktu-waktu tertentu seperti wa Al-Lail (demi Malam), wa An-Nahar (demi Siang), wa As-Subhi, wa AL-Fajr, dan lain-lain. Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia paling tidak terdapat empat arti kata “waktu”: (1) seluruh rangkaian saat, yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan datang; (2) saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu; (3) kesempatan, tempo, atau peluang; (4) ketika, atau saat terjadinya sesuatu.

Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan makna-makna di atas, seperti:

a. Ajal, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat. Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS Yunus [10]: 49).

b. Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan-Nya sampai punahnya alam sementara ini. Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia satu dahr (waktu) sedangkan ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada di alam ini?) (QS Al-insan [76].

c. Waqt digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karena itu, sering kali Al-Quran menggunakannya dalam konteks kadar tertentu dari satu masa. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada orang-orang Mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS Al-Nisa’ [4]: 103).

d. ‘Ashr, kata ini biasa diartikan “waktu menjelang terbenammya matahari”, tetapi juga dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini diambil berdasarkan asumsi bahwa ‘ashr merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata ‘ashr sendiri bermakna “perasan”, seakan-akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja sepanjang masa.

Dari kata-kata di atas, dapat ditarik beberapa pesan tentang pandangan Al-Quran sendiri mengenai waktu (dalam pengertian-pengertian bahasa Indonesia), yaitu: Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng dan abadi kecuali Allah SWT. sendiri. Kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah tiada, dan bahwa keberadaannya menjadikan ia terikat oleh waktu (dahr). Kata waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Arti ini tecermin dari waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari, minggu, Bulan, tahun, dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan bukannya membiarkannya berlalu hampa. Kata ‘ashr memberi kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran. Demikianlah arti dan kesan-kesan yang diperoleh dari akar serta penggunaan kata yang berarti “waktu” dalam berbagai makna.

Akhirnya, di penghujung tahun 2009 ini, waktu yang sangat tepat bagi kita semua baik secara pribadi dan PPWI secara lembaga untuk mengevaluasi diri apa saja yang telah dilakukan dan apa yang belum sempat dilakukan. PPWI yang tak terasa sudah berusia 2 tahun tepatnya berdiri 17 November 2007 lalu dengan anggota yang memegang ID Card PPWI lebih sudah 500 orang tersebar di seluruh nusantara perlu mengiventarisir program yang sudah dilaksanakan dan meningkatkannya di masa mendatang.

Diakui, belum banyak peran yang dilakukan PPWI sebagai konstribusi atas keberadaannya di dunia pewarta warga Indonesia, namun PPWI tidak pula berdiam diri. Salah satu program kerja utama PPWI yang telah dilakukan ialah peningkatan kemampuan (profesionalitas) anggota masyarakat dalam bidang jurnalistik melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) jurnalistik. Selama 2 tahun ini, PPWI telah melaksanakan beberapa kali pelatihan, workshop, seminar, dan pertemuan/diskusi bertemakan jurnalisme warga dengan tujuan utama mendorong keinginan masyarakat luas terlibat langsung di bidang media massa, serta meningkatkan kemampuan tulis-menulis setiap peserta.

Saat ini juga PPWI telah berhasil menjalin kerjasama dengan The American School of Journalism – Jakarta. Dimana kedua belah pihak telah bersepakat untuk menyelenggarakan Pendidikan Jurnalistik di jenjang Diploma (Diploma Course) dengan durasi belajar 1 tahun, yang dibagi dalam 3 caturwulan (Spring Term (Maret – Juni), Summer Term (Juli – Oktober), and Autumn term (November – Februari)). Dan salah satu program di tahun 2010 nanti adalah PPWI pembentukan Kepengurusan PPWI di daerah-daerah.

Sebagai penutup tulisan ini. Alangkah indahnya sebagai renungan menjelang pergantian tahun, pergantian masa ini, kita sejenak merenung kembali, memuhasabah (intropeksi) diri. Walau sebenarnya muhasabah itu sebaiknya kita lakukan tiap hari, setiap saat. Sebagaimana kata Umar bin Kathab, beliau berkata : “Hisablah (hitunglah) dirimu, sebelum dirimu di hisab”. Hal tersebut senada dengan senandung di bawah ini :

Ingat masa mudamu sebelum datang masa tuamu
Ingat masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu

Ingat masa kayamu sebelum datang masa miskinmu

Ingat masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu

Ingat masa hidupmu sebelum datang masa matimu.

Terakhir, mudah-mudahan atas dukungan pewarta warga Indonesia di tahun 2010 program dan kegiatan PPWI dapat terlaksana dengan baik. Semoga media kita ini semakin eksis dan berkembang, sarat dengan berbagai informasi serta semakin berarti bagi dunia pewarta warga Indonesia. Amin. Selamat tahun baru 2010.

Penulis adalah anggota PPWI-Aceh

Sumber image: google.co.uk