Refleksi Menjelang Fajar 2010: Menggugat Senyap

0
38

Pewarta-Indonesia, RAJUT dari sebuah persimpangan, mungkin kehilangan, sebab suara pernah dihempas dan menghuni relung kesunyian. Sebab itu, kami akan tetap merangkai kata dari bilik-bilik sunyi menggugat senyap, dan …seperti itu, suara kami mendera, menggema di segala ruang.

Bukan hanya itu, semua rekaman peristiwa akan kami terakan di segala media, apapun bentuknya. Karena di arus ramai, ada kegamangan; di deru bising suasana, masih tersisa titiktitik beku; di relung paling nadir sekalipun, ada segaris cahaya; dan itulah yang terus kami tumbuhkan, hari demi hari. Persatuan Pewarta Warga Indonesia, sebagai bagian dari dunia pemberitaan dan informasi di jagat ini, sudah memberi tanda, lahirnya suara arus bawah sudah meretak tembok main stream.

Begitu banyak yang sudah sempat dikabarkan untuk 2009, dan kami adalah bagian dari peristiwa itu. Namun, segalanya masih terasa kering dan haus, karena ternyata ada begitu banyak soal yang masih tertudung di “bawah gantang”, dan cahaya kebenaran itu seperti mati suri.

Di sini kami menggugat, sebab, kabar demokrasi di negara kita adalah “pilihan politik kekuasaan terkait sistem”, yang sampai sekarang ini, masih terus merangkak sebagai bayi yang tak mampu berdiri sendiri. Pembangunan di negara kita adalah politik. Pembangunan di negara kita adalah konspirasi. Itulah mengapa ujung yang belum berpangkal dari berita kita adalah korupsi: korupsi waktu yang paling ditakutkan. Sebab kita lebih banyak menunda dengan janji-janji politik yang tak berkesudahan. Indikasi yang paling mudah dari sebuah berita, bahwa, ia dapat “ditukar” dengan uang: uang makan, uang rorok, uang taxi, uang lelah, dan uang-uang yang dapat menyebut dirinya sebagai bukan suap. Untuk realita ini, kami berdiri sebagai salah satu pilar demokrasi, yang salah satunya adalah mengungkap kebenaran, kebenaran via berita yang bertanggunggugat.

Mengerang berbagai perkara, pembentukan opini yang berlangsung di bawah alam sadar yang dilakukan media massa sekarang seakan menyatu dengan sistem budaya dominan dalam benak publik. Semisal rahasia kotak hitam yang terus diperdebatkan, atau kisah lain yang masih janggal dikabarceritakan. Legal sudah kata setuju kekuasaan itu bila yang bicara adalah elite yang tak pernah dikenai kata salah dalam berita yang “kalau tidak salah” sudah dibeber di masa silam. Kita tentu layak heran dengan kondisi seperti ini, sebab kedaulatan rakyat seperti yang dipraksiskan di negara ini, hanyalah tesis “pembunuhan karakter” dari kebenaran itu sendiri. Kita boleh membandingkan segala perkara yang dirahasiakan. Seperti arus otonomi yang tak pernah tegak berdiri di kaki sendiri.

Tahun berlalu, masa berganti, persoalan tak pernah berhenti. Pemerintah dalam regulasi dan peran, menetapkan misi bagi program menuju masyarakat sejahtera akan dijalani dengan mewujudkan koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan, serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan, pengendalian penyelenggaraan dan pengawasan pelaksanaan kebijakan di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan. Keadaan ini akan ditempu melalui koordinasi kebijakan pembangunan kesejahteraan sosial, pembangunan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup, pembangunan pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan anak, pembangunan pendidikan dan aparatur negara serta pemuda dan olahraga, pembangunan agama, budaya dan pariwisata, penanggulangan kemiskinan, pengembangan dan peningkatan sistem informasi, penyediaan tenaga, dana, sarana dan prasarana. Ada pertanyaan menyisa di sana, “sudahkah kondisi ini terwujud?”. Mungkin ada yang sudah, mungkin ada yang belum. Tapi, dari arus yang semakin menderas dewasa ini, tahulah kita, bahwa masih banyak yang harus dibenahi.

Inilah yang mengiang dalam benak kami. “There is but one kind of unity possible in a world as diverse as ours. It is unity of method, rather than aim; the unity of disciplined experiement (Ada satu hal yang bisa disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda ini. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode, ketimbang sebagai tujuan; seragamnya metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan). >>> Lippmann, dalam: wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan.

Demikian juga, Persatuan Pewarta Warga Indonesia, untuk 2010 yang sementara mengalir kian dekat, ada langkah tindak yang hendak kami lakukan demi perubahan konstruktif bagi diri dan negeri yang sama-sama kita cintai.

“Karena Citizen Journalism adalah sebuah konsep pemikiran ilmu, dengan etimologis kata berakhiran ‘isme’ atau ‘ism’ yang berarti merupakan sebuah cabang pemikiran atau aliran intelektual. Tentu saja warga yang berkiprah dalam Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) haruslah terlebih dahulu memahami dengan baik dan benar konsep Citizen Journalism. Karena itu, kami dari PPWI adalah satu-satunya organisasi yang berkeyakinan penuh bahwa Citizen Journalism merupakan bentuk ‘way’ bahkan ‘ high way’ atau jalan besar -yang seharusnya bebas hambatan- agar rakyat dapat menyalurkan semua bentuk komunikasi, baik lisan dan tulisan pada media massa baik, cetak dan elektronik agar tercapai Indonesia yang Demokratis.”

Hari ini, masih seperti kemarin. Bola merah masih meramu awan dari langit timur. Berita-berita sederet cerita. Gambar kita ada di layar kaca. Anak-anak tidak lagi berbaris menyalami bendera usang. Ada berita kelahiran prematur, keguguran yang disangka abortus criminalis, perempuan yang terpenjara karena hukum yang paternalis, jutaan anak lelaki dan perempuan menjadi korban aktivitas illegal seperti perbudakan, penyeludupan manusia, exploitasi seks dan segala perkara yang belum dicarikan jalan keluarnya.

Namun, masih tersisa keyakinan, bahwa kebenaran akan tumbuh dan berbuah tepat waktu seperti yang ditetapkan pena abadi yang meramu peradaban ini selalu beru setiap hari. Selamat tahun baru 2010. Tuhan beserta kita sekalian!

Jakarta, Penghujung 2009

Penulis adalah anggota PPWI