Refleksi Menjelang Fajar 2010: PPWI Penegak Pilar Demokrasi

0
53

Pewarta-Indonesia, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) merupakan wadah bagi Warga Negara Indonesia untuk berpartispasi aktif dalam kegiatan Citizen Journalism. Apa itu Citizen journalism? Bagi kebanyakan masyarakat istilah ini sama sulitnya dengan memahami ilmu jurnalistik itu sendiri. Padahal para pendiri PPWI selalu berusaha keras agar semua warga negara bisa dengan mudah menyalurkan aspirasi dan tulisan-tulisan yang merupakan bentuk berita (news), atau features (artikel minat insani) dan opini masyarakat, demi tercapainya amanat konstitusi Republik Indonesia terutama pasal 28 UUD 1945, yang menjamin kebebasan berserikat dan berpendapat, karena ini adalah amanat konstitusi kita.

PPWI selaku wadah atau serikat pada Pewarta Warga (Citizen Journalist) sudah seringkali mengadakan pendidikan dan latihan pada banyak kalangan yang tertirik untuk memahami tentang konsep Citizen Journalism. Maka menjawab pertanyaan apakah Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) dan siapakah Citizen Journalist (Pewarta Warga) itu?

Citizen Journalism (Jurnalisme warga) adalah Konsep Ilmu yang membimbing warga Negara agar mudah menyalurkan pendapat, baik lisan dan tulisan guna melaporkan atau membuat berita (news), Feature (Artikel Minat insani), dan Opini agar tercapainya masyarakat madani (Civil Society) yang demokratis.

Citizen Journalist atau Pewarta Warga adalah Warga Negara yang melakukan kegiatan berkomunikasi guna menyalurkan aspirasinya, baik berupa berita (news) dan feature (Artikel Minat insani), yang berdasarkan fakta yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta opini warga yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang ditampung dan disalurkan melaui media massa baik cetak dan elektronik. Karena kebebasan berserikat dan mengluarkan pendapat dijamin oleh UUD 1945 yang merupakan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka semua warga negara tanpa ada diskriminasi SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dapat bebas tanpa rasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya.

Karena Citizen Journalism adalah sebuah konsep pemikiran ilmu, dengan etimologis kata berakhiran ‘isme’ atau ‘ism’ yang berarti merupakan sebuah cabang pemikiran atau aliran intelektual. Tentu saja warga yang berkiprah dalam Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) haruslah terlebih dahulu memahami dengan baik dan benar konsep Citizen Journalism. Karena itu, kami dari PPWI adalah satu-satunya organisasi yang berkeyakinan penuh bahwa Citizen Journalism merupakan bentuk ‘way’ bahkan ‘ high way’ atau jalan besar -yang seharusnya bebas hambatan- agar rakyat dapat menyalurkan semua bentuk komunikasi, baik lisan dan tulisan pada media massa baik, cetak dan elektronik agar tercapai Indonesia yang Demokratis.

Demokrasi adalah konsep hidup bangsa yang sadar bahwa aspirasi warga haruslah mendapat perhatian karena ada pepatah Vox Populi, Vox Dei artinya suara publik adalah suara Tuhan. Contohnya; apabila publik menuntut keadilan, maka Tuhan telah terlebih dahulu berkehendak keadilan Universal. Jika publik mengecam korupsi, maka Tuhan telah terlebih dahulu melarang manusia untuk korupsi dan mencuri. Jadi suara rakyat banyak akan sebuah nilai-nilai yang mulia (divine virtue) datang dari Tuhan.

Namun yang perlu dipahami, pengertian suara publik di sini benar- benar merupakan suara hati nurani publik, bukanlah rekayasa dan diatur oleh kehendak ambisi pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan massa. Kalau sudah terjadi rekayasa, maka istilah Vox Populi Vox Dei menjadi buram dan mudah diplesetkan. Contohnya jika penguasa yang memiliki ambisi pribadi menggerakkan massa rakyatnya agar bersuara, maka hal itu bukanlah kehendak masyarakat secara natural. Namun jika masyarakat menginginkan sesuatu yang bersifat natural serupa keadilan dan kemakmuran, maka jelas hal tersebut datang secara natural dari hati nurani masyarakat.

Untuk itu agar renungan akhir tahun ini tidak berat, dan mudah dicerna oleh pembaca, maka PPWI mengajak pada masyarakat luas agar menghayati 4 (Empat) Kebebasan (Four Freedom) yang menjadi tujuan PPWI bagi Rakyat Indonesia yakni :

1. Bebas Dari Rasa Takut (Freedom From Fear)

2.Karena tidak takut maka; Bebas Untuk Mengeluarkan Pendapat (Freedom of Speech)

3.Karena bebas mengeluarkan pendapat, maka; Bebas dari Penindasan (Freedom from Oppression)

4.Karena Bebas dari Penindasan maka tercapai Freedom to Pursuit Happiness atau Bebas Untuk Mengejar dan Meperoleh Kebahagian Hidup secara Hakiki.

Kami PPWI sadar inti dari demokrasi adalah jika masyarakat bebas dari rasa takut dan bebas dari penindasan. Jika sebuah rezim telah mengatur warganya agar takut, karena penindasan serta ancaman bedil, dan penindasan hukum, maka rakyat dengan sendirinya mudah menjadi takut. Sama halnya ketika Prita Mulyasari telah disel selama 20 hari karena melakukan alktivitas penulisan untuk bebas mengeluarkan pendapat, maka hukum besi dengan konsep ‘hukum positif’ menjerat Prita dengan UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Dengan sifat UU ITE yang dapat memaksa secara yuridis formal melalui pasal-pasalnya, ternyata hal ini efektif membuat masyarakat awam menjadi jera serta ketakutan setengah mati untuk bebas bersuara melalui media dunia maya atau dunia internet.

Dampaknya, kini masyarakat awam cenderung jarang mengkritik penyelenggara negara dan pejabat melalui dunia internet karena takut UU ITE, sebuah momok baru untuk menakut nakuti kebebasan warga berpendapat.

Berkaca pada kasus Prita, di mana pengalaman buruknya berobat adalah sebuah fakta yang dialami oleh Prita sendiri, namun ternyata fakta yang dialami Prita sendiri itu dengan mudah bisa dipersepsikan lain oleh ‘hukum positif’ di muka pengadilan. Argumentasi Prita yang mengalami sendiri semua pengalaman dan keluhan selama berobat, kemudian bisa dilawan oleh argumentasi hukum di pihak lain. Maka di sini bisa dipetik pelajaran; meskipun hal yang dialami oleh Prita itu fakta yang dialami sendiri, namun Hukum pada dasarnya adalah adu argumentasi, dan adu kelihaian memaknai dan menerjemahkan secara yuridis pasal- pasal yang ada. Maka di sinilah kemudian muncul istilah ‘pasal karet’ karena pasal-pasal masih bisa diargumentasi lagi di muka pengadilan baik oleh jaksa mapun pengacara. Hal ini tidak pernah terlintas dalam benak Prita maupun orang yang awam hukum, bahwa argumentasi versus argumentasi yang terjadi di pengadilan, ternyata mampu menggoyahkan fakta yang –meskipun- dialami oleh kita, dalam arti Prita sendiri, padahal aspirasi telah disalurkan melalui media berkomunikasi internet.

Oleh sebab itu berkaca pada kasus Prita, bagi warga negara yang hidup dalam era demokrasi sebenarnya kita harus terbebas dari ketakutan dalam bentuk apapun, terutama yang tertera dalam Four Freedom di atas, selama kita ada di jalan yang lurus, jalan kebenaran.

Untuk itu PPWI senantiasa bersedia melakukan pendidikan dan latihan bagai siapa saja yang membutuhkan untuk memahami Konsep Citizen Journalism yang Baik dan Benar guna menjadi Citizen Journalist yang Baik dan Benar pula.

PPWI secara professional terus-menerus berjuang melalui diklat-diklatnya agar konsep Citizen Journalism yang menopang demokrasi terus berkembang dengan baik. Untuk itu, akhir kata kami dari PPWI merekomendasikan : Bagi Anda semua, semua pihak, baik Anda tergabung dalam kelompok masyarakat, pendidik, sekolah, universitas, Departemen dan Instansi serta lembaga swasta dan pemerintah, serta siapa saja yang membutuhkan pelatihan yang sebenarnya guna memahami konsep Citizen Journalism (jurnalisme warga) serta ingin tahu bagiamana menjadi Citizen Journalist yang baik dan benar, jangan ragu untuk mengontak PPWI melalui saluran apa saja, bisa fax, telp dan e-mail, atau kontak di situs kami ini, www.pewarta-indonesia.com.

Kami secara professional dan kompeten siap melayani Anda semua elemen dalam masyarakat, PPWI akan membantu Anda memahami konsep Citizen Journalism yang murni, menggelar praktek langsung on the spot location menjadi Citizen Journalist yang baik dan benar, serta memberikan Anda legalitas berupa membership, plus sertifikat resmi :Graduate from Workshop Citizen Journalism, juga membekali Anda semua warga Indonesia tanpa ada diskriminasi guna memahami rambu-rambu dan peraturan secara detail, agar kita semua bebas mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut, tanpa ada ganjalan dan hambatan, sesuai dengan amanat kosntitusi kita. Selamat Tahun Baru 2010, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa bersama kita.

Mung Pujanarko S.Sos

Pengurus PPWI Nasional

Dosen Jurnalistik Univeristas Djuanda dan Universitas Jayabaya

Alamat Sekretariat PPWI:

Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih No. 32-34

Jakarta, Indonesia

Telp.: +62-21-36918112 (Mrs. Wina)

Mobile: +62-81371549165 (SMS Center)

Fax: +62-21-5742554

Email : [email protected], [email protected]

Website: www.pewarta-indonesia.com