Refleksi Menjelang Fajar 2010: Songsong 2010 dengan Penuh Optimisme

0
43

Pewarta-Indonesia, “Manusia optimistis melihat semua masalah sebagai tantangan, sedangkan manusia pesimistis memandang masalah sebagai hambatan/gangguan.”

Beda manusia optimistis dan orang pesimistis, ternyata tipis saja. Ya, hanya itu. Tapi efeknya meluas kemana-mana. Bukankah hidup ini sesungguhnya adalah tumpukan segunung masalah? Saya sangat percaya hasil yang akan dicapai berbeda, tergantung dari sikap kita terhadap masalah tersebut.

Bangsa kita sejak meraih kemerdekaan pada 1945 sampai sekarang ini, selalu dirundung masalah. Bahkan, kita sebagai warga negara kadang bosan dan super jenuh melihat masalah demi masalah yang datang silih berganti. Tapi saya kemudian berpikir, apakah hanya Indonesia yang dibelit banyak masalah? Hmmm, bukankah negara lain juga begitu seperti China, Vietnam, Thailand atau India. Bahkan negara adidaya seperti Amerika saja tidak pernah luput dari masalah. Tapi mereka tetap bisa lebih maju dalam banyak hal dibanding kita.

Aha, berarti titik tolaknya bukan dari masalah, tapi bagaimana menyikapi masalah-masalah tersebut. Saya jadi teringat petuah seorang motivator, ketika ikut seminarnya tempo hari. “Bukan masalah apa yang menimpa kita, melainkan bagaimana reaksi kita terhadapnya.” Benar! Kadang kita terlena oleh tumpukan masalah dan pusing dengan efek dari masalah-masalah tersebut. Rasanya dunia ini berat dan seperti tidak berpihak kepada kita. Padahal, setelah ditelurusi, ternyata masalah-masalah itu sederhana saja kok. Asal, kita gunakan akal sehat, kerahkan pengetahuan, andilkan pengalaman dan celupkan hati nurani dalam menciptakan jalan keluarnya.

Attitude

Kawan saya yang konsultan bisnis baru saja menulis di dinding facebooknya, “Punya sopir baru dia hapal jalan (knowledge), enak nyetir (skill), tetapi tetap dg masalah klasik sdm kita: tidak disiplin (attitude) … Baru masuk seminggu sdh tdk masuk 2 kali, sekali tiba2 sms tdk masuk krn “ada urusan keluarga” dan sekali lagi tdk masuk tanpa sms krn bangun kesiangan dan pulsa habis.

Dalam sekejap, bermunculan komentar terhadap masalah yang menimpa kawan tersebut. Ada yang berkomentar positif dengan jalan keluar, kawan yang lain dengan cara humor, tapi tak jarang pula yang punya pesan negatif. Satu masalah yang sama bisa disikapi dengan berbagai macam reaksi. Padahal, masalahnya sama.

Seperti juga masalah yang dihadapi kawan tadi, attitude ternyata menjadi salah satu momok bangsa ini. Kemampuan kita dalam berbagai hal tidak kalah dibanding bangsa lain. Begitupula pengetahuan kita, wow, banyak yang lebih hebat daripada orang luar negeri, bahkan orang-orang di negara maju. Silahkan lihat di media massa, siapa salah satu profesor termuda di Amerika? Jawabnya adalah Nelson Tansu, orang Indonesia kelahiran Sumatera Utara. Adik-adik kita di level sekolah menengah pun, berkali-kali menjadi juara Olimpiade Fisika, Matematika atau Sains. Sekali lagi kita tidak kalah dibanding manusia lainnya.

“Lho, tapi kok kita sulit maju ya?” sergah sahabat lain saya. Satu hal yang menjadi penghambat kemajuan kita, ya attitude tadi. Sikap kita seringkali keliru dalam menjalani hidup. Mulai dari sikap dalam diri sendiri, sikap terhadap diri sendiri yang ujungnya akan memengaruhi sikap terhadap orang lain. Juga sikap terhadap lingkungan. Sebagian besar keliru. Dalam ilmu komunikasi disebutkan, komunikasi intra personal menjadi dasar dari komunikasi lainnya yaitu komunikasi antar personal, komunikasi kelompok/organisasi atau komunikasi massa.

Sikap kita tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan terbangun melalui rangkaian kebiasaan sehari-hari, input yang dicerna kepala dan hati, serta komunikasi intra personal setiap saat. Jika semuanya positif atau lebih banyak positif daripada negatifnya, maka otomatis sikap positif pun akan terbentuk. Inilah seharusnya attitude yang dibangun bangsa ini.

Bagi Anda yang penulis, menulislah terus dan sebarkan virus positif kepada masyarakat. Buat Anda yang wartawan, sampaikanlah informasi yang benar dan mencerahkan, buang informasi racun dan menyesatkan apalagi menjadi sumber gosip.

Untuk Anda yang bekerja di sebuah perusahaan, jadilah karyawan yang sungguh-sungguh memberikan yang terbaik.

Dan bagi Anda yang pengusaha, profesional serta kaum independen lainnya, masyarakat butuh peran Anda!

Mari kita songsong 2010 dengan senang hati, gembira dan optimisme tinggi. Tidak ada sejengkal waktu pun, yang tidak berisi masalah…

Selamat Tahun Baru 2010

 

Dodi Mawardi
Anggota PPWI
Penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino
Pengelola Sekolah Menulis [email protected] Indonesia