Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online
None

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
“Nongkrong di Haus Berbonus” Raih MU.....
30/06/2013 | Arifin

KOPI - PT ABC President Indonesia menggelar serangkaian kegiatan “Nongkrong di Haus Berbonus”, Minggu pagi (30/6) di Plaza Utara Senayan, Jakarta. Event tersebut diselenggarakan serentak di tiga K [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Warta Utama BEASISWA ERASMUS MUNDUS: The Stories Behinds
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1435 H, kepada seluruh umat Muslim dan Muslimat sebangsa dan setanah air dan di seluruh dunia. Semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan pahala yang berlimpah di bulan suci penuh rahmat ini bagi setiap anak negeri di segenap penjuru nusantara... Amin...

BEASISWA ERASMUS MUNDUS: The Stories Behinds

BEASISWA ERASMUS MUNDUS: The Stories Behinds
Hakekat Perjuangan Meretas Peradaban

KOPI, “Bagi saya, beasiswa belajar ke luar negeri lebih dari sekedar menimba ilmu, karena ilmu bukanlah satu-satunya hal yang kita peroleh dari beasiswa.” Inilah kutipan bagus yang menarik perhatian saya ketika melihat-lihat buku kiriman Dina Mardiana, koordinator editor buku Beasiswa Erasmus Mundus, The Stories Behind. Kalimat indah di halaman 32 buku itu yang saya jadikan pembuka artikel resensi ini dituliskan oleh seorang penerima beasiswa yang disponsori Uni Eropa, Anggiet Ariefianto di bawah judul tulisannya: Beasiswa ke Luar Negeri Bukan Sekedar Mendapat Gelar.

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini. Berawal dari sapa-menyapa beberapa waktu lalu di jejaring sosial facebook dengan rekan Dina Mardiana, seorang yang ditugasi mengelola kegiatan para alumni Erasmus Mundus sepulang ke tanah air. Dina menyampaikan permintaan kepada saya untuk berkenan membaca, memberi komentar, dan bila mungkin membuatkan resensi buku tersebut untuk kemudian dipublikasi di media massa. Hari ini, buku hasil kompilasi tulisan dari beberapa alumni penerima beasiswa dimaksud tiba di tangan saya, disampaikan oleh pak pos yang selalu setia menjalankan tugas mulianya.

Setelah menelusuri sekilas halaman-demi-halaman, saya amat terkesan dan seakan “dipaksa” untuk meninggalkan aktivitas lain dan langsung membuat resensi bukunya. Betapa tidak, perburuan beasiswa luar negeri telah menjadi salah satu kegiatan “petualangan” bagi banyak lulusan di negeri ini. Limabelas artikel di buku terbitan Kurniaesa Publishing tersebut sungguh penting dibaca oleh khalayak pembelajar di manapun. Selain menyajikan berbagai kiat menerobos palang penghambat mendapatkan beasiswa ke luar negeri, juga kaya akan inspirasi positif yang mampu membangkitkan kesadaran terbaik seseorang tentang apa makna mendapatkan beasiswa. Sebagaimana yang diungkapkan M. Mushthafa, anak Madura lulusan Fakultas Filsafat UGM 2007: Erasmus Mundus sebagai Pengalaman Peradaban.

Bagi saya yang sempat mendapatkan beasiswa luar negeri dari Ford Foundation dan Erasmus Mundus di periode belajar yang berbeda, mimpi mengenyam pendidikan di luar negeri sudah “tersemai” di dalam hati sejak pertama duduk di bangku SMP di sebuah kecamatan terpencil di Kabupaten Poso (sekarang masuk Kabupaten Morowali). Pemicunya adalah adanya mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang sekolah menengah pertama itu. Muncul seketika pertanyaan konyol: “Dari manakah datangnya bahasa ini? Saya ingin ke sana dan bercakap-cakap dengan penutur asli bahasa itu!” Menyadari diri yang berasal dari keluarga kampung yang miskin, belajar ke luar negeri tentulah bukan hal mudah. Tapi mimpi itu telah menjadi batu sandungan yang harus disingkirkan, dihancurkan; caranya harus berhasil mewujudkannya, bercakap-cakap dengan orang Inggris walaupun dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbata-bata. Karena miskin, tujuh tahun saya fokus kejar beasiswa!

Persentuhan antar budaya yang berbeda menjadi menu sosial keseharian para pelajar Indonesia di luar negeri. Mahasiswa penerima beasiswa Erasmus Mundus yang berasal dari berbagai belahan dunia sudah tentu mengalami keadaan ini. Namun, Erasmus Mundus ternyata mengelola kondisi pertemuan budaya-budaya tersebut secara unik dan menyenangkan. Pesiapan menghadapi shock culture senantiasa diberikan kepada setiap calon mahasiswanya sebelum berangkat menjalani studi. Simaklah nukilan yang saya ‘copas’ dari tulisan Dwi Larasatie Nur Fibri di bawah judul: ‘Cos the World Tastes Good, sebagai berikut.

“Keesokan paginya, kami sarapan dengan susu segar hasil pemerahan pagi itu plus cokelat, roti, selai buatan sendiri (ada red berries, apricot dengan madu, apricot saja, blueberry, dan yang paling saya suka adalah peach dengan jahe), mentega dan tentu saja keju. Ini adalah sarapan setiap hari ala orang Prancis. Itulah mengapa Pauline sangat terkejut ketika saya masih serumah dengan dia, dan dia mendapati saya sarapan pagi dengan menu nasi dan ayam!! “Chicken??? Meat is not for the morning!!” begitu katanya, hahaha.... Lalu saya menyahut, “Roti, pagi hari?? Mana cukup!!!” (hal 56).

Erasmus Mundus mungkin satu-satunya program beasiswa terunik yang ada di dunia saat ini, terutama dikaitkan dengan pola studi mahasiswa penerima beasiswa. Bayangkan, jika Anda harus belajar di beberapa universitas untuk selesaikan satu program studi yang diambil. Di Erasmus Mundus, mahasiswa wajib belajar di dua hingga empat universitas di 2 hingga 4 negara berbeda! Sebagai alumni Erasmus Mundus, saya berkesempatan belajar di Utrecth University di Belanda dan Linkoping University di Swedia untuk menyelesaikan studi Master in Applied Ethics yang saya ambil saat itu. Pengalaman hidup para mahasiswa tidak hanya kaya dengan ilmu pengetahuan dan pola pembelajarannya, tetapi juga dipenuhi perjuangan dan petualangan hidup melintas peradaban, baik peradaban antar negara-negara di kawasan Eropa dan juga antar budaya dari berbagai komunitas masyarakat dunia yang hadir di sana.

Buku setebal 196 halaman besutan 15 orang lulusan pasca sarjana dari berbagai universitas terkenal di Eropa ini amat layak untuk dibaca oleh para pelajar dan mahasiswa Indonesia. Bahasanya menarik namun elegan. Sejarah hidup para penulis yang diuraikan dengan bahasa populis, bahasa rakyat. Pengalaman mengejar beasiswa dan selama menjalani program belajar dan hidup di Eropa, mereka tuangkan dalam bentuk cerita bergaya bahasa anak muda, dibumbui bahasa gaul yang luwes dan amat mengena suasana hati dan jiwa muda, dipastikan akan mampu menjadi bayang cerdas nan hidup bagi setiap pembaca. Para penulis secara santai, lugas dan cukup terbuka menceritakan setiap sudut dan lorong waktu perjalanan dan pengalaman pribadi mereka mengenai beasiswa Erasmus Mundus.

Sayangnya, buku ini belum bisa didapatkan di toko-toko buku, namun bila berminat silahkan menghubungi Dina Mardiana via email : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it .

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.