Dicari Pers Peduli Lingkungan Hidup
KOPI, Yogyakarta - Pers, lebih luasnya media massa elektronik dan cetak memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya dalam membongkar berbagai kasus illegal logging, illegal mining, illegal fishing, jual beli flora-fauna yang dilindungi dan segala kejadian yang berhubungan dengan pengrusakan (bukan kerusakan) lingkungan. Lemahnya aparat penegak hukum dalam menjerat para pelaku kejahatan lingkungan hidup sendiri, menjadi paradoks di tengah kepedulian berbagai elemen bangsa dalam melindungi kepentingan bangsa ini.
Menurut Supadiyanto, S.Sos.I, (S.Kom) yang menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional Lingkungan Hidup menjelaskan, kepedulian para praktisi media massa dalam mengadvokasi dan melakukan investigasi berbagai skandal kejahatan yang berhubungan dengan lingkungan hidup, diharapkan dapat menjaga kelestarian alam Indonesia yang sangat indah.
Media massa cetak dan elektronik, lanjut kolumnis berbagai media cetak lokal dan nasional ini, idealnya menjadi media independen yang bebas dari berbagai kooptasi kepentingan politik. Sehingga fungsi media sebagai pilar keempat dalam negara demokrasi setelah peran legislatif, yudikatif dan ekesekutif, dapat berjalan dengan baik dalam mengawasi berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah yang berkuasa.
"Di mata kaum kapitalis, hutan dipandang sebagai sumber bisnis. Di mata para penguasa koruptif, hutan diposisikan sebagai sumber penghasilan keluarga. Dan di mata kaum humanis, hutan dijadikan sahabat dan teman berdialektika," ujar Supadiyanto, mantan jurnalis Jawa Pos (Radar Solo) dalam Seminar Nasional dan Latihan Kepemimpinan Sylva Indonesia di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 23-25 November 2011.
Dalam seminar nasional yang dihadiri tak kurang dari 60 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, seperti utusan perguruan tinggi dari Papua, Lampung, Kalimantan, Sulawesi dan berbagai kampus lainnya, Supadiyanto menandaskan betapa pentingnya bagi para pemerhati masalah kehutanan dan rimbawan untuk menjadi penulis di berbagai media massa.
"Calon sarjana kehutanan dituntut harus memiliki kemampuan plus, yakni menjadi Sarjana Kehutanan yang penulis. Maksudnya mereka harus bisa menuangkan gagasan dan pendapat mereka di berbagai media massa, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat umum agar bisa menampilkan buah pemikiran mereka," kata Supadiyanto, penulis buku Booming Profesi Pewarta Warga, Wartawan dan Penulis.
Terlebih di era globalisasi ini, di mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tercapai dengan pesat, memberikan berbagai kemudahan dan kebebasan kepada setiap orang bisa mengakses begitu mudah seluruh informasi di berbagai belahan dunia. Hal tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan kepada para pecinta lingkungan hidup dan calon Sarjana Kehutanan dalam berjuang dalam mempertahankan kelestarian lingkungan hidup.
Supadiyanto yang juga menjadi Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DIY ini berpendapat, bisa jadi hancurnya alam semesta ini tidak karena perang atau kiamat. Melainkan karena terjadinya musibah alam yang dipantik akibat kesembronoan dan keserakahan manusia terhadap eksistensi alam dan lingkungan hidup. Pada abad modern ini, manusia bisa memindahkan gunung, menimbun lautan, kemudian menjadikannya kawasan tempat tinggal yang nyaman. Manusia juga dapat meratakan rawa, menyulap hutan menjadi kota yang maju dan modern. Tetapi kecenderungan yang terjadi, kebanyakan manusia kehilangan hati nuraninya, meski mereka bisa digolongkan sebagai kaum intelektual.
Hutan adalah kekayaan alam yang paling berharga. Eksistensi kelestarian hutan di berbagai belahan dunia, terutama di Indonesia semakin mengkhawatirkan dari masa ke masa. Luas hutan Indonesia yang kini tinggal 60 juta hektar yang masih berkualitas bagus, sedangkan 60 juta hektar lagi sudah berada dalam tahap mengalami kerusakan hutan. Padahal luas hutan Indonesia yang sebesar 120 juta hektar lebih sedikit, idealnya bisa menjadi ciri khas dan andalan bangsa ini. Maraknya kasus pengrusakan hutan, tambang ilegal maupun legal yang merugikan kepentingan bangsa, kebakaran hutan dan aneka bencana kehutanan lainnya, menyebabkan ketidakpastian nasib kelestarian hutan.
Kepedulian para wartawan, pecinta lingkungan hidup dan pemerhati kelestarian alam dalam mengeskpos berbagai berita dan informasi seputar dunia lingkungan hidup, menjadikan minimalisnya informasi yang diperoleh masyarakat umum. Media massa yang juga jarang menampilkan isu-isu menarik seputar lingkungan hidup, membuat publik menganggap bahwa media massa tidak peduli pada masa depan kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Supadiyanto yang juga menjadi redaktur media online Kabar Indonesia mengakhiri, yang menyatakan siap dihubungi setiap saat pada nomor telpon; 08179447204 dan email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it , bahwasannya bangsa yang besar adalah bukan bangsa yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi. Tidak juga sebuah bangsa yang jumlah penduduknya sangat besar. Melainkan sebuah bangsa yang menghargai eksistensi dan kelestarian alam, lingkungan hidup dan hutan. Hutan adalah sumber kehidupan, bukan sumber penghidupan.
Salah satu peserta Aris, mahasiswa Universitas Hasanuddin dalam kesempatan tersebut mempertanyakan kepada narasumber mengapa semua media ditumpangi oleh kepentingan partai politik. Dengan sangat gamblang, Supadiyanto menjawab, bahwasannya media massa adalah sebuah industri. Meskipun demikian, setiap media massa memiliki visi dan misi yang berbeda-beda sesuai dengan idiologi yang diperjuangkan masing-masing media massa cetak dan elektronik. Dalam praktiknya, mendekati Pemilu 2014, akan terjadi pemetaan politik dalam dunia media massa (pers). Masing-masing koran atau media massa akan terkubu dalam beberapa blok, meskipun itu tidak terbaca secara tersurat, melainkan dapat diindikasi melalui sejumlah parameter atau kecenderungan.
"Maka tantangan para rimbawan dan para pecinta lingkungan hidup, melihat kenyataan di atas, jangan malah anti terhadap media massa. Melainkan bagaimana bisa membantu media massa agar tetap berada dalam garis perjuangan yang membela masyarakat luas, dan kalau bisa mereka harus juga bisa membuat media massa yang sesuai dengan hati nurani mereka," pungkas Supadiyanto, yang baru saja pulang dari Pelatihan Kepemimpinan dan Bela Negara di Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD di Cijantung (Jakarta Timur).
Acara ini berjalan sukses berkat disponsori oleh Harian Umum KOMPAS, Spektrum, Sylva Indonesia dan Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. (**)
Foto: Hampir 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Seminar Nasional dan Latihan Kepemimpinan Sylva Indonesia ini tengah serius menyimak pemaparan materi yang tengah disampaikan oleh Supadiyanto
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- DIKPIM dan BELA NEGARA: Bentuk Karakter Mental Anggota PPWI
- REFLEKSI HUT IV PPWI: Diklat (Jurnalistik) Prioritas PPWI
- Refleksi HUT PPWI 11-11-11
- Politeknik CWE dan PT. Sawit Permai Lestari Tandatangani MoU
- Pengiriman Piagam Lomba Menulis RI-Maroko Tertunda
- Pengurus PPWI Cabang Kolaka Selesai Dilantik
- Desain Baru Uang Kertas Rupiah Pecahan 100000 Bertuliskan “DEWAN PERWAKILAN DAERAH”
- BEASISWA ERASMUS MUNDUS: The Stories Behinds
- Anggota PPWI Akan Ikuti Diklat Kepemimpinan dan Bela Negara di Mako Kopassus
- Gerakan Peduli Lingkungan Lewat Foto bersama PF-PPWI Sulut
- Penasehat Kongres Amerika Kecam Missionaris di Papua
- DPD-RI: 64 UU Rugikan Daerah
- PPWI Provinsi Kalimantan Tengah Terbentuk
- Pimpinan DPD Lakukan Rapat Bersama dengan Pimpinan DPR RI
- Selamat Jalan Steve Jobs Apple
























Dicari Pers Peduli Lingkungan Hidup


