KOPI, Jakarta - Inilah gebrakan PPWI. Baru kali ini PPWI menghelat acara peringatan malam resepsi HUT ke-4 PPWI yang dilaksanakan pada Ahad, 20 November 2011 kemarin. Meski itu baru bisa dilangsungkan 9 hari setelah HUT PPWI (11 November) tetap saja tidak mengurangi kemeriahannya. Acaranya menjadi sangat sakral dan penting karena sekaligus dibarengkan dengan acara Temu Nasional serta Latpim Bela Negara yang diselenggarakan secara maraton di Hotel Nusantara Tanah Abang Jakarta Pusat, Markas Kopassus TNI AD Cijantung dan TMII Jakarta telah berjalan relatif dengan sukses.
Meski dalam praktiknya, terjadi pergeseran agenda acara maupun hal-hal teknis lainnya. Dari seluruh rangkaian acara yang sudah dihelat tersebut, minimal ada 7 langkah skak strategis yang harus ditempuh berdasarkan hasil Pertemuan Nasional dan Latpim dan Bela Negara PPWI 20-26 November 2011. Hasilnya adalah sebagai berikut:
Pertama, menguatkan keorganisasian PPWI dari tingkat pusat hingga daerah. Terkesan pasifnya kepengurusan di tingkat pusat (PPWI Nasional), yang terlihat dari sedikitnya pengurus PPWI Nasional terlibat langsung dalam acara kemarin, menjadi refleksi bahwa PPWI Nasional dalam kondisi "vakum". Hal ini tidak boleh terjadi, apalagi kantor sekretariat PPWI Nasional yang selama ini mencatut alamat di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat adalah "fiktif". Maka dari itu menguatkan keorganisasian harus lebih dulu dimulai dari tingkat pusat, karena ia sebagai induk atau payung yang memayungi organisasi underbouw-nya di tingkat daerah. Karena akan sangat berbahaya jika organisasi ini kuat di daerah, tetapi loyo di tingkat nasional. Kepengurusan PPWI tingkat nasional juga harus bisa menjadi pilot project bagi kepengurusan di daerah. Maka hambatan ini bisa ditaklukkan dengan mengaktifkan pengurus-pengurus PPWI di berbagai tingkatan, sehingga kerja organisasi bisa dirasakan dampak dan manfaatnya bagi masyarakat luas.
Kedua, masih minimnya pengetahuan seputar "PPWI" di kalangan pengurus PPWI baik di tingkat pusat maupun daerah sendiri, hendaknya bisa diatasi dengan pembuatan buku putih mengenai PPWI. Tampaknya masyarakat Indonesia belum siap mengakses informasi yang disajikan PPWI melalui media massa online-nya yang bernama Koran Online Pewarta-Indonesia (KOPI). Sehingga mau tidak mau, suka atau tidak, harus dibuat kebijakan organisasi untuk menerbitkan buku putih "PPWI". Di mana dalam buku tersebut terkandung segala informasi lengkap dan akurat mengenai PPWI. Untuk mengatasi kendala ini, perlu dibuat tim penyusun buku putih tentang PPWI, yang harus bisa bekerja cepat dan bijaksana. Harapannya, melalui buku putih PPWI tersebut, masyarakat luas dan siapapun bisa mendapatkan informasi terakurat mengenai PPWI. Dan sebenarnya PPWI Nasional bekerjasama dengan PPWI Intramedia Press sudah mempunyai buku berjudul: "Booming Profesi Pewarta Warga, Wartawan dan Penulis" yang ditulis oleh Saudara Supadiyanto, S.Sos.I (S.Kom) yang sebenarnya juga relevan dijadikan buku pegangan (pokok) bagi setiap anggota PPWI.
Ketiga, kendala yang paling berat dihadapi PPWI adalah masalah finansial. Kita tahu adanya, bahwasannya semua organisasi pasti membutuhkan sumber finansial. Sebab tanpa adanya sumber finansial yang independen, sebuah organisasi bisa mati secara perlahan-lahan atau stagnan pergerakannya. Finansial memang tidak terlalu pokok untuk menggerakkan sebuah organisasi, tapi sangat penting dalam mengeksekusi berbagai program yang sudah diagendakan. Maka cara mengatasi masalah di atas, PPWI harus menguatkan sumber pendanaan dengan cara-cara yang halal dan sistematis, sehingga minimal bisa memberikan suntikan dana bagi organisasi PPWI entah di tingkat daerah maupun pusat. Kalau perlu juga, sudah waktunya PPWI memiliki sub usaha, yang berbentuk perusahaan, yang berorientasi bisnis.
Keempat, penguatan karakter mental dari setiap anggota PPWI dibutuhkan dalam rangka menghadapi tantangan zaman yang semakin sengit dan canggih. Kecanggihan teknologi ternyata telah memajukan peradaban manusia, tetapi pada aspek yang lain, malahan memundurkan etika, spiritualitas dan budaya bangsa ini. Dengan demikian, pendidikan kepemimpinan dan bela negara di masa kini menjadi sangat penting, sehingga di masa-masa yang akan datang pelatihan semacam ini perlu terus ditingkatkan penyelenggaraannya.
Kelima, kompetensi para anggota PPWI dalam hal ketrampilan jurnalistik perlu ditingkatkan. Hal ini melihat permasalahan yang masih dihadapi sebagian anggota PPWI yang masih mengalami kesulitan dalam hal dunia tulis-menulis, kewartawanan dan jurnalistik, maka perlu dibuat program nasional yakni adanya Diklat Jurnalistik yang bersifat nasional di setiap daerah. Di mana dalam hal ini PPWI Daerah sebagai pelaksana harian bertanggung jawab menghelat acara tersebut, dan PPWI Nasional harus siap setiap saat menjadi narasumber dan fasilitator adanya acara tersebut.
Keenam, ditemukannya sejumlah laporan adanya oknum PPWI yang memanfaatkan jabatannya untuk memeras, menipu dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab lainnya, perlu ditindaklanjuti secara hukum oleh para petinggi PPWI di tingkat pusat maupun daerah masing-masing, agar dampaknya tidak merusak citra PPWI. Yang memiliki visi dan misi universal yakni mengangkat derajat kemanusiaan setiap lapisan masyarakat dan mencerdaskan masyarakat melalui berbagai langkah sistematik yang terprogram dan terstruktur.
Ketujuh, mengingat kepengurusan PPWI Nasional sudah berjalan lebih dari 4 tahun, dan sekitar 1 tahun lagi masa kepengurusan PPWI Nasional sudah rampung, maka masyarakat menuntut agar kinerja kepengurusan PPWI harus semakin optimal. Dan kita mendoakan agar Ketua Umum PPWI Nasional Bapak Wilson Lalengke, MSc, MA bersama Sekjen PPWI Nasional Bapak Ruslan Andy Chandra, Dipl. PR (Aus) bisa bekerjasama secara apik dalam membangkitkan kinerja PPWI baik lingkup nasional maupun daerah.
Terlepas dari 7 catatan penting di atas, kami masih sangat membutuhkan banyak masukan dari masyarakat luas dan segenap kalangan yang bisa memajukan PPWI di masa yang akan datang. Dipersilahkan saran, kritik, pendapat dan gagasan Anda bisa disampaikan langsung kepada pengurus PPWI maupun bisa juga melalui alamat email yang sengaja saya cantumkan di bawah ini. Terima kasih. (***)
*) Espede Ainun Nadjib, Sekretaris Panitia Temu Nasional dan Latpim Bela Negara serta jurnalis dan narasumber berbagai seminar jurnalistik lokal maupun nasional, hotline: 08179447204, email:
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it