Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta
            Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online
None

Komentar Warga

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Remaja Kuningan Gagas Gerakan Gemar Bers.....
22/02/2013 | Andri Ana

KOPI, Kuningan – Untuk mengurangi kenakalan remaja di jalanan, memang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan olahraga bersepeda. Hal tersebutlah yang dirintis oleh beberap [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 6143
Isi : 8594
Content View Hits : 2845289
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini3372
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin6256

Warga Online : 74
IP Kamu : 50.19.155.235
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Warta Utama "Penulis Tak Kenal Istilah Pensiun"

"Penulis Tak Kenal Istilah Pensiun"

KOPI, Yogyakarta - Acara Seminar Jurnalistik Gratis untuk Rakyat yang dihelat PPWI DIY bekerjasama dengan IMM FKIP UAD Yogyakarta dan Forum Indonesia pada Ahad (18/12) kemarin berlangsung secara menarik dan interaktif. Narasumber utama yakni Supadiyanto yang notabene-nya kolumnis berbagai media cetak lokal dan nasional sekaligus Redaktur Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Pembicara lain yakni Bramma Aji Putra seorang penulis buku, serta dimoderatori oleh Sulis Styawan (Sekjen PPWI DIY) dapat menghidupkan suasana acara tersebut, diselingi dengan humor-humor cerdas dan mengena.

 

Acara tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai daerah di Yogyakarta (Sleman, Kota Yogya, Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo) dan Jawa Tengah (Karanganyar, Boyolali, Magelang dll). Menurut informasi, rencananya acara serupa yang akan diperbanyak praktik menulisnya akan diselenggarakan pada tanggal 8 dan 22 Januari 2012 mendatang di tempat yang sama. Dan bagi para peserta yang berminat bisa mendaftarkan diri melalui kontak: 087737977731 (Reza), 08995105089 (Lokana), 085868391622 (Titok), 085868391622 (Sulis) atau dengan mendaftarkan diri melalui email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

"Penulis itu tidak pernah kenal istilah pensiun. Jadi sampai usia berapapun Anda, bisa menjadi penulis tanpa terhalang oleh profesi Anda yang lain," ujar Supadiyanto, yang juga menjabat Ketua Umum PPWI DIY dihadapan ratusan peserta. Penulis yang telah melahirkan ribuan karya tulis yang termuat di berbagai media cetak lokal dan nasional seperti Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Lampungpost, Suara Merdeka, Wawasan, Solopos dan belasan koran lainnya ini mengatakan lebih lanjut, menulis itu menyangkut komitmen dan proses kesungguhan hati.

Penulis buku "Booming Profesi Pewarta Warga Wartawan dan Penulis (Mantra Pereguk Pundi-Pundi Rupiah)" ini berseloroh, kira-kira sekarang Anda sedang berada pada tahap yang mana dalam dunia penulisan.

"Apakah Anda sedang sekelas ketapel. Yang bidikannya baru beberapa meter saja. Atau sudah naik kelas sekaliber anak panah, yang jauh lebih efektif untuk mengenai target. Atau ketiga, Anda sudah menduduki kelas senapan. Di mana senapan ini sudah sangat efektif untuk menghabisi musuh yang berada dalam jarak jauh. Atau terakhir, Anda sudah sekaliber bom. Maksudnya tulisan Anda telah menjangkau wilayah yang sangat luas dan amat efektif untuk mengalahkan mereka yang bersenjatakan senapan, panah apalagi ketapel," tegasnya yang disertai dengan tanda tanya dan sontak langsung bertepuk tangan.

Menjadi penulis itu ampuh. Anda bisa menjadi apa saja. Anda bisa berlaku menjadi seorang raja, lanjut alumnus UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta, Anda bisa berperan seolah sebagai panglima perang, karena Anda menulis cerpen atau novel. Kalau Anda bukan sebagai anak konglomerat, atau seorang penguasa, atau wajah Anda tidak terlalu tampan atau cantik,  jadilah seorang penulis. Anda akan populer, karena otomatis banyak orang yang mengenal Anda.

Salah satu peserta, Suparno, pensiunan PNS kesehatan masyarakat yang tinggal di Karanganyar (Jateng) dalam sesi tanya jawab meminta agar berbagai kritik, masalah kasus, dan saran dari para pembaca agar bisa diutamakan pemuatannya. Di samping Suparno, ada belasan penanya lain yang melontarkan banyak pertanyaan kepada para narasumber.

Menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bapak Sukino (FBS UNY), yang mempertanyakan tentang bagaimana agar tidak bosan dalam menulis, Supadiyanto yang mempunyai nama pena Espede Ainun Nadjib ini menguraikan bahwa rasa bosan dalam menulis adalah hal yang lumrah dan manusiawi.

"Cuman, sebagai penulis, kita harus mengatasi rasa bosan tersebut dengan cara-cara yang variatif. Tanamkan dalam diri kita, menulis itu kegiatan rekreasi intelektual. Sehingga tidak pernah bosan kita. Kalau saya sedang bosan, suami dari pengajar STIKES Surya Global Imroatun Fatimah ini menjelaskan lebih detil, saya akan pergi ke pantai atau pegunungan.

"Jika tidak, saya akan pergi ke lobi hotel atau mal, kan gratis...sambil bawa laptop mengetik di sana, sambil cuci mata...," kontan,
disambut gelak tawa hadirin.

Tetapi untuk mengatasi rasa bosan dalam menulis, setiap orang pada dasarnya memiliki caranya sendiri. Itu tergantung pada kebiasaan dan caranya sendiri. Tidak semua orang bisa disamakan, bagaimana cara mengatasi kebosanan dalam menulis.

"Itu sangat subjektif. Bisa dengan mendengarkan musik, jalan-jalan dan cara yang lain," tegas sosok yang aktif menjadi narasumber berbagai seminar lokal dan nasional tersebut, yang disambut antusias peserta Seminar Jurnalistik.

Menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Bapak Amal, seorang praktisi budaya, terkait dengan cara mengatasi hambatan dalam menulis, yang tidak bisa lancar lagi, Supadiyanto yang kini di Kotagede Yogyakarta itu menegaskan, hambatan seperti itu bisa diatasi dengan mengurai permasalahan yang menimbulkannya. Beliau mencontohkan, sewaktu mau menikah dahulu, karena pikiran saya terfokus untuk mengurusi masalah pernikahan yang biayanya sebisa mungkin saya tanggung sendiri, saya tidak bisa menghasilkan karya tulis apapun dalam waktu satu bulan bahkan lebih. Tetapi seiring dengan keberhasilan saya dalam menyelesaikan masalah pernikahan tadi, maka dengan sendirinya proses menulis kreatif menjadi normal lagi.

"Artinya untuk mengatasi kendala menulis, sesungguhnya terletak dari dalam diri kita sendiri. Singkirkan masalah Anda, dengan mengatasi masalah yang tengah Anda hadapi. Jangan menulis di tengah Anda sedang memikirkan banyak masalah ruwet, karena berpengaruh juga pada produk akhir tulisan Anda," bebernya.

Narasumber lain, Bramma Aji Putra mengutarakan tentang trik agar artikel bisa termuat di media massa. Alumnus Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga itu mengutarakan secara detil berbagai kiat dan teknis, agar tulisan para penulis bisa dengan mudah termuat di koran.

Acara yang dihelat sejak pukul 09.00-13.15 WIB tersebut secara umum berjalan sangat meriah, terbukti jumlah penanya yang mencapai angka belasan orang.
Bagi para peserta lain yang belum bisa mengikuti acara ini, masih bisa mendaftarkan diri ke panitia penyelenggara dengan men dihubungi nomor-nomor di atas. Target acara ini adalah setiap peserta harus bisa menulis artikel atau produk karya tulis lainnya di berbagai media massa cetak dan elektronik di seluruh Nusantara. Sehingga parameter berhasil tidaknya setiap peserta mengikuti kegiatan ini jelas, dari kemampuan mereka sendiri menulis di media cetak dan elektronik.

Yang membuat berbeda acara ini adalah diselenggarakan secara gratis, dan setiap peserta akan dibimbing secara intensif selama 1 bulan penuh (1-31 Januari 2012) melalui 2 kali kontak langsung (Dilkat Jurnalistik Lanjutan 1 dan 2) dengan para mentor dan praktisi jurnalistik profesional lain yakni pada tanggal 8 dan 22 januari 2012 mendatang. Di samping itu selama sebulan penuh, setiap peserta bisa berkonsultasi secara langsung dengan para mentor melalui telpon, SMS, e-mail maupun jejaring sosial yang lain.

Yang lebih istimewa lagi, seluruh peserta akan mendapatkan buku-buku jurnalistik dan makalah dan bahan-bahan pendukung lainnya serta praktik menulis
secara langsung. Di masa yang akan datang, program ini akan dinasionalkan dengan mengharapkan dukungan dari seluruh media cetak dan elektronik di Indonesia, Kementerian Pendidikan Nasional RI, Kementerian Informasi dan Komunikasi RI, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, UNESCO, serta pihak-pihak lain yang peduli pada upaya pencerdasan dan pencerahan publik.

Dan bagi pihak kampus, sekolah, pondok pesantren, LSM, instansi pemerintahan, komunitas dan lembaga-lembaga lainnya yang bermaksud ingin menghelat acara serupa bisa langsung menghubungi Humas Centre: 085868391622 (Sulis). Terima kasih...(**)

Foto: Supadiyanto tengah memaparkan materi berjudul: "Honor Rp 1 Juta 1 Artikel, Maulkah? di hadapan sekitar 100 peserta Seminar Jurnalistik Gratis untuk Rakyat di Kampus 3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."