Ada Apa di Balik Tabung Elpiji (LPG)

0
23

Tahukah Anda? Setelah terjadi konversi energi, dimana, tadinya masyarakat memakai minyak tanah dan sekarang dialihkan untuk memakai gas elpiji, dengan mengurangi minyak tanah di pasaran.

Bahwa untuk setiap tabung gas elpiji 3kg, jika masyarakat menganggap bahwa isi gas habis, krn saat menyalakan kompor tidak ada gas yg keluar shg kompor tidak dapat menyala.

Sebenarnya dalam tabung gas tersebut patut diduga masih tersisa sekitar 0,2 – 0,4 kg gas elpiji. Tapi kemungkinan memang gas elpiji dengan jumlah itu didalam tabung sdh kekurangan tekanan sehingga tidak dapat mengeluarkan/menyalurkan gas dari tabung melalui pipa/selang kekompor. akibatnya kompor tidak menyala.

Dan masyarakat awam menganggap bahwa gas elpiji habis, dan membeli lagi/ menukar tabung yang dianggap kosong tadi dg tabung lain yg berisi gas elpiji 3kg.  Dan membayar harga dg sejumlah uang untuk gas elpiji sebanyak 3kg, maka jika terjadi demikian, tabung itu gas yang dianggap kosong tadi jika diisi oleh pertamina/pangkalan, sebenarnya dalam tabung dg kapasitas 3kg tadi, secara logika cukup diisi gas elpiji sebanyak 2,6 – 2,8 kg agar memenuhi tabung yg berisi 3kg.

Jadi ada peluang, bahwa dalam setiap pembelian gas elpiji sebanyak 3kg, konsumen (masyarakat) dirugikan minimal 0,2kg (dengan harga elpiji 3kg yg bersubsidi Rp.4000, maka kerugian adalah 0,2kg x Rp.4000 = Rp.800 untuk pemakaian normal (rumah tangga) gas elpiji 3kg itu dalam seminggu harus membeli 2 kali (kerugian minimal konsumen = Rp.800 x 2 = Rp.1600 per minggu)

Jumlah pemakai elpiji 3kg diperkirakan minimal 3 juta, kerugian minimal masyarakat = 3 juta x Rp. 1600 = Rp 4,8 milyar per minggu, dalam 1 tahun Rp. 4,8 milyar x 52 minggu = Rp 249,6 milyar. (perhitungan ini belum menghitung banyaknya pemakai/konsumen elpiji yang seminggu ternyata bisa sampai 3 kali membeli elpiji 3kg, seperti pedagang makanan, keluarga aktif dll)

Bahwa untuk setiap tabung elpiji 12 kg, jika masyarakat awam menganggap bahwa gas didalam tabung habis, sebenarnya patut diduga didalam tabung masih tersisa sekitar 0,3 – 0,6 kg gas elpiji. tapi kemungkinan karena dengan jumlah sekian dalam tabung, gas elpiji sudah tidak mempunyai daya tekanan yang cukup kuat untuk keluar/ menyalurkan gas dari tabung keluar/ melalui selang menuju kompor, dan masyarakat/konsumen terbiasa menyebut bahwa gas elpiji dalam tabungnya habis.

Berapa kerugian masyarakat/konsumen untuk elpiji 12 kg per tahun, dengan jumlah perkiraan konsumen gas elpiji 12kg minimal adalah 200ribu ?

Untuk itu:

1. Perlu adanya pengujian  dan penelitian baik oleh aparat pemerintah, lembaga konsumen dll

2. Jika dalam pengujian itu terbukti adanya kerugian konsumen, perlu dipikirkan adanya stasiun pengisian gas elpiji atau pengisian gas elpiji keliling, sehingga masyarakat bisa membeli gas dengan sistem seperti pembelian pada bahan bakar minyak. jadi masyarakat saat membeli bisa tahu takaran yang masuk dalam tabung gasnya. Juga selain itu bagi masyarakat yang kurang mampu langsung membeli sejumlah 3kg bisa membeli sesua kemampuannya, misal hanya mengisi 1kg dsb

3. Jika pengujian itu terbukti ada kerugian dari konsumen, patut diperiksa, kemana larinya uang tersebut, dan kemana sisa gas dari pangkalan/pertamina itu dijual dan bagaimana pertanggungjawaban keuangannya selama bertahun2 terdahulu? Karena dalam bahasa para penyalur gas, ada istilah membeli gas kentut dg harga lebih murah untuk dijual lagi pada konsumen, yang patut diduga berasal dari sisa gas yang harusnya dinikmati oleh konsumen

Belum lagi penikmatan subsidi uang negara dari gas elpiji 3kg, jika ternyata pengujian secara obyektif, yang dijual kepada masyarakat ternyata berkurang jumlahnya dari jumlah yang dianggarkan oleh subsidi dalam APBN. berarti patut diduga bahwa selain ada penipuan pada uang masyarakat juga kebocoran subsidi atau pencurian uang negara.

Sumber Berita : Pesisir Tumpat Blog

Sumber Image : Disini

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaPMII Cabang Subang; Gerakan Ideologi atau Gerakan Politik?
Berita berikutnyaKeadilan Harus Ditegakkan
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.