Boediono Bantah Tudingan Robert Tantular Intervensi Sri Mulyani

0
17

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) Boediono membantah bahwa pemegang saham Bank Century Robert Tantular hadir dalam rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang memutuskan penyelamatan bank tersebut pada 20-21 November 2008. Karena itu, Boediono membantah tegas bahwa Robert telah mengintervensi Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam penyelamatan Bank Century.

”Karena dia (Robert) tidak ada di dalam rapat, tidak ada pembicaraan antara Menkeu dan yang bersangkutan. Tidak ada sama sekali fakta seperti itu,” kata Boediono dalam keterangan pers di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, kemarin (12/12). ”Saya sebagai saksi hidup. Saya pertaruhkan kredibilitas saya di dunia dan saya pertaruhkan diri saya di akhirat,” lanjut Wapres.

Seperti diberitakan, anggota Pansus Angket Skandal Century di DPR Bambang Soesatyo mengaku telah memegang rekaman rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dipimpin Sri Mulyani pada 21 November 2008.

Dalam rekaman rapat yang akhirnya menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik itu, kata dia, terungkap adanya pembicaraan antara Sri Mulyani dengan Robert Tantular. Belakangan, mantan komisaris utama Bank Century tersebut menjadi terdakwa kasus penggelapan dana nasabah banknya.

”Robert ternyata juga hadir sesaat sebelum pengambilan keputusan di forum itu,” ungkap Bambang Jumat lalu (11/12).

Dari sejumlah dialog antara Sri Mulyani dan Robert, Bambang menduga adanya semacam kedekatan hubungan di antara keduanya. ”Ada yang patut diduga, dia (Robert, Red) turut memengaruhi alasan penetapan sistemik bagi Bank Century,” kata Bambang.

Boediono mengakui, Robert Tantular dan jajaran direksi Bank Century lain saat itu berada di Gedung Djuanda Departemen Keuangan (Depkeu) ketika digelar rapat KSSK. Robert berada di ruang mezanin lantai II, sedangkan rapat KSSK digelar di ruang rapat besar Depkeu di lantai III.

Boediono menegaskan, meski berada di gedung yang sama pada waktu yang sama pula, Robert dan Sri Mulyani tidak pernah bertemu sebelum dan sesudah rapat brainstorming maupun rapat pengambilan keputusan KSSK yang digelar di ruang kerja Menkeu lantai III Kantor Depkeu.

”Mereka (direksi Century) memang berada di gedung Depkeu. Tapi, mereka tidak ada di dalam rapat. Juga tidak ada komunikasi dari kami (KSSK) dengan mereka,” tegasnya.

Sesuai prosedur, ungkap Boediono, Robert dan direksi Bank Century sengaja dihadirkan Direktorat Pengawasan Perbankan Bank Indonesia (BI) di gedung Depkeu untuk menunggu keputusan KSSK. Jadi, sewaktu-waktu KSSK mengambil keputusan yang memerlukan tanggung jawab manajemen, direksi Bank Century dapat segera melaksanakan.

”Pada situasi seperti itu, prosedurnya memang mereka harus siap. Tidak boleh pergi ke mana-mana. Sebab, ini upaya menangani krisis dengan keputusan yang cepat sekali. Semua harus disiapkan,” katanya. ”Itu adalah prosedur yang normal untuk penanganan bank. Pada masa lampau, (penyelamatan bank saat masa krisis ekonomi 1997-1998) juga demikian,” lanjut Boediono.

Mantan gubernur BI itu merasa prihatin dengan beredarnya rekaman rapat KSSK yang dikesankan sebagai persekongkolan antara KSSK dan direksi Bank Century dalam menyelamatkan bank tersebut dengan alasan sistemik. Rekaman yang beredar itu bahkan dibumbui komentar direksi Bank Century mengintervensi KSSK dengan mengusulkan alasan penyelamatan bank yang ketika itu tengah dilanda kesulitan likuiditas.

”Jangan sampai ada kesan seperti itu. Keputusan-keputusan diambil semurni-murninya untuk kepentingan menyelamatkan perekonomian dalam keadaan saat itu. Tidak ada intervensi dan pengaruh dari siapa pun. Kepentingannya adalah kepentingan umum. Bukan kepentingan pribadi, kelompok, dan lain-lain,” papar Boediono.

”Situasinya sangat gawat dan kita harus mengambil keputusan saat itu. Saya kira, Menkeu dan saya benar-benar memegang prinsip itu saat kami mengambil keputusan,” lanjutnya.

Mantan Sekretaris KSSK Raden Pardede yang juga hadir dalam keterangan pers menyatakan telah mendengarkan kembali rekaman dan transkrip rapat penyampaian pendapat (brainstorming) sepanjang empat jam. Menurut Raden, dua kali nama Robert Tantular disebut dalam rapat. Sekali oleh Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo dan sekali oleh Menkeu Sri Mulyani.

Menurut mantan komisaris Bank BCA itu, Menkeu Sri Mulyani sekali menyebut nama Robert Tantular ketika merespons pertanyaan yang diajukan Agus Martowardojo tentang tindakan yang akan dikenakan kepada pemegang saham Bank Century itu.

”Sesudah itu, ada suara laki-laki yang disangkakan Robert Tantular. Setelah audionya kami dengarkan ulang, ternyata itu adalah suara Marsilam Simandjuntak (ketua UKP3R) yang menekankan lagi pasal-pasal yang bisa dipakai untuk pencegahan dan penanganan krisis,” tutur Raden.

Dia juga menegaskan bantahan soal hadirinya Robert Tantular dalam rapat brainstorming maupun rapat pengambilan keputusan KSSK. Selain dirinya, ada 30-40 peserta rapat yang bisa menjadi saksi.

Boediono Siap Tanggung Jawab

Dalam bagian lain penjelasannya, Boediono juga menegaskan bahwa dirinya mendukung proses hukum di KPK dan proses politik yang tengah berjalan di Panitia Angket DPR untuk mengusut kasus dana penyelamatan Bank Century. Menurut dia, semakin baik dan semakin cepat proses hukum berjalan semakin cepat pula kasus tersebut selesai.

”Semua harus gamblang di depan hukum. Kalau ditemukan tindakan pidana, baik itu korupsi dan tindakan lain yang tidak sesuai aturan hukum, semua harus dibuka di sana. Itu berlaku untuk semua orang yang terkait kasus ini. Ini akan membawa kedamaian di hati masyarakat,” katanya.

Boediono juga mendukung proses politik yang tengah berjalan. Menurut dia, proses politik akan membuat semua masalah menjadi jelas sehingga tidak ada keraguan dan prasangka. ”Jadi, kita bisa bekerja untuk hal-hal yang bermanfaat bagi bangsa. Kita tidak disandera oleh prasangka dan keraguan. Sesuatu yang saya kira sangat tidak baik kalau kita terus-menerus disandera oleh keadaan seperti ini,” terangnya.

Mantan Menko Perekonomian itu juga meyakini seluruh langkah dan keputusan untuk menyelamatkan Bank Century sudah tepat dalam mengatasi masalah saat itu. ”Tujuannya, mengatasi situasi yang memang gawat saat itu. Dan, saya pribadi siap mempertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat atas keputusan itu,” katanya.

Boediono menyatakan tak menyesal telah mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Century. Sebab, langkah tersebut membuat perekonomian Indonesia selamat dari pengaruh krisis finansial global. ”Saya merasa sangat bahagia bisa membawa Indonesia melewati masa krisis dengan hasil yang sebaik-baiknya, dengan dampak seminim mungkin bagi rakyat kita,” tuturnya.

Wapres juga siap mendukung pansus hak angket maupun penegak hukum yang menangani kasus itu. ”Apa pun hasil angket maupun proses hukum, saya dengan terbuka dan senang hati akan memberikan apa pun yang diperlukan. Dengan hati nurani jernih, saya merasa telah memberikan sesuatu bagi bangsa,” katanya.

Boediono juga mengimbau semua pihak supaya melaksanakan demokrasi serta proses politik dengan penuh ketulusan dan kejujuran. ”Saya mengharapkan kita semua bisa menjernihkan situasi dan bukan malah memperkeruh. Saya kira, cita-cita kita berdemokrasi adalah berpolitik untuk kepentingan rakyat, bukan berpolitik demi politik,” katanya. (noe/dwi/ JPPN)

BAGIKAN
Berita sebelumyaAksi “Koin Peduli Prita” Meluas di NTT
Berita berikutnyaTim Coe Periksa Kesiapan Material Indobatt
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.