CATATAN PENTING: Diklat Nasional Jurnalistik

0
35

PEWARTA-INDONESIA, JOGJA — Helatan nasional bertajuk: Pendidikan dan Pelatihan Nasional Jurnalistik Tingkat Dasar dan Mahir yang dihelat oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DIY bekerja sama dengan FORUM INDONESIA dan stake holders lain di Gedung Cine Club FBS Universitas Negeri Yogyakarta pada Minggu (16/5) berhasil menyedot perhatian publik yang luar biasa. Seremonial pembukaan acara tersebut diawali dengan penyematan pin dan cocard kepada 12 perwakilan peserta Diklat Nasional Jurnalistik. Para penyemat pin dan cocard tersebut adalah Prof Dr PHILIPS, WILSON LALENGKE, MSc, MA, SUPADIYANTO, S.Sos.I (Konseptor FORUM “F0-1” INDONESIA), Drs. H ZAELANI, SPd, MPd,I (Mantan Wakil Bupati Sleman).

Para pembicara yang hadir pada kesempatan itu juga sungguh luar biasa. Mereka adalah Drs. SIHONO HT, MSi (Ketua Umum PWI Yogyakarta), WILSON LALENGKE, MA, MSc (Ketua Umum PPWI Pusat), Drs JAYADI K. KASTARI (Redaktur Senior Harian Kedaulatan Rakyat), AKBP Hj ANNY PUDJIASTUTI, S.SOs, MSi (Kabag Humas POLDA DIY), Kolonel CZI SOEPENO (Danrem 072 Pamungkas) dan ANAS SYAHIRUL (Pemimpin Redaksi Harian JOGLOSEMAR). Yang paling mengesankan pada kesempatan tersebut, hadir guest speaker Prof. Dr. J. PHILIPS, PhD, yang merupakan Presiden Direktur Jakarta-Hawai Communication College (JHCC).

Suasana Diklat yang diplot menjadi dua sesi itu semakin gayeng dan interaktif berkat dimoderati oleh SUPADIYANTO (EspedE Ainun Nadjib), yang merupakan kolumnis berbagai media cetak lokal dan nasional. Dalam kesempatan tersebut, Philips mengemukakan bahwa jurnalisme yang bagus adalah model jurnalisme yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada setiap pihak untuk menyuarakan pendapat mereka. Jayadi K. Kastari, yang menjadi pembicara yang tampil pertama kali memaparkan, karir untuk menjadi wartawan profesional tidak dapat dicapai apabila orang yang bersangkutan tidak serius dalam menjalankan tugas-tugas kejurnalistikan. Suatu ketika, ia mengisahkan, ada seorang wartawan magang di koran saya, ia saya ajak untuk berwawancara dengan salah satu tokoh keraton di Yogya. Namun karena pada hari yang dimaksud, sang wartawan magang tersebut hanya memakai kaos oblong saja, wartawan magang tersebut saya marahi dan saya minta agar ia tidak ikut wawancara sebelum ia mengganti pakaian yang rapi. Jayadi, yang juga seorang budayawan ini mewanti-wanti agar para peserta Diklat Nasional Jurnalistik dapat menimba ilmu dan pengalaman dari para wartawan senior.

Selanjutnya Wilson Lalengke menegaskan, monopoli atas dunia jurnalistik oleh wartawan mainstream berdampak buruk pada minimnya kesempatan yang dimiliki oleh publik untuk mampu menjadi wartawan juga. “Sebenarnya semua orang bisa menjadi wartawan. Karena itu adalah hak publik. Hak untuk bebas menyiarkan pendapatnya, hak untuk bebas menerima berbagai informasi yang dibutuhkan,” sergah Ketua Umum PPWI yang juga sekaligus bekerja menjadi PNS di lingkungan Sekretariat Jenderal DPD RI tersebut. Semua orang bisa menjadi penulis, setiap orang mampu menjadi pewarta. Karena itu, PPWI akan selalu memperjuangkan aspirasi publik dalam melek media. Pada akhir pemaparannya, Wilson membeberkan trik pada hadirin agar terus menulis hingga akhir hayat agar menjadi penulis yang tenar. “Pakailah rumus 5 TL. Tulis Langsung, Tulis Lagi, Tulis Lagi, Tulis Lagi dan Tulis Lagi,” sebutnya, yang dibarengi dengan gelegak tawa peserta diklat.

Sementara itu, Anny Pudjiastuti yang mengangkat tema “Bagaimana Polisi Memandang Pers” menandaskan, relasi antara pers dan POLRI adalah saling membutuhkan. Keduanya harus saling bekerjasama, karena peran yang dimainkan oleh pers sangat penting, maka polisi tidak bisa bekerja sendiri. Pers selalu menjunjung tinggi kode etik jurnalistik agar mereka profesional, demikian juga Polri, memiliki pijakan yang sama dalam menjalankan tugas-tugasnya. Ketua Umum PWI Yogya, Sihono yang tampil memukau pada akhir sesi pertama menjelaskan secara detil bagaimanakah kode etik jurnalistik dan hukum pers harus berjalan dengan baik.

Para wartawan tidak bisa semata-mata langsung menjadi wartawan tanpa proses pendidikan kewartawanan. Wartawan yang tiba-tiba memegang kartu pers, berpeluang besar akan menjadi wartawan yang meresahkan narasumber dan masyarakat. Wartawan yang baik selalu menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Dua panelis, yang tampak hadir pada kesempatan itu juga adalah SUKOCO (Jurnalis TV ONE) serta HENDRA SUGIANTORO (Ketua Umum Forum “F0-1” Indonesia). Panelis lain yang hadir yaitu BRAMMA AJI PUTRA (Penulis) dan juga FAIZI (Direktur Cahaya Institut). Pada Diklat Jurnalistik sesi II, hadir dua narasumber berkompetens yakni ANAS SYAHIRUL dan SOEPENO. Anas Syahirul di tengah ratusan peserta Diklat Nasional Jurnalistik itu mengupas tuntas segala hal yang berkaitan dengan opini, berita dan tajuk rencana. Sedangkan Kol CZI TNI SOEPENO lebih banyak mengungkap sudut pandang TNI dalam memandang pers.

“Selama ini kita menganggap bahwa tentara itu sangar. Ternyata pada kesempatan ini kita begitu dibuat terpana, bahwa Bapak pandai melontarkan jurus-jurus humor,” lontar sang moderator, Supadiyanto pada akhir Diklat Jurnalistik sesi kedua. Soepeno mengungkapkan bahwa pers memegang peran sentral dalam pencitraan sebuah institusi. Animo peserta diklat begitu tinggi, terlihat dari berbagai lontaran pertanyaan yang dikemukakan dalam acara tersebut. Mereka umumnya menanyakan persoalan-persoalan teknis seputar dunia jurnalistik dan kepenulisan.

Pada akhir acara, SULIS STYAWAN yang menjadi koordinator panitia diklat membagi-bagikan berbagai doorprize menarik. Setiap peserta merasa sangat senang sekali, karena bisa mendapatkan kesempatan langka bisa berfoto bareng dengan para narasumber serta moderator acara tersebut. Apalagi setiap peserta dibekali dengan fasilitas berupa sebuah buku jurnalistik “Booming Profesi Pewarta Warga, Wartawan dan Penulis”, UU ITE, UU KIP, koran, makalah, cocard, tabloid, makan siang dan snack serta aneka ilmu jurnalistik. Salah satu peserta dari luar kota, yang tak mau disebutkan namanya mengaku sangat senang dan berterima kasih kepada panitia yang berhasil memotivasinya untuk selalu menulis. Para peserta tidak hanya datang dari kota-kota di sekitar Jogja, namun sebagian berasal dari luar pulau Jawa seperti Kalimantan, Bali, Madura dan lain sebagainya. (*)

Foto: Drs. JAYADI K KASTARI (kanan) tengah mempresentasikan makalahnya bersama para narasumber lain (AKBP Hj ANNY PUDJIASTUTI, S.Sos, MSi, WILSON LALENGKE, MA, MSc, Drs SIHONO HT, MSi ) yang dipandu oleh sang moderator kondang (SUPADIYANTO “EspedE Ainun Nadjib”) dihadapan ratusan peserta Diklat Nasional Jurnalistik Tingkat Dasar dan Mahir 2010 di Gedung Utama Cine Club FBS Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu 16 Mei 2010.

BAGIKAN
Berita sebelumyaTiga Kriteria Pewarta Favorit KOPI
Berita berikutnyaDeklarasi FORUM “F0-1” INDONESIA
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.