DPD RI: Pemerintah Lamban Tangani Gempa Papua

0
20
Papua, Indonesia
Papua, Indonesia

Pewarta-Indonesia, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyesalkan reaksi Pemerintah yang sangat lamban menangani gempa bumi 7,1 skala ritcher (SR) yang mengguncang Kabupaten Yapen Kepulauan dan Kabupaten Biak, Papua, Rabu (16/6) lalu. Hingga lebih sepekan, Pemerintah belum berbuat yang optimal, padahal bencana alam itu telah mengakibatkan kerugian jiwa dan harta.

Kelambanan Pemerintah menangani gempa bumi di Papua itu menandakan ketimpangan perhatian Pemerintah terhadap seluruh daerah di wilayah Republik Indonesia, yang terbentang dari Sabang ke Merauke dan dari Pulau Miangas ke Pulau Rote. Seharusnya, Pemerintah memperlakukan seluruh daerah sama pentingnya, baik yang berjarak jauh maupun yang berjarak dekat dari pusat kekuasaan.

”Apa karena Papua itu jauh dari Jakarta, sehingga luput dari perhatian Pemerintah? Berbeda, misalnya, jika gempa bumi mengguncang Jawa, Bali, atau Sumatera, akan banyak yang berbondong-bondong memamerkan perhatian,” sambung Hemas yang juga Ketua Task Force Penanggulangan Bencana Gempa DPD di Gedung DPD Kompleks Parlemen, Jumat (25/6).

”Bagi DPD, seluruh daerah di wilayah Republik Indonesia sama dan sejajar kedudukan dan tingkat kepentingannya, hingga tidak dibedakan perlakuannya. Apa yang terjadi di Papua adalah apa yang juga kita rasakan di Jakarta. Pemerintah harus menganggap bencana alam di Papua sama gawatnya dengan bencana alam di Jawa atau daerah lainnya di negeri tercinta ini.”

Oleh karena itu, Wakil Ketua DPD mendesak Pemerintah bergerak cepat dan tanggap, agar gempa bumi di Papua itu segera tertangani. Pemerintah harus turun tangan langsung sebagai bukti keseriusannya mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan untuk seluruh daerah di wilayah Republik Indonesia.

”Sayangnya, pernyataan berduka dari Presiden atau wakilnya tidak terucap sekalimat pun. Daerah-daerah sungguh membutuhkan tindakan yang nyata, bukan sekadar hiasan kata-kata demi pencitraan belaka,” pungkasnya. Hingga kini, tercatat 17 orang yang meninggal dunia, 24 orang yang terluka, dan 4.606 orang pengungsi.