Identifikasi Tak Jelas, Kelas Hampir Robohpun Masih Dipergunakan

0
26

Pewarta-Indonesia, Proses identifikasi sejumlah gedung Sekolah Dasar di Kabupaten Semarang, tidak jelas dan tidak terarah. Akibatnya, sejumlah bangunan sekolah dasar yang hampir roboh pun hingga saat ini masih dipergunakan untuk belajar mengajar. Dengan keadaan bangunan gedung yang seperti ini, tentunya proses belajar mengajar menjadi tidak nyaman, yang pada akhirnya membuat konsentrasi peserta didik dan guru yang mengajar menjadi terganggu.

Ambillah contoh, beberapa ruang kelas yang ada di Sekolah Dasar Negeri Langensari 04 Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Di ruang kelas IV, sejumlah eternit telah ambrol dan kuda-kuda melengkung. Pihak sekolah telah menyangga ruang kelas itu dengan sejumlah batang bambu. Begitu pula di ruang kelas V, kuda-kuda bangunan sudah melengkung. Karena khawatir bangunan kelas roboh, pihak sekolah akhirnya memindahkan proses belajar mengajar anak kelas IV ke aula gedung serba guna. yang kondisi ruangan juga hampir sama dengan ruangan kelas sebelumnya.

Kepala SDN Langensari 04, Budiyono mengatakan, selain siswa, para guru di sekolah yang mempunyai anak didik sebanyak 277 ini, menjadi khawatir bila terjadi apa-apa dengan gedung yang dibangun pada 1983 tersebut.

“Kami pernah mengusulkan pada UPTD Dinas Pendidikan Ungaran. Namun hingga saat ini, belum ada tanggapan,” jelasnya melalui telpon selularnya, Jum’at (23/7).

Sementara itu menurut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang, Khabib Sholeh Spd, MPd mengatakan, pihaknya akan berupaya secepatnya memperbaiki gedung Sekolah Dasar Negeri Langensari 04 tersebut.

“Untuk itu, dalam waktu yang singkat ini, kami akan koordinasikan dengan pengelola dana percepatan pembangunan infrastruktur pendidikan dari pusat,” kata Khabib Sholeh pada wartawan.

Sedangkan menurut Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, Drs Achsin Ma’ruf, menyatakan, pihaknya menyesalkan dengan adanya sejumlah ruang kelas Sekolah Dasar Negeri Langensari 04, yang hampir roboh tersebut.

”Kami mempertanyakan, bagaimana proses identifikasi bangunan atau ruangan kelas yang hampir roboh seperti itu, bisa terlewati atau tidak terdata. Padahal anggaran yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD yang dialokasikan untuk sektor pendidikan jumlahnya sangat besar,” jelas Achsin.

Ditempat terpisah koordinator Gerakan Elemen Masyarakat Peduli Amanat Reformasi(GEMPAR), Wijananto, menyatakan dengan adanya temuan seperti ini, setidaknya pemerintah pusat perlu segera membentuk tim khusus untuk melakukan audit terhadap Dana Alokasi Khusus (DAK) yang telah dikucurkan, sebab bukan tidak mungkin dana yang begitu besar dan diberikan dengan maksud yang baik akan menjadi sia-sia, karena banyak yang disalahgunakan penggunaannya.

“Semestinya Pemerintah Pusat perlu membentuk tim khusus untuk melakukan audit Dana Alokasi khusus (DAK) yang telah dikucurkan pada Pemerintah Daerah,” katanya.(Arief Joe)

Sumber image di sini