Kemana Haji Membawa Kita

0
18

Oleh: Anisa Mehdi*)

Pewarta-Indonesia, Amman – Di sini di Yordania, berita dalam negeri Amerika seperti tragedi Fort Hood tidak meramaikan halaman utama surat kabar. Alih-alih, fokus berita adalah tentang jaminan para pemimpin politik akan ketersediaan gas butana untuk menghangatkan rumah-rumah selama musim dingin, sumber air yang berkelanjutan, dan perluasan permukiman Israel di Yerusalem. Ketika berita-berita ini memenuhi halaman utama surat kabar, Idul Adha, yang menandai akhir haji, menjadi sebuah sumber harapan.

Idul Adha berarti hari raya kurban. Kisah-kisah di kitab suci mengatakan bahwa Tuhan meminta Nabi Ibrahim membuktikan imannya dengan mengorbankan anaknya. Setan muncul sepanjang jalan menuju altar, mencela Tuhan kejam dan keliru menuntut tindakan mengerikan seperti itu. Ibrahim mengusir setan dengan melemparinya batu. Di akhir kisah, Tuhan menyelamatkan anak Ibrahim dan memberi Ibrahim domba jantan untuk dikorbankan sebagai gantinya.

Kejadian-kejadian dalam kehidupan Ibrahim inilah yang juga diperingati Muslim selama tiga hari haji, termasuk ritual seperti melempar kerikil (jumrah) ke tugu yang melambangkan setan. Pada saat Idul Adha, Muslim menunaikan kurban dengan menyembelih kambing, sapi atau domba—untuk memperingati pengorbanan Ibrahim kepada Tuhan—untuk kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.

Sekitar 10.000 orang Yordania melaksanakan haji tahun ini. Mereka bergabung dengan orang-orang dari Amerika yang hampir sama banyaknya, dan hampir tiga juta orang lainnya dari seluruh dunia. Yang ajaib, meski semua orang ini berkumpul di satu tempat, dan bergulat dengan kerumunan, stres, panas, lapar dan kebingungan, Mekkah tidak lantas menjadi penuh dengan kekerasan, kerusuhan, penembakan atau permusuhan selama musim haji. Selama lebih dari 1.400 tahun haji menjadi ritus Islam, ancaman terbesar yang dihadapinya adalah wabah penyakit.

Bagaimana mungkin, dalam suasana yang berat seperti itu, orang-orang tak dikenal dari segenap ujung planet ini, yang berasal dari etnis dan negara yang berbeda, dan menggunakan bahasa yang berbeda pula, mempertahankan hubungan yang baik di antara satu sama lain selama ritual haji yang berat itu?

Hal ini tidak saja menjadi tantangan haji, tapi juga tantangan Islam sendiri. Jihad sebenarnya yang dihadapi setiap Muslim dalam hidupnya adalah bagaimana menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Haji menjadi ajang pembuktian bagi perilaku, amalan dan ekspresi kemanusiaan yang terbaik.

Biasanya, mudah untuk melihat bagaimana orang berbeda satu sama lain. Banyak di antara kita berusaha untuk membedakan diri kita dari yang lain—kadang kala dengan mengklaim keunggulan atau dominasi semata karena keturunan. Di Yordania, misalnya, umat Islam dan Kristiani hidup berdampingan dan saling mengapresiasi perbedaan keyakinan di antara mereka. Ada orang Yordania dari rumpun Badui, dan orang Yordania dari utara atau selatan, yang masing-masing mempunyai mansaf (sejenis kebuli) dan kunafeh (sejenis kue manis) khas mereka sendiri. Ada orang Yordania Palestina 1948 dan Orang Yordania Palestina 1967, dengan kebanggaan dan kekelaman sejarah mereka masing-masing.

Dalam haji, yang saya filmkan dan siarkan untuk Public Broadcasting Service (PBS) dan National Geographic Television, perbedaan-perbedaan itu kemudian memudar. Pada hari kesembilan bulan haji, di Padang Arafah di mana Nabi Muhammad menyampaikan khotbah terakhirnya kepada kaum Muslim di akhir hidup beliau, banyak penunai haji yang meneteskan air mata, memahami bahwa pada intinya kita dilahirkan, kita mencintai, lalu kita mati; bahwa identitas kita pada akhirnya tertaut pada cara kita menjalani hidup, dan bukan pada bangsa atau suku di mana kita dilahirkan.

Haji adalah juga tentang individu, sebagaimana halnya haji adalah tentang umat dan persatuan manusia. Tuhan berfirman dalam al-Qur’an, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami telah jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa” (49:13). Pelajaran agung ibadah haji adalah: ke mana kita pergi lebih penting ketimbang dari mana kita berasal.

*) Anisa Mehdi (www.anisamehdi.com dan www.anisaammanjournal.blogspot.com) ialah seorang jurnalis dan pengajar lintas agama. Ia menjadi Penerima Beasiswa Fulbright di Amman tahun ini, dan bekerja dengan para pembuat film dokumenter dan para profesional penyiaran.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews); image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaMembawa Pulang Pelajaran Haji
Berita berikutnyaBudaya Kopi di Indonesia
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.