Ketua Umum PPWI Keberatan atas Pelaporan Luna Maya ke Polisi

0
33

Pewarta-Indonesia, Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, menyatakan keberatan atas tindakan melaporkan artis Luna Maya ke pihak berwajib oleh sejumlah wartawan infotainment dan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Hal itu disampaikan Wilson kepada Redaksi Pewarta Indonesia ketika diminta pendapatnya atas kasus pelaporan Luna Maya ke Polisi, berkenaan dengan tulisan sang artis di jejaring Twitter. Namun, Wilson mengaku pernyataannya itu adalah pendapat pribadi, bukan pendapat organisasi Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) yang dipimpinnya.

“Begini ya, tapi ini pendapat pribadi saya, jika yang dipersoalkan adalah tulisan yang ada di media, termasuk di jejaring-jejaring internet, maka saya amat keberatan. Semua yang ditulis orang, itu adalah ekspresi atas apa yang dirasakan, dipikirkan, dilihat, dan sesuatu yang diinginkannya. Jadi tidak pantas untuk dipersoalkan di ranah hukum hingga masuk penjara,” kata Wilson.

Sebagaimana diketahui bahwa beberapa hari lalu Luna Maya sempat menulis di Twitter. Ia menyesalkan tindakan para wartawan infotainment yang memburu dan mendesaknya buka mulut tentang kehidupan pribadinya. Cara-cara yang digunakan wartawan gossip beberapa media massa nasional itu dirasakan sangat tidak enak. Oleh karena itu akhirnya Luna Maya menumpahkan rasa marahnya melalui internet. Tulisannya pada Selasa malam (15/12) itu berbunyi: “Infotainment are LOWER than PROSTITUTES, MURDERERS!!!!! May your soul burn in hell!!!” (Infotainment lebih rendah dari prostitusi, pembunuh!!!!! Semoga arwahmu dibakar di api neraka!!!!)

Menurut Wilson, apapun substansi tulisan baik yang tersurat maupun tersirat, tidak menjadi masalah. Pernyataan berupa pujian, sanjungan, kritikan, cacian, sumpah-serapah, dan sebagainya merupakan hal biasa. Semua itu adalah refleksi seseorang dari apa yang dia alami, rasakan, lihat, yang kemudian melahirkan sebuah kondisi yang dia inginkan.

“Tulisan Prita Mulyasari terhadap RS Omni misalnya, hal itu adalah reaksi yang muncul akibat sebuah pengalaman pahit yang menimpa dia, dan ini juga menjadi pengalaman banyak orang. Muncullah email Prita yang berbuntut pengaduan ke polisi oleh RS Omni yang merasa keberatan atas tulisan Prita tadi,” imbuh Wilson yang mendalami studi Etika Global dan Etika Terapan di beberapa negara Eropa beberapa tahun lalu. “Tujuan utama Prita khan agar rumah sakit dan masyarakat aware terhadap pengalaman yang dia alami. Demikian juga dengan Luna Maya, agar wartawan tidak serampangan saja dalam bekerja, tidak seenak udelnya doang,” tambahnya.

Sepanjang reaksi atau ekspresi yang ditumpahkan seseorang hanya sebatas tulisan, atau bahkan suara dan gambar, tidak menyerang secara fisik, maka hal itu tidak layak diajukan ke polisi. “Apa jadinya kalau seseorang sudah dilarang untuk menumpahkan perasaan dan kekesalannya melalui tulisan?” tambah Wilson. Marah adalah sifat manusiawi setiap orang, sehingga harus ada wadah menumpahkan rasa marah itu. Nah, media internet dan juga koran, majalah, media elektronik seringkali digunakan untuk tujuan mengartikulasikan kekesalan seseorang.

Jika ada yang keberatan dan tersinggung dengan tulisan berisi kata-kata kotor, caci-maki, atau bahkan ancaman di media massa termasuk internet, bagaimana seharusnya merespon hal demikian? Wilson secara singkat menjawabnya bahwa sebaiknya ditempuh cara yang sama, gunakan media untuk menjawab atau membalas tulisan tersebut. Respon berlebihan dengan mengancam dan melaporkan ke pihak berwajib dianggap sebagai kemunduran atas kemajuan demokrasi yang sudah dicapai saat ini.

“Respon terhadap caci-maki atau kata-kata kotor yang ditunjukan ke kita bisa macam-macam. Bisa dengan menulis balik dengan kata-kata yang sama atau lebih parah lagi terhadap yang bersangkutan. Kalau mau menunjukkan bahwa kita lebih baik, lebih bermartabat, lebih benar atau lebih suci, bisa membalasnya dengan kata-kata yang arif, bijaksana, bersahabat, dan menyenangkan. Diam saja juga adalah respon yang baik,” urai Wilson menutup pembicaraan.

Image: Luna Maya, sumber: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaDPD RI Hadiri Pertemuan IPU
Berita berikutnyaSaat Aku
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.