Mencintai Indonesia Melalui Ekspedisi Geografi

0
24

Pewarta-Indonesia, “Tak kenal maka tak sayang.” Kalimat tersebut menjadi kunci untuk mencintai Tanah Air bernama INDONESIA. Untuk mewujudkannya, berbagai usaha dilakukan untuk merekam dan mengenali Indonesia, di antaranya Ekspedisi Geografi Indonesia (EGI) oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) di tujuh wilayah Indonesia dalam lima tahun.

Demikian kesimpulan Lokakarya dan Ekspose Ekspedisi Geografi Indonesia “Menumbuhkan Wawasan Kebangsaan Melalui Kepedulian, Pelestarian Sumberdaya Alam dan Budaya Indonesia” di Plaza Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen Senayan—Jakarta, Kamis (10/6). Acara yang dibuka Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman tersebut diisi dengan ekspose, lokakarya yang menghadirkan beberapa narasumber, dan pameran geografi Indonesia.

Untuk itu, dalam rangka sosialisasi dan refleksi 5 tahun pelaksanaan EGI maka DPD bekerjasama dengan Bakosurtanal menyelenggarakan acara berbentuk ekspose, talkshow, dan pameran. Diharapkan, kegiatan tersebut mengisi ruang politik DPD sebagai lembaga tinggi negara yang berkompeten menentukan arah kebijaksanaan di daerah untuk kemajuan setiap wilayah di Indonesia.

Dalam eksposenya, Agus Hermawan Atmadilaga (Kepala Pusat Survei Sumberdaya Alam Darat Bakosurtanal) menjelaskan, EGI adalah serangkaian pengamatan fenomena geografi (abiotik, biotik, budaya, dan lingkungan) di trase tertentu (misalnya, dari gunung ke pantai) suatu wilayah melalui metode integrated rapid survay. Tujuannya, menyediakan informasi fenomena geografi suatu wilayah yang bersifat potensi dan masalah terkini.

Sejak tahun 2005 hingga 2010, EGI dilaksanakan enam kali setiap tahun, yaitu di Gunung Halimun (Jawa Barat), Jawa Barat, Bali, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sumatera Utara, serta Jawa Timur dan Lombok—Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Hasil-hasil EGI dipublikasikan dalam bahasa yang ilmiah populer agar mudah dipahami masyarakat sekaligus mendapat umpan balik.

Ketua Komite II DPD Bambang Soesilo mengatakan, keseluruhan program pembangunan baik di level nasional maupun lokal harus terencana dan sistematik, termasuk informasi yang akurat sesuai dengan target dan capaian. Selama ini, pembangunan daerah sering mengalami kendala dan hambatan sehingga pelaksanaannya sulit dan lamban. “Tahun ini, Komite II DPD berinisiatif mendorong RUU Tata Informasi Geospasial Nasional,” ujarnya.

Suwahyuono, Kepala Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut (PSSDAL) sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Survei Dasar Sumberdaya Alam Bakosurtanal, mengatakan, Indonesia mempunyai keragaman sumberdaya alam dan budaya yang melimpah yang hingga kini sangat berperan dan penentu perekonomian nasional. Fakta yang ditemukan, masyarakat belum mengenal dan mengerti keragaman sumberdaya alam dan budayanya.

Keterbatasan informasi serta pengetahuan mengenai sumberdaya alam dan budaya ini tentunya mempengaruhi pola pengelolaan sumberdaya alam dan budaya. Oleh karena itu, tuntutan mengelola sumberdaya alam yang lestari harus dikampanyekan kepada masyarakat yang diawali dengan mengenal dan mengerti sumberdaya alam dan budayanya.

Selaras dengan itu, menurutnya, paradigma kewilayahan semakin menonjol yang mengharuskan setiap daerah (provinsi, kabupaten, kota) menyediakan informasi kewilayahan. “Kami mengantisipasinya dengan mengembangkan formula untuk inventarisasi sumberdaya alam dan budaya yang bersifat kewilayahan dan berorientasi masalah masing-masing wilayah,” ujarnya.

Pengelolaan sumberdaya alam dan budaya memerlukan keterpaduan keilmuan, sektor, dan antarwilayah serta menuntut koordinasi terintegrasi baik horinzontal (antarsektor) maupun vertikal (pemerintahan desa hingga pusat). Inventarisasi tersebut mensyaratkan interdisciplinary sebagaimana strategi pembangunan nasional, khususnya pengelolaan sumberdaya alam dan budaya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPD mengatakan, Indonesia memiliki modal untuk menjadi negara besar yang makmur, maju, dan sejahtera. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya alam harus dioptimalkan agar lebih baik, terarah, dan terukur. “Seharusnya, sebuah negara memahami secara komprehensif sumberdaya alamnya dan potensi wilayah yang dimilikinya.”

Dengan menginventarisasi sumberdaya alam, negara akan mudah mengatur dan mengelola sumberdaya alam tersebut untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat,” sambungnya. Prinsip pelaksanaan EGI adalah memaknai konsepsi kewilayahan yang menunjang pembangunan berkelanjutan didukung informasi berbagai sudut yang menambah khasanah kajian.

Green policy, green economy, dan green growth yang dicanangkan Pemerintah harus disambut dan diwujudkan melalui berbagai kebijakan pembangunan berkelanjutan,” tukas Irman. Melalui kerjasama dengan Bakosurtanal, maka berbagai informasi sumberdaya alam di 33 provinsi sangat membantu pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang DPD, khususnya fungsi pengawasan otonomi daerah dan pengelolaan sumberdaya alamnya.

Acara antara lain merumuskan bahwa terdapat empat masalah informasi spasial sebagai usaha untuk merekam dan mengenali Indonesia, yaitu ketersediaan informasi, pertukaran informasi, mempertemukan yang diberi dan yang tersedia, serta sumberdaya manusia penghasil dan pengguna informasi. Selain itu, kebahagiaan berinteraksi dengan alam dan budaya daerah akan menumbuhkan nasionalisme melalui penyebaran pikiran cerdas kepada masyarakat untuk membentuk kebersamaan fisik dan batin.

Saripati Ekspedisi Geografi Indonesia (EGI) 2005–2010

a. EGI 2005: Gunung Halimun (Jawa Barat)

Kegiatan EGI I dapat menarik benang fenomena geografi di kawasan Gunung Halimun sebagai kawasan penyimpan sumberdaya air dan energi berupa panas bumi serta keragamanhayati yang penting saat kini dan masa nanti bagi wilayah daerah hilirnya. Kehadiran Taman Nasional Gunung Halimun dan masyarakat adat Kasepuhan di Ciptagelar selaras dengan nafas konservasi sebagai perhatian kepada lingkungan walau dengan perbedaan pendekatan yaitu pendekatan hukum positif dan kearifan lokal.

b. EGI 2006: Pangandaran – Pangalengan

Kegiatan EGI II mensintesakan kawasan Jawa Barat bagian selatan yang secara teoritis mempunyai fenomena geografi berupa rupabumi yang tidak mudah dikembangkan sebagaimana di wilayah Jawa Barat bagian utara justru menyimpan keragaman kekayaan alam yang luar biasa bagi berkembangnya wilayah. Pesona keindahan pantai pesisir selatan Jawa hingga atraksi alam pegunungan di Tangkubanparahu serta Papandayan menjadi “titik ungkit” perkembangan wilayah di Jawa Barat bagian selatan.

c. EGI 2007: Bali (Utara)

Kegiatan EGI III menguraikan fenomena sumberdaya yang ada di Pulau Dewata, khususnya di bagian utara yang luar biasa bagi penciptaan kesejahteraan. Nafas budaya di lingkungan Puri Ageng Singaraja menjadi spirit masyarakat Bali utara dalam mengembangkan pantai sepanjang Kecamatan Kalibubuk (Lovina), Anggur, Salak Gula Pasir, Pesona Gunung Agung, dan Batur, keragaman hayati di taman nasional dan pulau Menjangan dengan kerukunan kehidupan antarmasyarakat dan jiwa seni; sebagai anugerah sang hyang widi wasa bagi kesejahteraan masyarakat Bali, khususnya di bagian utara.

d. EGI 2008: Sulawesi Selatan (dari Tana Toraja, Makassar, ke Kapoposang)

Sulawesi Selatan adalah provinsi terbesar dan berpengaruhi di kawasan timur Indonesia. Kebesaran dan dinamikanya tidak terlepas dari keaduan memanfaatkan sumberdaya alam di kontinen dan di laut. Di kontinen, keragaman suku bangsa di Maros dengan sumberdaya karst yang terbesar ketiga di dunia, keluhuran budaya Tator menjadi magnet wisata di bagian utara. Sedangkan di laut, kekayaan melimpah di laut Makassar sebagai bagian gugus spermonde yang menjadi bandar perdagangan yang tidak terlepas dari posisi strategisnya dan jiwa kebaharian masyarakat Bugis; menjadi sesi yang mengantarkan Sulawesi Selatan sebagai provinsi yang disegani.

e. EGI 2009: Gorontalo

Sebagai salah satu provinsi yang muda di negeri ini, Gorontalo sudah terlihat geliat dan dinamikanya memajukan wilayah. Potensi sumberdaya dan budaya dikerahkan untuk membangun agropolitan yang berbasis kelautan dan perkebunan untuk kesejahteraan masyarakat. Jagung sebagai tanaman strategis dan perikanan laut yang dipelopori suku Bajo di perkampungan Torosiaje adalah dua ikon yang berkembang pesat, di samping melestarikan sumberdaya lokal khususnya hayati endemik seperti Maleo dan memberikan perhatian kepada suku Polahi sebagai suku terasing agar keseimbangan dan selarasan hidupnya tetap terjalin.

f. EGI 2009: Sumatera Utara

Karakter budaya yang sangat kuat menjunjung sportivitas dan kehormatan menjadi bagian tak terlepaskan dalam mengantarkan Sumatera Utara menjadi provinsi yang besar di wilayah Sumatera. Medan sebagai ibukota yang terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kekayaan alam seperti kesuburan tanahnya yang menumbuhkan perkebunan mulai kelapa sawit, karet, kopi, hingga komoditas lainnya; di samping Danau Toba sebagai salah satu danau vulkanik terbesar di dunia serta hutan Gunung Lauser yang mensuplai air dan udara segar. Bahkan, tidak hanya dalam konteks kekinian, Deli mengangkat nama Sumatera Utara ke kancah internasional melalui tembakaunya yang terkenal. Kondisi ini dilengkapi dengan kebersamaan dan kerukunan hidup di provinsi ini yang sangat multietnis (antara lain Batak, Melayu, Cina, India, Jawa).

g. EGI 2010: Jawa Timur

Ekspedisi Geografi Indonesia di Jawa Timur baru saja selesai dilaksanakan akhir bulan April yang lalu. Walaupun masih disusun hasil-hasilnya, setidaknya provinsi ini menjadi besar juga karena memadukan karakter budaya santri yang kuat dalam mengelola semua potensi sumberdayanya. Surabaya sebagai bandar perdagangan yang ramai menjadi metropolitan di bagian timur pulau Jawa bahkan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia. Megaproject Jembatan Suramadu dibangun untuk mengantisipasi kebutuhan ruang apabila Surabaya Metropolitan Area berkembang ke arah Madura, sebagai konsekuensi pengembangan ruang. Suburnya lahan pertanian merupakan salah satu berkah dari banyaknya gunung api di samping ketersediaan air dari Bengawan Solo dan Sungai Berantas yang sangat dikenal. Bahkan, suburnya lahan ini dipastikan telah menciptakan kemajuan peradaban masa lampau melalui kejayaan Kerajaan Majapahit dan kukuhnya perjuangan Gadjah Mada dalam menyatukan nusantara.

h. EGI 2010: Lombok – Sumbawa (Nusa Tenggara Barat)

Ekepsedisi Geografi Indonesia di Lombok – Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) direncanakan bulan Juli 2010. Nusa Tenggara Barat adalah salah satu provinsi yang mempunyai keunikan budaya dan alam yang diharapkan memberi informasi kepada masyarakat.