Mengembalikan Timbuktu ke Peta Dunia

0
34

Oleh: Charlotte Wiedemann*)

Pewarta-Indonesia, Bamako -Abdelkader Haidara adalah orang yang rajin berbalas email. Ia terhubung dengan dunia modern, tetapi ia juga berada di masa lain: abad ketika kampung halamannya, Timbuktu, menjadi pusat kecendiakawanan Islam.

Sekitar 100.000 manuskrip kuno menjadi saksi sejarah. Ditulis dalam Bahasa Arab yang merupakan bahasa kalangan elit di Afrika Barat saat itu, manuskrip-manuskrip ini berisi berbagai cabang ilmu baik hukum Islam, filsafat, kedokteran, astronomi dan matematika. Haidara memiliki satu di antara manuskrip tertua: sebuah Qur’an yang berasal dari abad ke-13 yang ditulis di atas kulit rusa.

Haidara mewarisi 9.000 manuskrip dari ayahnya, koleksi pribadi terbesar di Timbuktu. Ia memajang manuskrip-manuskrip itu untuk dilihat oleh publik dan memulai tren baru: para pemilik manuskrip memelihara pusaka mereka sendiri dan tidak menyerahkannya kepada pemerintah Mali.

“Keluarga pemilik adalah penjaga terbaik bagi warisan intelektualnya,” ujar Haidara.

Tapi ini soal perawatan dan pemeliharaan dokumen historis yang amat mudah rusak. Sementara proyek bantuan keuangan dari beberapa ahli dari Barat “ditunggangi” dengan harapan agar apa yang disebut-sebut sebagai “perpustakaan tertua di selatan Sahara” ini akan segera bisa dikaji secara akademis dalam bentuk digital.

Dan para pemilik manuskrip tertua Timbuktu ini agaknya semakin percaya diri.

Hingga hari ini, bagi orang Eropa, Timbuktu adalah batas terjauh dunia yang mereka kenal. Padahal sebenarnya, Timbuktu pernah menjadi pusat bagi bagian selatan dunia selama berabad-abad, baik sebagai pusat kegiatan perdagangan maupun sebagai tempat bagi sebuah universitas Islam. Jalan-jalan besar melewati Timbuktu saat itu: dari utara datang kafilah-kafilah, dan sungainya menjadi jalur pedagang emas dari Afrika Barat. Para pedaganglah yang menarik para cendekiawan berdatangan, hingga di Timbuktu pada abad ke-15 ada 25.000 mahasiswa, setara dengan jumlah populasi sebuah kota modern sekarang ini.

Beberapa tahun terakhir, keluarga-keluarga di Timbuktu mulai membuka lemari-lemari tempat mereka menyimpan koleksi-koleksi kaligrafi mereka yang berharga, yang telah menguning. Manuskrip-manuskrip ini membuktikan bahwa “Afrika pernah berperan dalam pengembangan pengetahuan Islam hampir ribuan tahun lamanya,” ujar sarjana studi Islam dari Jerman Albrecht Hofheinz, yang bertugas mendigitalisasi manuksrip-manuskrip tersebut di Universitas Oslo.

Sebagian manuskrip ini berasal dari Andalusia, dari Afrika Utara dan Timur Tengah, sementara sebagian lagi ditulis sendiri oleh para penulis Afrika di Timbuktu. Bahasa Afrika juga ditulis dalam aksara Arab untuk tujuan kontrak dan korespondensi diplomatik.

Tak seperti kebanyakan orang Mali lainnya yang berbahasa Prancis, Haidara, 45 tahun, mendapatkan pendidikan dalam bahasa Arab. Keluarganya mempertahankan warisan budaya Arab dan Islam mereka dan setiap generasi mewariskan manuskrip-manuskrip itu ke generasi berikutnya sejak abad ke-16.

Ayah Haidara belajar di Sudan dan Mesir, ia membeli manuskrip-manuskrip dan menyalinnya dengan tangan. Pada saat itu, banyak keluarga di Timbuktu yang menutup perpustakaan mereka, bahkan menyembunyikan manuskrip-manuskrip mereka dalam pasir karena takut dimusnahkan oleh penjajah Prancis. Di bekas kota kerajaan Segou, orang Prancis menggelapkan manuskrip-manuskrip itu, yang sekarang masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Paris.

Tetapi, meski menganjurkan pengelolaan oleh pihak swasta, Haidara menghabiskan waktu 20 tahunnya untuk membeli manuskrip bagi Ahmed Baba Insitute, lembaga yang dibiayai negara, di Timbuktu. Sekitar 30.000 manuskrip sekarang tersimpan di sana.

Haidara adalah orang yang pertama membuka perpustakaan swasta pada 1993, dan mendorong keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama. Hasilnya benar-benar mengejutkan; Timbuktu sekarang memiliki 32 perpustakaan swasta. Orang Timbuktu sekarang semakin sadar akan nilai warisan mereka, termasuk nilai materialnya.

Tapi ketika Haidara pertama kali mencari bantuan keuangan di luar negeri sekitar 15 tahun lalu, tak ada yang percaya ceritanya tentang perpustakaan kuno di Afrika. Kondisi ini berubah pada 1997 ketika Henry Louis Gates, kepala jurusan Kajian Afrika Amerika di Harvard, melihat manuskrip-manuskrip itu dan langsung membawanya untuk mencari sponsor di Amerika Serikat bagi perpustakaan tersebut.

Perpustakaan milik Haidara yang dinamai sesuai nama bapaknya, Mamma Haidara, telah berkembang menjadi sebuah perusahaan menengah dengan 12 orang pegawai. Pada 2008 Juma Al Majid Center for Culture and Heritage di Dubai membantunya mendirikan laboratorium untuk memperbaiki, memelihara dan mendigitalisasi manuskrip-manuskrip tersebut.

Perpustakaan Haidara menyelenggarakan lokakarya reguler, yang dihadiri oleh orang-orang Arab Azawagh berjenggot pendek dari Mali, Niger, dan Aljazair, suku nomad Berber Tuareg dengan turban dan kacamata bacanya, serta banyak lagi yang lain. Para pemilik perpustakaan ini kini belajar tentang katalog digital.

Savama, konsorsium nirlaba bentukan perpustakaan-perpustakaan manuskrip pribadi di Timbuktu, menyelenggarakan berbagai lokakarya dan acara lainnya untuk mempopulerkan warisan yang mereka miliki, dengan penugasan penerjemahan lokal dan program belajar liburan. “Benar-benar memalukan jika tidak memahami manuskrip yang dimiliki sendiri,” ujar Haidara. “Kami sudah mulai kehilangan ‘budaya Islam’ kami. Tarekat Sufi yang mengajarkan Islam yang toleran di Timbuktu sudah hampir punah. Dan bahkan sejarawan terbaik Mali tak bisa berbicara bahasa Arab.”

Haidara berencana menerbitkan CD yang berisi terjemahan teks-teks manuskrip tentang solusi damai bagi konflik dan juga tata pemerintahan yang bersih dalam waktu dekat.

Telepon berdering dan mata Haidara berbinar: ribuan buku sedang dalam perjalanan dari Qatar, tuturnya. Buku-buku itu akan menjadi bahan referensi untuk mempelajari manuskrip kuno. Dan minggu depan orang Afrika Selatan dari University of Cape Town akan datang untuk sebuah simposium.

Banyak hal yang bisa dilakukan di tapal terjauh dunia ini.

*) Charlotte Wiedemann adalah penulis lepas.

Sumber artikel: Kantor Berita Common Ground (CGNews), Sumber image di sini

BAGIKAN
Berita sebelumyaKonspirasi atau Obat Mujarab? Perspektif Islam tentang Dialog Lintas Agama
Berita berikutnyaDialog itu Penting untuk Persatuan
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.